The Evil Symphony
“Kemasi barangmu dan pindahlah ke apartemenmu sendiri ... “ perintah Lucas dengan suara tenang dan sedingin es. Angela tersedak bubur, ia tak bisa mencerna kata kata Lucas barusan. Ia di usir, “Maksud kamu Lucas ...? “
“Maksudku, aku tetap kukuh. Kamu tidak boleh tinggal di sini, atau aku tak akan bertanggung jawab apapun padamu ... “ Lucas sudah selesai dengan sarapannya. Hanya dendeng yang di lahapnya. Tak ada makanan lain yang di sentuhnya.
“Kalau kamu terus saja bebal dan tak mau mengikuti kata kataku, aku tak akan melakukan apapun yang kamu mau. Bertanggung jawab pun, tidak akan .. “Lucas beranjak, ia berdiri dengan menahan amarah. Rachel bisa melihat kepalan tangan itu, tapi Lucas tak akan memukul perempuan. Itulah sebabnya, ia lebih memilih berkata dingin dan kasar.
“Rachel, sebaiknya kamu cepat cepat bergegas dan berisap siap. Aku akan bersiap siap dulu ... “ Lucas menatap Rachel, wanita itu hanya mengangguk. Sedangkan ia langsung beranjak pergi dari meja makan. Melangkahkan kakinya ke kamar tidur. Meninggalkan Rachel.
“Jangan di ambil hati, Lucas memang sering kasar dan dingin ... “ Rachel mendekati Angela, berusaha menenangkan Angela. Saat ia pertama kali bertemu Lucas. Hal yang paling menyakitkan dari Lucas tetaplah sama. Kata k********r dan dingin yang keluar dari mulut laki laki itu.
“Apa kamu merasakan rasa sakit sepertiku ...? “
Rachel tercekat, melihat tatapan yang di layangkan Angela padanya. Tatapan yang berubah seratus delapan puluh derajat dari yang ia terima sebelum sebelumnya. Sifat yang Lucas tau, sisi Angela yang ia kenal. Kini telah di tunjukan Angela pada Rachel.
“Maksud kamu ...? “
“Apa kamu tidak dengar apa yang di katakan Lucas barusan ...? “ Angela tertawa, menahan geli. Di zaman sekarang, masih ada wanita polos dan lugu. Dan ia bertemu jenis wanita sepert itu sekarang, “Katakan pada Lucas, agar aku tetap tinggal di sini. Aku tak punya keinginan untuk menyakitinya, tapi anak yang tak bersalah ini bisa saja merasakannya ... “
Angela meninggalkan Rachel sendiri, meninggalkan wanita itu dengan keterkejutannya. Melelahkan terus berpura pura dengan otak Rachel yang lambat itu, kesabaran Rachel dan perlakuan baiknya benar benar membuat Angela muak. Lebih baik tunjukan saja sifat asli. Toh, Rachel tipikal yang tak mau ada yang tersakiti.
“Dia benar benar, wanita yang menyeramkan,“ celetuk Rachel, ia tak habis pikir dengan ucapan Angela barusan, “Bagaimana mungkin, ia bisa dengan tega menyakiti anaknya sendiri ... “
Rachel tak pernah membayangkan sosok Angela yang sesungguhnya, sekarang. Rasa simpatinya sudah mati. Ia tak bersimpati lagi pada Angela. Rachel justru lebih kasihan lagi sekarang, pada jabang bayi di perut Angela. Semoga anak itu akan baik baik saja.
Sementara itu, Rachel tak tau kalau Angela melangkahkan kakinya ke arah kamar. Lucas berada di sana
“Kamu sudah selesai sarapan ...? “ Lucas tengah mengancingkan kancing kemejanya, setelan jas navy sudah tersampir di depannya. Jas yang baru, setelan baru, semuanya baru. Rambut Lucas sudah kering, lebih tepatnya dibiarkan kering dengan sendirinya.
“Kamu mau mengajaku ke suatau tempat? Sampai berpatut diri seperti ini ... ? “ Angela memeluk Lucas dari belakang. Tapi tubuh yang di peluknya itu langsung mendorongnya jauh jauh. Ia kaget, bukan Rachel yang masuk. Melainkan Angela.
“Enyah! Sudah kubilang jangan dekati aku ... “
Lucas nampak sangat marah dengan Angela, perempuan licik ini memang tak bisa hanya dengan gertakan, harus ada tindakan. Terlalu lama dengan Angela membuat Lucas paham. Wanita ini benar benar harus di jauhi sebelum ia memutuskan untuk menjerat laki laki. Dan Lucas, adalah sasaran dari jeratan Angela.
“Lucas, kamu tidak akan bisa mengusirku. Aku sudah menyatu dengan dirimu ... “ Angela tersenyum puas, ia punya dua pedang sekaligus untuk menghunus Lucas. Agar laki laki itu menuruti kemauannya.
“Apa yang kamu inginkan ...? “
Lucas sudah menahan amarahnya, ingin sekali melayangkan tinju ke arah Angela. Tapi sosok di depannya itu bukanlah tandingannya. Ia laki laki. Sedangkan Angela perempuan.
“Jangan suruh aku tinggal di sebelah, tarik kata katamu ... “
“Tidak akan ...! “
Lucas semakin di buat kesal, ia tak tau kalau Angela bisa keras kepala di bandingkan Rachel. Ia bahkan tak mau berada satu ruangan dengan Angela. Bagaiman mungkin membiarkan Angela tinggal di apartemen dengannya.
“Aku tau apa yang kamu sembunyikan dari Rachel, dan aku tak keberatan kalau kamu mau aku yang memberitahunya ... “
Angela menggantung kata katanya, hanya kata kata itu dan tubuh Lucas seperti di aliri aliran listrik beribu ribu mega watt. Ia telah menutupi semuanya dari Rachel, hanya dirinya dan Dion. Apa mungkin, rasahasia yang di maksud Angela itu. Adalah apa yang ia takuti, kalau sampai Rachel mengetahuinya.
“Intinya, selama kamu membiarkanku tinggal di sini. Hati Rachel akan tetap ku jaga. Dia wanita baik baik ternyata ..... “
Angela tersenyum dan langsung meniggalkan Lucas sendirian, bagaimanapun. Seorang perempuan pasti mengharapkan hati. Tapi hati Lucas tertutup untuknya. Jadi, siapapun tak boleh memilikinya.
Dan, sekali lagi. Angela meninggalkan Lucas dengan segala pertanyaan yang menggantung. Ini pasti masalah itu. Tapi bagaimana Angela bisa tau. Damian bahkan tak tau. Lucas mengacak ngacak rambutnya, rambut yang tak di sisir rapi itu sekarang semakin acak acakan.
Angela menutup pintu kamar, senyuman puas tersungging di bibirnya. Posisinya di tempat ini untuk sekarang aman. Tapi ekor mata Angela menangkap sosok wanita itu, Rachel tengah berjalan mendekati kamar. Belum menyadari kehadiran Angela. Wanita itu buru buru melepaskan ikat rambutnya.
“Kamu ...!? “ nada terkejut tak bisa terelakan lagi, Angela sedang berdiri di depan pintu kamar. Dari mana lagi perempuan itu kalau bukan dari kamar Lucas.
“Lucas memang begitu, berkata kasar di depanmu. Tapi larut dalam ciumanku, dia benar benar laki laki yang baik ... “ Angela melangkah pelan meninggalkan Rachel, ia baru saja membuat luka baru di hati Rachel.
“Baik, mau menjaga perasaanmu itu, bodoh .... “
Angela melenggang dengan santainya menuju ruang televisi. Meninggalkan Rachel dengan keterkejutannya. Menjaga perasaan, sisi Lucas yang mana yang harus di percaya. Rachel sedikit meragu. Cintanya, buta atau menguatkan. Tapi Rachel lebih memilih untuk percaya Lucas. Dia kekasihku, dan aku harus mempercayainya.
*** 000 ***
“Lucas .....? “ suara panggilan itu memenuhi ruangan, suara lembut Rachel membuat pendengaran Lucas menajam. Tanpa sadar ia langsung memalingkan wajahnya, menatap ke arah Rachel. Lesung di kedua pipi Rachel tak tenggelam sedikitpun.
Rachel bisa melihat tampilan rambut Lucas yang sedikit acak acakan itu, tenanglah Rachel. Dia mungkin belum merapikan dan menyisir rambutnya. Rachel mencoba menenangkan dirinya sendiri dari kata kata Angela.
“Rachel ...” Lucas menyambut Rachel, mendekati wanita itu dengan langkahnya yang lebar. Hanya butuh beberapa langkah saja, Lucas sudah berhadap hadapan dengan Rachel.
“Kamu belum bersiap ....? “
Lucas memandangi Rachel yang masih memakai pakaian yang sama saat sarapan, ia sudah membayangkan kalau Rachel menggunakan gaun. Tapi Lucas mengutuk diri sendiri. Ia bahkan belum menunjukan gaun itu pada Rachel.
“Belum, memangnya kita berangkat pukul berapa ...? “
Rachel sedikit tenang, cintaku tidak boleh lebih kecil dari keraguanku. Aku harus mempercayai dia apapun kondisinya. Cintaku harus lebih besar.
“Bersiaplah sekarang, mandilah. Aku akan membawamu ke rumah dulu ... “
“Yang ada di pinggiran kota? Rumah itu ..? “
Lucas mengangguk, “Rumah mana lagi, rumahku yang lain itu kamu ... “ tangannya sibuk menyimpulkan dasi tanpa bercermin. Tangan Lucas sudah dengan cekatan menyimpulkan dasi itu. mata Rachel memperhatikan gerakan tangan itu. Hem, dia memang pebisnis. Sudah terbiasa dengan tampilan berdasi seperti ini. Batin Rachel.
Tapi tiba tiba tangan itu terhenti, “Kenapa kamu berhenti memakai dasi ...? “ Rachel seperti terusik, dia sedang menikmati memperhatikan tangan laki laki itu memakai dasi, tapi tiba tiba terhenti. Ini seperti mengecewakan.
“Pakaikan dasi untukku ... “ senyuman menggoda terpantul di sudut bibir Lucas.
“Kamu bisa menggunakannya dengan cekatan barusan, kenapa medadak memintaku memasangkan dasi,“ protes Rachel. Ia sedang asik melihat tangan Lucas memakai dasi dan pemandangan itu terhenti, tapi Lucas tak mendengar demo Rachel barusan. Ia malah menyambar tangan wanita itu dan menaruhnya tepat di depan lehernya.
“Hari ini aku akan menikah, harus kamu yang memakaikannya .... “ Tangan Lucas terus memegang tangan Rachel, sampai akhirnya Rachel menyerah. Ia menjalinkan ikatan dasi itu sampai terbentuk simpul dasi yang bisa ia buat.
“Tidak rapi ... “ gerutu Rachel sambil mencoba membongkar kembali simpul dasi buatannya, sebelum tangan Lucas mengehentikan gerakan Rachel itu.
“Biarkan, aku suka simpul dasimu. Unik .. “ Lucas tersenyum, meraba simpul dasinya yang tak seperti biasanya. Terbiasa rapi dan licin, sekarang nampak berbeda saat Rachel yang memakaikannya.
“Kamu mengejekku ... “ Rachel justru tak senang dengan kata unik yang di sematkan Lucas. Ia sadar betul, simpulnya berantakan bukan main.
“Tidak, kamu saja yang tidak dengar ketulusanku ini ... “
Lucas mengusap pipi Rachel, bibir yang manyun itu sudah di tarik kembali. Di tarik menjadi sebuah ulasan senyum tipis.
“Rachel, aku tau ini menyakitkan ... “
Usapan nyaman di pipi Rachel itu terhenti, tangan Lucas berhenti mengusap pipi Rachel dengan tiba tiba. Pandangan serius sekarang di hujankan pada Rachel. Ketika seseorang meminta maaf tanpa alasa. Itu berarti ada kesakitan yang akan kamu dapatkan. Naluri Rachel berkata demikian.
“Kenapa ....? “
Pandangan itu, Rachel benar benar tak tau pandanga itu. Mencoba menerka nerka apa yang akan Lucas ucapkan. Tapi sia sia, ia tak terbaca.
“Aku tau aku baru saja bilang kalau Angela harus tinggal di apartemen lain ... “ Lucas mengehentikan obrolannya. Tapi permintaan maaf itu, seperti membuka jawaban untuk melengkapi kalimat Lucas yang belum selesai ini.
“Kamu boleh membiarkan Angela tinggal di sini, aku akan mencoba untuk merasa tak apa apa ... “
Mata Lucas membulat, tak pernah ia tau kalau Rachel bisa membaca situasi. Atau membaca pikirannya. Aku harap kamu tak bisa membaca pikiran dan perasaanku. Kuharap jangan.
“Kamu tak keberatan ...? “ mengejutkan, tapi juga melegakan. Entah apa itu. Tapi satu yang pasti, ini menyakitkan untuk Rachel.
“Aku tak apa, dia butuh seseorang untuk menjaganya. Kalau dia di sini, aku bisa merawat kandungannya ... “ Rachel teringat ancaman Angela, ia tak tega dengan bayi itu.
Rasanya benar benar meyakitkan, bukan kata katamu. Tapi kata kata Angela. Apa kamu ini berusaha menjaga perasaanku. Tapi ini benar benar menyakitkan. Entah ini kebenaran. Atau cintaku padamu terlalu menguatkan. Tapi aku akan memilih bertahan. Asalkan, aku masih mejadi jalan pulangmu. Rumah lain yang kamu maksud.
“Terimakasih ..... “
“Aku akan bersiap siap, aku akan mandi dulu ... “
Rachel meninggalkan Lucas, ia segera menuju kamar mandi. Hari pernikahannya, di mulai dengan sesuatu yang di luar dugaan. Tapi entah cinta itu memang buta, atau malah justru menguatkan. Ia akan bertahan. Rachel memilih bertahan. Hidup tanpa Lucas, adalah kehidupan yang tak pernah terbayangkan untuknya. Cintanya bukan buta, tapi terlalu kuat untuk di sisihkan.
Mandi dan menenangkan pikiran. Itu yang Rachel lakukan sekarang. Tak ada yang lain. Hari bahagia ini tak boleh rusak. Pernikahan adalah fase kehidupan yang akan di tempuh selanjutnya.
Rachel keluar dari kamar mandi, ia sudah berganti pakaian. Dengan dress navy. Serasi dengan setelan jas yang di kenakan Lucas tadi.
“Kamu sudah siap ...? “
Lucas sudah menunggu di depan kamar mandi dengan antusias, menunggu calon pengantinnya dengan tak sabaran. Memboyong perempuan itu ke atas altar dan bersumpah di depan Tuhan. Bukankah itu sangat indah di bayangkan? Apa lagi sekarang, Lucas akan melakukannya. Bersumpah di depan Tuhan, untuk mencintai Rachel seumur hidupnya. Sehat maupun sakit.
“Kamu menunggu dari tadi ....? “
Rachel bertanya dengan heran, sejak tadi ia seperti mendengar suara alas sepatu yang terketuk ke lantai. Mungkin itu suara lain, pikir Rachel. Tapi sekarang ia melihat sumber suara itu berasal dari sepatu yang di kenakan Lucas. Laki laki itu menunggu dengan tidak sabaran.
“Iya, aku menunggumu dari tadi .... “
Senyum sumringah itu di iringin sambaran tangan Lucas, ia menyambar tangan itu dengan antusias yang menggebu gebu. Menarik Rachel keluar dari apartemen. Tapi ekor mata Rachel mencari sosok lain. Angela tidak ada di sana. Entah bersembunyi di mana. Ruang televisi yang tadi di huninya, sekarang kosong.
“Kita kerumah dulu ...? Untuk apa ...? “
Rachel memasangkan sabuk pengaman dengan hati hati, nafasnya masi belum teratur karena seretan Lucas yang benar benar membuatnya lari kewalahan. Ia bahkan masih menggunakan sandal untuk kamar mandi.
“Untuk apa ..? Untuk bersiap siap pastinya, di sana akan ada banyak kesibukan. Menyambut Nyonya baru .... “ Lucas menjalankan mobilnya, meninggalkan gedung apartemen di belakangnya. Pagi ini adalah pagi yang istimewa.
“Nyonya ...? “
“Iya, kamu Nyonyaku ... “
“ Kamu, Tuanku kalau begitu ... “ Rachel menjawab godaan Lucas.
“ Tidak, kamu duniaku .... “ Lucas tak kalah, ingin menyaingi Rachel.
Mobil melaju dengan cepat, menuju ke pernikahan sejoli itu pagi ini. Banyak masalah, tapi cinta Rachel terlalu kuat. Terlalu menguatkan dirinya. Asalkan ia masih menjadi jalan pulang untuk Lucas, cintanya akan tetap kuat. Asalkan ia masih menjadi rumah yang Lucas katakan. Ia akan selalu kuat. Tapi Lucas bilang, kalau ia adalah dunianya. Inilah yang membuat cintanya semakin kuat. Aku adalah duniamu, tapi kamu semestaku. Kalau cintaku runtuh, bagaimana dengan semestaku.