Dua mug.

1275 Kata
Kini Gelya duduk dibangku belakang mobil Chiko. Ia dijemput oleh Chiko dan Citra, mereka menawarkan untuk mengantarkan Gelya pulang ke apartement. Gelya tak nyaman menghirup bau obat yang membuatnya pusing setiap saat. Namun sebelum itu ia meminta Citra dan Chiko untuk mengantarkannya ke makam Jimmy. Saat Jimmy di makamkan ia terlalu syok menerima kenyataan bahwa pria itu telah meninggal. Ia juga terus berpikir bagaimana ia akan melewati masa- masa kehamilannya sekarang, dan setelah ia melahirkan. Ayah biologis dari bayi yang di kandungnya telah tiada. Saat ia melamun, mereka telah sampai disebuah pemakaman yang mewah. Dari luar saja telah terlihat bahwa makam itu pasti khusus untuk orang yang kaya raya. Citra memimpin Gelya menuju makam ke Jimmy, gadis itu juga sama sedihnya dengannya. Beruntung Citra dapat melihat Jimmy untuk terakhir kali sebelum di masukan ke liang kubur. Gelya melihat gundukan tanah yang masih basah, di nisan berbentuk salib itu tertulis Rip Jimmy Christ. Membuat Gelya tersadar lagi bahwa pria yang 4 bulan bersamanya meninggal dengan keadaan yang mengenaskan. Citra dan Chiko pergi meninggalkan Gelya berdua dengan jasad Jimmy yang telah terpendam di dalam tanah. Mereka sangat pengertian. Seakan tahu bahwa Gelya ingin berbincang dengan Jimmy dengan nyaman. Gelya mengelus nisan itu, lalu mulai berbicara walau ia tahu bahwa Jimmy juga tak akan bisa menjawabnya. "Hai kak ?" "Dingin gak disana ? Atau malah kepanasan ?" "Kakak kan gak bisa sehari tanpa AC, tanpa minum jus jambu biji" "Inget kan kamu suka rebutan sama aku hehe, sekarang aku bisa minum sesusaku gak perlu rebutan lagi" "Bangun dong biar kita rebutan lagi, kalau enggak hiiks kalau enggak jusnya aku habisin" ia tak bisa menahan air matanya. Air mata hangat itu terus saja turun dari mata melewati pipi hingga ke bibir Gelya. Rasa asin dari air mata itu membuat Gelya mengelapnya. "Jahat banget tinggalin aku" "Kenapa orang baik kaya kamu malah pergi duluan kak ?" "Kenapa gak aku aja ? Kenapa yang mati buka aku ? Kita tukeran tempat ya ?" ucap Gelya. Angin bertiup kencang, mata Gelya kamasukan beberapa pasir. Membuatnya menggosok matanya yang merah akibat menangis menjadi lebih merah. Gelya tak tahu bahwa ada sosok tak kasat mata, melemparkan segenggam pasir karena marah dengan perkataannya. "Kak gimana dengan bayi ini ?" "Aku bingung, aku takut kak Nico pergi juga" "Aku harus gimana sekarang kak ?" Gelya kebingungan dengan semua ini, masalah terus datang kepadanya. Benar kata Dani kakak tirinya, dia memang pembawa sial. Jimmy yang berada di hadapan Gelya sedih, ia tak bisa bersuara. Pria itu mencoba mengelus dan memeluk Gelya namun tak juga berhasil, tubuhnya tembus pandang. Sudah sekitar 30 menit Gelya disana, berbicara dan berbincang tentang keadaannya sepeninggal Jimmy. "Kak ayo pulang" ajak Citra yang kini sudah dibelakangnya. Ia mendongak melihat Citra lalu mengangguk mengiyakan. "Bye kak Jimmy" ucapnya sambil melihat makam Jimmy untuk terakhir kali, hari ini. Arwah itu mengikutinya. Citra menggandengnya, mungkin gadis itu mengira dirinya akan pingsan. "Tenang aja aku gak bakal pingsan kok Cit" ucapnya pada Citra. "Ini cuma mau gandeng aja kok" ucap Citra beralasan. Setidaknya ada banyak orang yang perhatian kepadanya sekarang. Ia, Citra dan Chiko memasuki mobil dan berjalan menuju appartement Jimmy. Sesampainya disana ia menyuruh Citra dan Chiko agar tak usah mengantarnya sampai kedepan pintu. "Udah biar aku anterin kak, takut nanti kakak kesandung" ucap gadis itu bebal. "Gak kok tenang aja aku bisa jalan sendiri" dirinya pun juga tak kalah bebal. "Aku tetep bakal jalan di belakangmu kak" Citra sangat keras kepala. "Udah kak iyain aja dia itu kepala batu" Chiko ikut berbicara padanya. Mau tak mau Gelya hanya pasrah. Citra dan Chiko berjalan di belakang Gelya sampai di pintu apartement. "Sudah kan ?" ia mencoba tersenyum pada kedua orang itu. "Yaudah aku balik dulu kak, nanti jangan lupa telefo, kalau butuh apa- apa bisa chat Citra ya" "Aku pulang ya" ucap Citra yang di balas anggukan olehnya. Chiko juga pamit pada Gelya "Duluan kak". Gelya tersenyum pada pasangan yang sedang di mabuk cinta itu. Setelah meraka pergipun Gelya juga masuk ke dalam apartementnya. Ia memandang ruangan yang sepi itu. Biasanya ketika sore begini dirinya akan memasak sesuatu, atau membuatkan dua pria itu teh. Karena dua pria itu akan pulang kerja bersamaan. Mereka paling suka teh hangat bikinannya, katanya rasanya pas. Jimmy pernah membuat tehnya sendiri, namun katanya selalu kemanisan berbanding terbaik dengan Nico pria itu selalu membuat teh yang terlalu tawar. Lalu untuk teman tehnya Nico dan Jimmy selalu pulang membawakan berbagai roti mahal yang terkenal. Gelya sangat menyukai itu. Lalu mereka akan bercerita tentang apa saja hal yang mereka lalui hari itu. Kadang sambil menonton tv atau menonton tayangan dagelan disuatu program yang membuat Jimmy tertawa terbahak- bahak. Lalu saat iklan Nico akan mengantinya dengan program tentang flora dan fauna yang hidup di hutan liar. Jika tak tayang Gelya akan menggantinya dengan saluran berita politik dan ekonomi. Yang tentu saja selalu diprotes oleh dua pria itu, mereka tak ingin membahas sesuatu hal yang serius saat di rumah. Namun protes itu tak dihiraukan oleh Gelya, ia tetap fokus menonton berita. Gelya mengelus sofa berwarna coklat itu, sofa itu adalah barang kenangan untuknya dan Jimmy. Gelya kembali menangis, perutnya lapar ia tak ingin anak yang di kandungnya juga kelaparan. Mungkin ia sedih, namun ia juga tak boleh menyiksa janin itu. Ia harus makan agar bayi di dalam perutnya juga kuat. Ia membuka kulkas tak ada apapun disana. Mereka memang sengaja mengosongkan kulkas karena mereka akan ke negara Jerman. Gelya mencoba membuka lemari penyimpanan makanan, mungkin ada beberapa mie atau makanan instan lainnya. Untung saja Nico selalu menyimpan makanan instan. Ia membaca bungkus bertuliskan hotpot instan itu. Gelya selalu di marahi oleh Nico jika makan hotpot pedas itu. Karena Gelya akan sakit perut jika memakannya. Namun ia terlalu lapar jika harus menunggu makanan lainnya. Hanya ada hotpot instan didalam sana. Akhirnya dengan berani ia meracik hotpot instan itu dengan mengikuti petunjuk. Sembari makan ia membuat teh hangat, ia mengambil tigas gelas mug bergambar bunga daisy. Lalu mulai menuangkan teh itu satu persatu dalam mug, ia menyusun gelas itu dengan rapih. Hotpot yang dimasakanya sepertinya telah matang, dengan senang ia membuka tutup hotpot panas itu. Lalu mulai memakan dengan hati- hati. "Enak bangett tapi pedes bangett" ucap Gelya senang. Kuahnya begitu segar, gurih namun juga pedas. Ada beberapa potong daging sapi disana, ada juga jamur dan sayuran. Dengan lahap dan sedikit rakus ia memakan semuanya lalu menyeruput kuahnya. "Ahhh kenyang" ucap Gelya lagi. Ia membereskan bungkus dan plastik tempat makannya. Lalu mengelap meja yang tak sengaja terkena tetesan kuah. Ia melihat keadaan apartemen yang begitu kotor, Gelya pun menyapu seluruh lantai apartement. Ia mengelap meja dan beberapa pajangan yang tertutup debu. Tak lupa ia berbelanja online untuk keperluannya disini karena didalam apartemet tidak ada sayuran segar. Ia takut dua kakakknya akan pulang dan kelaparan. Ia kemudian minum teh yang ia siapkan. Gelya melihat dua mug berisi teh yang masih mengepul di atas meja. Ah gadis bodoh ! Ia baru ingat bahwa dua gelas lainnya tak akan diminum siapapun hari ini. Tak akan ada yang datang dengan senyum yang hangat sore ini. Tak ada pria yang akan datang membawa satu kantong penuh kue kesukaannya. Tak ada lagi pria yang mengeluh karena terjebak macet. Gelya kembali melihat dua gelas itu, ia membawa dua gelas itu ke wastafel. Menuangan teh yang kini telah menghangat itu ke lubang wastafel. Mencuci dua gelas itu dengan bersih dan mengelapnya. Ia menatap dua mug yang kini ia kembalikan ke arah rak. Satu pemiliknya masih belum sadarkan diri dirumah sakit, sedangkan pemilik satunya telah di kubur di dalam bumi. Semoga dari dua mug itu satu mug akan bisa dikeluar lagi, ia ingin membuat teh hangat untuk seseorang disini. Tanpa ia sadari arwah Jimmy memeluknya sedari tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN