“Aku tak mau menemuinya!” Masih kuingat ucapan Rafa ketika aku mengabarinya kalau aku membawa Candy ke rumah sakit. Tapi nyatanya, sekarang dia ada dihadapanku. Berdiri gagah, dengan mata menatap angkuh. “Katanya tak mau kemari,” sindirku manis, dengan senyum dikulum. “Aku hanya bilang tak mau menemuinya, aku kemari mendampingimu. Supaya tak diperdaya perempuan itu.” Alih-alih bisa memperdayaiku, untuk melindungi dirinya sendiri saja dia kesulitan. Aku menghela napas panjang, mengapa sekarang aku merasa kasihan padanya? “Dia berbeda sekarang. Temuilah, maka kau akan tahu seperti apa mantanmu.” Sebelah alis mata Rafa naik kala menatapku. “Kau masih cemburu padanya?” “Buat apa aku mencemburui masa lalu yang tak layak dikenang?” sahutku jujur. Semenjak tahu kemana hati Rafa b

