4. Kebahagian Itu Datang

1378 Kata
Hari demi hari pun berlalu. Sudah dua bulan Aurel menetap di Singapura. Sesekali Aurel diajak Lusi untuk membantunya bekerja. Sedangkan ibunya membantu memasak atau pun membersihkan rumah. Meskipun sebenarnya sudah dilarang oleh Bagas dan Lusi. Sebab mereka sudah mempunyai pembantu rumah tangga. Namun Sekar tetap bersikeras untuk membantu dan melakukan apa yang ia bisa. Karena ia merasa tak enak jika hanya menumpang hidup dan tak melakukan apapun. Hubungan Aurel dengan Raymon pun semakin akrab. Raymon juga sudah mengetahui masalah yang terjadi pada Aurel dan keluarganya. “Please kak! Besok datang ya?” “Nggak mau Ray.” “Please kak! Aku pengen sesekali pertandinganku ditonton oleh keluargaku sendiri.” “Memangnya om dan tante nggak pernah datang?” “Sama sekali. Mereka berdua sangat sibuk. Mulai awal pertandinganku waktu aku masih di bangku high school hingga saat ini entah pertandingan keberapa yang aku jalani, mommy dan daddy tak pernah sekalipun datang.” “Uluh-uluh, kasihan sekali adik aku yang satu ini.” “Makanya kakak besok datang ya?” “Tapi kakak malu.” “Malu kenapa kak?” “Lihatlah perutku sudah kelihatan buncit.” ucap Aurel sambil mengelus-elus perutnya. “Belum kak. Itu belum terlihat buncit. Itu hanya terlihat seperti perut yang kekenyangan. Lagipula meskipun buncit, kakak tetap terlihat cantik kok.” “Udah pinter ngerayu kamu sekarang.” “Aku jujur loh kak. Please berangkat ya?” “Baiklah, baiklah.” “Terima kasih kak. Pokoknya besok aku tunggu.” “Iya, iya. Ya udah keluar sana. Aku mau ganti baju, terus tidur.” “Oke. Selamat tidur kak. Semoga mimpi indah.” **** Keesokan harinya. “Raymon…” “Raymon…” “Raymon…” Suara teriakan gadis-gadis yang memenuhi arena penonton pertandingan saat Raymon memasuki lapangan. Namun Raymon sedari tadi celingukan, pandangannya kesana kemari mencari sosok yang hari ini telah berjani akan datang menyasikan pertandingannya. Hingga akhirnya pandangan matanya menemukan sesosok perempuan yang duduk di tengah kerumunan penonton lain dengan mengenakan dress berwana hitam dan cardigan berwarna coklat s**u, siapa lagi kalau bukan Aurel. Ia melambai-lambaikan tangannya pada Raymon. Dan dibalas senyuman mnis dari Raymon, yang membuat para gadis semakin teriak histeris. Ini pertama kalinya Aurel menyaksikan pertandingan basket secara langsung. Karena memang Aurel tidak terlalu menyukai olah raga. Namun Aurel sangat menikmati menyaksikan perjalanan pertandingan yang tengah berlangsung. Ia pun ikut bersorak saat Raymon berhasil mendapatkan poin. Hingga akhirnya tim Raymonlah yang menang. Setelah berpamitan kepada teman-temannya, Raymon menghampiri Aurel yang sedang berdiri menunggunya untuk pulang bersama. “Bagaimana permainanku tadi?” tanya Raymon pada Aurel saat mereka berjalan bersama menuju parkiran dimana mobil Raymon berada. “Lumayan.” “Lumayan?” “Iya, lumayan.” “Sebenarnya kakak tadi nonton atau tidur? Permainan sekeren itu dibilang lumayan. Kakak nggak lihat? Tadi aku pencetak poin terbanyak.” “Iya deh iya. Kamu sangat keren. Sampai-sampai telingaku sakit mendengar cewek-cewek neriakin kamu.” “Hahaha. Kan aku sudah pernah bilang, kalau penggemarku tuh banyak.” “Eh itu siapa yang jalan bareng sama Raymon?” “Iya siapa wanita itu?” “Kelihatannya mereka akrab banget. Apa dia pacarnya Raymon?” “Mungkin iya.” “Wah patah hati masal kita.” “Tapi ceweknya nggak cocok banget sama Raymon.” “Iya mendingan gue.” “Kelihatan agak tua nggak sih?” “Iya bener.” Dan suara-suara kaum hawa lainnya terdengar mengiringi sepanjang jalan Aurel dan Raymon, saat melihat mereka berjalan bersama. Hingga mereka sampai di tempat parkir. “Udah nggak usah didengerin kak.” ucap Raymon. Aurel hanya tersenyum. “Kak Aurel pengen makan apa? Atau pengen beli sesuatu nggak? Biar aku traktir? Itung-itung merayakan kemenanganku.” “Nggak usah. Kita pulang saja. Simpan saja uangmu.” “Ayolah kak. Jangan merusak suasana. Aku lagi seneng banget hari ini.” “Hem… Ya sudah terserah kamu saja.” “Oke. Aku akan bawa kakak ke restaurant terenak disini.” “Baiklah.” “Kak…!” “Eeemmm…” “Aku senang ada kak Aurel disini.” “Kenapa tiba-tiba kamu ngomong begitu?” “Karena akhirnya aku bisa merasakan mempunyai seorang saudara. Dari dulu aku pengen banget merasakan mempunyai seorang kakak ataupun adik. Meskipun aku punya banyak teman, tapi aku masih merasakan ada yang kurang dalam hidupku. Terima kasih kak.” “Umm… jadi terharu. Kakak yang seharusnya berterima kasih kepada kamu dan juga keluargamu. Karena telah menerima kakak dan mama meskipun semua yang sudah terjadi kepada kami. Kakak minta maaf karena sudah selalu merepotkanmu dan keluargamu.” “Tidak kak. Kami sama sekali tidak merasa direpotkan. Justru kami senang. Terutama aku. Kakak tahu sendiri kan mommy sama daddy selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Terkadang mereka juga tidak pulang ke rumah. Aku selalu merasa kesepian di rumah. Tapi sekarang tidak lagi. Karena ada kak Aurel dan tante Sekar.” Aurel menatap Raymon dengan senyuman bahagia, namun kedua k elopak matanya membendung air mata kebahagian yang hendak mengalir. Aurel benar-benar merasa bersyukur karena dipertemukan keluarga Raymon yang sangat baik. ***** Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan telah terlewati. Kini Aurel sedang menantikan kehadiran buah hatinya yang akan hadir di dunia ini, tinggal menunggu pagi, siang, atau malamnya saja. Aurel juga telah menyiapkan semua peralatan bayinya. Entah itu ia membelinya sendiri, atau dikasih oleh Hana ataupun Bagas. Tak lupa saat berbelanja kebutuhan bayi, Ray selalu setia mengantar dan menemani Aurel. “Tante Sekar, kak Aurel, Ray pergi kuliah dulu ya? Nanti kalau ada apa-apa segera hubungi Ray.” “Iya nak.” jawab Sekar. “Sudah tenang saja. Kamu kuliah saja yang bener.” sambung Aurel. Raymon hendak berangkat kuliah setelah sarapan. Sebenarnya ia tak ingin berangkat, karena mengkhawatirkan Aurel. Karena Kedua orang tuanya juga tidak ada di rumah. Namun Aurel memaksanya untuk tetap berangkat. Aurel tak ingin gara-gara dia, Raymon harus melewatkan kuliahnya. “AAAAAAAAWWWWW…” Tiba-tiba Aurel berteriak kesakitan saat hendak berdiri. “Kamu kenapa Aurel?” tanya Sekar panik. “Sakit ma.” Sekar melihat cairan yang mengalir di kaki Aurel. “Kamu tunggu sebentar. Mama akan mengejar Ray.” Sekar segera berlari keluar menyusul Ray. Sekar melihat Ray yang melajukan mobilnya keluar dari garasi. Dengan segera Sekar menghadang mobil Ray, yang membuat Ray sangat terkejut dan segera mengeremnya. “Ada apa tante?” tanya Ray saat keluar dari mobilnya. “Aurel…” “Ada apa dengan kak Aurel tante?” “Sepertinya ini sudah waktunya.” “Hah benarkah? Ya sudah kalau begitu kita segera bawa dia ke rumah sakit tante.” Raymon dan Sekar memapah Aurel berjalan dan memasuki mobil. Dengan segera Ray pun menginjak pedal gas untuk menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. “Aawww… sakit ma.” “Sabar sayang. Tarik nafas pelan-pelan.” Sekar mencoba menenangkan Aurel sambil mengelus-elus pinggang Aurel yang merasa kesakitan. Sepanjang perjalanan Aurel terus berteriak kesakitan, yang membuat Ray ikut merasa panic dan juga kasihan. Ia melajukan mobilnya cukup kencang agar segera bisa sampai rumah sakit. Karena ia tak tega melihat Aurel yang terus kesakitan. Akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit. Aurel dibawa ke ruang bersalin. Sekar dan Raymon menunggu di luar. Mereka berdua sama-sama merasa cemas dan gelisah. Hingga akhirnya terdengan suara tangisan bayi. Ray dan Sekar pun menghela nafas bersama, lalu tersenyum. Tak begitu lama pintu ruang bersalin pun terbuka. “Selamat bayinya keluar dengan selamat dan sehat dengan berjenis kelamin laki-laki.” “Syukurlah.” “Apakah anda suaminya?” tanya perawat pada Raymon. “Bukan, dia adiknya. Suaminya tidak disini.” “Oh begitu. Kalau anda siapa?” “Saya ibu kandungnya.” “Baiklah kalau begitu, mari ikut saya untuk mengurus administrasinya.” “Baik Sus. Rey, kamu disini dulu ya? Tunggu Aurel.” “Iya tante. Tenang saja.” Akhirnya Aurel dan bayinya yang tidur di sampingnya pun keluar dari ruang bersalin dan di pindahkan ke kamar pasien. “Selamat kak Aurel. Bayinya tampan banget seperti omnya.” “Terima kasih om. Dimana mama?” “Tante Sekar lagi mengurusnya administrasi kak.” Tak lama kemudian Sekar memasuki ruangan yang ditempati oleh Aurel. “Wah cucu nenek tampan sekali.” Ucap Sekar yang menggendong bayinya yang masih tertidur. “Oh ya, ngomong-ngomong siapa nama bayi tampan ini kak?” tanya Raymon. “Aku punya tiga pilihan. Aku masih bingung untuk menentukannya. Apa kamu bisa membantu kakak memilihnya?” “Tentu saja.” TBC ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN