Begitu gue memasuki apartemen, ada tangan yang membekap gue. Astaga, nyaris gue menjegalnya andai tak mendengar suara beratnya. “Elly, ini aku.” Gue menghembuskan napas lega. “Kak Danu, plis deh. Sementara jangan main bad-bad like this. Belakangan ini hidup Elly sudah cukup tegang,” keluh gue. “Ada apa?” tanya Kak Danu dengan mata memicing. “Tak ada. Hanya kesal dengan ulah beberapa fans yang alay,” elak gue. Masalah gue menjadi saksi mata, lebih baik Kak Danu tak tahu. “Begitulah resiko menjadi selebriti. Tak tahu, mengapa wanita yang dekat denganku semuanya selebriti,” keluh Kak Danu. Serius dia mengeluh? Yang gue tangkap justru rasa bangga karena merasa berhasil menjerat hati dua selebriti terkenal.

