“Mommy, kami pulang.” teriak seorang anak kecil sambil berlari memasuki rumah.
“Halo sayang. Arsen darimana?”
“Tadi beli mainan sama uncle Ray, mom.”
“Beli mainan lagi? Mainan kamu kan udah banyak sayang.”
“Tapi kan mainan yang ini Arsen belum punya mom.”
“Ray, jangan beli mainan terus buat Arsen.” tegur Aurel.
“Nggak papa kak. Arsennya seneng kok.”
“Tapi mainan dia tuh udah banyak. Dan satu lagi, kakak minta kamu juga jangan terlalu memanjakannya.”
“Memangnya kenapa? Dia kan keponakan aku satu-satunya.”
“Jika terlalu dimanjakan, itu akan mempengaruhi pertumbuhannya. Dia tidak bisa bertanggung jawab untuk dirinya sendiri dan selalu mengandalkan orang lain.”
“Tapi kan dia masih kecil kak.”
“Justru itu, dia harus mulai belajar dari kecil.”
“Heeemmm… oke baiklah.”
Arsenio Dharmendra, itulah nama anak laki-laki Aurel yang kini tengah berusia 5 tahun. Dia mendapatkan banyak kasih sayang dari Sekar, Bagas, Lusi, dan Raymon. Mereka semua selalu memanjakan Arsen, yang terkadang membuat Aurel sedikit kecewa. Sebenarnya Aurel sangat senang anaknya mendapatkan banyak kasih sayang dan perhatian, tapi ia tak suka jika Aresen terlalu dimanjakan. Karena Aurel ingin Arsen tumbuh menjadi anak yang mandiri dan memiliki rasa bertanggung jawab.
Ding Dong
Terdengar suara bel rumah berbunyi.
“Kakak mau buka pintu dulu.” ucap Aurel pada Raymon.
“Iya. Aku nemenin Arsen main.”
Aurel membuka pintu.
“Selamat sore. Apa benar ini rumah ibu Aurel?”
“Iya saya sendiri.”
“Ini ada paket untuk anda.”
“Oh iya terima kasih.”
“Mohon tanda tangan disini.”
Aurel manandatanginya sesuai permintaan kurir.
“Terima kasih. Kalau begitu saya permisi.”
Setelah kurir itu pergi, Aurel masuk dengan membawa sebuah kardus yang lumayan besar. Ia membaca siapa pengirimnya, dan ternyata itu dari Reni. Ia pun segera membuka paket itu yang berisi beberapa mainan. Aurel menghembuskan nafasnya. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Reni dengan melakukan video call.
“Halo Aurel, gimana kabarnya?”
“Baik. Aku mau ngabari kalau paket kamu sudah sampai. Terima kasih ya?”
“Syukurlah kalau sudah sampai. Gimana? Apa Arsen suka?”
“Dia belum tahu. Paketnya baru saja sampai, lalu aku langsung menghubungimu. Ren, aku sangat senang kamu memberikan perhatian dan menyayangi Arsen. Tapi aku nggak suka kamu kirim paket mainan kayak begini. Arsen sudah punya banyak mainan disini, lagipula ongkos kirim kesini juga pasti mahal kan?”
“Tapi Rel, aku cuma mau…”
“Iya aku tahu maksud kamu, tapi aku tetap nggak suka kalau kamu kirim-kirim barang kayak gini. Raymon aja beliin mainan Arsen juga aku marahin. Kalau kamu masih ngeyel, aku akan memblokir nomermu.”
“Waduh jangan dong. Jahat banget sih. Iya deh iya. Nggak akan lagi. Terus sekarang dimana ponakan gantengku?”
“Dia sedang bermain dengan Raymon. Sebentar aku panggilkan.”
Aurel berjalan menghampiri Arsen yang sedang bermain di taman belakang rumah bersama Raymon. Kemudian memberikan ponselnya kepada Arsen.
“Halo ponakan aunty yang ganteng.”
“Halo aunty. Terima kasih aunty buat mainannya.”
“Sama-sama sayang. Apa Arsen suka?”
“Suka banget aunty. Thank you aunty.”
“You’re welcome sayang.”
“Aunty kapan main kesini?”
“Nanti ya sayang, kalau aunty sudah libur kerja.”
“Baik aunty, Arsen tunggu ya?”
“Iya sayang.”
*****
Pagi ini Aurel mengantar Arsen untuk pergi ke sekolah. Arsen memasuki preschool, yang biasa kita kenal dengan istilah PAUD atau TK di Indonesia, sejak berusia 4 tahun.
“Belajar yang pintar ya sayang. Nggak boleh nakal sama temen.”
“Iya mommy.”
“Oh ya nanti pulang sekolah dijemput sama uncle Ray ya? Mommy mau kerja bantuin grandma.”
“Baik mommy.”
“Anak pintar. Ya sudah sana masuk.”
“Bye mommy.”
Aurel pun pergi meninggalkan sekolah Arsen dan kembali ke rumah. Namun saat Aurel sampai di rumah, ia melihat Lusi yang sedang termenung dengan muka terlihat sedih duduk di teras rumah.
“Ada apa tante? Kenapa tante belum siap-siap? Bukannya pagi ini kita ada ketemu sama klien?” tanya Aurel.
“Nggak jadi Aurel.”
“Nggak jadi? Maksud tante nggak jadi ketemu pagi ini?”
“Barusan klien kita menelpon, bahwa mereka membatalkan untuk menggunakan jasa kita.”
“Hah? Kok bisa?”
“Tante juga nggak tahu. Alasannya sih dari pihak keluarga calon suaminya sudah memesan WO lain.”
“Oh begitu. Ya sudah tidak papa tante. Jangan khawatir, rezeki nggak akan kemana kok. Pasti tante akan mendapat job dari yang lain.”
“Iya Aurel. Tante tidak papa kok.”
Meskipun Lusi mengatakan tidak papa, tapi Aurel tahu bahwa Lusi saat ini pasti merasa sangat sedih dan kecewa. Karena ini bukanlah kejadian untuk pertama kalinya, sudah beberapa kali klien Lusi membatalkan untuk menggunakan jasa Wedding Orginazernya. Entah apa yang terjadi, Lusi pun belum menemukan jawabannya.
“Selamat pagi kak,” sapa Raymon.
“Baru bangun kamu?”
“Hehehe iya kak.”
“Ya sudah sarapan dulu sana. Yang lainnya sudah, tinggal kamu saja.”
Raymon telah menyelesaikan kuliahnya dua tahun yang lalu, saat ini ia sudah menjadi atlet basket yang cukup terkenal. Selain itu dia juga mengambil kerja sambilan sebagai pelatih basket di salah satu sekolah SMA disana.
“Nanti Ray jadi yang jemput Arsen kak?”
“Nggak jadi. Kakak nggak jadi pergi.”
“Loh kenapa?”
“Klien tante Lusi membatalkannya.”
“Oh begitu.”
Tiba-tiba terdengar ponsel Aurel yang berdering. Aurel segera mengangkatnya karena penelpon itu berasal dari sekolahan Arsen.
“Halo selamat pagi mom.”
“Iya selamat pagi miss.”
“Apakah mommy bisa pergi ke sekolah sekarang? Arsen tadi berkelahi dengan temannya, hingga temannya terluka.”
“Bisa miss. Baiklah saya akan segera kesana.”
Ini bukan pertama kalinya Aurel dipanggil oleh pihak sekolah karena kenakalan yang dilakukan oleh Arsen. Bahkan ada temannya Arsen giginya sampai patah karena kelakuan Arsen.
“Ada apa kak?”
“Arsen berulah lagi. Kakak harus ke sekolah sekarang.”
“Biar aku antar kak.”
“Ya sudah ayo cepat.”
Aurel dan Raymon pergi ke sekolah Arsen. Sepanjang perjalanan, Aurel tak berhenti ngedumel. Ia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan anaknya.
Mereka telah sampai, dan langsung menuju ke ruang guru, dimana sudah ada Arsen dan temannya yang berkelahi dengannya. Yang membuat Aurel terkejut adalah teman Arsen itu adalah anak perempuan yang saat ini dengan kondisi rambut yang sudah acak-acak dan lutut yang terluka.
Miss Agnes, guru Arsen mejelaskan kejadiannya kepada Aurel. Miss Agnes berkata bahwa Arsen mendorong Grace sampai terjatuh. Tak hanya itu, mereka juga jambak-jambakan. Tapi saat Arsen ditanya alasan ia mendorong Grace, Arsen tak mau mengaku. Arsen juga diminta miss Agnes untuk meminta maaf pada Grace ia tak mau, karena Arsen tak merasa bersalah.
Aurel hanya bisa menarik nafas panjang untuk mengontrol emosinya saat mendengar ceritanya dari bu Agnes.
“Arsen….” panggil Aurel dengan lembut.
“Iya mom.”
“Arsen minta maaf ya sama Grace.”
Arsen menggelengkan kepalanya.
“Loh kenapa nggak mau?”
“Arsen nggak salah mom. Dia yang salah. Seharusnya dia yang minta maaf.”
“Emangya apa yang sudah Grace lakukan pada Arsen?”
Arsen diam dan menundukkan kepalanya.
“Arsen, dengarkan mommy! Arsen harus bertanggung jawab atas perbuatan Arsen, terlepas entah siapa yang salah duluan. Tapi Arsen juga bersalah karena telah mendorong Grace. Apalagi Grace seorang perempuan. Seorang laki-laki yang hebat tidak akan menyakiti seorang wanita. Arsen ngerti maksud mommy?”
“Iya mommy.”
“Kalau begitu sekarang Arsen minta maaf sama Grace.”
Arsen menghampiri Grace.
“I’m sorry.”
“Yang ikhlas dong minta maafnya.”
“Maafin aku yang Grace.” ucap Arsen sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Oke. Aku juga minta maaf.” Grace menerima jabatan tangan Arsen.
“Nah gitu kan bagus. Kalian kan teman, jangan saling menyakiti ya? Kalau bisa Arsen malah bisa melindungi dan menjaga Grace karena dia seorang perempuan.”
“Iya mommy.”
Akhirnya permasalahan pun selesai. Arsen dan Grace kembali berteman. Aurel membantu Grace mengobati luka dilututnya. Setelah itu Aurel dan Raymon berpamitan pada miss Agnes. Namun tiba-tiba Arsen merengek untuk ikut pulang. Aurel sudah menolak permintaan Arsen, namun Arsen terus merengek dan memohon agar dia bisa ikut pulang dengan Aurel dan Raymon. Miss Agnes pun mengijinkannya, dan Arsen ikut pulang bersama Aurel dan Raymon.
Saat perjalanan, Aurel terus ngedumel. Meluapkan emosi yang ia tahan sejak tadi.
“Inilah akibatnya kalau kalian terlalu memanjakannya. Dia jadi tidak bertanggung jawab. Dia juga tidak mau mengakui kesalahannya.” ucap Aurel.
“Arsen memang tidak bersalah. Grace dulu yang membuat Arsen marah.”
“Memang apa yang dilakukan Grace?”
“Dia mengejekku karena tidak punya daddy. Padahal daddy aku kan lagi kerja di luar negeri ya mom?”
Aurel dan Raymon pun terdiam dan saling tatap. Karena mereka duduk bersebelahan, sedangkan Arsen duduk di kursi belakang.
“Tapi semua masalah tidak harus diselesaikan dengan kekerasan. Arsen mengerti kan?”
“Iya mommy. I’m sorry.”
TBC
****