Nico begitu bingung karena berada di tengah hamparan salju.
Begitu putih, bersih dan juga dingin.
Hal itu membuat dirinya mengigil dan juga takut.
Ia mencoba berjalan, kepalanya sangat sakit rasanya seperti di hantam batu besar.
Walau dirinya belum pernah sih di hantam dengan batu besar.
Ia berjalan terseok- seok karena kesakitan, lalu dia berteduh di sebuah pohon.
Pohon itu begitu rindang.
Tiba- tiba salju turun semakin lebat, semakin membuat dirinya kedinginan.
Ia berlari mencoba meminta pertolongan.
Akhirnya ia melihat seseorang.
Seorang pria yang menyalakan api di sebuah batang pohon.
Api itu begitu besar membuatnya sedikit hangat walau dia sangat jauh dari pohon yang terbakar itu.
Ia mendekat ke arah sumber api itu, ingin menghangatkan diri.
Semakin dekat ia melihat wajah pria itu.
Dia adalah Jimmy kekasihnya, lekas ia ingin berlari mendekat ke arah pria yang dicintainya itu.
Namun saat ingin berlari ia melihat seorang wanita cantik melambaikan tangannya.
Wanita itu Gelya, ia berada di dalam sebuah rumah.
Rumah itu terlihat begitu hangat, Gelya memanggil namanya.
Ia menawarkan jaket yang terlihat hangat.
Nico ingin membawa Jimmy masuk ke rumah itu bersama Gelya.
Namun kakinya begitu berat, ia malah berlari ke arah Gelya.
Begitu sampai Gelya memeluknya, memberikan rasa hangat ke dadanya.
Gelya memakaikan jaket tebal padanya, ia menengok ke arah Jimmy.
Salju yang turun lebat semakin membuat api itu mengecil.
Api itu kalah dengan salju yang turun dan akhirnya memadamkan api itu.
Nico ingin berlari ke arah Jimmy, namun Jimmy malah masuk ke dalam pohon itu.
Sementara itu Gelya juga menggenggam tangannya, wanita itu menariknya masuk ke dalam rumah.
Ia memperlihatkan seorang bayi berjenis kelamin laki- laki.
Wajahnya tak terlihat namun kulitnya begitu putih dan begitu lembut.
Gelya tersenyum padanya, membuat Nico juga ikut tersenyum.
Tiba- tiba Nico mengedipkan matanya, kali pertama ia melihat tangannya yang terpasang infus.
Lalu melihat sekeliling, ia melihat Gelya.
Ternyata Gelya yang tadi hanya mimpi, ia mencari Jimmy namun tak ada.
Perasaannya tak enak.
Samar- samar ia mendengar suara yang ia kenal, yaitu suara Chiko.
"Gila kacau banget" suara Chiko terdengar bingung.
"Kenapa ?" suara lain menyahut, Nico yakin itu suara Bram.
"Orangtua Jimmy mereka gila banget, padahal mereka juga untung besar investasi di perusahaan gue tapi malah mau di cabut gitu aja"
Suara Chiko terdengar lagi, namun kenapa orangtua Jimmy mencabut investasi itu ?
Bukannya itu menguntungkan ? Dan juga Jimmy sangat menyayangi perusahaan milik Chiko itu ?
"Andai Jimmy masih hidup dia pasti bakal marah orangtuanya kayak gini" perkatakaan Chiko membuat Nico syok.
"Andai Jimmy masih hidup ?" Dengan sebisa mungkin ia ingin bertanya perihal Jimmy.
Suara serak, ia sangat haus.
Entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri dirumah sakit ini.
"Dimana Jimmy ?" Ia bertanya sekali lagi.
Ingin memastikan bahwa keadaan dari kekasihnya itu baik- baik saja.
Namun semuanya masih diam, ia melihat ke arah Citra.
"Dimana ? Cit ? Jimmy gue dimana ?!" Ia mengumpulkan suaranya, lalu berteriak histeris.
Citra diam, ia terlihat bingung.
Nico sekarang tau apa yang tejadi karena semua temannya hanya diam membisu.
"AAAAAA JIMMY JIMMY" Ia berteriak kesetanan.
"Dokter dokter suster suster", Suara Bram terdengar panik.
Dokter masuk dan mulai menyuntikan obat bius.
Nico yang sedang berusaha menarik semua selang yang terpasang dari tubuhnya.
'Gue bakal temuin Nico sekarang ' ucapnya dalam hati.
'Dokter sialan gue jadi ngantuk' Nico hanya bisa meruntuk dalam hati.
Perlahan- lahan ia mulai memejamkan matanya kembali.
Kali ini ini berharap bertemu dengan Jimmy walau dalam mimpi.
Kali ini Nico bermimpi ia berada di ladang rumput berisi bunga berwarna- warni.
Banyak kupu- kupu, lebah dan kumbang disana.
Mereka terbang bebas dan pindah dari satu bunga ke bunga lain.
Ada satu kupu- kupu berwarna biru menarik perhatiannya, ia ingin menangkap kupu- kupu itu.
Namun kupu- kupu itu terbang cepat ke udara.
Nico tetap mengejarnya, kupu- kupu itu seakan tau bahwa Nico mengejarnya.
Kepakan sayap kupu- kupu itu semakin kuat dan kencang.
Hewan bersayap cantik itu tak ingin tertangkap oleh Nico.
Nico seperti bermain kejar- kejaran.
"Tunggu aku kupu- kupu" teriak Nico dengan kencang.
Seakan mengerti kupu- kupu cantik itu terbang dengan pelan sambil sesekali terbang rendah menggoda Nico.
Nico berusaha menggapainya.
Kupu- kupu itu menempel di sebuah dahan pohon, dengan cepat Nico mencepit sayap kupu- kupu agar tak terbang lagi.
"Kena kau" ucap Nico mengejek kupu- kupu itu.
Nico yang senang karena berhasil menangkap kupu- kupu membuat cepitannya semakin kuat.
Alhasil sayap rapuh itu rusak, membuatnya tak dapat mengepakkan sayapnya lagi.
"Maaf" ucap Nico menyesal.
Ia menangis melihat kupu kupu itu kepayahan mengepakan sayapnya.
Namun kupu- kupu itu berhasil terbang walaupun dengan sayap yang cacat.
"Kamu pasti bisa seperti kupu- kupu itu bukan ?" suara Jimmy berada tepat ditelinga Nico.
Nico menengok ada Jimmy duduk disebelahnya ternyata.
"Denganmu pasti bisa" ucap Nico sambil tersenyum pada Jimmy.
"Maaf ya aku gak bisa menemani kamu lagi"
"Maaf juga aku egois"
"Maaf aku membuatmu akan terjun di tepi jurang neraka" ucap Jimmy dengan nada menyesal.
"Kamu tak salah, jangan minta maaf" balas Nico ia meneteskan air matanya.
"Kini aku bakal terjun sendirian" ucap Jimmy sambil tersenyum.
"Aku ikut" Nico menggenggam tangan Jimmy.
"Jangan kamu masih ada Gelya dan Zico" ucap Jimmy tegas, ia menghempaskan tangan Nico.
"Siapa Zico ?" tanya Nico bingung.
"Anakku, tapi sekarang anak itu jadi anak kamu dan anak Gelya" jawab Jimmy.
"Udah ya aku pamit, bilang sama Gelya jangan nangisin aku jangan sering sedih ingat diperutnya masih ada tanggung jawabnya"
"Dan tanggung jawabmu" lanjut Jimmy.
Nico menangguk mengerti.
Jimmy telah meninggalkannya di dunia ini, kini tersisa dirinya dan Zico.
Dan mungkin Gelya.
Ia tak tau apa yang akan dilakukannya nanti jika sudah dengan wanita itu.
Ataukah mungkin ini teguran dari tuhan ?
Atau ini buah karma dari ke egoisannya ?
Tuhan mengakui perbedaan, namum tuhan tak mengakui pemyimpangan.
Ia tau bahwa yang ia lakukan selama ini adalah penyimpangan.
Ia terlalu memikirkan napsu duniawi sampai membuat tuhan marah padanya.
Kini ada Gelya dan Zico yang menjadi tanggung jawabnya.
Ia akan menebus kesalahnya dan menebus dosa dari Jimmy.
Setelah ia bangun nanti ia berjanji akan merawat dan mencintai Zico, ah dan juga Gelya.
Mungkinkah wanita itu tak jijik padanya ? Atau wanita itu akan pergi dari hidupnya ?
Entah mengapa memikirkan Gelya pergi dari hidupnya kini membuatnya merasa sedih.