Pulang jadi makin berarti.

1862 Kata
The Evil Symphony “Katakan lagi, katakan yang barusan kamu ucapkan .... “ Lucas melingkarkan tangannya ke pinggang Rachel, ia kini berani menyandarkan kepalanya ke kaki Rachel. Matanya masih tertutup menikmati rasa nyaman bersadar pada Rachel. “Ap-- a kamu belum tidur ...? “ Ucap Rachel sambil terbata bata, sejak tadi ia mengira kalau Lucas sudah terlelap jauh ke alam mimpi sana, ia tak tau kalau laki laki ini masih dengan kesadarannya. “Ulangi lagi kata katamu, katakan lagi kalau kamu mencintaiku .... “ Lucas kini bangkit, ia mendongakan kepalanya dan menatap lurus ke mata Rachel. Sorot matanya tak tajam, lain dari biasanya. Ia menatap Rachel dengan lembut, cahaya lampu ruangan ini membuat Rachel semakin gerogi di tatap dengan intensitas seperti ini. Harusnya ia tak membiarkan Lucas menyalakan lampu saat masuk tadi, ini karena ungkapannya barusan. “Aku mencintaimu, sangat dalam sampai kau bisa tenggelam saat mengarumi perasaanku padamu .... “ Lucas menyisir rambut Rachel dengan jarinya, tangannya masih kotor karena puing puing bangunan, “Aku takut aku tidak bisa pulang ..... “ Kata kata Lucas tercegat di tenggorokan, ia baru saja selamat dari maut, andai orang itu tak datang tepat waktu dan menolong timnya. Sekarang mereka hanya tinggal memori. “Kamu harus pulang, karena aku mendo’akanmu untung pulang ..... “ Rachel kini berani menatap manik manik itu, wajah yang ia kagumi kini tengah menghujaninya dengan tatapan yang sangat lembut, “ Aku .... “ “Aku bahagia, kamu mencintaiku. Aku bahagia kita bisa saling mencintai mulai sekarang .... “ Lucas mencium Rachel dengan lembut, tak ada paksaan. Ciuman lembut itu berlangsung singkat dan sangat indah. Itu yang Rachel rasakan, ketika mencium orang yang ia cintai. Ia lega bukan main, mengartikan perasaanya pada Lucas. Ternyata berarti besar untuknya. Lucas bergantian memeluk Rachel erat, menenggelamkan wajahnya ke bahu Rachel, matanya tertutup menerawang kejadian demi kejadian yang ia lewati hari ini. “Hari ini aku menyelamatkan nyawa penjahat .... “ Lucas mulai berbicara, ia masih memeluk Rachel dengan kedua tangannya. Tubuhnya tak mau beranjak dari kelembutan yang Rachel berikan padanya. Tubuhnya tak mau berjauhan dengan rasa nyaman yang ia rasakan saat berada di dekat Rachel. “Tapi, ia juga yang menolongku ....... “ **** 000 **** Lucas masih menyerang lawan di depanya dengan adu tembakan. Tak ada satu orangnya yang terluka, mereka punya skill bertarung yang mumpuni. Tapi melihat pergerakan lawannya yang ceroboh dan terlihat panik. Ia tau, lawannya tak seimbang untuk mereka. “Semuanya keluar .....!!! “ Lucas melihat sosok di depan pintu itu, gelandangan yang ia ancam barusan. Ia berdiri di depan pintu dan menyuruhnya keluar. Apa ini bagian dari rencana mereka? Mengalihkan perhatian? Entahlah, Lucas justru masih sibuk membidik. “Gedung ini sudah di pasangi BOM!!! “ Teriakan gelandangan itu mencekat pergerakan Lucas, ia langsung menarik tangannya dan menghentikan gerakan tembak menembaknya, ia menatap laki laki itu dengan tatapan ragu ragu. Setengah percaya. “Lantai bawah! Mereka sengaja menanamkan bom tepat di bawah kita ....!! “ Lucas langsung mengerti semuanya. Musuhnya memang licik. Benar benar licik. Ia tak meletakan penjagaan ketat, tak ada kamera pengintai musuh. Bahkan mereka hanya menaruh beberapa orang sebagai penjaga, yang Lucas yakini mereka sama saja. Orang jalanan, atau gelandangan. Intinya, mereka memang di rencanakan untuk di habisi. Iming iming uang itu hanya kedok. “Semuanya keluar ....!!! “ Lucas berteriak keras keras, menghentikan tembak menembak terhenti, “Berhenti atau kita semua akan mati .....! “ Lucas menjatuhkan pistolnya, “Jatuhkan semua pistol kalian dan kita selamatkan diri .... “ Lucas menatap ke arah timnya, mereka bahkan tak tau apa yang Lucas pikir sebagai tanda bahaya, “Bom. Dan kita semua akan mati, dari pada saling membunuh. Lebih baik kita pergi dari sini. Waktu kita singkat .....!! “ Mereka semua menuruti Lucas, semua orang menjatuhkan senjatanya ke lantai. Bunyi besi membentur lantai itu terdengar saling bedebum di lantai tua itu. “Ikuti saya, saya tau jalan yang paling cepat untuk keluar dari gedung ini .... “ Gelandangan itu memberikan isyarat untuk mengikutinya, ia langsung berlari dan di ikuti rombongan Lucas dan preman preman lain. Lucas sadar, entah sejak kapan. Chip komunikasinya sudah, sinyal komunikasi yang buruk. Tapi ia harus menghubungi dua orang tim khusunya, “Bagaimana keadaan Aster dan anaknya ...? “ Suara itu terhubung ke telinga dua orang di bawah sana, orang orang yang tengah menunggu Lucas, “Mereka selamat dan berhasil di evakuasi, mereka sudah ada di mobil Tuan .... “ Lucas mendengarkan sambil terus berlari mengikuti barisan rombongannya, ia berada di urutan paling akhir, memastikan kalau mereka lengkap dan tak tertinggal. Entah gelandangan itu tau dari mana, atau karena ia di tugasi untuk menjaga gedung ini. Ia benar benar tau jalan pintas paling cepat. Tak terasa mereka sudah berlari turun ke lantai enam. Lima tanai yang di lewati dengan jalan pintas di tambah waktu yang tipis. Mereka melewati lima lantai seolah itu hanya butuh waktu kurang dari lima menit. Sinyal komunikasi, entah kenapa terputus lagi. Lucas ingin menghubungi Shawn, tapi tak bisa ia lakukan. Yang ia pikirkan sekarang, ia harus pulang. “Kita harus lompat dari lantai ini ....!! “ Gelandangan itu berhenti di jendela dengan kusen rusak dan tanpa kaca, “Tak ada banyak waktu ....!! cepat ....!! “ Semua orang terhenti, apa bedanya mati karena ledakan bom, dengan mati loncat dari lantai enam? Tubuh mereka sama sama akan hancur lebur. Semua orang terdiam, tapi salah satu dari tim Lucas menyelusup barisan itu, “Di bawah sana ada tumpukan sampah menggunung, kita bisa terjun ke sampah itu .... “ “Lakukan cepat! Kita tidak punya banyak waktu .... !! “ Lucas memerintah ia mulai merasakan luka peluru di kakinya, dan satu persatu orang orang itu mulai jatuh ke bawah sana. Benar saja, di bawah sana sudah ada banyak sekali sampah plastik yang menggunung. Sampah, ia jadi teringat masalah sampah yang membuat skandal di hotel dan resortnya yang ada di Bali. Sampah yang menggunung di sini, apakah sama dengan sampah di sana? Jakarta adalah kota dengan penyumbang sampah paling banyak, berbeda dengan Bali. “Tuan ....?! “ Gelandangan itu baru saja memanggil Lucas, ia tak salah dengar. Ia di panggil Tuan oleh gelandangan yang ia lepaskan, “Ini ungkapan rasa bersyukur saya, saya harap saya bisa membayar rasa terimakasih kepada anda .... “ Tak lama laki laki itu ikut terjun ke bawah, semua orang sudah sepenuhnya terjun. Hanya tinggal Luca seorang. Ia menatap ke luar sana, bangunan tua ini menunjukan umur aslinya. Pepohonan di sebrangnya tak bisa berbohong. Lucas menapakkan kakinya di kusen jendela, bersiap siap melompat ke gunungan sampah itu. Tak lama tubuhnya melayang, dari lantai enam ke tanah landai yang di tutupi sampah itu. tubuh Lucas membentur sampah dan tetap saja membuat bunyi bedebum saat tubuh itu melayang dan akhirnya terjatuh ke tumpukan sampah. Dan hanya selang beberapa detik, Bom itu benar benar aktif. Bunyi ledakan nuklir itu memekakan telinga. Api yang entah bagaimana, bisa keluar dari jendela jendela rusak. Juga lantai bangunan yang runtuh satu persatu seperti permainan domino yang sering ia mainkan saat kecil dulu. “Semuanya cepat pergi.....!!! “ Puing puing bangunan mulai melayang ke arah mereka, puing puing itu mejatuhi punggung mereka seperti meteor. Jatuh ke seluruh penjuru area, beberapa orang Lucas bahkan terbentur di kepala. Tapi mereka terus berlari keluar, Lucas mengabaikan rasa sakit di kakinya. Rasanya, kakinya tak lagi bisa ia rasakan. Tapi ia punya satu janji lagi, ia harus pulang. Lengkap dan bernyawa. Itu janjinya pada dirinya sendiri. “Tunggu aku pulang .... “ gumaman yang hanya bisa di dengera oleh Lucas, karena suara bom itu punya dampak lain. Sekarang suara bangunan yang runtuh itulah, satu satunya suara yang bisa di dengar. Semua orang berhasil selamat, sampai di gerbang di mana mobil Lucas terhenti. Awan jamur akibat bom itu masih bisa terlihat dengan jelas di belakang mereka. Tapi mereka semua selamat. Dua orang menghampiri Lucas, “Tuan ....! Untunglah kalian semua selamat .... “ Lucas tersenyum lega ketika ia di sambut dua orang itu, mereka tak berbeda dari Lucas. Sama sama saling memberikan senyum lega. Kelegaan yang benar benar terlihat jelas, “Kita pulang ..... “ Pulang. Kata kata itu kini semakin memiliki arti lebih untuk Lucas. Pulangnya sekarang, benar benar arti pulang yang berbeda. “Tunggu .....! “ Tim Lucas tercekat, mereka di hentikan oleh orang orang yang beberapa saat yang lalu, saling mengacungkan senapan satu sama lain. “Kami tak bisa di sini, kami akan ikut anda .... “ Orang yang Lucas ingat jelas, orang yang berteriak dengan lantang kalau semua omongannya hanya gertakan belaka. Toh nyatanya, perkataanya bisa terbukti. Orang yang membayar mereka, juga menginginkan kematian mereka. “Sebagian dari kami gelandanga, sebagian lagi preman. Kami sama sama tak memilki tempat tinggal .... “, laki laki itu berucap dengan penuh harap, “Tolong perbolehkan kamu ikut dengan anda Tuan, kalaupun kami selamat. Besok belum tentu .... “ Seseorang dari gerombolan itu ikut berbicara, “Bisa saja kami juga di bunuh, nanti malam, esok pagi, atau lusa. Mereka bahkan mencoba membunuh kami, walaupun kami bekerja untuk mereka .... “ “Tapi kalian mendapatkan imbalannya bukan? Kalian menerima uang untuk itu .... “ Mereka terdiam, benar. Memang benar. Alasan pekerjaan mereka adalah upah yang banyak. Tanpa tau kalau pekerjaan yang di berikan adalah barter untuk nyawa mereka, “Kami bisa berikan informasi tentang musuh anda Tuan, kami juga akan setia .... “ “Bagaimana aku bisa yakin dengan kesetiaan kalian ...? “ Lucas nampak meragukan. Ia takan dengan mudah menerima mereka. “Walaupun kami seperti halnya sampah masyarakat, tapi hidup di jalanan membuat kami setia. Dan orang yang telah memanfaatkan kami, mereka harus menerima bayaran karena penghianatan mereka terhadap kesetiaan kami. Kami memang butuh uang, tapi uang memang benda tukar. Tapi kesetiaan kami juga bisa berubah, setelah anda mau menyelmatkan kami .... “ Lucas nampak menimang sejenak, banyak hal yang harus ia kaji. Seolah semua ini berkaitan, ia teringat kembali masalah barusan, ketika ia terjun ke gunungan sampah. Aktor di balik semua masalah yang menimpanya. Mungkin saja, orang yang sama. “Kalian masuk mobil berwarna abu abu, ikuti semua yang anak buahku lakukan ... “ Lucas beralih pandang ke pada dua orang yang menghampirinya pertama kali, “Bawa anak dan istri Philip ke tempat paling aman. Rumahku .... “ Lucas langsung bergegas masuk ke mobilnya, meninggalkan tim lamanya dan tim barunya di belakang sana. Informasi dari mereka bisa bermanfaat untuknya, nantinya. Mobilnya terus melaju cepat, luka di dadanya membuat Lucas sedikit kesulitan menyetir. Tapi ia tak sabar ingin pulang. Pulang. *** 0000 *** “Kamu masih lelah ....? Apa ada luka baru di dalam tubuhmu ...? “ Rachel menarik tubuh Lucas menjauh, ia melirik Lucas dari bawah sampai atas. Tak ada ceceran darah di baju Lucas, tak sadar Rachel menghembuskan nafas lega. Bersyukur. “Aku lelah .... “ Lucas berujar, mata sayunya memang tak bisa berbohong. Laki laki ini kelalahan. “Tidurlah .... “ “Temani aku tidur ..... “ Lucas baru saja merengek seperti anak kecil, seperti anak kecil yang tak mau di tinggal tidur sendirian. “Tidak bisa, kamu harus beristirahat di kam .... “ Lucas tak mendengarkan kata kata Rachel, ia sudah membaringkan tubuhnya di sisi ranjang rumah sakit Rachel. Sisi lain yang kosong, ranjang itu lumayan luas untuk satu orang. Tapi jika di isi mereka berdua, ini mungkin terlalu sempit. “Aku ingin di sini, tidur di temani kamu .... “ Lucas memjamkan matanya, tubuhnya sudah di miringkan dan terlihat sangat nyaman dengan posisinya. Rachel kini sadar, ini sisi anak kecil Lucas. “Baiklah, tidurlah di sini malam ini ...... “ Rachel membaringkan tubuhnya di samping Lucas, awalnya ia tak nyaman. Tidur dengan orang lain, tapi ia menenangkan dirinya sendiri, “ Ini bukan kali pertamaku tidur seranjang dengan Lucas ... “ Batin Rachel. “Aku ingin tidur denganmu setiap malam .... “ Tangan Lucas memeluk Rachel dari belakang, punggung itu kini bersentuhan dengan d**a Lucas. “Aku tak mau di temani olehmu hanya untuk malam ini, aku mau setiap malam. Sisi kanan ranjangku, terisi olehmu .... “ Mata Lucas terpejam, ia tidur nyenyak malam ini. Ia pulang dan jalan pulangnya benar benar damai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN