Lamaran yang Sederhana

1296 Kata
Setelah obrolan chat yang bikin jantung copot itu, hidup gue berubah lagi. Bukan lagi cuma soal kode, uang, dan kosan sepi. Sekarang ada Mela. Ada keluarganya. Ada rencana. Sejak awal 2023, gue jadi sering pulang kampung. Bukan cuma pas libur panjang, tapi nyempetin weekend. Minimal sebulan sekali. Tujuannya jelas: deketin Mela, deketin keluarganya. Ini langkah serius. Nggak bisa main-main. Gue dateng bukan cuma buat ngobrol sama Mela di kafe, tapi langsung ke rumahnya. Pertama kali masuk ke rumah itu rasanya... beda. Rumah khas kampung, nggak mewah tapi rapi. Ada aura yang tebal di dalamnya. Gue ketemu Bapaknya Mela, Pak Ade. Orangnya tegas banget. Ngomongnya nggak banyak basa-basi, langsung ke intinya. Kayak... diktator? Gue ngerasa agak terintimidasi awalnya, tapi gue tunjukkin gue serius. Gue ceritain kerjaan gue, rencana gue ke depan. Beliau cuma manggut-manggut aja. Ibunya Mela, Bu Sari, kebalikannya. Orangnya lembut, keibuan banget. Senyumnya ramah, bikin gue ngerasa diterima. Beliau yang paling banyak nanya, nanyain keseharian gue di kota, nanyain orang tua gue di sini. Tiap gue datang, selalu disiapin makanan enak. Ngerasa diperhatiin. Ada juga adiknya Mela, Aldi. Anaknya pendiam juga, mirip kakaknya. Umurnya kayaknya beda setahun dua tahun di bawah Mela. Dia nggak banyak ngomong sama gue, cuma senyum tipis kalau ketemu. Matanya... kayak merhatiin sesuatu, tapi nggak gue tangkep apa. Yang paling menarik perhatian gue, pamannya Mela, Jafar. Dari pihak Ibu, Bu Sari. Dia tinggal serumah sama Mela dan keluarganya. Orangnya kalem banget. Ngomongnya pelan, tapi tiap dia ngomong, Pak Ade dan Bu Sari kayak dengerin banget. Ada wibawa tenang di dia. Dia seringnya cuma duduk di ruang tamu, ngerokok atau main ponsel. Nggak banyak interaksi sama gue, cuma sesekali nanya kabar. Tapi ada sesuatu dari dia yang bikin gue nggak nyaman. Kayak... matanya itu. Tenang, tapi kok ya dingin? Gue buang pikiran itu, mungkin perasaan gue aja. Obrolan sama Mela di rumah mereka juga beda suasananya. Nggak sebebas di kafe. Dia lebih banyak diem kalau ada keluarganya. Yang banyak ngobrol malah Bu Sari sama kadang Pak Ade. Gue berusaha nyatu, ngebangun chemistry sama mereka. "Namja di kota kerjanya apa aja, Nak?" tanya Bu Sari lembut. "Programming, Bu. Bikin Aplikasi HP buat perusahaan," gue jawab, berusaha bikin sesederhana mungkin biar mereka paham. "Oh gitu. Pinter ya," puji Bu Sari. Pak Ade nyahut, suaranya berat, "Kerja yang bener. Jangan main-main. Mela ini anak pertama Bapak" Gue langsung tegap duduknya, "Siap, Pak. Saya serius sama Mela." Pak Ade natap gue lurus. Tatapannya tajem. "Bagus kalau gitu." Waktu berjalan. Gue makin sering pulang. Keluarga Mela kayaknya udah makin nerima gue. Kecuali Jafar, dia tetep kalem misterius. Aldi juga tetep pendiam. Mela sendiri... dia masih Mela yang gue kenal. Pendiam. Tapi kadang, pas gue lagi ngobrol sama keluarganya, gue liat dia natap gue. Natapnya... aneh? Kayak lagi ngecek? Atau lagi nilai? Terus cepet-cepet dia buang pandangan kalau gue liat balik. Tibalah bulan Mei 2023. Bulan ulang tahun Mela. Ini momen yang udah disepakati buat lamaran alias tunangan. Keluarga gue dari kampung juga datang, nyokap gue, Bapak, sama beberapa paman dan bibi. Suasana di rumah Mela rame. Ada keluarga gue, ada keluarga Mela, sama beberapa tetangga deket. Gue duduk di sebelah Mela. Dia pakai dress warna pink soft, kelihatan... cantik. Cantik yang tenang. Acara dimulai. Ada sambutan-sambutan. Dari pihak keluarga gue, dari pihak keluarga Mela, diwakilin sama Pak Ade. Pamannya Mela, Jafar, juga duduk di barisan depan, dengerin dengan tenang. Pas giliran sesi inti, sesi tanya jawab buat mastiin niat kedua belah pihak. Gue natap Mela. Ada yang aneh. Wajahnya kelihatan... tegang? Dan mata itu. Kosong. Dingin. Bukan Mela yang hangat yang gue rasain waktu di kafe, bukan Mela yang senyum tipis waktu chatting. Ini kayak Mela yang paling pendiam waktu SMK, tapi lebih jauh lagi. Ada dinding tinggi di matanya. Gue kaget. Belum pernah liat dia kayak gini. Kenapa? Gugupkah? Malu? Atau... dia nggak mau? "Mela," suara Pak Ade berat, "Ini Namja sama keluarganya datang kemari. Niatnya baik. Mau melamar kamu. Mau menjadikan kamu istrinya. Gimana, Nak? Apa kamu terima?" Semua mata natap Mela. Mata gue juga. Dia nunduk. Nggak ngomong apa-apa. Hening sejenak. Hening yang kerasa lama banget. Jantung gue deg-degan. Ada apa ini? Dia ngangkat kepala pelan. Natap Pak Ade sekilas, terus natap gue. Tatapannya... datar. Dingin. Kayak nggak ada emosi sama sekali. Tapi cuma sedetik. Habis itu dia langsung nunduk lagi. Wajahnya kembali ke ekspresi pendiamnya yang biasa. Ekspresi yang gue kenal. Ekspresi yang... aman. Respons singkatnya tadi. Dinginnya tatapan itu. Kayak cuaca tiba-tiba berubah ekstrem terus balik normal lagi. Sekilas doang. Tapi gue ngeliat itu. Jelas banget. Kenapa dia gitu? Gue buang pikiran itu cepat-cepat. Mungkin dia malu. Mungkin dia kaget. Mungkin ini caranya dia nunjukkin perasaannya yang nggak bisa diungkapin kata-kata. Dia kan emang pendiam. Gue nggak boleh overthinking. Ini momen penting. "Mela?" Pak Ade manggil lagi, nadanya sedikit nggak sabar. Mela ngambil napas. Suaranya pelan banget, hampir nggak kedengeran di tengah keramaian itu. Lirih. "Iya... Mela terima." Dia terima! Ya ampun. Lega. Gue langsung senyum. Senyum lebar. Nggak peduli suara dia pelan banget, nggak peduli ekspresinya hampir kosong waktu ngomong 'iya'. Buat gue itu udah lebih dari cukup. Itu dia. Dia mau. Dia bersedia jadi istri gue. Dia cuma... malu. Ya, pasti malu banget. Dia kan pendiam. Nggak biasa jadi pusat perhatian kayak gini. Gue paham kok. Acara lanjut ke pasang cincin. Ibu gue pasangin cincin di jari manis Mela. Gue liat gerakan tanganya Mela kaku. Gue coba kasih dia senyum. Senyum yang bilang, "Ini beneran, Mel. Kita tunangan." Dia cuma nunduk. Setelah acara formal, suasananya lebih santai. Keluarga gue ngobrol sama keluarga Mela. Ibu gue kelihatan seneng banget. Bapak juga kelihatan setuju. Gue ajak Mela duduk agak minggir, ngobrol berdua. "Kamu malu banget ya?" gue nanya, senyum. Dia ngangguk pelan, masih nunduk. "Iya..." "Nggak papa," gue genggam tangannya lagi. Dia nggak narik tangannya. "Aku ngerti kok." "Makasih ya, Namja," katanya pelan banget. "Makasih buat apa?" "Buat... semuanya." Semuanya? Maksudnya terima dia yang gini-gini aja? Atau makasih karena gue serius sama dia? Gue nggak nanya lagi. Cukup dengerin dia bilang 'makasih'. Itu udah bikin gue bahagia. Kami sepakat, pernikahan bakal dilaksanain tahun depan. Juli 2024. Sekitar satu tahun lebih dikit dari sekarang. Ada waktu buat nyiapin semuanya. Sejak hari tunangan itu, status gue sama Mela berubah. Gue jadi punya tanggung jawab. Dan gue nggak mau main-main sama tanggung jawab itu. Gue udah janji bakal jadi orang yang ada buat dia, yang bakal bantu dia. Apalagi dia bilang ada 'tanggungan' di rumahnya. Gue harus buktiin gue bisa jadi tempat bersandar dia. Setiap bulan, tanpa disuruh, gue transferin uang ke Mela. Nggak banyak sih buat ukuran gaji gue, antara satu sampai satu setengah juta. Buat dia pegangan katanya. Buat jajan, buat beli apa yang dia mau. Awalnya dia nolak, bilang nggak enak. Tapi gue maksa. "Ini udah kewajiban aku, Mel. Kamu kan tunangan aku sekarang." Akhirnya dia mau nerima. "Makasih banyak ya, Namja. Kamu baik banget," katanya di telepon suatu malam. "Kamu juga baik, Mel," gue bales tulus. "Aku seneng bisa bantu kamu." Setiap bulan, uang itu gue transfer. Buat gue itu bukan beban. Itu tanda sayang. Tanda keseriusan. Gue ngebayangin, uang itu bisa bikin dia senyum, bisa bikin dia nggak terlalu mikirin beban 'tanggungan' di rumahnya. Gue nggak tau kalau uang itu, dan niat baik gue itu, cuma bagian dari sebuah rencana yang jauh lebih besar. Gue nggak tau kalau 'tanggungan' Mela bukan cuma soal finansial atau keluarga biasa. Gue nggak tau kalau dinginnya tatapan Mela di hari tunangan bukan cuma malu atau gugup. Itu adalah sekilas wajah asli yang nggak sengaja dia tunjukkin. Wajah yang tersembunyi di balik topeng pendiam dan rapuhnya. Wajah yang nggak bakal gue lupain. Wajah dari orang yang udah ngunci gue di dalam jebakan yang manis. Jebakan yang bakal gue sadari sepenuhnya, perlahan-lahan, setelah gue resmi menikahi dia. Dan saat itu terjadi, semuanya udah terlambat buat mundur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN