The Evil Symphony
Rachel berjalan menuju altar yang semakin dekat, dua gadis kecil di depannya berjalan dengan lincah. Braid maid yang paling manis mungkin adalah julukan yang tepat untuk Aurora dan partner kecilnya. Mereka bertiga berjalan menyedot perhatian semua tamu undangan. Tak ada banyak orang, pernikahan di gereja ini berlangsung pribadi. Rachel hanya bisa melihat beberapa orang yang ia kenal. Sebagian besar pastilah kenalan Lucas.
Dan laki laki di depan Rachel itu tengah menatap Rachel dengan binar mata yang tak terelakan. Lucas masih menatap lekat lekat Rachelnya, gaun putih gading itu benar benar cantik saat di kenakan Rachel.
“Paman Lucas ... “ Aurora bersorak mengalihkan perhatian Lucas dari Rachel. Laki laki itu berjongkok, menyamakan tinggi badanya dengan Aurora.
“Kaka Rachel menangis di depan pintu barusan ... “ Aurora berceloteh dengan riangnya. Rambut tipisnya tertutupi flowers crown. Ini membuat orang orang takan sadar dengan kejanggalan tubuh Aurora. Leuikmia tak membuatnya kehilangan keceriaan.
“Kamu mencubit Kaka Rachel ...? “
Lucas tersenyum sumringah dengan candaanya, ia sudah tau pasti kalau Rachel menangis karena melihat Dion dan Ibunya yang tengah duduk menyaksikan pernikahan mereka. Lucas berbohong, ia tak mengantarkan Dion dan Lina pergi ke Yunani. Ia meminta mereka berdua untuk bersembunyi sebelum kejutan pernikahan ini di lihat Rachel.
“Kaka Rachel menangis karena debu mungkin ...? “
Bride maid satu lagi, anak Philip. Namanya Melati. Gadis seumuran Aurora itu belum paham betul kalau ayahnya telah mangkat, telah pergi ke dimensi lain yang tak bisa ditemu lagi. Lucas mengajak Aster dan Melati untuk menyaksikan pernikahannya. Mencoba menghibur mereka, dan Melati sangat senang menjadi bride maid. Berjalan dengan gaun mengembang, seperti cinderella versi mini.
“Kaka Rachel silau karena ketampanan Pamanmu ini Melati .... “ Lucas mengalihkan senyumannya ke arah Rachel, wanita itu justru melotot dengan pernyataan Lucas atas ketampananya yang sangat meleset. Terharu karena ketampanan Lucas? Rachel bahkan belum punya waktu untuk mengagumi ketampanan Lucas hari ini.
“Duduklah dan lihat bagaimana Paman Lucas kalian yang tampan ini, menikahi Kaka Rachel ... “Lucas beranjak, berdiri dan Aurora serta Melati berlari kecil ke bangku di bagian paling depan. Duduk dengan antusias yang tak terbendung, kaki mereka tak henti hentinya mengguncang guncangkan kaki yang mengambang di kursi karena kaki mereka yang masih kecil.
Rachel berjalan mendekati Lucas, di altar yang menjadi spot mereka hari ini, “Bagaimana mungkin? Kamu bisa mempersiapkan ini semua ...? “
Mata Rachel masih membelalak dengan segala persiapan yang sangat matang ini, bunga matahari yang ia lihat adalah salah satu buktinya. Tak mudah menyiapkan ini semua, karena mereka baru memutuskan menikah semalam. Pernikahan ini, seperti terancang jauh jauh hari.
“Aku sudah berniat melamarmu setiap hari ... “ Jawab Lucas dengan mantap, “ Walaupun kamu menolakku setiap harinya, aku akan tetap melamarmu setiap hari sampai kamu bosan dan tak punya pilihan lain selain menerima lamaranku .... “ Lucas terkekeh dengan logikanya sendiri. Ia sudah merencakan pernikahan. Jauh sebelum ia menyatakan lamarannya semalam.
“Kalau aku menolak terus ...? “ Rachel mengernyitkan sebelah alisnya.
“ Toh, baru sekali aku melamarmu. Hari ini, kamu sudah berdiri di altar ini bersamaku ... “ Lucas tersenyum puas, kata katanya itu justru dengan mudahnya membuat pipi Rachel merona. Sulit menolak pesona Lucas, keseriusan Lucas, cinta Lucas, dan semua hal yang ada di dalam diri Lucas.
“Kita mulai sekarang ... “ Lucas meraih tangan Rachel. Berdiri menghadap seorang Pastor yang sudah menunggu percakapan dua sejoli ini berakhir.
Hari ini benar benar cerah, langit biru terbentang luas di atas sana. Tak ada awan sedikitpun. Seolah pernikahan ini di berkahi Tuhan dengan sendirinya. Tangannya merengkuh umatnya yang satu ini. Memberikan Lucas satu kesempatan, untuknya bahagia. Bahagia dengan cara yang indah tentunya. Dengan di persatukan dengan Rachel, dalam ikatan pernikahan.
Pastor itu membuka pernikahan hari ini dengan membacakan beberapa ayat alkitab. Jamaat yang datang, sekaligus saksi pernikahan Lucas dan Rachel serentak mengaminkan. Sampai akhirnya, janji di depan Tuhan itu terucapkan.
Tangan Lucas meraih tangan Rachel, memegang erat jemari gadis itu, “Hari ini, Saya Lucas Nortwest menyatakan janji di hadapan Tuhan Keluarga dan Jemaat serta semua orang. Mengambil engkau, Rachel Natalis Shancez sebagai istri satu satunya yang sah “
Lucas mengucapkan janji nikahnya dengan sangat lantang dan diserui pengaminan oleh para jemaat. Ada desahan nafas lega di kata kata terakhir Lucas, laki laki itu menahan gugup sejak tarikan nafas pertama ternyata. Sekarang tiba giliran Rachel. Wanita itu sedikit gugup, namun sekarang ia bisa menguasai dirinya sepenuhnya. Perlahan Rachel membuka mulutnya, janji pernikahan itu pun terucap dari mulut Rachel.
“Semua karena kehendak Tuhan... “ Rachel manrik nafas sesaat untuk mengusir kegugupannya, “Saya akan hidup bersamamu mulai detik ini dan seterusnya .... “
Semua orang bersuka ria, menyambut pasangan suami istri baru ini. Suara sorak sorai entah dari siapapun itu semakin membuat suasana di gereja kecil itu semakin meriah. Tepuk tangan dan teriakan ‘ Paman Lucas ‘ dari Aurora dan Melati adalah suara yang paling tajam di telingan Lucas dan Rachel. Karena dua gadis kecil itu duduk di kursi paling depan.
“Nyonya .... “, goda Lucas sambil menarik pinggang Rachel untuk mendekat ke tubuhnya.
“Lucas .....! “ teriakan Rachel tertahan, ia belum pernah menerima perhatian Lucas di depan banyak orang. Itu membuatnya malu dan ingin menutupi wajahnya.
“Kenapa ..? Jangan bilang kamu malu ... ? Kamu istriku sekarang .... “ Lucas tak menghiraukan pipi Rachel, dia langsung menarik Rachel ke lantai untuk ikut membaur ke orang orang yang sudah datang ke pernikahan mereka.
“Rachel .....!! “ Lina berlari kecil mendekati Rachel yang bergaun lebar itu. Tubuhnya di rentangkan lebar lebar untuk memeluk Rachel, “Kamu sudah punya keluargamu sendiri nak .. “ seru Lina di telinga Rachel di sela sela pelukannya.
“Mama membohongiku ...!! “ itu reaksi Rachel, ia masih sedikit kesal dengan kejutan Lucas ini. Kesal, jengkel, tapi juga manis untuknya. Tak di sangka, Rachel sempat merasa sedih karena pernikahannya yang mendadak ini tak di sasksikan oleh Ibu dan sahabat baiknya.
“Ini kejutan, kalau kamu sampai tau. Ini bukan kejutan lagi .... “ Dion menimpali Rachel. Laki laki itu menggunakan setelan jas berwarna dark grey. Rapi dan wangi. Seperti biasa, batin Rachel.
“Kamu sama saja ...! “ Rachel memelototi Dion dan berganti memanyunkan bibirnya di depan Ibunya. Dion tertawa lepas, ia sudah di beri tau rencana Lucas menikahi Rachel, rencana itu yang menahannya untuk pergi. Ia ingin melihat senyuman Rachel di atas altar. Mimpinya bersejajaran dengan Rachel di atas altar harus di gantikan oleh Lucas. Tapi paling tidak mimpinya terlihat sama, Rachel tersenyum bahagia di atas altar barusan.
“Aku hanya mengikuti skenario ... “ ucap Dion sembari mengangkat bahunya seolah olah ia tak bersalah sama sekali.
“Jangan marahi mereka atau mereka akan langsung kabur dari sini, “ celetuk Lucas, tapi kata kata itu sukses membuat manyunan di bibir Rachel menghilang.
“Kalian jangan pergi kalau belum ku perbolehkan pergi. Oke ...?!? “
**** 0000 ****
“Kami akan pergi esok hari, untung saja kamu menikah hari ini ... “ celetuk Dion. Ia tak berbohong, semester pertamanya akan di mulai dua hari dari hari ini. Kalau ia tak berangkat besok, Dion khawatir ia tak bisa merasakan hari pertamanya menjadi mahasiswa baru di negeri orang. Memperlajari alam semesta tentunya.
“Ini kebohongan lagi ...? “ lirik Rachel pada Lucas, ia masih menyelidiki apa pun itu yang tak di ketahui. Karena hari ini, benar benar penuh kejutan.
“Apa aku juga harus memanggil universitas Dion agar dia bisa berbohong masalah pendidikannya ...? “ Lucas berpura pura jengkel pada Rachel. Melihat Rachel yang begitu cantik hari ini benar benar membuat jantungnya merasakan apa itu marathon.
“Baru beberapa menit kalian di atas altar, terlihat bahagia. Sekarang? Kalian sudah merasakan konflik rumah tangga ..? “ Lina mengolok Rachel dan Lucas yang sama sama memasang wajah cemberut versi mereka. Bedanya, wajah cemberut Lucas lebih ke arah marah tapi juga menahan tawa. Entah lah. Tapi di mata Lucas, wajah cemberut Rachel adalah ekspresi paling menggemaskan di matanya.
“Mama ....!! “ Rachel tak tahan di goda masalah pernikahan. Masih terasa asing mendapati Lucas sudah menjadi suaminya.
Tiba tiba terdengar suara alunan Biola, benar benar merdu. Berasal dari luar gereja. Suara merdu dengan gesekan lembut dan nada yang semakin berirama. Rachel tau lagu itu. Lagu yang terdengar seperti pengantar cerita sebuah dongeng puteri kerajaan. Pandangan Lucas dan Rachel beradu. Mata mereka memberikan jawaban yang sama. Vivaldi, Four season. Entah kenapa, senyum Lucas merekah. Ia menarik tangan Rachel dan membawa gadis itu keluar dari gereja.
“Kami akan keluar dulu, kami harus menari. Merayakan hari ini .... “ Ucap Lucas sambil berlalu dengan Rachel yang ada di pelukannya. Ia berjalan keluar gereja dengan langkah ringan, seringan kapas. Kebahagiaan hari ini membuat Lucas merasa bisa melayang seperti kapas yang tertiup angin.
Semua orang ternyata sudah berada di halaman geraja. Memeluk pasangan masing masing. Mata Lucas beradu kembali dengan bola mata Rachel.
“Mau menari lagi denganku ...? “ Tangan Lucas terulur dengan sendirinya, padahal Rachel sudah jelas ada di dalam dekapannya. Rachel tak menjawab dengan suara. Jawabannya sudah terlihat dengan tanganya yang sudah terjalin dengan tangan Lucas yang terulur padanya.
“Ayo .... “
Senyum Rachel merekah, mengikuti setiap irama Four season yang terdengar di telinganya. Alunan indah itu senada dengan gerakan dansa Lucas yang halus, penuh kasih sayang. Tapi dansa itu berakhir dengan Rachel yang berlabuh ke pelukan Lucas. Memeluk laki laki itu dengan tangannya yang melingkar di punggung Lucas. Menyandarkan kepalanya di d**a Lucas. Langkah mereka terdengar santai dan beralih seirama. Kanan kemudian ke kiri. Semua orang juga melakukan hal yang sama. Pernikahan ini adalah peristiwa tak terlupakan bagi Lucas. Sebuah ketenangan batin dan kebahagiaan yang baru ia sesap di usianya ini.
Tapi tiba tiba tatapan Rachel beradu pada Nadin, sahabatnya yang bekerja di kafe yang sama dengan Rachel. Nadin teman satu kampusnya yang menjadi pelayan kafe sedangkan Rachel bermain instrumen lain seperti Biola dan Piano.
“Nadin ...?! “ pekik Rachel, tak habis pikir bisa bertemu dengan Nadin di hari pernikahannya. Ia bahkan tak mengundang Nadin. Bagaimana Nadin bisa datang ke pernikahannya ini?
Tapi belum juga pekikan itu selesai, suara Rachel kembali tertahan. Ia menyadari kalau sahabatnya. Nadin. Gadis yang memakai dress tanpa lengan berwarna maroon itu tengah berdansa juga, berada di pelukan seorang laki laki tegap di lengan Nadin.
“Damian ....?! “ pekikan itu akhirnya terlepas juga. Damian? Nadin? Berdansa? Di pernikahanku ...? pertanyaan pertanyaan itu tak di jawab Damian maupun Nadin. Gadis itu justru melepaskan pelukannya dari Damian dan berhenti dengan dansa mereka berdua. Melepaskan pelukan satu sama lain dan mendekati Rachel.
“Kenapa kamu bisa ada di sini ...?! “ jerit Rachel, kebahagiaanya tak terhenti hari ini. Seperti terkucur dengan sendirinya. Pernikahan, bunga matahari, Ibunya, Dion, sekarang bahkan ada Nadin.
“Kalian saling kenal .... ? “ Lucas bertanya heran. Yang Lucas tau, hanya Dion dan Ibu Rachel. Itu saja. Ia tak mengundang teman teman Rachel. Karena Lucas sendiri tak tau siapa teman teman Rachel.
“Aku ke sini bersama Damian, “ Jawab Nadin dengan senyum lebar di bibirnya sembari menatap Damian di sampingnya. Mereka berdua terlihat cocok satu sama lain. Tapi Rachel tak pernah tau Nadin punya hubungan dengan laki laki. Terlebih Damian. Apa hubungan mereka baru terjalin akhir akhir ini ..? batin Rachel terus bertanya. Kenapa? Kapan?.
“Dia temanmu Rachel ...? “ Lucas merasa dunia Rachel sedang tidak untuknya, pertanyaannya di acuhkan Rachel tanpa mendapatkan jawaban.
“Kami teman satu universitas Lucas, Nadin itu sahabatku yang juga bekerja di kafe yang sama ... “ Rachel menjelaskan hubungannya dengan Nadin. Lucas mengangguk angguk kecil, ia juga sepertiyna pernah melihat gadis itu di kafe yang sama dengan Rachel. Saat Rachel menggunakan dress backless dan bermain piano. Lucas yang menatap punggun wanitanya dari lantai dua. Terlihat tapi tak terengkuh. Itu yang Lucas rasakan saat itu. Tapi Rachelnya sekarang justru terengkuh dan tersentuh.
“Kalian pasti ingin ngobrol satu sama lain, karena sudah lama tak bertemu ... “ akhirnya Damian membuka suara. Sejak tadi ia hanya diam. Membiarkan Nadin merasa nyaman di pelukannya.
“Kalau begitu, lanjutkan girls talk kalian. Aku juga ingin berbincang dengan Damian ... “
Lucas melirik Damian, memberikan isyarat untuk meniggalkan istrinya dan kekasih Damian itu untuk ngobrol satu sama lain.
“Nadin, tunggulah di sini. Aku juga ingin bersama Lucas. Kamu tidak apa apa kan ...? “
Damian menatap Nadin, mencoba memastikan tak ada tanda keberatan dari gadis itu.tapi Nadin membalas dengan anggukan kepala, “Iya, aku akan di sini bersama Rachel .... “
Senyuman Nadin terus melekat di bibirnya, membiarkan Lucas dan Damian untuk meninggalkan mereka dengan tenang.
“Aku pergi ke sana ... “ ucap Lucas sambil mengecup ujung kepala Rachel. Lagi lagi membuat Rachel merona.
“Iya, “ sahut Rachel, dan dua laki laki tampan itu melenggang berlalu meniggalkan Rachel dan Nadin di belakang sana. Pandangan Rachel terlaih ke Nadin, binar matannya terlihat jelas.
“Kamu kekasih Damian ...? “ tanya Rachel dengan antusias tak terelakan.
“Dia kekasihku, namun juga bukan milikku ... “
Sorot mata Nadin meredup. Pandangan bahagia yang sedari tadi di itarakan untuk Damian tiba tiba sirna. Seperti biji biji dandelion yang tertiup angin. Hilang dan hanya meinggalkan kekosongan.