Dia membekap mulut gue, dapat gue rasakan hangat napas orang itu di tengkuk gue. “Ja-lang!” desis orang itu dekat telinga gue. “Perempuan seperti kalian tak layak hidup!” Dia pembunuh itu! Gue bisa memastikan setelah gue mengulurkan tangan ke belakang, menyentuh pipinya. Ada parut disana. “Elo tak akan semudah itu membunuh gue, Baj*ingan!” pekik gue geram. Gue sikut pinggangnya keras, lantas menjegal kakinya. Begitu dia terjatuh, gue segera melarikan diri darinya. Begitu sampai kamar gue segera masuk dan hendak menguncinya. Tapi satu tangan terulur menahan daun pintu yang akan menutup. Dengan kuat tangan itu mendorong pintu hingga kembali terbuka. Gue memekik ketika pria itu menerobos masuk, lantas menangkap gue.

