Bila weekend tiba, biasanya merupakan surga dunia buat gue. Tak ada jadwal kuliah, gue bebas molor bangun sesuka gue. Terus ngemal. Atau kemana, hamburin duit. Tapi sejak kartu kredit gue dicabut, weekend berubah membosankan. Apa asiknya bengong di kos? Mau keluar juga gak bisa, berat di ongkos. Kecuali Tetet yang mengajak. Tapi malas, paling cuma dijajanin pentol doang. Apa serunya, coba? Sok-nya lagi, mestinya gue bisa bangun sesiang mungkin .. pagi ini Tetet membangunkan gue dengan alasan mengajak lari pagi. “Ogah,” gumam gue tanpa membuka mata. “Mata gue berat, Tet ...” Mendengar jawaban gue, Tetet beranjak pergi. Gue pikir dia sudah menyerah, ternyata dia kembali lagi. Dia berlutut didekat gue, dan membasahi mata gue den

