Memburu serigala.

1573 Kata
The Evil Symphony “Kenapa...? Apa Mamaku punya masalah kesehatan setelah donor kemarin .....? “ Rachel menanti jawaban Dion, dia masih terdiam dan belum mengatakan apapun lagi. Tapi sekarang Dion beralih, gestur tubuhnya yang awalnya gelisah sekarang mulai tenang. “Tidak ada masalah apa apa, dia baik baik saja. Percayalah Rachel, Mamamu dalam kondisi yang baik ..” Dion meyakinkan Rachel, tapi Rachel masih menuntut penjelasan lain, “Kamu akan ikut Lucas konser di Yunani bukan ....? “ Dion menatap Rachel, ia masih ingat pembicaraan Rachel tentang orkestra dan semua tentang Biola. Ia takan lupa bagaimana senangnya Rachel saat terpilih menjadi pendamping Lucas. “Aku akan melanjutkan sekolahku disana, di Yunani ... “ Mata Rachel terbelalak, kebahagiaan meluap di wajahnya. Ia bisa merasakan kebahagiaan karen Dion bisa melanjutkan sekolah di sana. “Kamu tau, Archimedes, Aristo teles, mereka cendekiawan hebat. Mereka menguasi lebih dari satu bidang, matematika, hukum, astronomi, kedokteran .... “ Dion berhenti, menarik nafas dalam yang penuh kelagaan, “Aku sangat senang bisa berada di sana, aku juga mau melihat penampilan perdanamu dalam sebuah orkestra nantinya ... “ Angan Rachel melayang, membayangkan penampilannya dalam sebuah orkestra tunggal Lucas Norwest yang bisa di saksikan Dion nantinya, benar benar kebahagiaan yang berlipat ganda. “Aku akan mengajak Mamamu, di sana ada kenalanku. Teman lamaku yang menawarkan diri untuk memonitor kesehatan Mamamu. Kamu paham maksudku kan Rachel ...? “ “Apa ini tak berlebihan Dion..? aku senang kamu bisa belajar di sana, sejarah ilmuan hebat banyak di sana. Kamu bisa terbawa arus ilmu pengetahuan di sana, tapi Mamaku Dion... membawa Mamaku bersamamu itu, itu .... “ “Aku tak keberatan, beri kebahagiaan kecil untuk Mamamu Rachel. Biarkan dia beristirahat sekaligus berlibur di sana .... “ Rachel tampak menimang semua pembicaraanya dengan Dion. Tapi ia takut merepotkan, tugas Dion belajar. Walaupun Ibunya akan di rawat orang lain, tetaplah Dion yang bertanggung jawab pada Ibunya. “Aku juga ingin melepaskanmu .... “ Kata itu keluar dari mulut Dion dengan lancar, tapi hatinya gentar dan merundung pilu. Sakitnya bukan main. “Aku melihatnya kemarin, begitu menyiksa untukku Rachel..... “ Dion terhenti, ingatannya berputar kembali ke memori kemarin tentang Lucas. Ia memikirkan Lucas semalaman, membandingkan dirinya sendiri dengan Lucas. Ia yang semakin merasa rendah untuk mendapatkan Rachel, peluangnya yang takan sebanding dengan peluang Lucas. “Sangat menyiksa untukku, melihat orang lain yang lebih mencintaimu dari diriku Rachel. Aku pikir, dulu....... aku adalah orang yang paling mencintaimu, paling layak untukkmu .... “ “Tapi kemarin adalah tamparan keras untukku, di luar sana. Ada laki laki bernama Lucas yang mencintaimu beribu kali lebih besar dari cintaku untukku. Berkali kali lipat lebih pantas untukmu, juga punya ruang di hatimu .... “ Obrolan berat itu terhenti, Dion dan Rachel yang sama sama diam, Rachel hanya diam dan mendengarkan. Ia tak bisa memotong pembicaraan Dion. Karena entah mengapa, semua kata kata Dion. Benar. Tak ada kebohongan sedikitpun di dalamnya. “Biarkan aku melupakan perasaan ini, tapi biarkan aku tetap jadi keluargamu. Biarkan aku juga ikut andil merawat Mamamu, aku tak mau karena perasaanku yang konyol ini. Hubungan kita berubah Rachel. Aku tetap Dion yang ada saat kamu membutuhkanku, kamu juga harus tetap jadi Rachelku yang dulu .... “ Dion memeluk Rachel, pelukan erat yang terasa berat namun juga terasa ringan secara bersamaan. Beban masing masing kini telah di angkat. Rachel tak perlu lagi berpura pura acuh dengan perasaan Dion, Dion yang tak perlu lagi terbebani dengan perasaanya. Mereka kembali lagi menjadi Rachel dan Dion yang dulu, dua anak yang saling menemani, saat yang satu bermain Biola dan satunya lagi tengah suntuk belajar. Entah sebutan apa yang pantas di sematkan untuk kelapangan hati Dion. “Jangan terlalu memaksakan diri Dion .... “ Rachel memper erat pelukannya, “Kamu tak perlu menjadi hebat di mata dunia, kamu sudah hebat dengan sendirinya. Rasakan kebahagiaanmu saat kamu menjalani mimpimu ..... “ “Aku bukan lagi Dion yang dulu, Dion yang penurut dengan perintah orang tuaku untuk selalu belajar. Aku akan belajar astronomi Rachel, aku berjanji. Akan ku temukan bintang baru dan akan kuberi nama bintang itu dengan namamu. Hingga namamu bisa ada di atas sanan untuk waktu yang lama, sampai berjuta tahun cahaya .... “ Entah apa yang Rachel rasakan, kini ia menangis. Ia bisa mengerti perasaan Dion. Dion yang tak bisa mengutarakan mimpinya, hanya di depan Rachel ia bisa mengatakan mimpinya. Menjadi angkasawan, setiap malam di temani Rachel hanya untuk berdebat dan bertengkar kalau bintang yang mereka lihat kemarin sudah menghilang dan berganti bintang yang baru. Tapi mereka sama sama salah, bintang di atas sana. Hidup jauh lebih lama dari manusia itu sendiri, hingga milyaran tahun lamanya. Dion ingin, Rachel ada dan di kenang sampai milyaran tahun kedepan. Ini akan menjadi rahasia kecilnya yang takan orang lain ketahui, bintang itu akan menjadi simbol rahasia cintanya kepada Rachel. “Kamu tau, aku bahagia saat berjalan beriringan dengan mimpiku. Rasanya benar benar sangat bahagia, seolah dunia tak sebanding dengan mimpiku itu. Aku berharap, kamu segera merasakan kebahagiaan itu. Kebahagiaan saat mimpimu terwujud .... “ Dion mepelas pelukannya, menepuk punggung Rachel dengan pelan dan penuh kasih sayang. Ia kini bisa merasakan bagaimana rasanya saat mimpi dan cita citanya terwujud. Ia tak lagi terkurung, ia bisa bebas terbang menembus cakrawala dengan sayapnya sendiri. Bernafas dengan paru parunya sendiri tanpa merasa sesak karena tuntutan orang tua. “Sekarang pun aku sudah bahagia “ Dion kembali tersenyum kecil, entah senyum yang keberapa yang sudah ia lontarkan hari ini. Tapi karena ia merasakan kebahagiaan dan juga kelegaan. Membuatnya tak bisa berhenti tersenyum. “Jangan lupa, akhir minggu ini kami berangkat. Antar kami di bandara, sebelum kita bertemu lagi di konser ..... “ “Mamaku sudah mengetahuinya ....? “ Rachel kaget dengan ucapan Dion barusan. “Mamamu bahkan sudah setuju, ia bilang akan menjadi beban kalau tetap disini dan sedangkan kamu berlatih keras, ia tak mau mengganggu latihanmu ..... “ Dion bangkit dari kursinya, pelukan perpisahan tadi masih membekas di dadanya. Perasaan hangat yang tiba tiba muncul di dadanya benar benar membuatnya merasa nyaman dan damai. “Istirahatlah, simpan tenagamu untuk mengantar kami ..... “ “Aku pamit dulu ..... “ Dion melambaikan tangannya sekilas lalu berbalik dan menyisakan pemandangan punggun itu, sosok yang takan di lihat Rachel dalam jangka waktu yang lama. Rachel membalas lambaian itu sebelum punggung Dion benar benar menghilang di balik pintu. Ia berpisah dengan Dion, dan di pertemukan dengan Lucas, terpisah jauh entah di mana dengan cinta pertamanya. Entah takdir seperti apa yang tengah Tuhan persiapkan untuknya. *** 000 *** Lucas sudah sampai di rumahnya, perjalanan ke pinggiran kota selalu membuatnya bernostalgia. Membuatnya menyesal, kenapa harus tinggal sesaat di Indonesia. Tempat yang awalnya asing untuknya. Tapi sekarang lebih dari rumah untuknya. Tempat kelahiran Ibunya, sama seperti rumah utamanya. Menjadi tempatnya untuk pulang. Lucas memasuki rumahnya dengan langkah yang pelan tapi pasti. Bodyguardnya sudah bebrbaris rapi menyambutnya. Sekarang, ia akan bertatapan dengan maut lagi. Hati kecil Lucas bermonolog dengan pria itu. Ia berharap, kalau sekarang. Ia masih punya kesempatan untuk pulang ke rumahnya. Pulang dengan selamat, lagi. “Siapkan semua peralatannya ..... “ Lucas memberikan instruksi, dalam hitungan detik lima bodyguardnya sudah bergerak dan pergi entah kemana, mengikuti perintah Lucas untuk menyiapkan peralatan. Entah apa itu. Sepanjang perjalanan, ia sudah berkomunikasi dengan chip mini yang terhubung dengan semua alat komunikasi bodyguarnya. Ini juga alasan kenapa tiga bodyguarnya bisa sampai ke lumbung bersamaan dengan bodyguard lainnya kemarin. “Lakukan sesuai rencana, hari ini kita akan membuat orang yang telah mengganggu ketenangan kita menyesal untuk waktu yang lama ... “ Serempak Lucas mengambil pisau tajam seukuran jari jemarinya. Menyusupkan pisau kecil itu ke lengannya. Kamuflase yang tepat, tak akan ada yang tau kalau di sana tersimpan pisau kecil yang bisa di lemparkan dan terhunus membunuh lawan. Bodyguard Lucas juga melakukan hal yang sama, akan ada kemungkin gelombang komunikasi terhambat. Shawn baru bisa menemukan jejak keluarga Philip dengan membuntuti mereka. Dan jaringan komunikasi di sana, di sadap dengan sangat apik. Jadi, chip antara Lucas dan bodyguardnya takan berguna saat ini. Mereka hanya bisa mengandalkan rencana dan kerjasama. “Jangan buat pergerakan yang mencurigakan ...” Lucas sudah siap, ia sudah membawa s*****a pamungkasnya untuk keadaan darurat. “Aku tak ingin ada yang terluka atau mati, kita akan pulang dengan selamat, dan juga lengkap .... “ semua orang mendengarkan, misi ini adalah misi penting. Menyelamatkan nyawa dengan berkorban nyawa bukanlah prinsip Lucas. Prinsipnya adalah, menyelamatkan nyawa dan semua pulang bernyawa. Tak ada pengecualian. Misi di mulai, seperti genderang perang yang di tabuh semakin dan semakin cepat. Waktu yang mereka miliki juga cepat dan singkat. Kematian Philip pasti sudah tak punya keuntungan. Jadi menjaga nyawa anak dan istri Philip pasti juga di abaikan. Mereka bisa di bunuh kapan saja. Dan Lucas harus bergerak cepat, secepat mungkin. Mobil melaju pesat, tak lagi dengan mobil yang mewah yang menoclok. Mereka berkamuflase. Menggunakan mobil biasa dengan jarak antar mobil yang terus di jaga. Tak terlalu dekat, juga tak terlalu jauh, namun masih saling menjaga antar pesonil. Tak ada yang boleh terluka, itu perintah Lucas. Laki laki itu sendiri memimpin di depan, sendirian tanpa di temani Shawn atau yang lainnya. Ia tengah berkomunikasi dengan Shawn yang memonitori mereka dari jarak jauh. “Tuan, jalan di sana sudah tersisir dan aman. Kalian bisa menambahkan laju kecepatan .... “ “Ok ...” Lucas menginjak pedal gas dan mobil yang di tumpakinya melaju lebih pesat lagi, di ikuti mobil mobil lain di belakangnya. “Shawn, pemindaian inframerah dari udara. Kabarkan hasilnya kepadaku secepatnya .... “ “Baik Tuan ...” Diam dan tak ada suara, ini pertanda kalau Shawn sedang mengerjakan tugasnya. Melakukan pemindaian inframerah. Tempat itu terawasi dengan baik, tapi tak ada jebakan ataupun perangkap lainnya yang tersembunyi. Semua aman terkendali. “Tuan, semuanya akurat. Mereka ada di tempat seperti di hasil investigasi. Jumlah mereka tak terlalu banyak, tapi medannya sulit. Mereka ada di lantai sebelas .... “Lucas mengangguk paham, ia langsung menyusuri jalanan menuju ke sudut kota yang terbengkalai. Orang yang ia cari di sandera di sana. Anak dan istri Philip ada di sana. Sekarang, misinya. Di mulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN