Malam hari, Maria membuka pintu rumah kemudian memasuki kamarnya. Sinar bulan bersinar melalui jendela, memancar ke wajah cantik dengan matanya yang bengkak dan merah. Matanya bengkak karena terlalu banyak menangis, memikirkan Axel yang masih dalam keadaan koma di ranjang rumah sakit, Maria masih tidak percaya bahwa Axel memeluknya untuk tidur kemarin. Mengapa Maria merasa kemarin dia seperti benar-benar datang, tetapi seperti tak nyata juga.
Maria masuk ke kamar mandi, tetesan air dari beberapa lubang shower menetes ke bawah tubuhnya, ditarik melalui lekuk tubuhnya dan menetes ke bawah ubin keramik. Air membasahinya yang juga menenangkan syaraf supaya agak rileks, kemudian Maria mengaliri bathtub dengan air hangat, kemudian ia melangkah ke bak mandi itu dan berendam ketika air sudah memenuhinya. Di sekeliling air itu, ia benar-benar santai di dalamnya sampai teleponnya berdering. Maria buru-buru membalut tubuhnya dengan handuk dan keluar dari bak mandi, karena lantainya licin sehingga ia harus melangkah perlahan. Maria melihat layar ponsel.
"Nomor asing, apakah ini scammer?" Maria ragu tetapi tetap menekan tombol untuk mendengarkan. Ujung telepon lain terdengar suara panik pria itu.
"Maria! Akulah yang kau temui kemarin! Dengarkan aku, trukku yang hampir menabrakmu itu, aku bisa melihat bayangannya. Cepat kemari!" ucap pria itu. Ketika Maria mendengar itu, ia dengan cepat menyeka tubuhnya dan berpakaian, dan segera pergi ke alamat orang itu. Beberapa saat kemudian, ia melihatnya dengan senang hati dan berlari ke arah Maria.
"Maria. Mobilnya sudah terbakar habis, tapi bayangan itu ada di tengah jalan," ucap pria itu. Maria mendengarnya dan berbalik menghadap jalan menuju arah kendaraan itu jatuh.
"Itu ... itu adalah ... orang yang duduk di atap kemarin, apakah itu iblis?" batin Maria mundur, ia langsung menarik pria itu menjauh. Mata gelap dan dalam dari pria yang berdiri di tengah jalan memperhatikan keduanya melarikan diri.
"Leah, Iris! Bantu aku!" ucap Maria.
"Nona! Itu adalah roh jahat, dia harus dimusnahkan agar tidak mengikuti lagi,” kata Iris kepada Maria.
"Nona! Kalian berdua harus berlari terpisah!" Leah berbicara tentang pendapatnya sendiri. Maria mendengar itu, ia menoleh ke pria di sampingnya.
"Kita berbelok dua arah, mungkin akan mengganggu fokus iblis itu," ucap Maria. Pria itu mengangguk, jadi setiap orang mengambil jalan masing-masing berlari ke arah kiri dan ke arah kanan.
Maria mencoba berlari secepat yang ia bisa, untuk menghapus jejaknya dari kejaran hantu itu. Hari sudah gelap, lampu jalan berkedip, terpaan angin kencang menyapa, dan lingkungan sekitar tampak mengerikan. Maria terus berlari tidak lama setelahnya ia terpojok di jalan buntu, roh jahat itu masih mengikutinya. Setan itu memiliki senyum nakal dan menggoda Maria, Maria memperlihatkan daging di pipinya ada darah kental, dan matanya memelototi Maria.
Tiba-tiba iblis itu dipukul oleh kekuatan lain ke dinding. Kekuatan tak terduga juga bisa berperilaku seperti itu. Tangan panjang yang bertumpu di atas kepala iblis itu masih tidak mau melepaskannya, dan membenturkan kepalanya ke dinding lagi dengan kuat. Iblis itu pusing, tampak taringnya yang runcing menjulur ke bawah. Di balik sosok itu yang muncul, adalah Axel, ini bukan mimpi, ini adalah kenyataan di depan mata Maria.
"Aku tidak bisa membiarkan orang lain yang menyentuh istriku!" teriak Axel dengan tatapan kejahatan, di kakinya iblis itu terbaring lemah dengan kehilangan kekuatannya, udara dingin yang memancar dari kegelapan membuat roh jahat gemetar.
"Kau adalah pria sederhana yang menyebabkan kematian istrimu, bukan?" tebak Axel.
"Tidak ... tidak mungkin! Itu truk itu! Itu truk yang menabraknya sampai mati." Hantu itu berlutut dengan panik sambil menggelengkan kepalanya sebagai protes.
"Bukankah kau yang membuatnya menderita sehingga dia lari ke tengah jalan dan menabrakkan diri? Dan orang-orang yang kau buat ditabrak mobil itu tidak salah!" Axel memandang roh jahat itu, kemudian tendangan batu menerbangkannya ke tempat sampah di sebelahnya.
"Tidak .... Bukan …." Iblis itu masih menjulurkan kepalanya.
"Yang berani menyentuh istriku, dia akan musnah selamanya!" ucap Axel marah.
"Tunggu!" Maria berlari ke sisi Axel. Tidak, itu bukan seperti Axel biasanya, kali ini ia adalah pangeran yang dingin dan brutal.
"Jangan lakukan itu! Dia belum melakukan apa pun! Maafkan dia!" Maria berkata untuk membantu roh jahat. Axel masih menatap mata iblis di depannya dengan tajam.
"Jika saja kau mengakui kesalahanmu, aku akan mengampunimu," ucap Axel.
"Tidak! Aku tidak memiliki kesalahan apa pun! Aku tidak salah." Setan itu masih bereaksi keras, secara keliru ia menyerang Maria. Tiba-tiba wanita itu memeluk suaminya dan berteriak. Sesaat kemudian iblis itu menjadi debu dan tersapu angin kencang, Wajahnya yang gila menghilang bersama angin dan tidak terlihat di mana pun. Maria menoleh ke samping untuk melihat Axel dan ia juga menatapnya. Tidak seperti biasanya, Axel benar-benar tenggelam dalam cinta, jauh berbeda dari kekejaman yang baru saja Maria saksikan.
"Kau datang begitu cepat," ucap Maria kepada suaminya.
"Tidak?" Axel mengangkat bahu dengan wajah polos.
"Bagaimana kau bisa di sini? Bukankah kau di rumah sakit?" tanya Maria.
"Itu tubuh manusiaku, apakah kau lupa?" Axel buru-bur menjawab. Axel pada awalnya adalah pewaris dari Raja Yang Mulia, jati dirinya adalah iblis, ia datang ke dunia ini dengan tubuh manusia, tujuannya adalah untuk membiarkan keluarga istrinya dapat melihat wujud aslinya. Pada saat tubuh manusia dalam keadaan koma di rumah sakit, ia bisa pergi sewaktu-waktu meninggalkan tubuhnya.
"Mari kita pulang," ajak Axel sambil meraih tangan Maria untuk keluar dari g**g buntu itu. Maria merasa seperti ia telah melupakan sesuatu, untuk sementara ia tidak dapat mengingat, jadi ia mengikuti suaminya saja.
Padahal di tengah kota, seseorang masih berlari dengan keinginan untuk melarikan diri dari kejaran roh jahat itu.
***
Mereka memasuki kamarnya, mereka langsung pergi ke tempat tidur karena malam sudah larut. Di kamar itu, erangan cinta mereka berdua mulai bergema, hingga peluh mengalir deras dari tubuh mereka. Axel, sang raja masa depan benar-benar sudah tenggelam dalam cinta anak manusia itu. Bahkan ia sulit terlepas dari tubuh wanita itu. Setelah Axel melepaskan kuman jauh ke dalam pikirannya, ia membalikkan tubuh istrinya dan dalam sekejap wanita itu tertidur. Maria kelelahan karena penggerebekan barusan, bulu matanya menutupi mata indahnya, dan bibirnya sedikit terbuka. Axel menatapnya dengan saksama, tangannya menyentuh wajah cantik itu, tapi ia yakin bahwa gadis di hatinya sedang tidur, ia dengan lembut melepaskannya dan turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Tetesan air menetes padanya seperti hal-hal yang ia khawatirkan, perasaan sakit yang tidak berani ia katakan pada istrinya.
Dengan tergesa-gesa Axel keluar dari kamar mandi, dan memakai baju serba hitam. Setelan itu membantunya bersembunyi di malam hari. Ia kembali ke tempat tidur mereka berdua dan memperhatikan gadis yang tengah terbaring lemah. Tangan dingin bertumpu di pipinya, bagian bawah matanya dipenuhi kecemasan dan pengakuan. Axel telah melarikan diri dari rumah sakit ketika tubuhnya masih dirawat di sana, ia mencoba untuk mendatangi istrinya secepat yang ia bisa walau tanpa kesembuhan di tubuhnya. Karena saat wanita itu mengalami kesulitan, ia pasti tidak bisa meninggalkannya. Axel mencium kening, hidung, dan bibir istrinya.
"Maria, maafkan aku. Aku hanya bisa bersamamu dalam waktu singkat," ucap pria itu. Dalam sekejap, Axel menghilang.
Sekarang Axel sudah terbaring lemah dalam suite room di mansion Haww.
"Kalian! Bantu Putra Mahkota!" Suara Haww bergema di ruangan besar yang diterangi cahaya bulan. Haww menatap pria yang terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat seperti alunan musik melow. Pelayan mengeluarkan obat, dan Haww bergegas ke samping tempat tidur dan membantu Axel untuk duduk. Cairan itu perlahan menghilang dari cangkir, bibir tipis Axel masih agak lengket, lalu menyekanya dengan tangan. Haww menggelengkan kepalanya, meratapi temannya.
"Putra Mahkota! Apakah kau harus keluar batas demi gadis itu?" ucap Haww.
"Itulah artinya cinta." Axel berbicara, suaranya sangat lemah, bulan jatuh di wajahnya yang pucat namun tetap tampan. Haww menggelengkan kepalanya, pangeran keras kepala ini tidak berbeda dengan ayahnya.
"Tetapi hanya karena seorang wanita, kau perlu melakukan pengorbanan seperti itu? Kau telah melintasi dunia untuk sampai ke sana, kemudian kembali ke sini dengan cara yang menyedihkan, apakah itu sepadan?" ucap Haww sambil memandang pria keras kepala yang duduk di tempat tidur. Axel mengabaikan pertanyaannya, wajahnya yang acuh tak acuh begitu tampan, ia berbaring kembali.
"Kekasih yang buruk! Kau terluka tapi masih mencintainya!" seru Haww.
"Kau bisa keluar! Aku butuh istirahat!" ucap Axel sambil berbaring, selimut hitam menutupi dirinya.
"Ya ampun! Baiklah! Aku keluar!" ucap Haww kesal, ia langsung melompat dan keluar kamar.
Vexy yang berdiri di luar, ia mendengarkan keseluruhan pembicaraan di dalam kamar Axel. Awalnya ia berencana mengunjungi Axel, tetapi ia tak pernah menyangka akan mendengar tentang ini. Ada percikan api di matanya dan tangan yang tergenggam dengan kekuatannya.
"Maria! Aku tak akan pernah menarik kata-kataku. Aku tidak akan memaafkanmu!" Amarah Vexy bergejolak dalam dirinya.