"Tentu..." ucap Teressa dengan senyum ramah, tak pernah ia tersenyum seramah ini pada orang lain.
Rachel mengangguk pelan,"Aku merasa kamu seperti buru buru untuk pulang..." keluh Rachel dengan polosnya, Teressa yang mendengar Rachel seperti anak kecil yang mengeluh karena di tinggal oleh sahabatnya itu hanya terkekeh.
“Iya, karena aku sudah lama di sini. Kerinduanku akan Indonesia sudah terobati dan aku harus kembali ke sana. Aku hanya menetap untuk pernikahan kalian hari ini ... well, sama seperti kamu, mungkin aku juga akan merindukan kamu...” tutur Teressa.
“Aku juga akan meridukanmu Teressa .... “ ucap Rachel, entah untuk berapa kalinya ia mengatakan akan merindukan wanita di hadapannya ini.
Teressa mengangguk, ia bisa merasakan ketulusan dari kata kata Rachel.
“Sekarang pakailah gaun ini ... “
Teressa membantu Rachel mengenakan gaun pernikahannya. Gaun putih itu memiliki ukuran yang pas di tubuh Rachel. Bagian perutnya, entah kebetulan atau tidak. Bagian perut gaun Rachel, tak memiliki korset seperti gaun pada umumnya yang membuat perut terlihat rata. Gaun Rachel justru elastis di bagian perut dan mengembang di bagian bawah. Membuat perut Rachel bisa bernafas bebas tanpa khawatir melukai bekas jahita operasinya.
Gaun dengan model Cinderella itu sudah sempurna melekat pada Rachel, tubuh itu kini di balut gaun putih gading. Sempurna. Itu kata yang tepat, atau malah seperti kata kata Teressa. Rachel seperti pantulan malaikat. Cantik, putih dan bersih. Seperti kapas yang belum di pintal. Seperti awan putih yang belum mendung.
Bagian punggung Rachel tak terlalu terbuka, detail di pinggang gaun adalah motif daun zaitun berwarna hijau pekat. Cocok dengan warna putih gading. Teressa langsung memandangi Rachel dengan kekaguman.
“Cepatlah, kita merias diri ... “
Rachel berjalan dengan ringan. Gaun ini tak punya kerangka gaun seperti biasa, hanya kain kaca yang membuat gaun terkesan mengembang dan terlihat besar. Tapi aslinya, gaun ini benar benar ringan dan Rachel tak kesulitan dalam berjalan.
Dengan tangan yang sudah sangat terampil, Teressa membuat sanggul dengan rambut asli Rachel. Rambut panjang itu kini terikat rapi ke belakang membuat bun yang sangat natural. Rambut hitam legam dengan tatanan sederhana dan terlihat sempurna. Pantulan senyum itu memperlihatkan lesung pipi Rachel.
“Kamu tak pernah membayangkan akan menikahi orang seperti Lucas bukan ...? “
Teressa berbicara dengan tanganya yang sibuk memberikan eyeshadow bergradasi maroon dan sedikit warna orange. Warna yang pas untuk kulir Rachel, membuat kesan mata yang tajam, tapi juga lembut.
“Tak pernah sedikitpun, pertama kali bertemu dengannya aku saja tak membayangkan akan seperti ini ... “ Rachel menjawab pertanyaan itu dengan jujur, pertama kali ia lolos hal pertama yang ia bayangkan adalah bermain Biola. Bukan cerita roman, seperti Lucas jatuh cinta padanya.
“Aku bahkan tak pernah membayangkan kalau ia akan menikah, sulit baginya menerima perempuan di dalam hidupnya kecuali Ibunya .... “
Lucas bukannya tak ingin setia kepada satu perempuan. Tapi kisah cintanya terlalu tragis untuk di ceritakan. Terlalu miris untuk di ingat. Sejak saat itu, ia memutuskan. Tak ada lagi cinta. Namun cinta tak ayalnya perasaan yang muncul dengan sendirinya. Tak bisa di kendalikan atau di hentikan. Ia mengalir begitu saja. Sekarang, ia menemukan Rachel. Masa lalu yang hilang.
Kini Teressa beralih ke pipi Rachel, memberikan usapan perona pipi yang tak perlu banyak banyak. Toh sejak kedatangannya kemari. Pipi Rachel sudah di penuhi dengan rona bahagia. Pipi itu akan tambah merah nantinya.
“Wanita sepertimu itu yang di butuhkan Lucas ... “
Teressa sudah memberikan hasil akhir pada riasanya. Wajah Rachel sudah di poles dengan apik, wajahnya kini berkali kali lipat lebih cantik. “Banyak wanita yang berusaha keras untuk menaklukan Lucas, tapi Lucas takluk sendiri padamu. Aku beri kamu tepuk tangan yang meriah .... “
Teressa bertepuk tangan sendirian seperti orang gila, terlalu girang akan pencapaian Rachel menaklukan Lucas. Sampai ia berhenti dan tersenyum.
“Nah, Rachel... berhubung kamu akan menjadi istri Lucas kurang dari beberapa jam lagi, aku titip Lucas kecilku yang manis itu padamu. Saling menjaga itu kuncinya, aku harap kalian akan bahagia selamanya .... “
“Terimakasih atas do’amu Teressa .... “
Teressa hanya menganggukan ucapan terimakasih Rachel untuknya. Sekarang perempuan itu sudah siap. Teressa langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu yang ternyata adalah kamar pengantin. Kamar pengantin yang tak terduga. Nuansa putih dan barisan bunga matahari. Semanis ini Lucas padanya. Terlalu manis untuk di sesap setiap hari sepanjang pernikahan nantinya.
“Nona, mari kita keluar menuju gereja .... “ Shawn muncul dari balik pintu, laki laki itu sudah berganti setelan dengan setelan jas yang baru.
“Dimana Lucas ...? “
Rachel bangkit dan menyambar sepatu di atas ranjang, Teressa yang menunjukan sepatu itu. Sepatu tanpa hak yang akan tertutup gaun nantinya.
“Tuan sudah berangkat lebih dahulu, hanya tinggal menunggu Nona ... “
Rachel hanya mengangguk, tak paham dengan rencana Lucas. Ia hanya mengikuti Shawn. Keluar dari kamar dan berjalan ke luar rumah. Mobil baru sudah terparkir di sana. Itu bukan mobil yang sering di tungganginya dengan Lucas. Mobil lain.
“Mari Nona .... “ Shawn membukakan pintu dengan hati hati dan membantu Rachel masuk mobil, menyingkap gaun itu dengan tangannya.
“Kita akan sampai dalam beberapa menit ... “
Shawn sudah memegang kemudi, mobil melaju dengan sangat tenang. Menyelusuri jalan yang berbalik arah. Rachel pikir mereka akan ke gereja di pusat kota. Tapi jalan yang di ambil justru berkebalikan. Menuju ke tempat yang lebih lama di telusuri, terasa lebih terpencil lagi.
Mobil melaju dengan tenangnya, tapi Shawn tidak berbohong. Mereka sampai dalam beberapa menit. Mobil sudah sampai di depan gereja yang tak terllau besar, namun cukup luas dengan halaman yang hijau dengan rerumputan. Gereja di desa nampak begitu asri.
Halaman denga rumput hijau itu sudah terisi dengan beberapa kursi putih dengan ornamen pita putih yang terlilit di leher kursi.
“Kapan dia melakukannya ...? “
Rachel terheran heran, sejak keberangkatan mereka pagi ini. Melihat ruangan dengan bunga matahari yang di tata dengan rapi, gaun yang di buat untuknya, sampai halaman gereja ini. Kapan Lucas memikirkannya? Merencanakannya?
“Tuan Lucas selalu siap kapan saja untuk menikahi Nona ... “
Hanya itu jawaban Shawn, entah itu akurat atau tidak. Tapi ini benar benar menambah keterkejutan Rachel. Mereka memasuki gereja, pintu terbuka dengan sendirinya dan Rachel di sambut seorang anak perempuan yang ia kenali. Gadis yang ia temui di rumah sakit.
“Kak Rachel ... “
Senyum itu merekah, seperti mengingatkan Rachel tentang kehidupan yang harus tetap di syukuri. Dan satu lagi gadis kecil yang lain. Dengan gaun berwarna dusty pink. Sama seperti yang di kenakan Aurora. Ada yang anugerahi umur yang panjang. Tapi ada juga yang tetap bahagia dengan umur pendeknya.
“Paman Lucas sudah menunggu .... “
Gadis itu menarik tangan Rachel dengan gemas, dua tangan bocah kecil itu menuntun Rachel ke arah altar di depannya. Dan benar saja. Lucas sudah ada di sana, dengan setelan jas navy yang ia kenakan pagi tadi. Tengah tersenyum padanya dengan intensitas kebahagiaan yang tak terhitung banyaknya. Seakan ini seperti sebuah kebahagiaan di atas kebahagiaan. Tak ada lagi kata yang bisa mendefinisikan kebahagiaan Rachel dengan Lucas hari ini. T
Matanya tiba tiba menyapu kursi di dalam gereja. Kursi itu tak kosong. Rachel kaget dengan saksi pernikahanya itu, ada Mamanya dan juga Dion. Mereka tengah tersenyum bahagia ke arah Rachel.
Rachel tak bisa menahan air mata harunya, “Bagaimana kamu melakukan semua ini ... “