“Bagaimana keputusanmu, Elly?” Berulangkali Dad menanyakan hal ini, akhirnya setelah berpikir masak-masak gue menjawabnya. “Demi anak didalam perut ini ... Elly setuju, Dad.” Meski dengan enggan hati, gue terpaksa menyetujuinya. Gue tak boleh egois, kalau hanya memikirkan diri sendiri gue malas menikah pria lain sementara hati dan pikiran gue masih tersita padanya. Tapi mengingat anak gue yang bakal terluka bila menjadi anak haram, pikiran gue berubah. Apalagi Abdul berjanji, hubungan kami tak lebih dari sahabat. Gue percaya padanya. Dad tertawa terbahak mendengar keputusan gue. “Akhirnya kamu membuat keputusan yang waras, Sayang.” Bibir gue mencebik mendengarnya. “Jadi, menurut Dad ... sebelum ini Elly kurang waras?” “Ck! Mana ada turunan Dad yang kurang waras? Kalau anakn

