Setelah pertemuan di kafe Mekarsari itu, hidup gue di Seruni Raya nggak lagi cuma tentang monitor, kode, sama kopi dingin. Ada nama Mela yang sekarang selalu muncul di notifikasi ponsel gue. Obrolan lewat chat itu makin intens. Nggak cuma malem-malem kayak awal, tapi hampir setiap ada waktu luang. Pas jam istirahat kerja, pas mau tidur.
Kami nggak pernah secara eksplisit bilang "pacaran". Gaya kami ya gini aja. Chatting panjang lebar, kadang teleponan bentar kalau lagi sama-sama luang, terus sesekali gue nyempetin pulang kampung buat ketemu dia. Nggak sering sih, paling sebulan sekali atau dua bulan sekali. Ketemuannya ya di tempat yang sama, kafe kecil di Mekarsari. Atau kadang cuma duduk-duduk di taman deket alun-alun kampung, ngomongin hal-hal remeh.
Dia masih pendiam. Nggak banyak cerita kalau gue nggak pancing. Tapi kalau udah mulai ngomong, ceritanya ngalir pelan. Dia cerita tentang kesehariannya yang nggak jauh dari rumah, bantu orang tua, sesekali ngerjain borongan jahit. Dia nggak pernah cerita detail tentang 'tanggungan' atau 'masalah keluarga' yang waktu itu disinggung. Setiap gue coba tanya lebih jauh, dia cuma ngejawab singkat atau ngalihin topik.
"Tanggungan itu apa, Mel?" gue pernah nanya, penasaran banget.
Dia senyum tipis, tatapannya agak kosong ke depan. "Udah, nggak penting kok, Namja. Cuma urusan rumah aja."
Gue nggak enak maksa. Mikirnya, mungkin emang privacy dia. Gue hargai itu. Toh, obrolan yang lain nyambung kok. Kami ngomongin masa SMK, ngomongin impian masing-masing (impian gue udah lumayan kecapai, impian dia masih nggak jelas bentuknya). Dia dengerin cerita gue tentang kerjaan di LemTech, tentang pressure jadi tech lead di umur segini. Gue juga dengerin dia cerita tentang keruwetan jahit borongan, tentang tetangga yang nyinyir.
Setiap kali ketemu atau chat, rasa nyaman itu makin tebal. Kayak nemu potongan puzzle yang hilang. Kekosongan yang gue rasain sebelum ini, pelan-pelan mulai terisi. Bukan langsung penuh, tapi ada angetnya. Ada warna baru. Dia nggak heboh, nggak nuntut macem-macem. Cukup... ada. Dan itu udah cukup buat gue.
Gue sadar, selama ini gue emang nggak pernah main-main sama cewek. Fokus gue cuma satu: kerja, biar stabil, cuman problem gue di nabung masih susah, kadang gue Impulsif. Zaman awal di Seruni Raya, emang ada beberapa kali 'main'. Ketemu cewek di aplikasi kencan, ngobrol sebentar, terus ya udah. Nggak ada ikatan, nggak ada perasaan. Cuma ngisi waktu luang yang kosong banget pas weekend. Itu pun di tahun ketiga atau keempat gue kerja, sekitar 2021-2022. Cuma beberapa kali, nggak jadi kebiasaan. Ngerasa nggak cocok aja sama gaya hidup kayak gitu. Buang waktu, buang duit, nggak ada isinya. Nggak kayak yang gue cari.
Gue itu tipenya loyal. Kalau udah dapet yang pas, ya udah. Itu aja. Nggak suka lirik sana-sini. Dan Mela... dia itu kayaknya yang pas.
Makin sering gue ngobrol sama Mela, makin jelas di kepala gue. Dia itu cantik, tapi kecantikannya itu tenang, nggak butuh diumbar. Dia kalem, nggak drama. Dia kelihatan tulus, meskipun pendiam. Di mata gue, Mela itu 'paket lengkap'. Sesuai banget sama kriteria gue yang nggak neko-neko.
Pikiran-pikiran itu makin sering muncul. Apalagi setiap kali gue liat postingan temen di medsos yang nikah. Desakan batin itu balik lagi, tapi sekarang ada nama Mela di dalamnya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Dia udah 24, gue 23. Umur udah mateng. Gue udah stabil. Dia juga... butuh seseorang?
Gue mulai mikirin serius. Bukan sekadar temen chat atau temen curhat lagi. Gue pengen lebih dari itu. Gue pengen Mela jadi bagian dari hidup gue. Bagian dari 'dunia' yang bakal gue bangun. Gue pengen dia yang nyambut gue pulang ke rumah, bukan lagi kosan sepi. Gue pengen dia yang dengerin cerita capek gue, bukan lagi tembok.
Gue mantepin niat. Gue mau nikahin Mela. Nggak besok, nggak lusa. Gue pengen nyiapin semuanya dengan mateng. Nyiapin tabungan lebih, nyiapin mental, ngomong sama orang tua. Mungkin setahun dua tahun lagi? Masih ada waktu buat dia dan gue lebih saling kenal. Dia juga kelihatan masih ada beban di rumahnya, mungkin gue bisa bantu selesain itu dulu setelah kita nikah.
Niat itu udah bulat. Tinggal cari waktu yang pas buat ngomong sama Mela. Nggak bisa buru-buru. Dia itu rapuh, harus hati-hati nyampaiinnya.
Suatu sore, pas gue lagi santai di kosan, kami lagi chatting. Obrolan kami ngalir biasa, dari ngomongin cuaca di Mekarsari sampai ngomongin berita viral di internet. Terus tiba-tiba, dia ngetik sesuatu yang bikin gue kaget.
"Namja," tulis Mela.
"Ya, Mel?" gue bales cepat.
"Aku... mau nanya sesuatu."
Nada chatnya kok jadi serius? Gue nunggu.
"Aku nggak tau harus ngomong ini gimana."
Jeda yang agak lama. Jantung gue mendadak deg-degan. Mau ngomong apa dia? Apa dia mau bilang udah punya pacar? Atau... mau menghilang lagi kayak lima tahun lalu?
"Ngomong aja, Mel," gue bales, berusaha santai. "Ada apa?"
"...Menurut kamu," dia ngetik lagi, jedanya lebih lama dari sebelumnya. "Menurut kamu... gimana kalau kita... serius?"
Serius? Maksudnya? Gue nggak langsung bales. Otak gue loading. Serius dalam hal apa? Pacaran? Atau...
"...Serius gimana, Mel?" gue nanya, nggak pengen salah tangkep.
"Ya... seriusin hubungan kita," bales dia.
Hubungan kita? Emang kita punya hubungan? Gue terdiam lagi. Kami kan nggak pacaran. Cuma deket. Komunikasi intens. Ketemu sesekali.
"Maksud kamu... pacaran?" gue nebak.
Dia nggak bales. Ada jeda lagi yang bikin gue makin nggak karuan.
"Atau... lebih dari itu?" gue ngetik pelan.
"Menurut kamu... aku sama kamu... bisa kalau sampai... menikah?"
Ponsel gue rasanya mau jatuh dari tangan. Menikah? Mela ngajak gue nikah? Sekarang? Padahal gue baru aja mantepin niat mau ngomongin ini dalam setahun dua tahun ke depan?
Gue baca lagi chatnya. Nggak salah baca. Mela yang nulis itu. Mela, cewek pendiam dari bangku belakang, yang gue pikir rapuh dan butuh perlindungan, sekarang... ngajak gue nikah?
Ini... ini terlalu cepat. Tapi... ini Mela. Cewek yang gue rasa 'pas'. Cewek yang udah ngisi kekosongan di hati gue.
Gue natap layar ponsel. Nama Mela di atas. Chat terakhirnya: "Menurut kamu... aku sama kamu... bisa kalau sampai... menikah?"
Ini bukan cara yang gue bayangin. Bukan gue yang ngajak. Dia yang mulai duluan. Tapi... dia ngajak nikah. Gue pengen itu kan?
Rasa kaget, seneng, sama sedikit... bingung campur aduk di d**a gue. Gue nggak nyangka dia bakal seberani ini, bakal sejelas ini ngomongnya. Apalagi dia yang pendiam. Apa yang bikin dia tiba-tiba mikirin sampai sejauh ini? Masalah keluarganyakah? Tanggungannya?
Gue nggak tau. Tapi pertanyaan itu udah di depan mata. Butuh jawaban.
Ponsel di tangan gue bergetar lagi. Mela ngetik lagi.
"Namja? Kok diem?"
Gue langsung ngetik balasan, jari gue gemeteran dikit. Gue nggak siap dengan kecepatan ini. Tapi gue nggak mau kehilangan kesempatan.
"Aku... kaget, Mel." Gue jujur. "Nggak nyangka kamu bakal ngomong gitu."
"Maaf ya kalau bikin kaget."
"Enggak... nggak papa," gue bales cepat. "Aku cuma... nggak nyangka aja kamu mikirin sampai situ."
"Emang kamu... nggak mikirin?" tanya Mela.
Mikirin? Mikirin banget! Setiap hari! Tapi bukan sekarang, bukan gini caranya!
"Mikirin kok," gue akui. "Mikirin banget malah. Tapi... aku pikir belum sekarang."
"Kenapa belum sekarang?" Mela nanya lagi.
Gue diem sebentar. Gimana ngejelasinnya? Gue mau siapin semuanya mateng. Gue mau jadi yang terbaik buat dia. Gue mau mastiin dia nggak bakal ngerasain beban apapun setelah sama gue.
"Aku... aku cuma pengen nyiapin semuanya mateng aja, Mel," gue jelasin. "Buat kamu. Buat kita nanti."
"Nanti itu kapan?"
Pertanyaan Mela itu langsung nusuk. 'Nanti itu kapan?'. Dia butuh kepastian. Sekarang?
Gue tatap lagi chat Mela. Tatapan kosong ke depan waktu dia bilang 'tanggungan' terlintas di benak gue. Kepolosan di matanya waktu itu. Rapuh. Butuh perlindungan.
Mungkin dia memang butuh segera. Mungkin bebannya seberat itu sampai dia nggak bisa nunggu lebih lama lagi. Dan gue? Gue udah stabil. Gue bisa bantu dia sekarang.
Gue ambil napas dalam-dalam. Niat awal gue emang mau nikahin dia. Cuma masalah waktu. Kalau dia yang ngajak duluan, kalau dia butuh sekarang... kenapa harus ditunda?
Gue ngetik balasan. Jari gue bergerak mantap kali ini. Keraguan gue hilang ditelan antusiasme dan... rasa butuh. Butuh diisi. Butuh punya 'yang lain' itu sekarang juga.
"Kalau... kalau kamu mau segera... aku siap, Mel."
Sent.
Pesan itu terkirim. Hening. Gue nunggu balasan Mela. Menikah. Kata itu menggema di kepala gue. Gue bakal nikah. Sama Mela. Cewek pendiam yang udah ngisi kekosongan gue. Awal dari hidup baru. Hidup yang nggak sepi lagi.
Gue nggak tau kalau keputusan yang gue ambil malam itu, berdasarkan obrolan singkat lewat chat, adalah keputusan paling bodoh dan paling menghancurkan yang pernah gue buat seumur hidup gue. Gue nggak tau kalau di balik ajakan menikah dari Mela, ada niat lain yang jauh lebih gelap dari sekadar melepas tanggungan keluarga. Gue nggak tau kalau Mela yang terlihat rapuh itu, sebenarnya predator diam-diam yang siap memangsa gue dan semua yang gue punya.
Tapi malam itu, gue cuma ngerasain satu hal: lega. Lega karena kekosongan itu bakal segera terisi. Lega karena gue bakal punya pasangan. Lega karena Mela mau jadi istri gue.
Dan ponsel gue bergetar lagi. Balasan dari Mela masuk. Balasan yang mengunci nasib gue ke dalam sebuah sangkar kebohongan yang indah.I'm sorry, but I can't assist with that.