Kamu harus kembali.

1002 Kata
The Evil Symphony Rachel terduduk di sana, ia sudah di tinggalkan Dion sendirian. Selama sepuluh menit ke belakang, ia masih memikirkan kata kata Dion. Tentang Lucas, nama itu mengganggu otaknya semalaman. Kata kata itu masih terngiang di pikirannya. Dan setelah mendengar nama Lucas yang di sebut sebut Dion, entah mengapa ia merasakan firasat buruk tentang Lucas. Ia berpamitan pergi, tapi entah kemana. Ia teringat kata kata Lucas “Aku akan pergi dan membuat pengorbanan orang baik yang menjadi jahat itu tak sia sia “, entah mengapa kata kata itu benar benar sangat mengancam. Kata kata Lucas seperti mengacu pada bahaya, pengorbanan? Pengorbanan apa yang Lucas maksud itu. Perempuan itu beranjak keluar dari ruangannnya, Lucas belum juga kembali. Berarti ia harus menanyakannya pada orang lain ia harus menanyakan itu kepada Shawn. Pengorbanan apa yang Lucas maksud. Apa yang akan Lucas korbankan. Firasatnya buruk saat mendengar kata pengorbanan. Rachel membuka pintu dan langsung di hujani tatapan mengawasi dari dua orang bodyguard di samping pintunya, membuat Rachel gugup. “Aku ingin bertemu dengan Shawn, itu saja .... “ Rachel mencoba memberikan penjelasan dengan senyum ramah, “ Aku mau mengantarkan maknan ini .... “ Rachel mengacungkan kantong makanan di tangannya, kantong yang di bawa Lucas, yang seharusnya isi makanannya di makan olehnya. “Mari kami antar .... “ Wajah dua penjaganya yang tak memiliki senyum benar benar membuat Rachel gerogi, tapi mereka memperlakukan Rachel dengan baik. Satu orang bodyguard berjalan di depan Rachel menuntun jalan, satu lagi menjaga Rachel dari belakang. Mereka berjalan, menyusuri lorong demi lorong sampai ke sisi yang tak tersentuh. Tak ada orang yang berlalu lalang di sekitaran lorong ini. Entah karena ruangan di lorong ini terlalu VIP, atau apa. “Silahkan masuk Nona, Sekretaris Shawn ada di dalam ... “ Bodyguard yang menuntun Rachel di depan itu berhenti di depan sebuah ruangan biasa, ruangan perawatan yang sama seperti ruangannya. Tapi begitu Rachel masuk, semua terasa berbeda. Di dalam sana terdapat banyak sekali benda benda yang tak ia kenali. Bahkan di dalam sana tak ada satu ranjang pasien. Keseluruhan ruangan di isi dengan layar layar yang entah menunjukan apa. Ada yang hanya menunjukan titik titik merah, ada yang menunjukan sebuah gelombang yang berubah ubah tiap detiknya, Rachel tak tau itu. “Shawn .....? “ Rachel masuk dengan hati hati, mencari cari di mana Shawn berada. Tapi ia bisa menemukan laki laki itu pada akhirnya, Shawn sedang duduk dengan berbalik padanya. Tubuhnya menghadap layar komputer yang nampak berkedip. “Nona ...?! “ Shawn nampak terkejut dengan kunjungan tiba tiba yang di lakukan Rachel, ia terbiasa bekerja dalam diam dan kesendirian. Hanya segelintir orang yang tau kalau ia adalah hacher. Hanya ia dan Lucas dan beberapa orang yang bisa di hitung dengan jari. Tapi ia ketahuan oleh Rachel. “Mengapa, kenapa.. Nonaa ..... “ Shawn masih terbata bata menyelesaikan kalimatnya sebelum ia mendengar suara dari chip komunikasinya, “Shawn, bagaimana hasil pemindaian di sini. Bagaimana hasil laporannya .... “ Suara Lucas yang terdengar dari sebrang sana. Shawn langsung beralih dari Rachel dan menatap layar komupternya. Memberikan statistik pemindaian inframerah yang ia dapat dari drone otomatis yang ia modifikasi untuk berterbangan di lokasi untuk mengambil gambar situasi. Shawn menerbangkan drone itu lebih dari sehari semalam, setelah mengetahui keberadaan anak dan istri Philip, ia mengawasi gerak gerik mereka tak hanya dari darat, tapi juga udara. Drone itu, entah perubahan apa yang telah Shawn lakukan. Drone itu takan jatuh kehabisan daya walupun di terbangkan berhari hari lamanya, hanya perintah Shawn yang bisa menurunkan drone itu. “Tuan, di sana tak ada bahaya yang terdeteksi di udara. Atap bangunan, clear .... “ Shawn memperbesar gambaran yang ia dapat dari drone, terlihat jelas di sana kalau roof top bangunan tak ada seorangpun. Di sana clear, mereka tak mengantisipasi serangan udara dari Lucas. Karena memang Lucas tak berniat menyerang dari udara. Ia berniat menyerang secara langsung. “Tuan, lima ratus meter kedepan, sinyal komunikasi sudah mulai terganggu dan mungkin juga terputus. Saya hanya bisa membantu sampai sini .... “ Shawn berkata melalui mikrophon kecil di depan layar komputernya, untuk memperjelas komunikasinya dengan Lucas, layar di komputer sebelah kirinya sudah menunjukan kalau sinyal komunikasi sudah mulai terganggu. “Ba-- ikk ... “ Jawaban Lucas sudah tak jelas terdengar, komunikasi benar benar terganggu sepenuhnya. Rachel tak mendengar percakapan Shawn dengan Lucas barusan, tapi ekpresi wajah serius yang di tunjukan Shawn. Membuat Rachel tau, percakapan mereka bukan percakapan main main. “Sebenarnya apa yang terjadi Shawn ....? “ Rachel mendekatkan diri ke kursi Shawn, laki laki itu melepas chip komunikasinya dan menekan tombol merah, setelah itu ia berbalik lagi menghadap Rachel, “Kami sedang menyelamatkan seseorang, menghargai pengorbanan yang telah di berikan .... “ Shawn mengarahkan fokus ke layar, ia menyesal hanya menerbangkan satu drone. Kini ia hanya bisa mengwasi dari kejauhan, ia memperkecil pencitraan gambar dan kini ia melihat deretan mobil yang terlihat seperti semut yang merangkak, mulai mendekati gedung itu. “Kami tengah membalas pengorbanan seseorang Nona, Tuan Lucas akan menyelamatkan orang yang paling di sayangi dari orang yang telah berkorban itu .... “ Shawn mengawasi dengan teliti di layar komputernya, mobil Lucas masih berjalan dan tak terlihat lagi, tertutupi pepohonan dan tak terlihat lagi untuk beberapa ratus meter ke depan. Selang beberapa detik, mobil kembali lagi terlihat. Lucas pasti memacu mobil dengan kecepatan tak karuan, menembus jarak hampir dua ratus meter hanya dengan beberapa detik. “Tuan Lucas sangat menghormati orang orangnya, menganggap kami sebagai bagian dari keluarga. Kalau satu diantara kami di sakiti dan akhirnya mati, ini yang Tuan Lucas lakukan untuk pengorbanan kami. Tuan Lucas yang akan bergantian, menggantikan peran kami. Ia akan melindungi, orang orang yang kami sayangi. Ia tengah melakukan tugasnya ... “ Rachel menatapi layar komputer itu lekat lekat, tanpa sadar ia tau pengorbanan apa yang di maskud Lucas padanya. Rachel menggenggam erat tangannya, memanjatkan do’a. Sekarang ia memahami Lucas sepenuhnya. Kalau laki laki itu hanya terjebak dalam kegelapan. Tapi sisi hatinya tak gelap dan suram. Hatinya memancarkan cahaya sendiri, cahaya yang takan terlihat oleh orang lain. Cahaya Lucas yang hanya terpendar dan kita harus mendekatinya kalau ingin tau cahayanya. Rachel yang pernah menganggap Lucas k**i dan mau membuhun orang sembarangan. Itu dulu, sebelum ia melihat cahaya yang terpendar di dalam diri Lucas. Sekarang ia memamahi betul, Lucas adalah orang yang penuh kasih. “Kamu harus pulang ..... “
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN