Di tengah siang bolong, gue syuting di jalan raya. Sangat panas menyengat. Keringat membasahi tubuh gue, hingga terasa lembap pakaian yang gue kenakan. Aduh, kapan selesainya syuting ini? “Sabar, ya, Mak. Resiko kerjaan,” hibur Leo sambil menghapus peluh di dahi gue. Ia melakukan dengan hati-hati supaya tak merusak make up gue. “Mengapa harus syuting dibawah sinar matahari menyengat begini, sih? Siapa orang t***l yang menyetujui kontrak ini?” keluh gue yang kesulitan fokus dengan kepala cenat-cenut. Leo berdeham sebelum menjawabnya. “Mak, elo itu sedang mengiklankan produk handbody lotion pencerah kulit ... jadi wajar lo syuting dibawah sinar matahari nan terang benderang begini. Dan ... helooow, orang yang mengusulkan lo menerim

