The Evil Symphony
Mobil melaju cepat, Lucas tak lagi bisa di ajak berbicara. Ia hanya fokus pada jalanan dan kecepatan mobil yang semakin bertambah. Karenanya, mereka bisa sampai di kastil Lucas itu. Memasuki pelataran luar itu. Rachel tanpa sadar melemparkan pandangannya keluar sana, memeperhatikan keadaan di rumah besar Lucas itu.
Teringat hari pertama ia bertemu Lucas, Biola. Musik mengantarku padanya, semoga melodi itu bisa terdengar sampai aku tiada. Rachel bergumam pelan. Tapi cukup keras sampai Lucas memalingkan wajahnya.
“Apa yang sedang kamu pikirkan ....? “ Mobil berhenti tapi tatapan Lucas pada Rachel tak berhenti begitu saja.
“Tidak ada ... “ jawab Rachel dengan riangnya. Lucas nampak tak begitu peduli lagi, “Ayo masuk .... “. Ia langsung membukakan pintu mobil dan menggandeng Rachel masuk ke dalam. Tak di sangka, atau memang sudah sewajarnya? Mereka di sambut oleh puluhan pelayan rumah. Tak terkecuali Shawn. Laki laki itu tak nampak beberapa hari ini dan sibuk di rumah.
“Shawn ... “ sapa Rachel dengan riang, bertemu Shawn setelah insiden bom itu benar benar melegakan. Hanya Shawn yang melihat tangisan Rachel yang membanjir. Kalau saja ia tak melihat kejadian itu bersama Shawn. Mungkin, Rachel takan tau bagaimana perasaanya sebenarnya. Cara Lucas mencintainya yang berbeda. Tersembunyi, tapi selalu tersampaikan.
“Bawa Rachel menemui Teressa .. “ perintah Lucas pada Shawn, perintah itu langsung di mengerti Shawn tanpa harus dua kali ucap.
“Mari Nona Rachel .... “
Shawn mengambil alih, ia langsung berjalan menuntun Rachel untuk menemui Teressa yang kedua kalinya. Melangkahkan kaki ke ruangan yang berbeda dari sebelumnya. Saat hendak ke pesta Jarvis. Rachel menuju ke ruangan yang penuh bejibun dengan gaun gaun. Tapi sekarang ia masuk ke ruangan serba putih dengan hiasan bunga matahari yang berlimpah. Bunga bunga itu di susun di atas platfom dan membentuk formasi entah apa itu. Seperti simbol yang tak ia ketahui. Kalau biasanya simbol hati di pilih untuk rangkaian bunga, karena semua orang paham benar simbol itu.
Tapi sekarang Rachel berusaha keras mencerna simbol simbol itu, sampai akhirnya Rachel masuk dan melihat simbol simbol itu dari sisi yang berbeda. Ternyata bunga bunga itu membentuk not balok. Tangga nada lagu yang Rachel paham betul.
“Dia, benar benar manis. Lain dari yang lain ... “
Suara perempuan itu mengagetkan Rachel, Teressa sudah berdiri di sana. Pojokan ruangan, entah pintu menuju mana yang baru saja Teressa masuki. Karena saat masuk, Rachel belum melihat wanita itu sama sekali.
“Teressa ....!!! “ teriak Rachel penuh antusias, ia berjalan membaur untuk memeluk Teressa. Walaupun bertemu satu kali, tapi sebagian diri Rachel seperti merindukan Teressa yang berbicara kasar tapi jujur apa adanya itu.
“Apa kubilang! Kamu pasti yang akan jadi Nyonya selanjutnya ... “
Teresa memberikan sambutan pada Rachel dengan membalas pelukan perempuan itu. Wanita polos yang di bawa Lucas tempo hari, sekarang adalah wanita yang hendak di nikahi oleh Lucas. Teressa yang sudah seperti Ibu bagi Lucas itu, mendukung sepenuhnya pilihan Lucas.
“Ini adalah kutukanmu saat itu .. “ gurau Rachel yang di sambut gelak tawa Teressa yang menggema di ruangan yang luas itu.
“Shawn, pergilah dan pastikan agar Lucas meminum teh camomile. Aku akan buat dia stress karena kecantikan Rachel hari ini ... “ Teressa terus saja menggoda Rachel dengan kata katanya.
“Baiklah, saya permisi sekarang .... “
Shawn pergi dan di sambut anggukan mantap Teressa. “Kamu beruntung, lihat ke atas sana ... “ ucap Teressa sambil mengacungkan jari ke atas platfom yang tadi di perhatikan Rachel.
“Dia benar benar menunjukan sisi manisnya hanya padamu. Orang orang sekarang pasti menganggapnya b***k cintamu Rachel ... “ Teressa terkekeh dengan julukan yang ia sematkan pada Lucas. Benar benar cocok sekali saat menyandingkannya dengan perlakuan Lucas pada Rachel.
“Ehm, dia benar benar sangat manis ... “ angguk Rachel ,menyetujui, “ Juga terlalu sempurna bagiku ... “
“ Apa kamu sedang merendahkan diri ...? “ selidik Teressa, ia bisa mendengar ada rasa rendah diri di dalam perkataan Rachel barusan. “ Dia yang beruntung bisa menemukanmu. Kalau tidak, dia pasti takan menikah selamanya. Atau bahkan Lucas akan menikahi orang yang salah ... “
Teressa langsung menarik tangan Rachel, membawa perempuan itu ke arah lemari pakaian yang belum di tunjukan isinya pada Rachel.
“Kamu itu sudah bukan sempurna lagi, kamu itu malaikat, “ celoteh Teressa sambil membuka pintu lemari dengan kasar. Ia membuka pintu itu lebar lebar dan memperlihatkan isi lemari itu. Hanya ada satu set gaun di dalamnya dan itu benar benar gaun yang indah.
Gaun putih gading, yang memberikan kesan indah, putih, bersih, suci. Itu yang terngiang di benak Rachel. Kapan Lucas menyiapkan semua ini? Baru semalam mereka sepakat untuk menikah ke esokan harinya. Rachel sudah membayangkan pernikahan sederhana dengan gaun sederhana yang di pakainya sekarang.
“Jadi, karena kamu adalah malaikat. Kamu harus terlihat lebih sempurna dari Lucas. Agar dia merasa gerogi saat mengucapkan sumpah di altar nantinya. Bayangkan Lucas dengan bibir bergetar Rachel!! Itu pasti akan sangat lucu ... “
Teressa tertawa puas membayangkan Lucas yang tak bisa berkata apa apa saat di altar nantinya. Benar benar akan menjadi momentum langka, seorang Lucas Nortwest menjadi orang yang gerogi.
“Dia pasti akan terlihat lucu.“ Rachel berceletuk menyetujui, bayangannya pun ikut melayang dengan imajinasi Teressa.
“Kalau begitu, cepat pakai gaun ini .... “ Teressa mengambil gaun putih itu dengan sangat berantusias. Sampai ia tak sadar kalau gaun itu benar benar mengambang dan memenuhi tubuh mungil Rachel. Untuk memakai gaun itu, butuh bantuan minimal satu orang. Dasar bodoh! Teressa mengutuk dirinya sendiri.
“Maafkan aku, seperti biasa. Biarkan aku membantumu dengan gaun ini, Nyonya ... “
“ Teressa!! Jangan panggil aku seperti itu ... “ Rachel memekik saat panggilan Nyonya di sambatkan padanya. Benar benar membuat jantungnya berdebar dan membuat gugup bukan kepayang.
“Ah! Sudah! Toh semua orang akan memanggilmu begitu, anggapa saja aku ini permulaan, latihan. Karena besok, aku mungkin pulang ke Paris, Nyonya .... “
“Secepat itu ...? “ Rachel mengerutkan keningnya, baru sekarang bertemu Teressa. Wanita yang seperti Ibunya sendiri. Dan esok wanita itu akan pulang ke Paris.
Terresa hanya mengangguk pelan dengan ekspresi tenang,"Aku hanya di suruh Lucas untuk mengurusi kamu. Memangnya kenapa?" Teressa berpura pura tidak terpengaruh oleh tatapan Rachel. Terresa malah berpura pura sibuk mencari dan memilih make up yang akan ia gunakan untuk merias wajah Rachel setelah Rachel menggunakan gaun. "Aku akan merindukan kamu..." tutur Rachel pada Terresa yang masih memunggunyinya, Terresa bisa saja pura pura tidak mendengar, tapi sialnya, suara Rachel seperti mengendalikan dirinya. Teressa akhirnya berputar, tersenyum ramah pada Rachel. "Tentu..."