Dia kembali.

2409 Kata
The evil symphony. Di sisi lain, Lucas sudah sampai. Ia menaruh mobilnya tepat di depan gedung tua itu. Shawn mengatakan tak ada CCTV di sana, itu membuat Lucas dengan tenang bisa turun di sana dan tak perlu menjaga jarak. Ia mengambil handphonya, sebelum jaringan komunikasi terputus atau bahkan terblokir, Shawn sudah mengirimkan hasil gambar pencitraan drone dan pemindaian infra merah. Mengirimkan data itu ke handphonenya dengan sinyal transmisi khusus. Ia melihat titik titik merah di sketsa gedung, mereka ada di lantai sebelas. Gumam Lucas. “Kita mulai berpencar sesuai rencana, tim satu dari belakang, tim dua terbagi ke sisi kanan dan kiri, sisanya akan mengikutiku .... “ “Cepat dan tanpa suara, mereka di lantai sebelas .... “ perintah di luncurkan dan gerombolan itu terpecah menjadi empat kubu yang bergerak masing masing seusai instruksi. Satu di sisi kanan gedung, satu di sisi kiri gedung, dan satu di belakang gedung. Lucas bejalan cepat sambil menundukan punggungnya, mencoba mengantisipasi kalau mereka juga memasang snniper di lantai atas untuk menembak dadanya lagi seperti yang terjadi di lumbung. Ia di ikuti sekitar lima orang, dua orang di antara mereka memiliki misi khusus. Mereka memasuki gedung tua itu dengan langkah yang cepat tak bersuara. Menerobos gedung itu dengan kewaspadaan yang meningkat. Gedung tua ini tak ada akses lain, ia harus menuju lantai sebelas melalui tangga. “Gunakan tangga tanpa membuat mereka curiga .... “ Lucas menunjukan ke duar orang yang mengemban misi khusus untuknya, “ Kalian, bergerak tanpa terlihat .... “ dua orang itu mengangguk dan langsung pergi. Mereka berdua mengambil sisi yang berbeda dari Lucas, sisi tangga yang membelakangi Lucas dan tiga orang lainnya. Lucas langsung mengacungkan tanganya, memberikan aba aba untuk lebih cepat. Mereka bergerak naik ke atas, gedung tua ini bahkan hampir runtuh. Tak ada fasilitas seperti lift yang dapat di akses. Mereka bergerak dan terus bergerak. Ini mungkin adalah jebakan yang sangat jelas terlihat. Mereka sengaja memilih lantai sebelas agar Lucas dan timnya sudah kelelahan terlebih dahulu sebelum mengepung mereka. Tapi nampaknya pihak musuh salah besar, sekuat apapun rintangannya. Persaudaraan dan kekeluargaan bagi Lucas dan orang orangnya adalah hal yang sangat powerfull. Sebelas lantai tak akan menghalangi mereka untuk menyelamatkan anak dan istri Philip. Mereka takan lelah hanya untuk menaiki sebelas lantai, takan. Di sisi lain, di belakang gedung. Tim ketiga sudah bergerak. Sekitar lima orang sudah mulai menyisiri gedung. Mencoba mencari ranjau apa lagi yang mungkin terpasang untuk menyambut mereka. Tapi semua itu berakhir tanpa hasil. Seluruh area belakang gedung benar benar bersih. Tak ada yang lain. Mereka langsung bergerak menembakan tali dengan bantuan alat canggih yang di buat Shawn. Dengan gerakan cepat, tali sudah terkait di jendela yang berada di lantai tiga belas. Mereka mulai memanjat ke lantai sebelas. Kali ini Lucas tak ingin bernegosiasi, ia akan langsung bergerak pada poin utamanya. Menyelamatkan anak dan istri Philip. Ia berjalan cepat sampai di lantai sembilan, tapi tiba tiba tangannya memberikan aba aba untuk berhenti. Memberikan isyarat dengan tangan kirinya. Tiga orang di belakangnya berhenti spontan, setelah melihat aba aba Lucas. “Waspada, ada yang mendekat .... “ Mereka berempat merapatkan tubuh ke tembok tangga, sisi tembok yang takan terlihat dari atas tangga. Dan benar, terdengar langkah yang tengah menuruni tangga mulai semakin jelas dan dekat. Hingga suara itu terdengar jelas ada di atas kepala mereka. “Kita harus mengecek sekeliling gedung ini sebelum membunuh mereka berdua .... “ Suara langkah kaki itu terhenti tepat di atas kepala Lucas, ia menajamkan telinganya mencoba mengikuti apa yang tengah mereka bicarakan. “Mayat laki laki itu sudah di buang kemarin bukan ....? “ Suara lain itu menimpali, suara yang berbeda jauh dari suara yang pertama. Suara ini jauh terdengar lebih mengerikan. “Benar, di buang kelaut lepas dan takan di temukan .... “ Darah Lucas mendidih saat mendengar percakapan mereka, pasti yang mereka bicarakan itu adalah Philip. Amarahnya memuncak, ia bergerak terbawa emosi. Ia langsung muncul dan menyergap salah satu orang itu. Ia mengambil pisau kecil yang di sembunyikan di kemejanya. Menghunuskan pisau tajam itu ke arah laki laki satunya dan ia langsung terbunuh dengan mata yang membelalak. “Kau bisa mati dengan cara yang sama seperti mereka .... “ Lucas berbisik tepat di telinga laki laki di cengekramannya, tangannya sudah mengunci segala pergerakan laki laki itu. Mata pria itu terbelalak melihat kematian temanya barusan, kematian yang tak terduga dan dengan cara yang sangat menjetukan. Tak ada darah yang keluar, pisau kecil itu sukses menembus jauh ke dalam leher dan tersemat dalam di sana. Kematian yang tak berbekas. “Ba... baiklah ..... “ Jawaban gugup itu kembali menjadi lebih gugup saat melihat tiga orang lain muncul dengan menodongkan pistol yang terarah ke kepalanya, dan dua pistol terarah ke dadanya. “Berapa banyak penjaga di sana ...? “ Lucas mengencangkan cengkeramannya, ia benar benar geram ketika teringat pembicaraan mereka berdua. “Kami hanya sedikit di sini .... “ suara itu bergetar ketakutan, “Aku hanya anak baru, tak tau apa apa “ Lucas mendengar suara itu lekat lekat, ini bukan suara yang terdengar mengerikan. Lucas tersenyum getir. Ia tak menyesal telah menghunuskan pisau kecilnya itu. Setidaknya orang pertama yang ia bunuh, adalah orang yang pantas mati di matanya. “Antar aku ke sana dengan jalan yang paling aman tanpa penjagaan .... “ Laki laki di cengkeraman Lucas itu mengangguk, tangannya terasa dingin. Gugup dan ketakutan, mungkin yang di katakannya kepada Lucas itu benar. Ia orang baru yang tak tau menahu tentang dunia yang saling membunuh ini. Ia menuntun Lucas dan tiga orangnya melalui jalan yang di sisirinya barusan dengan temannya yang sudah mati. Jalan tanpa pengawasan. “Apa kamu hanya di suruh berjaga .... “ “Aku hanya di tawari pekerjaan, kumohon jangan bunuh aku ..... “ Suara itu sedikit tercekat, seperti seorang yang menangis. “Aku hanya gelandangan yang di tawari pekerjaan untuk berjaga. Aku tak tau apa masalahnya, aku bukan bagian dari mereka ..... “ Lucas tak mengiraukan perkataan itu, “Dia yang barusan terbunuh, dia kriminal. Dia juga bukan bagian dari mereka yang ada di sana .... “ Lucas tak tau rencana apa yang di layangkan, tapi gelandangan dan seorang kriminal. Itu bukan pilihan bagus untuk di jadikan penjagaan. Tapi apa alasan mereka sebenarnya? Mereka masih berjalan. Kini perjalanan terasa lebih singkat, laki laki ini benar tau jalan pintas yang aman. “Disana ...... “ laki laki itu menunjukan ruangan dengan bola matanya, “Mereka ada di sana .... “ Lucas menatap ruangan itu, pintunya tertutup rapat. Ia tak bisa melihat kondisi di dalam, berapa orang di sana, bagaimana keadaan mereka. Semua itu masih menjadi misteri. Andai saja alat komunikasi di sini tak terputus. Ia bisa langsung mengabari dua timnya untuk ke titik ini. Kini ia kalah telak, ia berempat dan mereka, di dalam sana. Entah ada berapa jumlahnya. “Tetap di sini, kita akan menunggu yang lainnya ..... “ Lucas memerintah dan ketiganya mengikut, membuat formasi lingkaran untuk melindungi diri dari semua sisi, mengantisipasi serangan musuh. Mata mereka terus beralih dari satu sisi ke sisi lain, mencoba mengawasi situasi. Hanya mata Lucas yang menatap lurus ke pintu itu. Tiba tiba lain muncul, kedatangan tim Lucas dari sisi kiri dan kanan gedung. Tim keduanya sudah menemukan mereka. Kini jumlah mereka sepuluh orang. Mereka langsung membaur. Lucas memberikan aba aba, ia melepaskan cengkeramannya dari laki laki ini, “Pergilah dan jangan pernah mau di bayar untuk hal hal seperti ini. Hidupmu lebih berharga dari uang yang mereka tawarkan .... “ Lucas berkata seperti itu dan laki laki itu langsung berlari terhuyung dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “Kita masuk ke sana, sebelum tim ketiga kita sampai ..... “ Mereka langsung berjalan, kompak menuju pintu. Salah satu mereka yang berada di formasi depan mencorak pintu hingga kondisinya rusak. Walaupun alat komunikasi sulit di gunakan, tapi Shawn membuat alat agar mereka tau posisi masing masing. Ini alasannya kenapa mereka bisa sampai di titik kumpul yang sama. Hanya menunggu tim ketiga sampai. Setelah itu, komposisi mereka lengkap berjumlah lima belas orang. Mereka seperti orang bergerilya, menyerang penjajah yang sama sama bersenjata. Begitu Lucas dan orang orangnya masuk, mereka langsung saling mengacungkan s*****a. Tak ada yang yang terlewat. Lucas juga sudah mengacunkan pistolnya, ia terlindungi oleh orang orangnya. Matanya mentap jauh kesana, ia melihat tubuh anak dan istri Philip, terikat namun masih dalam kondisi bernyawa. Mata mereka menatap Lucas dengan nyalang. Seperti baru saja melihat malaikat. “Tak kami sangka, kalian memperkerjakan geladangan ..... “ Mereka semua membelalak ketika mendengar perkataan Lucas, gestur tubuh mereka menjadi sedikit panik. “ Kalian mengorbankan orang yang tak tau apa apa untuk mati, kalian benar benar licik “ Barisan itu mulai panik, tapi salah satu dari mereka bebicara lantang, “Jangan dengarkan, itu hanya gertakan...” mendengar itu mereka kembali percaya diri. Tak lagi gentar dengan kata kata Lucas lagi. Tapi tiba tiba suara pecahan kaca mengalihkan fokus mereka semua, senyum Lucas terpoles puas. Tim ketiganya telah sampai. Kini mereka lengkap. “Kalian akan mati tanpa sempat mengelak .... “ Lucas memberikan tembakan, suara adu tembak kemudian di mulai, timnya sudah menembak dengan penuh perkiraan yang akurat. Membunuh musuh tanpa mengeluarkan banyak tenaga. Trik licik mereka yang ingin membuat Lucas dan orang orangnya kelelahan benar benar tak mempan. Orang orang Lucas bukan hanya terlatih secara fisik. Tapi otak mereka juga tak kalah terlatihnya. Tembakan semakin banyak dengan intensitas yang semakin tinggi. Dua kubu itu saling tembak dan menembak. Belum ada orang Lucas yang mati, tak ada yang boleh mati. Kami harus pulang lengkap dan bernyawa. Mereka menghindari tembakan dan bersembunyi di balik meja dan tumpukan kursi di ruangan itu, Lucas tak bisa bergerak meraih anak dan istri Philip, ia terblokir dan menyelamatkan mereka itu bukan tugasnya. Lucas bisa melihat dua tubuh yang terikat itu, mulai beringsut dan bergerak dengan pelan. Menghindari tembakan yang semakin memekakan telinga. Istri Philip bergerak dengan putus asa, tubuhnya terikat dengan simpul mati. Ikatan kencang yang membatasi pergerakan, gerakannya terbatas tapi maut semakin mendekat. Bisa saja salah satu peluru nyasat, mengarah kepada mereka. Lucas mengarahkan pistolnya ke penjaga yang paling dekat dengan mereka. Ia takut orang jahat di dekat mereka, nekat membunuh mereka berdua. Lucas fokus dengan ujung pelatuknya. Duar!! Peluru itu menembus udara dengan kecepatan yang tak terlihat mata, orang yang Lucas tuju tertembak. Kelegaan muncul di mata Aster, istri Philip. Lucas tersenyum, memberikan pengertian “ Kalian akan selamat, bertahanlah “ itu adalah arti dari tatapan Lucas yang mencoba untuk menenangkan. Kemunculan dua orang di belakang Aster dan anaknya membawa angin segar untuk Lucas, timnya. Dua orang yang memiliki misi khusus. Orang yang ia tugaskan untuk menyelamatkan Aster dan anaknya secara diam diam, selagi tim inti lainya mengalihkan perhatian. Mereka keluar dengan dua orangnya, sedikit terpincang karena ikatan yang lumayan lama. Tapi untunglah mereka bisa bergerak cepat... *** 000 *** Rachel masih menatap lekat lekat ke layar komputer, sudah lama ia berdiri mematung di sana, tak bergerak sedikitpun. Tapi ini bahkan entah sudah berapa lama, satu jam? Dua jam? Tiga jam? Setiap detik terasa menegangkan dan menyesakan. Seolah pikiran Rachel terus di paksa untuk menebak, akankah Lucas baik baik saja, atau terjadi apa apa. Tiba tiba gelombang sinya muncul, Shawn bisa mendengar suara yang diambil dari chip di setiap orang, tak terkecuali Lucas. Ia mengeraskan volume dan tak lagi berkomunikasi dengan mikrofon di depannya. Sinyal komunikasi sangat lemat, itu membuat suara yang di terima benar benar tak jernih. Duar! Duar! Duar! Hanya suara itu yang terdengar jelas, suara tembakan tanpa ada obrolan lain. Mereka sedang sibuk berperang. Tapi tiba tiba Lucas berteriak. “Semuanya keluar!!!!! “ Teriakan memekakan telinga yang terdengar melalui speaker di samping layar komputer. Suara tembak menembak itu terhenti untuk waktu yang cukup lama. Hanya keheningan. Tiba tiba layar komputer memperlihatkan gambaran mengerikan. Awan berbentuk jamur muncul dari gedung. Gedung itu di bom. Tangan Rachel begitu lemas sampai kantong makannya yang masih di peganngya jatuh dan semua makanan berceceran. Gedung itu hancur terkena bom. Bom! Rachel, bom. Shawn tak kalah kaget, sekarang ia tau kenapa tak perlu ranjau, tak perlu apa apa. Mereka telah berencana menggilas dan membunuh dengan cara yang singkat tanpa banyak tenaga. Satu persatu lantai gedung mulai runtuh. Shawn memandangi detik detik gedung itu runtuh, dengan tubuh yang mengejang. Ia tak punya pikiran baik, hanya pikiran buruk yang memenuhi otaknya. “ Tuan ...... “ Shawn bergetar, tak sanggup menyebutkan nama Lucas dari muluntya sendiri. Suara tangisan Rachel di kegelapan ruangan, ia sudah menangis cukup lama. Ia bahkan sudah menangis di ruangan Shawn. Tapi Shawn begitu bijak, ia tak ingin Rachel melihat kondisi di sana. Ia menyuruh Rachel untuk kembali ke ruangnanya, membiarkan Shawn yang terus mengawasi. Sudah berjam jam ia menangis dan tak mendengar berita apapun. Lucas tak kembali, hari yang terang kini sudah gelap tak tau waktu. Tubuhnya sudah berbaring dengan kaki yang di tekuk. Ia menangis dalam diam. Kegelapan menyelimutinya, menangis dari hari yang terang dan sekarang gelap. Pertanyaannya mengenai kondisi Lucas masih sama, apa dia selamat ..? Rachel berdo’a untuk Lucas sebelumnya, agar laki laki itu bisa pulang. Pulang dengan selamat. “Dia selamat ..... “ Mata Rachel membelalak dengan air mata yang masih menggenang, pintu di buka oleh sosok yang tengah di tangisinya. “Aku pulang ..... “ Lucas melangkah mendekati Rachel, ia menyalakan lampu dan kaget dengan mata Rachel yang sembab dan basah karena menangis. “Kenapa kamu menangis....? Ada yang sakit ....? “ Nada Lucas nampak khawatir, tapi reaksi Rachel tak dapat di tebak. Ia langsung meloncat dari ranjangnya dan memeluk Lucas dengan erat. “Kamu pulang...... ehm... pulang .... “ Tangisan Rachel kembali terpecah di bahu Lucas, pelukannya semakin erat. Kelagaan setelah di siksa dengan rasa sakit. Ia benar benar lega sekarang. “Jangan seperti ini lagi, kamu membahayakan diri sendiri .... “ “Kamu tau semuanya ....? “ Lucas kaget dengan perkataan Rachel barusan, ia menyembunyikan misi ini diam diam. “Aku menyaksikan semuanya ..... “ Rachel kembali terisak, “ Suara tembakan itu, bom itu ..... semuanya Lucas!! “ “Hus hush hush, jangan menangis .... “ Lucas mengelus lembut rambut Rachel beralih megnusap sisa sisa air mata Rachel, ia membopong Rachel ke dalam lengannya. “Hey! Lepaskan.....!!! “ Tapi Lucas tak berkutik dan tak merespon sedikitpun, “Istirahatlah, kamu butuh istirahat banyak setelah operasi ..... “ Lucas membaringkan tubuh Rachel ke ranjang, tapi wanita itu langsung bangkit dan duduk di ranjang “Jangan berdalih, kamu yang butuh istirahat .... “ Rachel memandangi tubuh Lucas yang kotor dengan butiran pasir dari puing puing bangunan, tubuh Lucas kotor dengan semua itu. Tapi tak ada luka tembak di tubuh Lucas. “Aku hanya butuh kamu ..... “ Lucas menyandarkan kepalanya di tepi ranjang Rachel, matanya menatap Rachel seolah bersinar, “Aku berharap bisa pulang, dan aku sudah pulang .... “ Mata Lucas tertutup, tertutup untuk waktu yang sangat lama. Rachel takut lucas mati, tapi laki laki itu justru tertidur. Ia, ia hana butuh jalan pulang untuk pulang. Rachel adalah jalannya untuk pulang, rumahnya adalah ketenanga dan ketentraman. Itu definisi pulang untuk Lucas. “Sekarang aku tau, aku juga mencintaimu ..... “ Rachel mengusap butiran pasir yang tersangkut di rambut Lucas, membiarkan Lucas tidur dengan posisi terduduk di sampingnya seperti itu dan tak berani mengusik tidurnya. “Aku tak bisa mencintai dua orang sekaligus, aku hanya akan mencintaimu mulai sekarang .... “ Mencintai sosok yang nyata dan ada, sosok yang nyata berjuang untuk melindungiku. Lucas, aku mencintaimu. Jangan pernah tersesat lagi dan temukan jalan pulang itu. Jangan pernah pergi tanpa pamit padaku. Jangan lakukan lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN