The Evil Symphony
Lucas sudah beranjak pergi dari ruangan perwatan Rachel, ia sudah pergi sejak pagi. Meninggalkan Rachel bersitirahat, dengan tenang. Semalaman, dan semalaman itu Lucas memeluk erat Rachel. Mebiarkan wanita itu tak bergerak sedikitpun, ia merasa kalau memeluk Rachel semalaman pun takan bisa menebus kerinduannya. Setelah bertatapan dengan kematian kemarin, ia menjadi ekstra hati hati. Tak ingin lagi tergelincir ke dalam perangkap. Ia ingin pulang dengan selamat dan tidur dengan Rachel di dalam pelukannya. Mungkin ini terdengar serakah, tapi ini seperti permintaan sederhana yang juga sedikit sulit.
“Belum ada informasi apa apa, Shawn ....? “ Lucas menatap Shawn, ia kini memakai kemeja biru polos dengan celana cokelat muda. Lucas baru saja membersihkan diri, luka di d**a juga di kakinya. Untunglah tak ada luka baru di tubuhnya.
“Belum ada petunjuk lain, mereka melakukannya kali ini lebih bersih dari yang sebelumnya Tuan .... “
Shawn berkutik dengan komputernya, hanya beberapa orang yang tau kalau Shawn bisa meretas sistem keamaan tanpa kegagalan ataupun kecurigaan. Kecerdasan Shawn, adalah alasan ia bisa bekerja dengan Lucas. Laki laki itu begitu jeli, melihat siapa yang akan ia pekerjakan.
“Bagaimana dengan gedung tua itu? Siapa pemilik asli gedung itu ...? Apa mungkin itu milik mereka ....? “ Lucas menangkap segala kemungkinan itu.
“Bisa saja iya, atau juga bukan Tuan. Kalaupun mereka menggunakan gedung milik sendiri, mereka sudah mengungkap identitas mereka secara langsung, kenapa mereka harus membersihkan bukti sangat bersih bahkan tanpa jejak .... “
Lucas mengiyakan pendapat Shawn, tentu saja. Kenapa repot repot menghilangkan barang bukti kalau identitas sudah di umbar.
“Gedung itu adalah gedung tua, sudah tak terpakai puluhan tahun. Wajar saja tak akan ada yang curiga kalau tiba tiba gedung itu hancur. Takan ada yang menyadari itu .... “, Shawn masih sibuk mengetikan sesuatu di komputernya. Matanya tetap fokus ke layar, tapi ia sangat multitasking. Ia masih bisa berdiskusi masalah penting dengan Lucas.
“Sampah, Shawn .....! “, Lucas teringat kemana ia lepas landas kemarin. Tumpukan sampah itu tak mungkin ada sendiri di sana tanpa sebab. “Banyak tumpukan sampah menggunung di balik gedung itu Shawn, aku melihatnya ..... “
“Tak ada sampah di area gedung itu Tuan, semuanya benar benar bersih .... “, tapi gerakan tangan Shawn terhenti, ia menggerakan kursor di layar komputernya. Mengakses tangkapan video pengintai yang ia dapat dari drone sepanjang hari kemarin.
“Apa ini yang Tuan maksud ....? “, Shawn memperbesar video. Menunjukan gambaran tumpkan sampah yang terlihat dari ketinggian hampir tiga ratus meter.
“Iya, benar! Di sebelah sana persis ...”, Lucas meneriakan seruannya, “Tapi kenapa kamu bilang, tak ada sampah di area gedung itu. Sampah menggunung seperti itu tak mungkin di buang dalam waktu semalam bukan ....? “
“Mungkin, sampah sampah ini juga ada hubungannya dengan pelaku di balik semua ini Tuan. Sampah ini mungkin bagian dari barang bukti, jadi harus di musnahkan .... “, Shawn berspekulasi, tapi ini di tanggapi dengan positif oleh Lucas.
“Benar, sampah itu tak seperti sampah dari dua puluh atau belasan tahun lalu. Material plastik itu terlihat masih baru, tapi dengan jumlah sebanyak itu. Dari mana asal sampah sampah itu ...? “
Lucas menimang nimang, Jakarta dan Bali memang terpaut sangat jauh. Terlampau jauh malahan. Tapi entah mengapa, intuisinya mengatakan kalau. Ini serhubungan erat. Sangat erat malahan.
“Terus selidiki semua ini Shawn, aku tau ini memang sulit untukmu .... “ Lucas mendekati Shawn dan menepuk bahu laki laki itu, ia merasa bersyukur memiliki orang kepercayaan seperti Shawn. Dapat di andalkan.
“Tuan kembali dengan selamat, itu sudah lebih dari syukur untuk saya. Jadi saya akan bekerja lebih keras untuk menangkap dalang semua ini .... “
“Kalau kamu butuh informasi lain, tanya kepada orang orang baru di rumah. Mereka adalah pegawai yang di bayar, namun juga di jebak untuk di bunuh. Mungkin salah satu dari mereka ingat dengan informasi penting yang siapa tau, kita membutuhkan informasi itu .... “
*** 000 ***
Seminggu berlalu, keberangkatan Dion yang di tunda beberapa hari akhirnya datang hari ini. Tubuh Rachel sudah semakin membaik. Luka di perutnya sudah lebih membaik. Tak terlalu sakit lagi, Lucas sudah memperkerjakan Dokter khusus. Yang memantau kesehatan rahim Rachel. Yang Rachel ketahui, ia hanya melakukan pengobatan rutin selama seminggu ini. Ia tak tau, ada terapi untuknya.
“Kamu sudah siap ...? “ Lucas menunggu Rachel di depan pintu kamarnya, menunggu gadis itu keluar dari ruangan dan bersiap mengantarnya ke bandara.
“Tunggu sebentar .... !” Sahutan Rachel dari dalam sudah seperti perintah untuk Lucas, ia masih bersabar menunggu Rachel keluar. Sampai beberapa menit kemudian, gadis itu keluar dengan senyum sumringah di bibirnya. Selama seminggu ini, Lucas merawatnya dengan baik. Benar benar cinta yang sempurna di mata Rachel. Pasangan yang saling mengasihi, seperti ayah dan ibunya.
“Ayo kita berangkat .... “
Hanya senyum Rachel yang bisa membuat sosok Lucas ikut tersenyum, laki laki itu sudah tersenyum cerah sejak mendapatkan senyuman dari Rachel, “ Ayo kita berangkat .... “
Lucas menggenggam tangan Rachel erat erat, sebulan lagi ia bisa melihat laporan terapi Rachel. Ia bisa melihat kondisi rahim Rachel yang sebenarnya. Kalaupun kondisinya tak membaik, sehari setelahnya. Ia sudah memutuskan. Ia akan melakukan operasi keesokan harinya.
Lucas mengambil keycardnya dan bunyi bip keluar, pintu otomatis terbuka, “Ayo ..... “
Lucas menuntun tangan itu keluar, Rachel yang hendak menutu
p pintu, di cegah tangan kekar Lucas, “Biar aku saja yang menutup pintu .... “
Benar benar lembut, hanya kata itu yang terbesit di dalam pikiran Rachel. Senyum di bibirnya semakin merekah. Laki laki di depannya. Ia seperti tak salah telah melabuhkan hati kepada laki laki ini. Rachel sudah berjalan keluar dari unit apartemen Lucas, ia kini sudah melaju di mobil Lucas. Sesekali pandangan Rachel mengagumi sosok Lucas di sampingya. Lucas berpakaian rapi, walaupun hanya mengantar Dion dan Ibunya. Ia berpakaian rapi, tampan, tapi tetap santai.
“Bunga untuk siapa ....? “ Rachel melirik buket bunga yang ada di sebelah Lucas, buket yang terlihat masih segar dan aroma wanginya memenuhi mobil.
“Untuk Ibumu, aku minta Shawn membelinya ..... “ Lucas menjawab dengan mata yang masih fokus ke jalanan, ia memang membeli buket lavender itu untuk Ibu Rachel, “Dan aku membelikan buket bunga yang besar itu untukmu .... “
Lucas melirikan matanya, menunjuk ke arah kursi penumpang. Buket besar bunga matahari yang tak kalah wangi, tapi lebih besar dan lebih indah dari buket lavender di sebelah Lucas. Ia tersenyum puas melihat binar mata Rachel. Entah kenapa, ia teringat Rachel saat memilih bunga matahari.
“Kamu menyukainya ....? “, Lucas bertanya.
“Aku suka Bunga Matahari, Ibuku juga menyukainya .... “
Rachel belum melepaskan pandangan matanya ke arah buket bunga matahari super besar di belakangnya. Buket pertama yang ia terima dari seorang Lucas Nortwest. Bunga favoritnya, bunga favorit almarhum ibunya.
“Dulu Ibuku mau mengajakku ke kebun bunga matahari yang luas dan indah, tapi itu tak pernah kesampain ... “ secepat itulah kebahagiaan Rachel terkikis, ia menjadi teringat kembali insiden kecelakaannya.
“Kenapa ....? “
“Beliau sudah meninggal .... “ Lucas membisu, ia tak berpikir ibu yang di maksud Rachel adalah Ibu kandungnya. Lucas tau sosok orang tua kandung Rachel, ia juga tau kalau Lina adalah ibu angkat Rachel. Tapi kepedihan di raut wajah Rachel, juga ia rasakan. Kesedihan wanita itu, kini menjadi kesedihannya juga.
“Kamu akan pergi ke sana denganku suatu saat nanti .... “
Lucas mempercepat laju mobilnya, “ Aku berjanji .... “
Mobil semakin cepat dan akhirnya sampai di bandara internasional Soetta. Gate penerbangan internasional. Di sanalah Dion dan Ibu Rachel menunggu mereka berdua. Sudah sekian kali Rachel gusar. Ia takut ketinggalan penerbangan dan tidak bisa bertemu ibunya.
“Ayo turun .... “
Lucas menyambar buket bunga di tangan kirinya dan tangan kananya sudah terulur, menunggu sambutan tangan Rachel. Wanita itu akhirnya keluar dari mobil, gaun hitam santai. Panjang selutut dan flat shoes. Mungkin terlihat biasa biasa saja. Karena Rachel tak suka hal yang berlebihan. Tapi entah mengapa, di mata Lucas. Rachel selalu terlihat cantik. Cantik dari yang lain.
Mereka bergandengan dan langsung ke arah terminal keberangkatan nomor tujuh, Dion sudah di hubungi lagi. Pesawat mereka akan lepas landas dalam dua puluh menit lagi. Dan waktu sesingkat itu tak pantas untuk di sia siakan.
“Dion ....!! “ Rachel berlari kecil menghampiri Dion yang berdiri di samping Ibunya.
“Kamu terlambat ..... “
“Maafkan Rachel Ma ..... “ Rachel memeluk erat ibunya, selama seminggu ini ia berbohong. Ibunya mengira kalau ia tengah di sibukan berlatih Biola. Rachel merasa kebohongannya sedikit berguna, Ibunya tak terlalu di buat khawatir olehnya. Kalau wanita di depanyna ini tau, mungkin tubuh kurus ini sudah lesu karena kurang tidur, terllau banyak memikirkan kondisinya.
“Siapa dia ....? “ Mata Lina menyoroti sosok Lucas yang mendekati mereka bertiga, sosok yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
“Saya Lucas .... “
Lucas mengulurkan tanganya penuh sopan santun dan meraih tangan wanita paruh baya itu, mencium tangan Ibu Rachel penuh dengan hormat. “Ini bunga untuk Ibu .... “
Lucas mengulurkan buket bunga itu, semerbak aroma lavender yang menyegarkan. Bunga berwarna ungu itu kini telah beralih tangan.
“Kamu Lucas yang sering di bicarakan Rachel .... “ Seolah tak percaya. Ketika melihat ketampanan Lucas dengan mata kepalanya sendiri, mungkin kata kata Rachel tak cukup untuk menggambarkan ketampanan Lucas.
“Benar, saya yang bermain Biola dengan Rachel di konser nantinya ...... “, Lucas tersenyum sumringah.
“Kenapa Mama mengatakan itu keras keras...? “ Rachel memperotes tindakan ibunya itu. meneriakan nama Lucas keras keras. Benar benar membuatnya malu.
“Mama pikir, kamu berbicara lebih keras ketika memuji ketampanan Lucas-mu itu ... “
Lina balasa menggoda Rachel, dan kini pipi wanita itu memerah. Di hujani tatapan Lucas. Dan tatapan menuntut Ibunya. Ia benar benar malu.
“Dia orang yang meletakan buket bunga segar setiap harinya .... “
Dion memotong obrolan mereka, serasa tak terlihat. Tapi tak di abaikan sepenuhnya. Ia memahami benar posisi Lucas saat ini. Cepat atau lambat. Lucas akan masuk ke lingkaran keluarga Rachel. Ia yang akan menjadi orang luar. Lucas yang akan jadi bagian keluarga.
“Buket bunga apa ...? “ Rachel nampak bingun.
“Lucaslah yang meletakan buket bunga segar di ruangan Mamamu setiap harinya ... “ Dion ingat betul, ia pernah berpapasan di depan ruangan Ibu Rachel. Ada buket baru etiap harinya setelah laki laki itu muncul di sana. Ia pernah berpikir kalau itu adalah Rachel, tapi ketika Rachel tak datang menjenguk pun. Buket bunga selalu baru dan segar.
“ Kamu yang menaruh buket buket itu ternyata ..... “ Ibu Rachel tersenyum, ia akhirnya tau orang yang menghiasi ruangananya dengan bunga yang sama tiap harinya. Lavender. Tak salah juga kalau kin laki laki itu kembali memberikan buket lavender untuknya.
“Benar, itu saya .... “
Dion dan Ibu Rachel sudah berangkat satu jam yang lalu. Penerbangan mereka memakan waktu lama. Mungkin esok ia baru bisa menghubungi Rachel, perbedaan waktunya benar benar terbalik. Siang dan malam.
“Jadi, kamu yang memberikan buket bunga baru setiap harinya ...? sejak kapan ...? “ Lucas menggenggam tangan Rachel erat erat, mereka sudah ada di depan apartemen. Ia masih sibuk membuka pintu apartemen dengan keykcardnya.
“Sejak kamu memarahiku pagi pagi sekali .... “ Lucas tersenyum, kesalah pahamannya dengan Rachel tempo hari.
“Kamu punya sisi manis ternyata .... “
Rachel mencium buket bunga matahari di tangan kirinya. Bunga matahari tak punya wangi seperti lavender atau mawar. Tapi bunga matahari memberikan aroma segar seperti musim panas.
Pintu terbuka, dan saat itu juga. Uluran lengan menggelantaung di leher Lucas secara tiba tiba.
“Lucas!! Aku hamil....!! “
Angela memeluk erat Lucas di hadapan Rachel, mengabaikan ekspresi keterkejutan di wajah wanita itu. Bunga matahari yang menyegarkan itu, tak bisa mencegah rasa sesak di d**a Rachel.