Gue baru saja istirahat di apartemen, ketika Leo menerobos masuk dengan wajah kesal. “Mak! Kali ini tindakan lo sudah kelewat jalur banget. Tentang kehamilan lo ....” “Oh, itu. Thanks lo udah mengatur dokter yang mendiagnosis gue hamil. Jadi gue terhindar dari amarah keluarga besar gue,” potong gue senang. “Kembali kasih,” sahut Leo spontan, namun sedetik kemudian dia melotot geram pada gue. “Siapa yang mengatur dokter? Gue aja syok mendengar diagnosisnya, Mak! Bukannya elo yang lalu sudah meminum pil pencegah kehamilan? Kenapa bisa jadi, Mak?!” Jeritan Leo membuat gue syok. APA?! Jadi diagnosis itu benar? Dokter itu bukan mengada-ada? Bukan Leo yang memintanya berbohong? Tapi bagaimana mungkin?! Apa

