The Evil Symphony
Rachel mengeratkan pelukannya pada Lucas, tangannya terjalin. Ini pertama kalinya, ia merasa nyaman di dalam pelukan seseorang. Entah kenapa. Atau, mungkin karena dia adalah Lucas.
“Rachel ...? “ Lucas menatap wajah Rachel yang masih menempel di dadanya. Raut wajahnya berubah serius.
“Hmmm ...? “ Rachel hanya menjawab dengan gumamam. Ia tak menyadari perubahan wajah Lucas yang menjadi sangat serius itu.
“Ayo kita menikah .... “
Rachel langsung menatap wajah laki laki yang baru saja mengatakan cinta, lalu kekasih, berlanjut dengan ajakan pernikahan, “Apa kamu seserius ini ...? “
Rachel menatap manik mata itu, tak ada getaran sedikitpun. Seyakin itukan Lucas untuk menikahinya? Tanpa sadar Rachel memperhatikan Lucas. Mata abu abu itu sekarang terlihat legam karena gelap. Tapi Rachel mengenali aroma Sandalwood, dengan perpaduan lemon dan mint khas Lucas.
“Apa kamu tidak mau menikah denganku ...? “ Lucas menenggelamkan wajahnya ke bahu Rachel, “Ayo menikah denganku, kamu kekasihku, dan besok kamu jadi istriku ... “
Lucas menopangkan wajahnya, ia sangat serius dengan perkataanya barusan.
“Tapi Lucas, menikah tidak semudah itu. Aku mau menikah denganmu, tentu saja ... “ Rachel terdiam. Ia tak melanjutkan kata katanya. Bukan karena ragu untuk menikah dengan Lucas. Tapi menikah bukan hanya sekedar menikah. Sambung Rachel dalam hati.
“Mungkin ini bukan pernikahan yang kamu impikan, di rayakan dengan banyak orang, di hadiri teman temanmu. Tapi biar Tuhan saja yang tau sumpahku untuk mencintaimu, setelah semua urusanku yang mengganggu ini, setelah aku memastikan dunia yang aman untukmu. Biarkan dunia tau bahwa kamu sepenuhnya milikku .... “
Lucas menunggu jawaban, Rachelnya masih terdiam. Tapi kepala itu bergerak, “Iya, ayo kita menikah besok .... “ jawab Rachel dengan penuh keyakinan. Keraguannya tentang pernikahan, sirna saat mendengar kata kata Lucas.
Senyuman mengembang di bibir Lucas, akhirnya. Rachel menerimanya. “ Maafkan aku juga .... “ Lucas bersuara lirih.
“Kenapa kamu meminta maaf ...? “ Rachel menjauhkan tubuhnya, melepaskan pelukannya dengan Lucas yang sudah berlangsung cukup lama.
“Karena melamarmu dengan cara seperti ini, besok akan ku lamar kembali kamu dengan cara yang lebih romantis di mata wanita .... “
Rachel pun ikut tersenyum, ini bukan masalah besar baginya. Ia tak seperti wanita kebanyakan, mengharapkan kejutan lamaran. Baginya, ajakan menikah yang keluar dari mulut Lucas. Lebih indah dari kejutan apapaun yang pernah di terimanya.
“Lamar aku di bulan kalau begitu .... “ Rachel terkekeh dengan candaanya barusan, mencoba meminta kejutan kejutan yang di sukai wanita wanita di luar sana.
Lucas ikut terkekeh dengan permintaan kejutan Rachel yang tak masuk akal, kekasihnya itu memang berbeda dari wanita lain yang menyukai kejutan, “Kamu benar benar menyusahkan, kalau begitu aku hanya bisa menjanjikan bulan yang lain ... “ tatap Lucas serius.
“Apa ...? “ Rachel nampak kaget, tak menyangka kalau candaanya akan di gubris serius oleh Lucas.
“Bulan madu .... “
Keduanya tertawa dengan bahagia, humor singkat yang di lemparkan keduanya. Bisa menghapus rasa sakit dan beban yang mereka bawa saat masuk ke ruangan ini.
“Sekarang, tidurlah .... “ Rachel meruncingkan bibirnya. Seperti di usir oleh Lucas. Padahal ia masih ingin berdua dengan Lucas dan berbicara banyak dengan laki laki di depanya itu.
“Tidak mau, “ bantah Rachel dengan tegas.
“Tidurlah, karena besok akan jadi hari yang melelahkan. “ kecupan meluncur ke pipi Rachel. Wanita itu hanya kaget dengan kecupan yang tiba tiba itu.
“Tidurlah, karena besok kamu tak akan punya waktu banyak untuk tidur kalau sudah menjadi istriku ... “ Lucas tersenyum jahil, kata katanya itu sukses membuat pipi Rachel memerah.
“Atau kita lakukan sekarang ....? “ Lucas mendekatkan tubuhnya, mendekati Rachel yang masih dengan pipi meronanya.
“Aku tidur dulu.....!!! “ Rachel langsung ketar ketir dan naik ke ranjang, menutupi tubuhnya rapat rapat dengan selimut dan memunggungi Lucas.
Tubuh itu kini memunggungi Lucas, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Semuanya di tutupi selimut, walaupun Lucas tau, Rachel belum sepenuhnya tertidur. Tapi ia tak ingin melanjutkan godaanya. Rachelnya harus beristirahat.
“Dasar, wanita luar biasa .... “ gumam Lucas, ia langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Rachel. Merangkak naik ke atas ranjang. Memeluk erat pinggan wanita di sampingnya.
“Besok jangan tidur dengan selimut .... “ Lucas mempererat pelukannya, “ Hari ini aku biarkan kamu tidur dengan selimut, besok aku yang akan memelukmu supaya kamu tidak kedinginan .... “
Rachel hanya membatu, tak bergerak sedikitpun. Mengabaikan denyut jantungnya yang bergejolak. Tapi Lucas tak bergerak, nafasnya teratur dan lembut. Laki laki itu tertidur nyenyak sesaat setelah memeluknya. Lucas memperlakukanku dengan berbeda, istimewa. Dia tak mau menyentuhku sebelum aku jadi istrinya. Pekik Rachel.
Bibirnya tak henti hentinya merekahkan senyum. Ia kemudian membalikan badan, menghadap Lucas dengan wajah damainya saat tidur. Melepaskan lilitan selimut di tubuhnya, membagi selimut itu dengan Lucas. “Besok, kamu yang jadi selimutku “ bisik Rachel di telingan Lucas, ia memeluk Lucas dengan tangannya “ Hari ini, biarkan kita seperti ini ... “
Rachel tersenyum, mengeratkan pelukannya pada Lucas. Rasa sakit, bahagia, kecewa. Semuanya beradu jadi satu di hatinya. Tapi ia tetap merasakan denyut cinta itu. Ternyata kata kata para penyair itu memang benar. Cinta membutakan. Atau menguatkan?
Rasanya, kedatangan Angela. Tak mengikir rasa cintanya pada laki laki di depannya itu. Apa ini karena cinta itu buta? Atau karena rasa cintanya pada Lucas, membuat Rachel bertahan dengan cobaan ini. Rasa cintanya pada Lucas, menguatkannya. Yang pasti, mereka pantas bahagia.
Pagi yang cerah, menyambut Rachel dengan cahaya itu. mentari sudah menyusup ke jendela dan membangunkannya. Senyum tiba tiba terukir di bibirnya. Bibir itu tertarik dengan sendirinya ketika Rachel mengingat hari ini. Menikah.
“Lucas, bangun ..... “ Rachel menggoncang tubuh Lucas. Tangannya masih tersampir pada pinggang Racel. Tapi laki laki itu hanya membalas suara Rachel dengan kernyitan di dahinya. Terlalu nyaman memeluk Rachel di lengannya.
“Lucas, bangun ...! “ Rachel mengencangkan goncangannya, tapi itu tak berarti apa apa. Lucas hanya menaikan sebelah alisnya tanpa membuka mata.
“Lucas bangun ....!!!“ sekarang reaksi Lucas berbeda. Barusan, ia mendapatkan kecupan di wajahnya. Ia sekarang membuka matanya lebar lebar, Rachelnya di sana. Perempuan itu yang mengecupnya.
“Morning kiss ...? “ Lucas langsung bangun dengan penuh semangat. Rachel yang memulai dulu, aku hanya mengikuti alur. Elak Lucas di dalam otaknya.
Rachel teringat ciuman pagi hari yang di lakukan Lucas padanya, dia benar benar tak bisa berciuman. Itu kata Lucas sendiri, ia tadi hanya berinisiatif mengecup Lucas, karena ia pikir Lucas masih setengah sadar. Ia tak tau kalau Lucas akan langsung tersadar dengan kecupannya itu.
“Aku akan buatkan sarapan .... “
Rachel langsung beranjak pergi dari ranjang, ia takut apa yang akan terjadi seperti apa yang di bayangkannya. Kalau ia tak cepat pergi. Tapi tangan Lucas lebih cepat dari gerakan Rachel. Tangannya sudah mengunci pergelangan tangan Rachel. Tapi sejak kapan?
“Buatkan aku dendeng goreng ... “ Lucas tersenyum polos. Rachel menghembuskan nafas lega. Itulah yang di lakukan Rachel tanpa sadar. Ia sudah berpikiran negatif tanpa alasan. Lucas, hanya meminta dendeng, bukan hal aneh aneh. Dasar pikiran kotor. Rachel mengutuk dirinya sendiri.
Cup!
“Dan itu yang sejak tadi aku tahan tahan .... “ Lucas langsung beranjak pergi ke arah kamar mandi. Ia baru saja mengecup Rachel tanpa permisi, meninggalkan Rachel yang masih melongo, kaget, dan pipi merah. Dia memang sudah berpikir kotor. Sergah Rachel.
Lucas langsung masuk ke kamar mandi, ia melepaskan pakaian yang menempel padanya selama lebih dari dua puluh empat jam itu. Ia tak sabar dengan pernikahannya hari ini. Pikirannya sudah di penuhi angan angan yang melambung tinggi. Tanpa sadar, Lucas bernyanyi di kamar mandi.
Setelah selesai mandi air dingin, Lucas keluar kamar dan tak ada Rachel di ruangan manapun. Kemana dia? Tanya Lucas pada dirinya sendiri sambil terus mencari Rachel ke penjuru apartemen. Kemudian ia teringat dapur, ia langsung menuju dapur dan tak ada sosok Rachel di sana. Dapur bersih tanpa ada bekas sentuhan. Semuanya tak tersentuh. Tapi kemudian pintu terbuka.
“Lucas ...? Kamu sudah selesai mandi ...? “ Rachel menatap heran dengan raut kebingungan Lucas, laki laki itu menatapnya dengan perasaan lega sekarang ini.
“Kamu dari mana .... ? “ Lucas mendekati Rachel, tetes air dingin masih membasahi rambutnya itu, tak di hiraukan oleh Lucas sama sekali.
“Membuatkan dendeng ... “
Dengan polosnya Rachel menyauti pertanyaan Lucas, ia baru saja membuka rak makanan dan semuanya kosong. Kulkas juga demikian. Tak ada makanan sedikitpun di apartemen ini. Angela benar benar membeli apartemen ini dengan tergesa gesa.
“Di sini tidak ada makanan apapun ... “ Rachel menjelaskan, karena sekarang Lucas menatapnya dengan tatapan menyelidik.
“Dia benar benar wanita pengganggu yang sangat berbakat, “ sindir Lucas, siapa lagi kalau bukan Angela. Ia sengaja mengosongkan makanan di apartemen ini.
“Kamu jadi memasak di sana? Ayo kita sarapan di tempat lain saja ... “ ajak Lucas sambil menarik tangan Rachel, hendak pergi ke suatu tempat entah dimana untuk sarapan. Tapi tangan Rachel tak mau di tariknya. Ia berhenti di sana, tak bergerak mengikuti langkah Lucas.
“Kenapa ...? “Lucas bertanya dengan heran sambil berbalik badan.
“Kita makan saja di sana, aku sudah membuat dendeng goreng, “ pinta Rachel dengan ekpresi memelas.
“Aku tidak mau makan di sana, ada Angela ... “ Lucas tak kalah bersikeras. Ia tak mau berurusan dengan Angela.
“Aku tidak apa apa ... “ ucap Rachel sembari meyakinkan Lucas. Ia tau apa yang Lucas khawatirkan, “Seharusnya kamu juga tidak apa apa, dia sedang hamil Lucas, tidak baik terlalu stress untuk orang yang sedang hamil ... “
Rachel sebenarnya tak terlalu “ tidak apa apa “ kalau boleh memilih, ia pun tak mau mengajak Angela sarapan dengannya pagi ini atau pagi pagi lainnya. Tapi saat Rachel masuk dan membuat sarapan. Wanita itu menangis di depannya, menangisi perlakuan Lucas padanya semalam.
Sudut hati Rachel tak bisa menolak kenyataan, ia juga wanita. Sama seperti Angela. Tapi ia tak tau perasaan Angela dengan jelas, tak pernah terbayang oleh Rachel kalau ia hamil dan tak ada yang mendampinginya. Terlebih ayah dari anaknya nanti. Ia tak ingin hamil sendirian. Maka saat itu, Rachel memutuskan. Walaupun Lucas tak menginginkan Angela. Lebih baik untuk Lucas, kalau ia memperlakukan Angela dengan baik.
“Ayolah Lucas, nanti dendeng yang kusiapkan menjadi dingin ... “ Rachel menarik tangan Lucas, menuju ke arah apartemen di depan mereka. Memasuki ruangan yang kini tak lagi di huni dua orang. Ada orang lain yang sedang duduk di kursi yang seharusnya di duduki Rachel.
“Lucas ... “ sapa Angela dengan suara yang sedikit berharap, ada jawaban baik dari Lucas. Tapi Lucas hanya diam. Mendekati meja makan tanpa menjawab sapaan darinya. Angela mengutuki Rachel diam diam. Dia membawa Lucas, tapi kehadirannya benar benar tak di harapkan. Mati saja ...! Angela terus bersungut sungut di dalam hati. Ia masih bersikap lemah lembut di hadapan Rachel. Tapi Lucas tau, sisi Angela yang sebenarnya. Yang jelas, bukan yang sekarang tengah di tunjukan wanita itu di depannya.
“Duduklah di sini ... “ Lucas menarikan kursi makan dan Rachel menurut untuk duduk di sana. Lucas juga menarik kursi lain di samping Rachel, bersebrangan jauh dengan Angela.
“Kamu mau makan apa ...? “ Angela sudah melayangkan tanganya di atas piring. Hendak mengambilkan apa saja yang di inginkan Lucas. Tapi Lucas tak menghiraukan kehadirannya. Ia pura pura tak melihatnya.
“Kamu mau dendeng ini ...? “ Rachel mengangkat piring berisi dendeng yang ia goreng barusan. Interaksi antara Lucas dan Angela benar benar membuat Rachel serba salah. Membuatnya tak nyaman bergerak.
Lucas menganggukan kepalanya, tangan Rachel dengan cekatannya mengisi piring Lucas dengan potongan dendeng dendeng itu, “Kamu juga mau makan dendeng ini Angela ....? “
Rachel menawarkan sisa dendeng di piringnya ke Angela, sebelum Angela menjawab Lucas sudah terlebih dahulu memerintah “Buang saja sisanya .... “
“Tapi ....”
“Buang saja, biarkan dia makan sayuran dan buah buahan. Itu cukup untuknya ... “
Lucas tak lagi berbicara, ia sibuk makan dendeng di piringnya. Kata katanya barusan sudah cukup untuk membungkam Angela. Wanita itu tak lagi bersuara, ia bungkam dengan seribu bahasa kediaman. Rachel semakin depresi melihat interaksi keduanya. Juga kasihan.
“Makanlah .... “ Rachel menyodorkan semangkuk bubur jagung yang ia buat sendiri, “Biasanya orang hamil akan sulit makan makanan, mereka merasa mual. Morning sickness, jadi aku buatkan ini ... “
Angela mengambil uluran mangkok itu, tak menyangka makanan itu di buat untuknya. “Terimakasih ... “
“Sama sama ... “
Angela menyodokan sesendok penuh bubur, morning sickness. Omong kosong. Semua yang di lakukan Rachel, tak punya arti apa apa di mata Angela. Kalau saja saat itu ia tak memberi Lucas Aphrodiciat. Mungkin Lucas tak mau menampungnya di sini sekarang. Langkahnya untuk menjadi Nyonya Nortwest tak boleh terhalangi sedikitpun. Apa lagi di halangi oleh wanita bodoh di depanya, Rachel tak boleh menjadi penghalang. Kalaupun ia akhirnya jadi batu penghalang. Ada banyak cara untuk menyingkirkan batu penghalang itu dari jalannya. Jalanku harus mulus untuk menjadi Nyonya Nortwest.