Cewek Pendiam dari Bangku Belakang

1331 Kata
Layar ponsel mati. Kantor udah bener-bener senyap. Gue lipat laptop, masukin tas. Hening kosan Seruni Raya nyambut gue kayak biasa. Gelap. Dingin. Sepi. Tapi malam ini sepinya agak beda. Biasanya cuma sepi fisik. Kosong suara. Kosong gerakan. Malam ini ada sedikit rasa lain. Rasa yang muncul gara-gara obrolan singkat di f*******: sama Mela. Cewek yang namanya udah hampir nggak pernah gue inget lagi, tiba-tiba muncul, nanya kabar, terus bilang mau cerita sesuatu. Dia bilang dia lagi nggak bisa tidur, ada masalah keluarga. Dan entah kenapa, gue malah ngerasa obrolan itu... pas banget. Pas banget sama kekosongan yang gue rasain. Pikiran gue langsung mundur. Jauh. ke lima tahun lalu. Balik ke ruang kelas SMK yang panas. Dindingnya catnya udah ngelupas di sana-sini. Baunya campuran debu, keringat, sama bau makanan dari kantin. Gue selalu duduk di baris kedua dari belakang. Deket jendela. Bukan karena suka pemandangan, tapi karena di situ nggak terlalu banyak orang. Nggak terlalu jadi pusat perhatian. Nyaman aja buat anak introvert kayak gue. Kalau ada kerja kelompok, gue pasti milih temen yang juga nggak banyak tingkah. Nggak banyak omong. Fokus ngerjain tugas biar cepet selesai. Ada satu cewek lagi di kelas yang kayaknya senasib sama gue. Duduknya di baris paling belakang. Pojok kanan. Namanya Mela. Dia persis kayak yang gue liat di foto profil f*******: tadi. Pendiam. Nggak banyak omong. Kalau ada temen cowok yang godain, dia cuma nunduk, pipinya merah. Nggak kayak cewek-cewek lain yang cepet bales, cepet ketawa, cepet heboh. Mela itu... antitesis dari kata 'heboh'. Sementara yang lain sibuk ngobrolin drama Korea terbaru, atau tukeran contekan PR, Mela? Dia seringnya baca buku. Buku tebal, kadang sampulnya udah lecek. Entah buku pelajaran, entah novel, gue nggak pernah liat jelas. Tapi dia selalu kelihatan... tenang. Dunianya kayak cuma ada dia sama buku itu. Gue nggak pernah punya banyak interaksi sama dia. Paling kalau ada tugas kelompok yang kocok nama. Pernah sekali, kita satu kelompok. Cuma ada gue, Mela, sama satu cowok lagi yang juga pendiam. Kerjanya diem-dieman aja. Gue ngetik, dia nyari referensi, temen cowok itu gambar flowchart. Nggak ada obrolan basa-basi. Cuma tukeran catatan kalau perlu. Atau nanya bagian mana yang belum kelar, suaranya pelan banget. "Yang bagian ini udah nemu belum, Mel?" "Udah, bentar, aku catet dulu." Gitu aja. Nggak lebih. Rasanya canggung, tapi anehnya, nggak ganggu. Lebih baik daripada satu kelompok sama yang heboh, bikin tugasnya nggak kelar-kelar. Waktu itu, gue naksir dia? Kayaknya nggak deh, belum mikirin gituan. Fokus gue cuma belajar biar dapet nilai bagus, biar bisa langsung kerja. Tapi gue ngerasa... 'nyaman' ngeliat dia. Mungkin karena dia nggak memancarkan energi berisik yang bikin gue nggak nyaman. Dia kayaknya ngerti gimana rasanya nggak perlu banyak omong buat ada. Dia beda dari cewek kebanyakan. Nggak butuh keramaian buat bahagia. Nggak nyari perhatian. Cukup sama dunianya sendiri. Sama buku-bukunya. Kalem. Introvert ketemu introvert, mungkin gitu ya. Ada semacam resonansi diam-diam. Nggak ada kontak mata yang berarti, nggak ada senyum yang disengaja, tapi ada kesamaan yang gue tangkep. Dia itu kayak cerminan gue dalam versi cewek. Gue nggak pernah deketin dia. Nggak berani juga kali. Gue juga nggak jago ngobrol sama cewek. Cukup di situ aja. Dia di baris belakang, gue di baris depan dia. Lihat punggungnya yang tegak waktu baca buku. Denger suaranya yang pelan kalau dipanggil guru. Itu aja udah cukup 'ada'. Terus lulus. Bubar semua. Kontak ilang. Gue langsung cabut ke Seruni Raya, fokus bangun hidup. Dia? Nggak tau. Nggak pernah kepikiran lagi. Sampai pesan f*******: semalem itu muncul. Kembali ke kosan yang sepi. Gue duduk di pinggir kasur. Foto Mela di f*******: tadi terbayang lagi. Wajahnya sama, tapi mata itu... kayak nyimpen sesuatu. Sesuatu yang nggak ada waktu SMK dulu. Dia bilang mau cerita panjang. Masalah keluarga. Dia butuh temen? Gue? Kenapa gue? Kita nggak deket lho dulu. Tapi batin gue yang sepi ini kayak langsung nyaut. "Ini dia. Mungkin ini kesempatannya." Kesempatan buat ngisi kekosongan itu. Kesempatan buat dapet 'yang lain' yang gue cari. Cinta setelah menikah? Mungkin ini awal pencarian ke arah sana. Gue ambil ponsel lagi. Buka f*******:. Chat Mela masih di atas. Gue ragu sebentar. Mau ngapain? Nggak mungkin kan tiba-tiba nanya, "Masalah keluargamu apa?". Itu terlalu personal. Terlalu... bukan gue banget. Gue nggak senekat itu. Tapi gue pengen tau. Pengen banget. Rasa penasaran ini lebih kuat daripada rasa canggung. Napas pelan. Oke. Coba aja. Jari gue mulai ngetik. "Masih bangun, Mel?" Nggak lama, ada notifikasi masuk. Dia online. "Eh Namja. Belum nih. Kenapa?" Ada nada sedikit terkejut lagi di balasan itu. Atau cuma perasaan gue? "Yang semalem... yang kamu bilang mau cerita panjang itu," gue ngetik cepat. "Oh iya... hehe. Kenapa?" Dia pakai 'hehe'. Nervous kah? "Mau cerita lewat chat... kayaknya nggak enak ya," gue tulis. Ini pintu masuknya. "Iya sih." Oke. Dia setuju chat nggak enak. Berarti perlu media lain. "Kalau... kalau kita ngobrol langsung aja gimana?" Gue neken tombol kirim. Jantung gue agak deg-degan. Ini langkah yang lumayan besar buat gue. Ngajak ketemuan cewek? Apalagi cewek yang hampir nggak pernah gue ajak ngobrol serius dulu. Ada jeda lagi. Lumayan lama. Mikir kali dia. Atau kaget? Aduh, semoga nggak dikira modus. "Ngobrol langsung?" Balasannya. Singkat. "Iya. Kalau kamu ada waktu. Santai aja. Bukan maksud gimana-gimana lho ya," gue cepet-cepet bales, jaga-jaga biar dia nggak salah paham. "Aku dengerin aja kalau kamu mau cerita. Anggep aja temen lama." "Di mana?" Dia nanya tempat! Berarti dia... mau? Ada rasa lega kecil di d**a gue. "Di Mekarsari aja," usul gue. Itu kampung halaman kita. Deket dari rumahnya. Gue bisa pulang kampung sekalian. "Deket kan dari rumahmu?" "Ada kafe kecil gitu, yang di deket lapangan... yang dulu sering dipake parkir kalau ada acara kampung," gue kasih detail biar jelas. Kafe itu tempat nongkrong anak muda kampung, tapi nggak yang rame banget. Pas buat ngobrol santai. "Oh iya, tau. Kafe Mas Bejo bukan?" Balas Mela. "Nah iya itu," gue senyum. Dia tau tempatnya. "Masih buka kan ya?" "Masih kok. Tiap sore rame malah," Mela jawab. "Gimana? Kalau nggak sibuk... kapan kamu ada waktu?" Gue langsung nanya kepastian. Nggak mau buang waktu. Nggak mau dia berubah pikiran. Jeda lagi. Kali ini lebih lama. Rasanya kayak nunggu hasil coding yang lagi di-compile. Lama. Bikin harap-harap cemas. "...Minggu depan pas sore gimana?" Jantung gue kayak kesetrum lagi. Kali ini lebih kuat. "Aku kebetulan nggak ada kerjaan." Dia setuju! Minggu besok sore! "Oke," gue bales cepat. " Jam berapa enaknya?" "Jam empatan aja," bales Mela. "Atau kamu maunya kapan?" "Jam empat oke," gue langsung iyain. "Oke, Namja. Sampai ketemu besok." "Sampai ketemu." Chatroom itu hening lagi. Kali ini hening yang beda. Ada rasa... antusiasme? Udah lama banget gue nggak ngerasain ini. Biasanya hidup gue cuma tentang target kerja, deadline, sama bug di kode. Sekarang ada janji. Janji ketemu sama temen lama. Sama cewek yang dulu pernah bikin gue ngerasa nggak terlalu sendirian cuma dari jarak beberapa bangku di kelas. Gue taro ponsel di meja. Natap langit-langit kosan yang gelap. Minggu depan sore. Di Mekarsari. Ketemu Mela. Dia mau cerita masalah keluarganya. Kenapa dia milih gue? Kenapa tiba-tiba setelah sekian lama? Nggak tau. Tapi gue mau dengerin. Pengen tau. Ada apa di balik mata pendiam Mela itu? Ada cerita apa yang bikin dia nggak bisa tidur malem-malem dan malah nge-chat orang yang nggak deket sama dia dulu? Rasa kosong di d**a gue belum hilang. Tapi sekarang ada sedikit... harapan? Atau mungkin cuma distraksi? Gue nggak tau. Yang gue tau, rutinitas item-putih gue bakal punya sedikit warna. Warna dari wajah Mela. Warna dari cerita yang bakal dia bagi. Gue nggak sadar kalau warna itu bukan cuma warna cerita. Tapi warna samar dari racun yang perlahan bakal nyebar, ngehancurin dasar bangunan hidup gue yang udah susah payah gue kokohin. Awal dari kebohongan yang bakal gue telan mentah-mentah. Awal dari kehancuran yang dimulai dari obrolan ringan di sebuah kafe kecil di kampung halaman. Tapi semua itu masih jauh. Malam ini, yang ada cuma gue, kosan yang sepi, dan pikiran tentang Mela yang bakal gue temuin besok sore. Dan rasa penasaran yang makin besar, menanti apa yang tersembunyi di balik diamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN