Keputusan yang tepat.

1939 Kata
The Evil Symphony “Aku hamil Lucas! Anakmu di dalam rahimku sekarang .... “ Angela semakin mengeratkan pelukannya, mengeraskan nada suaranya dengan sengaja. Mencoba mencabik hati Rachel semakin dalam dengan kata katanya. “Lepaskan tanganmu Angela .... “ Lucas melepaskan tangan Angela dengan susah payah sampai akhirnya tangan itu berhasil terlepas sepenunya. “Kenapa ...? Kamu tidak suka? Kamu mau menyuruhku untuk menggugurkan bayiku! “ Angela meneriakan pertanyaanya di depan wajah Lucas, memberikan ekpresi marah akan penolakan Lucas terhadap bayinya. “Lucas, selesaikan masalah kalian. Bicaralah baik baik .... “ Rachel beranjak pergi, berjalan meninggalkan Lucas dan Angela. Tapi tubuh itu sudah di susul oleh Lucas, ia mengekang Rachel. Menahan wanita itu untuk tak pergi meninggalkannya. “Jangan pergi .... “ runtuk Lucas sambil memeluk tubuh Rachelnya. “Aku tak pergi .... “ Rachel menjawab tanpa merespon pelukan Lucas, ingin rasanya ia memeluk balik Lucas. Mencoba saling menguatkan, tapi terasa begitu sakit dan menyesakan. Sampai tangan Rachel hanya tergelantung di udara, “Aku hanya memberikanmu ruang, untuk berbicara dengan Angela,“ ucap Rachel, tak kalah dingin seperti bongkahan es. “Rachel, aku bukan laki laki baik. Kamu tau itu, “ Bisik Lucas di telinga Rachel, “ Itu kesalahanku, aku tak bisa membendung rasa sakit hatimu “ Rachel mendorong tubuh Lucas menjauh, sebelum itu ia sudah menarik nafas berkali kali. Menahan pelupuknya agar tak meneteskan air mata, “ Lucas, di sana di dalam rahim Angela. Ada anakmu, dia butuh pertanggung jawaban darimu, butuh ayahnya .... “ “ Rachel, percayalah padaku. Dia dari masa laluku yang kelam, wanita yang ku cintai hanyalah kamu .... “ Lucas menatap dalam dalam wajah Rachel, menerka nerka kesedihan apa lagi di wajah wanitanya itu. Kesedihan itu tertutupi dengan baik di wajah Rachel. Katakan sekali lagi Lucas, agar aku mengerti. Katakan yang kedua kalinya Lucas, agar aku mampu bertahan dengan cintamu. Katakan sekali lagi, agar aku sanggup menopang semua ini. Batin Rachel terus bermonolog. Sampai kata kata itu muncul lagi di mulut Lucas. “ Rachel, percayalah hanya kamu yang aku cintai .... “ Terimakasih, sudah mengatakannya. Sekarang, aku sedikit kuat untuk menopang semua ini. “Aku percaya, aku juga mencintaimu .... “ Rachel tersenyum, memberikan kelegaan di batin Lucas. Setidaknya, wanitanya kuat. Walaupun itu luka berat. “Berbicaralah baik baik dengan Angela, karena dia juga wanita. Sama sepertiku ..... “ Lucas mengangguk paham, Rachel mengisyaratkan Lucas untuk pergi menemui Angela yang di tinggal di apartemen sendirian. “Tunggu aku, akan ku berikan semua penjelasan di pikiranmu. Segera ..... “ Lucas mencium kening Rachel, laki laki itu langsung berjalan lagi ke unit apartemennya. Rachel memandangi tubuh laki laki itu, dia memang mencintai laki laki itu. Dia mencintai Lucas, Rachel tak mencintai laki laki dengan “ Gelar tak pernah bersama wanita lain”, Rachel sadar betul, Lucas yang dululah yang membawa Angela ke dalam kehidupannya sekarang. Lucas yang sekarang, takan membawa Angela Angela lain ke dalam kehidupan mereka. “Kamu kembali lagi ...? “ Angela sudah duduk di sofa. Kakinya sudah tersilang elegan, sebuah koper besar berdiri tegak di samping wanita itu. “Kenapa kamu bisa masuk ke sini ...?! “ Lucas paham betul. Ia tak pernah membawa wanita manapun ke rumahnya ataupun apartemennya. Seluruh ruang pribadinya bebas dari sentuhan wanita selain Rachel. Kedatangan Angela ke sini, benar benar malapetaka yang tak di perhitungkan. “Aku bilang ke petugas keamanan kalau aku istrimu. “ Angela tersenyum riang, tapi senyuman itu di balas dengan tatapan sini oleh Lucas. Siapa yang akan menjadikanmu istriku? Sindir Lucas di dalam hati. “Aku bilang kalau kamu marah kepadaku dan mengambil keycard-ku. “ Angela melepaskan senyum puas saat menceritakan rencananya yang berjalan mulus itu. “ Cerdas,“ pekik Lucas, ia terlalu lama dengan Angela sampai tak menyadari kepicikan dan kelicikan Angela. “ Siapa suamimu? Aku? Mimpi ....” Lucas masih terus berdiri berhadapan dengan Angela yang dengan santainya masih duduk di sofa tanpa bergerak sedikitpun. “Lucas, jangan berkata kasar atau emosiku akan terganggu dan anakmu ini akan menjadi pemarah nantinya .... “ “Gugurkan Angela, gugurkan anak itu ... “ jelas Lucas, entah ide gila apa yang menghampiri otaknya. Tapi Lucas seperti tak memiliki pikiran waras. “Jangan Lucas .... “ Rachel datang entah di waktu yang salah untuk Lucas, atau waktu yang tepat untuk Angela. Yang pasti wanita itu masih terluka. “Ingat janjimu padaku ... “ Lucas menatap kehadiran Rachel, wanita itu sudah kembali dan kini terang terangan menantangnya. Itu justru memunculkan senyum puas di bibir Angela. “Aku takan menuruti kemauanmu, dia juga anakmu. Hasil perbuatanmu, tak bisa dengan mudahnya kamu menyuruhku menghilangkan bukti kehidupan ini. Kamu lah asal muasal terbentuknya dia .... “ Angela kini berani berdiri, dengan adanya Rachel di sisinya. Walaupun ia tau, ini bukan seratus persen karena Rachel peduli padanya, tapi karena alasan lain. Kehamilan. Tapi ini cukup untuk menguatkan kubu Angela. “Aku akan tinggal di sini, agar anak kita bisa tumbuh sehat dan bahagia .... “ Angela menarik kopernya dengan semangat, ia berjalan ke arah kamar Lucas. Tapi tangan itu sudah di cekal lebih dulu oleh Lucas, “Hendak kemana kamu ..? “ “ Kamarmu, kamar kita ... “ Angela melangkah pelan dan santai tapi Lucas justru menahan geram, sosok Angela kini tak lain tak bukan, seperti hama yang ingin ia lenyapkan. “Aku Tuan rumah di sini, bukan kamu .... “ “Tapi aku calon Nyonya Nortwest .... “ ucap Angela dengan penekanan pada kata “Nyonya” Paham betul kalimat terakhir Angela di tujukan pada Rachel. Mana ada perempuan hamil dan melahirkan anak tanpa ada ikatan pernikahan. Rachel sadar, mau tidak mau. Lucas memang harus menikahi Angela. Nyonya Nortwest, memang akan di sandangnya kelak. “Pergi dari sini, tak ada kamar lain untukmu di apartemen ini. Ini hanya untukku dan Rachel ...” Untuk pertama kalinya Lucas hampir termakan emosi. “Aku sudah membeli unit apartemen persis di depanmu, Rachel yang akan pindah ke sana .... “ Angela mendekatkan wajahnya ke arah Rachel, hanya ada jarak satu jengkal dari wajah wanita itu, “Toh kamu belum punya, eh takan punya-- “ Angela menahan kalimatnya, memancing kemarahan Lucas. Ia seperti terganggu dengan kata kata Angela kepada Rachel. Apa Angela mengetahui yang terjadi pada Rachel? Angela melepaskan tangan Lucas. Habis sudah semua kata kata umpatannya untuk Angela. Seolah, Angela sudah tak punya malu walaupun di beru hujan kata k********r oleh Lucas. Wanita itu, sudah putus urat malunya. Ia masuk tanpa permisi ke kamar Lucas dengan menyeret kopernya yang terdengar sangat berat. Angela tak keluar untuk waktu yang lama, ia meninggalkan Rachel di ruangan luas itu berdua. Dengan keheningan di antara mereka berdua. “Rachel, untuk kesekian kalinya. Aku tau kamu kecewa .... “ Lucas kehabisan kata kata, lidahnya kelu untuk mengeluarkan suara. Beban, kesalahan, semua itu sedang di tanggungnya. Tak sendirian, ia juga menyertakan Rachel untuk menanggung beban itu. Disertai rasa sakit yang mencabik. “Kenapa untuk bersamamu, seperti seluruh alam semesta menentangku Lucas ..... “ akhirnya keluar kata kata pertama Rachel setelah keheningan yang cukup lama di antara mereka, “ Kenapa semesta mengirimkan dia di antara kita, semesta berkonspirasi untuk memisahkan kita ... “ Air mata sedikit membanjiri Rachel, matanya kini tak bisa melihat dengan jelas wajah Lucasnya. Matanya kabur, air itu menutupinya. “Kita tak butuh semesta Rachel, kamu lah semestaku. Biarkan mereka berkonspirasi untuk memisahkan kita. Asalkan kamu percaya padaku, yakin denganku. Semesta kita berdua akan melawan semesta yang lain. Yakinlah ..... “ Lucas memeluk erat Rachel, pelukan kedua hari ini. Pelukan untuk menyembuhkan luka yang sama, “Andai aku mengulang waktu, aku akan jadi laki laki paling baik di dunia ini. Menjauhi semua macam wanita dan hanya akan mengejarmu seorang .... “ Lucas berargumen dengan kata katanya, andai saja takdir tak mempermainkan kita berdua. Mengambilmu pergi, menghancurkan aku, lalu mengembalikanmu lagi. Pasti sosok perempuan yang bernama Angela itu takan ada di sini sekarang. “Aku akan kuat, aku akan percaya denganmu. Semestamu adalah aku. Kamu juga adalah semestaku sekarang. Jadi kumohon, jangan hanya mengejarku, mungkin aku akan takut denganmu nantinya .... “ Rachel menyelipkan tawa di kata terakhirnya. Lucas justru semakin mempererat pelukannya. Saat dalam keadaan seperti ini candaan keluar dari mulut seseorang. Berarti dia tak baik baik saja. Dia sedang gelisah, candaan itu, hanyalah obat untuk ilusi. Agar terlihat baik baik saja. “Akan kupikirkan jalan terbaiknya, kumohon. Maafkan aku ......” Lucas melepaskan pelukannya, terdengar suara koper yang di seret lagi. Koper Angela. Wanita itu keluar dari kamar dengan kopernya. Apa wanita itu berubah pikiran? Terka Lucas. “Ini, pakaianmu .... “ Angela mengulurkan kopernya kepada Rachel, “Aku sudah mengemasi pakaianmu ke dalam koperku, toh apartemennya berhadap hadapan. Pakai saja koperku, lemari itu sudah penuh pakaianku .... “ Dengan tanpa ragu, Angela mengambil tangan Rachel untuk mengambil gagang kopernya, “Lekaslah kemasi pakaianmu ke apartemen itu .... “ “Kamu suda keterlaluan!! “ bentak Lucas, ia bisa melihat tangan Rachel yang gemetar menerima koper itu, ini sama seperti di usir. Pikir Lucas. Perlakuan Angela benar benar bertindak berlebihan. Lucas menarik tangan Rachel dan membawa Rachel keluar dari apartemen. “Lucas ....!!! Kamu mau kemana ...!! “ Angela berteriak meneriaki punggung Lucas yang menarik tangan Rachel. Ia ditinggalkan sendirian di belakang. “Tinggalah di sini! Nikmati kamar itu sendirian .... “ Lucas terus berteriak kepada Angela dan membanting pintu dengan kasar. Ia langsung menatap unit apartemen yang berhadapan langsung dengan apartemennya. Benar saja, satu keycard sudah tergantung di sana. Unit ini benar benar di beli Angela. “Kenapa kamu menariku dan ikut keluar bersamaku .... “ Lucas tak menghiraukan pertanyaan Rachel, ia langsung men-tap keycard itu dan membuka pintunya. Ia langsung menarik Rachel masuk ke dalam dan mengunci pintu dari dalam. Suara gedoran pintu tak lama terdengar, ia bisa melihat Angela yang marah marah dari layar pengawas di seberang pintu. “Kalau dia mau tinggal di kamar itu, biarkan dia tinggal di sana. Tidur di sana semaunya. Aku hanya akan tinggal di mana ada kamu. Jadi aku akan tinggal di sini .... “ Lucas langsung menarik koper di tangan Rachel, mengitari ruangan dengan marah. Ia langsung menemukan letak kamar tidur. Lucas tak habis pikir, semsesta memang berkonspirasi dengan takdir. Bersekongkol untuk memisahkannya dari Rachel. “Dia hamil Lucas, bagaimana kalau terjadi apa apa kepada Angela, dia di sana sendirian .... “ Lucas yang sedang menatap kosong ke arah tembok itu kini beralih menatap Rachel, “Sebenarnya, siapa kekasihmu ini? Aku atau Angela ...? Kenapa kamu malah mencemaskan dia di bandingkan kekasihmu ini ....? “ Rachel terdiam, ia tak mengira akan mendapat jawaban seperti itu dari Lucas, “ Ayo jawab....? Siapa kekasihmu itu ...? “ Lucas semakin memojokan Rachel. “Kamu .... “ Rachel menjawab dengan menundukan suaranya. Ini pertama kalinya ia, mengklaim Lucas sebagai miliknya. “Kalau benar, seharusnya kamu cemburu. Harusnya setelah aku mengatakan kalau hanya kamu yang aku cintai, tapi aku tinggal dengan wanita lain. Harusnya sekarang kamu cemburu, menahanku untuk tetap di sisimu. Tetap bersamamu. Bukan malah mengkhawatirkan orang lain ... “ Lucas berdiri menatap Rachel, jarak di antara mereka hanya sebatas langkah. Selangkah saja. Hanya selangkah. “Tapi Lucas, dia lebih membutuhkan kamu ... “ Rachel berdalih. Walaupun ia tau, yang di katakan Lucas itu benar adanya. Ia harusnya cemburu, menentang keputusan untuk tinggal dengan Angela. Menahan Lucas tetap di sisinya. “Aku kekasihmu, tunjukan rasa cemburumu itu kepadaku Rachel. Aku itu milikmu, kenapa kamu membiarkan apa yang jadi milikmu itu di ambil .... “ Aku milikmu, kata itu terpatri jelas di batin Rachel. Itu benar, laki laki di depannya adalah miliknya seutuhnya. Ia adalah miliknya. Tak untuk di bagi. Dalam waktu kurang dari satu detik, Rachel menghamburkan diri ke pelukan Lucas. Jarak selangkah, jarak yang hanya selangkah di antara mereka kini hilang. Tak ada jarak lagi di antara mereka. Aku adalah milikmu, kamu adalah milikku. Batin Rachel. “Jangan pergi dan tetaplah bersamaku .... “ Pelukan Rachel mengerat, ia mendapat balasan dari Lucas. Laki laki itu mempererat pelukannya. “Aku cemburu .... “ rengek Rachel, ia mengatakan cemburunya dengan nada yang membuat Lucas terkekeh. “Bagus, katakan padaku kapanpun kamu cemburu. Kamu pasti tau, aku akan memilihmu ... “ Lucas mengusap pipi Rachel. “Aku sangat cemburu, jadi jangan pergi selangkahpun ... “ Rachel kembali berkata seperti sedang merengek. “Kalau begitu, kita akan tidur berdiri seperti ini ...? “ kekehan Lucas terdengar sangat ringan. Sepertinya, gadisnya itu mengerti keadaanya. Ini sangat melegakan di hati Lucas. Ia hendak melepaskan pelukannya. Tapi tangan Rachel malah semakin erat memeluknya. “Aku bilang aku sedang cemburu, jangan bergerak selangkahpun ... “ “Aku tau itu, kamu cemburu. Aku suka itu, jadi berlama lamalah kamu dengan rasa cemburumu itu. Aku senang di pelukmu seperti ini sampai pagi ..... “
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN