Hubungan gue dan Tetet mendingin belakangan ini. Gue tak peduli padanya, Tetet juga demikian. Kami hanya bersama karena tugas, meski gue ragu apakah ada gunanya dia menjaga gue selama 24 jam? Secara orang yang katanya mengincar keselamatan gue tak pernah muncul batang hidungnya! “Leo, apa perlu orang itu terus menempel pada kita? Selama ini gue aman-aman saja, tak ada sesuatu yang terjadi. Dengan adanya dia, malah bikin gue gak nyaman,” keluh gue pada asisten gue. Gue lirik Tetet yang duduk di bangku depan, samping supir. Wajahnya datar, tanpa ekspresi sedikitpun. Bagaikan patung. “Elly, lo tak bisa memprediksikan kapan bahaya mengincar. Bersabarlah, Mak. Sampai pembunuh itu tertangkap kita harus tetap waspada,” nasihat Leo. Gue

