“Tetet! Sini!” panggil Elly kencang. Seorang anak kecil yang kurus dan pendek mendekati anakku dengan tergopoh-gopoh. Tingginya hanya sebahu anakku, dengan wajahnya yang baby face dia lebih cocok menjadi adik kelas Elly ketimbang teman sekolahnya. Elly mengajaknya bermain ayunan dan seluncuran di taman belakang rumah kami. “Apakah dia yang namanya Tetet? Tak salah Elly dekat dengan cowok seperti itu?” celetuk Rafa yang mendadak nimbrung dengan kami. Sore ini Tetet main ke rumah kami, bocah itu nampak sangat senang dan bebas begitu mamanya yang jutek pergi meninggalkannya. Kurasa ia agak tertekan dengan perilaku kaku mamanya. Rafa yang baru datang dari urusan bisnisnya, ikut mengamatinya. “Mengapa? Tak cocok?” pancingku geli. Sikap Rafa seperti seorang papa yang meneliti calon

