Sore itu Mekarsari terasa beda. Bukan lagi kampung yang gue tinggalkan lima tahun lalu dengan ransel butut dan mimpi sukses di kota. Sekarang gue pulang dengan kendaraan sendiri, dompet lumayan tebal, tapi hati kok ya masih sering kerasa kayak dulu: sepi.
Kafe kecil itu masih ada. Di dekat lapangan yang rumputnya udah nggak serapih dulu. Lampu-lampu bohlam kuningnya mulai dinyalain, ngasih nuansa hangat di tengah semilir angin sore. Gue pilih meja di pojok, deket jendela kaca yang buram. Duduk. Nunggu.
Detik demi detik berlalu. Gue liat ke arah jalan masuk kafe. Setiap ada yang buka pintu, kepala gue otomatis noleh. Siapa tau itu dia.
Muncul bayangan familiar. Posturnya kurus. Rambutnya lurus sebahu. Dia pakai kemeja polos warna pastel. Melangkah pelan. Matanya nyapu seisi ruangan, kayak lagi nyari seseorang. Dan pandangannya berhenti di gue.
Itu Mela.
Dia masih sama. Diam. Langkah kakinya nggak berisik. Tapi entah kenapa, sekarang ada kesan yang beda. Lebih... lembut? Atau mungkin lebih rapuh? Lima tahun bisa ngubah orang ya.
Dia jalan ke arah gue. Senyum tipis banget terukir di bibirnya. Senyum yang rasanya nggak pernah gue liat waktu SMK dulu.
"Namja?" suaranya pelan, lebih pelan dari yang gue inget.
Gue langsung berdiri. "Mel. Iya, ini aku."
Dia duduk di kursi depan gue, gerakannya hati-hati.
"Makasih ya udah mau nemuin aku," katanya, natap meja.
"Santai aja, Mel." Gue duduk lagi. "Aku juga seneng bisa ngobrol langsung. Udah lama banget ya."
"Iya, lama banget." Dia ngangguk pelan. Matanya masih nggak langsung liat ke gue. Tatapannya ke cangkir kopi kosong di meja sebelah.
Pelayan datang. Kami pesan minum. Gue pesen kopi hitam, dia pesen teh manis. Suasana agak canggung sebentar.
"Gimana kabar kamu di Seruni Raya?" Mela akhirnya ngangkat kepala. Mata itu... sama kayak dulu. Tenang, tapi sekarang ada sedikit bayangan di dalamnya. Kayak ada sesuatu yang berat di belakangnya.
"Baik, alhamdulillah. Kayak yang aku bilang di chat, kerjaan lumayan," gue jawab, berusaha terdengar santai. "Kamu sendiri gimana? Di Mekarsari aja?"
Dia ngangguk. "Iya, di sini aja. Nggak ke mana-mana."
"Nggak nyari kerja di kota lain?" Gue pancing. Pengen denger ceritanya langsung.
Dia senyum kecil lagi. Miris? "Nggak kepikiran. Ribet kayaknya kalau jauh dari rumah."
"Oh iya... kamu bilang ada masalah keluarga ya?" Gue akhirnya nanya, hati-hati.
Dia langsung diem lagi. Tatapannya kembali ke cangkir kosong. Dia genggam gelas tehnya yang masih panas. Kayak nyari kehangatan dari situ.
"Gitu deh," katanya, suaranya makin pelan. "Biasa aja sebenernya. Namanya juga hidup."
"Iya sih," gue nggak maksa. Biar dia cerita kalau emang pengen. "Yang penting kamu sehat."
"Alhamdulillah sehat," dia ngangguk.
Pelayan datang, nyajiin pesanan kami. Wangi kopi nyebar di udara. Gue hirup pelan. Udara kampung rasanya beda. Nggak sepadat di kota.
"Kerjaan kamu sekarang apa, Mel?" gue nanya lagi, nyari topik lain.
"Nggak jelas sih, Namja," katanya, natap cangkir tehnya. "Dulu sempet kerja di toko deket rumah. Terus tokonya tutup. Sekarang... bantu-bantu ibu aja di rumah."
Bantu-bantu ibu? Di usianya sekarang? Sementara gue udah jadi tech lead dengan gaji dua digit? Kontras banget.
"Nggak ada kerjaan lain?" gue nanya lagi, mungkin sedikit terlalu penasaran.
Dia diem bentar. "Ada sih... sesekali dipanggil buat ngerjain jahit di garmen deket sini. Sistemnya borongan."
Garmen? Kerja borongan? Gue ngerasa... nggak enak? Atau sedih denger ceritanya? Kok kayaknya hidup dia nggak seberuntung gue?
"Oh gitu," gue nggak tau mau bilang apa lagi.
"Kamu sendiri gimana?" dia gantian nanya. "Udah mapan banget ya sekarang."
"Mapan sih... relatif ya," gue senyum kecut. Mapan uang iya, mapan hati? Nol besar. "Ya, syukurlah bisa nyari uang sendiri. Bantu orang tua sedikit."
"Baguslah," dia ngangguk. "Kamu dari dulu emang pinter sih. Nggak salah milih jurusan RPL."
Pujian itu lagi. Entah kenapa, denger Mela yang ngomong bikin pujian itu kerasa beda. Lebih tulus? Atau gue aja yang geer?
"Enggak juga," gue elak. "Kebetulan aja jalannya ke sini."
Suasana kembali hening. Gue liat ke luar jendela. Anak-anak kampung lagi main bola di lapangan. Ketawa-ketawa. Bebas.
"Sepi ya, Namja," Mela tiba-tiba bilang.
Gue noleh ke dia. Matanya sekarang natap lurus ke gue. Untuk pertama kalinya, tatapan itu kerasa... terbuka.
"Sepi?" gue nanya.
Dia ngangguk. "Iya. Kampung ini. Atau... hidup ya?"
Gue kaget dia ngomong gitu. Langsung. Jujur banget. Mirip sama apa yang gue rasain.
"Kamu juga ngerasa gitu?" gue nanya, nggak nyembunyiin kalau gue ngerti maksudnya.
"Ngerasa kok," katanya. "Kadang mikir, kok gini-gini aja ya."
"Padahal temen-temen di grup angkatan udah pada... gitu ya," gue nyebutin apa yang ada di pikiran gue semalem. Nikah, punya anak, punya rumah.
Mela senyum kecil lagi. "Iya. Aku liatin aja dari jauh."
"Kenapa?" gue nanya. "Kamu nggak pengen juga?"
Dia diem lama. Natap gue. Matanya nggak lagi ke cangkir. Langsung ke mata gue. Ada sesuatu di tatapan itu. Kayak permohonan bantuan? Atau cuma kesedihan biasa?
"Pengen sih," katanya, suaranya hampir nggak kedengeran. "Tapi... belum bisa aja."
Belum bisa? Kenapa? Masalah keluarga yang dia sebutin itu separah apa sampai dia nggak bisa nikah? Di usianya yang udah 24 ini?
"Kenapa belum bisa, Mel?" gue nekat nanya.
Dia ngehela napas. Suaranya lirih. "Ada... tanggungan. Di rumah."
Tanggungan? Orang tua sakit? Adik-adik masih sekolah? Apa? Gue nggak tau. Dia nggak jelasin. Dan gue nggak nanya lagi. Merasa itu udah cukup personal.
Tapi denger dia bilang gitu, denger dia cerita tentang hidupnya yang nggak semapan yang lain, tentang tanggungan di rumah, tentang kesepian... entah kenapa, gue ngerasa nyaman. Nyaman karena ternyata nggak cuma gue yang ngerasain sepi itu. Nyaman karena dia cerita sama gue. Mela yang pendiam, yang dulu cuma gue liat punggungnya di kelas, sekarang duduk di depan gue, cerita tentang bebannya.
Dia kelihatan rapuh. Kelihatan butuh temen. Dan gue? Gue lagi butuh 'yang lain' itu. Butuh orang yang bisa ngisi kekosongan.
Obrolan ngalir lagi setelah itu. Kami nggak ngomongin masalah berat lagi. Cuma nginget-nginget masa SMK. Guru-guru yang galak, tugas-tugas yang numpuk, jajanan di kantin. Ketawa kecil sesekali muncul dari Mela. Melihat dia ketawa, walaupun tipis, bikin gue ngerasa... sesuatu. Kayak ada bunga kecil yang mekar di d**a gue yang kering.
Nggak kerasa, langit udah gelap total. Kafe makin rame. Kami mutusin buat udahan.
"Makasih ya, Namja," kata Mela waktu kami berdiri. "Udah mau dengerin aku ngomong nggak jelas."
"Nggak ngomong nggak jelas kok, Mel," gue bales, tulus. "Akumalah seneng dengerinnya."
"Seneng?" Dia natap gue, agak nggak percaya.
"Iya. Nggak kerasa sepi aja," gue akuin.
Dia senyum lagi. Kali ini senyumnya agak lebih lebar. Hangat. Senyum yang bener-bener baru buat gue.
"Aku juga," katanya pelan. "Makasih."
Kami jalan keluar kafe. Berdiri sebentar di depan. Udara malam Mekarsari kerasa dingin.
"Aku pulang ya," kata Mela.
"Mau aku anter?" gue nawarin, refleks.
"Nggak usah, deket kok rumahku dari sini," dia buru-buru nolak.
"Oh, oke," gue nggak maksa.
Dia ngangguk, natap gue sebentar, terus balik badan. Jalan pelan menjauh. Gue liatin punggungnya sampai hilang di tikungan jalan kampung yang gelap.
Gue masih berdiri di situ. Nggak langsung ambil motor. Dinginnya malam nggak kerasa. Kepala gue penuh sama bayangan Mela. Suaranya yang pelan. Matanya yang menyimpan beban. Senyum barunya.
Rasa nyaman itu masih ada. Rasa nggak sepi. Rasa dapet temen ngobrol yang bener-bener nyambung sama 'sepi'-nya gue.
Ponsel di saku celana kerasa geter. Ada notifikasi. Dari Mela.
"Udah sampai rumah?"
Gue senyum lebar. Langsung buka chatnya.
"Belum. Masih di parkiran."
"Oh. Hati-hati ya pulangnya."
"Iya, makasih." Gue ngetik lagi. "Kalau ada apa-apa, cerita aja ya, Mel."
Dia bales cepat. "Makasih, Namja."
"Sama-sama."
Chat berhenti sampai situ. Tapi gue nggak matiin ponselnya. Gue buka lagi profilnya. Liat foto profilnya. Wajah pendiam itu. Gue inget lagi obrolan tadi. Tanggungan di rumah. Kesepian.
Batin gue yang semalem teriak minta diisi, sekarang kayak udah nemu sinyal yang lebih jelas. Mela. Dia kesepian. Gue kesepian. Dia butuh temen. Gue butuh 'yang lain'.
Dan dia kelihatan rapuh. Kelihatan butuh perlindungan.
Gue merasa bisa ngasih itu. Dengan kondisi finansial gue sekarang, dengan kestabilan hidup gue di kota... gue bisa bantu dia. Gue bisa jadi tempat dia bersandar.
Gue nggak mau kehilangan koneksi yang baru gue dapetin ini. Gue nggak mau kembali ke sepi yang kayak kuburan itu. Gue mau lebih intens sama Mela. Gue mau tau semua tentang dia. Gue mau dia nggak ngerasa sepi lagi.
Gue memutuskan di situ juga. Gue bakal kejar Mela. Gue bakal deketin dia. Gue bakal jadi orang yang ada buat dia. Mungkin, dia adalah jawaban atas doa-doa batin gue selama ini. Jawaban atas pencarian 'yang lain' itu.
Gue nyalain motor, mecah keheningan malam. Gue nggak tau ke mana arah hubungan ini bakal pergi. Gue nggak tau cerita lengkap tentang tanggungan dan masalah keluarga yang dia sebutin itu. Gue nggak tau kalau kerapuhan yang gue liat di matanya bukan cuma kesedihan, tapi juga bayangan dari sebuah rahasia yang terkunci rapat. Rahasia yang bakal bikin hidup gue hancur berantakan.
Tapi malam itu, yang gue tau cuma satu. Gue mau Mela ada di hidup gue. Dan gue akan mulai menghubungi dia. Lebih sering. Lebih intens. Dimulai sekarang.
Malam itu, gue nggak sadar kalau jalan yang gue pilih untuk ngisi kekosongan hati ini, ternyata adalah jalan tergelap yang pernah ada.