Rasa sakit tidak berujung.

2119 Kata
The Evil Symphony                   Lucas membawa Damian untuk duduk di bangku kayu yang di cat putih itu. Rumput hijau di bawah mereka benar benar terlihat segar. Sayangnya mereka terbentuk untuk di injak. Tanpa sadar Lucas mengeluhkan langkah kakinya yang tergesa dan mencongkel rumput itu dari tanah.                   “Mau minum ...? “ tawar Lucas sembari mengacungkan dua gelas sampanye yang ia raih saat melewati meja makanan. Ia tau, Damin sedang banyak pikiran.                   “Tidak, aku tak mau minum. Aku harus mengantar Nadin pulang nantinya ... “ tolak Damian denga alasan yang logis tentunya, tanpa maksud yang mengada ngada untuk menghindari tawaran Lucas. Sejujurnya, ini adalah cara Lucas agar teman temannya mau berucap jujur. Dengan membuat mereka tak sadarkan diri, mabuk maksudnya.                   “Kamu melukai gadis itu ... “ ujar Lucas dengan lugasnya, sembari menunjukan sosok gadis yang ia maksud. Sosok Nadin yang sedang sama sama sepertinya. Duduk dengan Rachel dan mengobrol.                   “Aku harus bagaimana ...? “ Damian juga mengarahkan pandangannya, menatap sosok Nadin di proyektor matanya. Menarik bayangan gadis itu dan menaruhnya di sisi hatinya.                   “Dia akan sakit kalau tau masalahmu dengan Natasya ... “ Lucas meminum sampanye di tangannya. Minuman itu mengalir di tenggorokannya. Cukup lama tak ada jawaban dan akhirnya Damian memulai jawabanya dengan desahan berat. Nafas yang di hembuskan kuat kuat seolah merontokan beban Damian.                   “Nadin sudah tau masalah Natasya .... “ Lucas membelalak dengan tatapan kaget tak percaya. Bagaimana mungkin, seorang perempuan mau bertahan dengan laki laki yang juga membagi perhatiannya untuk wanita lainnya.                   “Kamu bukan lagi melukai gadis itu, kamu juga sudah memporak porandakan hatinya ... “ tajam Lucas, seumur hidupnya ia tak berkomitmen pada wanita. Kecuali Rachel tentunya, ini di buktikan dengan pernikahannya hari ini. Tapi perempuan perempuan sebelumnya, hanyalah hubungan dengan keuntungan. Relationship with benefit.                   “Aku tak bisa meninggalkan Natasya, tapi juga tak bisa berpaling untuk Nadin ... “ Keluh kesah Damian, untuk pertama kalinya terdengar di telinga Lucas. Sahabatnya yang selalu terdengar riang itu akhirnya memperlihatkan bebannya yang di tutup tutupi selama ini. Ada alasan, kenapa Damian hanya paruh waktu di rumah sakit. Ada alasan kenapa Damian hanya menjadi dokter pribadinya. Ini karena alasan tertentu. Alasan yang lebih spesifiknya karena Natasya.   Rachel terduduk dengan Nadin yang sudah tertunduk dengan mata merah.                   “Kamu kenapa ...? Apa yang ingin kamu ceritakan padaku, Nadin ... “ Rachel mengelus punggung Nadin dengan tangannya selembut mungkin, mencoba menenangkan Nadin. Nadin akhirnya mengangkat kepalanya. Menatap Rachel dengan tatapan tegar yang di buat buat. Sangat kentara, batin Rachel.                   “Kamu tak pernah berdekatan dengan laki laki manapun, tiba tiba menghilang, lalu tiba tiba muncul dan menikah dengan Lucas Nortwest. Aku iri Rachel ... “ rajuk Nadin dengan nada marah yang mengundang gelak tawa Rachel.                   “Kamu juga entah dari mana, bisa berada di sini dan berada di pelukan Damian ... “ celetukan Rachel itu justru kembali mengundang tatapan sendu di mata Nadin.                   “Setidaknya, Lucas mau menikahimu. Damian? Aku bahkan tak tau, posisi seperti apa aku ini di hatinya .... “   Nadin mendengus lelah, terlalu lelah membayangkan posisinya di hati Damian. Berhubungan, jelas. Sebagai kekasih, tak perlu di ragukan lagi. Tapi hati? Hati Damian harus di bagi dengan wanita lain. Nadin mungkin hanya di sisakan sebuah puing kecil hati Damian.                   “Kenapa kamu berbicara seperti itu Nadin ...? Dia kekasihmu, sudah pasti kamu punya tempat yang spesial di hati Damian ... “ Rachel mencoba membela Damian, setelah mengenal Damian. Dengan pertemuan pertemuan singkat mereka, dan obrolan ringan. Rachel tau kalau Damian sangat suka bergurau. Mungkin karena Damian yang tak pernah menunjukan keseriuasannya di depan Nadin, itu membuat gadis itu ragu tentang keseriusan Damian.                   “Aku tak punya tempat spesial di hati Damian, hati itu sudah di miliki Rachel .... “ nafas Nadin tercekat, ia kemudian menahan nafas dan mencoba menahan air matanya. “Ini cinta sepihak, hanya aku yang mencintai Damian, tapi Damian mencintai wanita lain. Aku hanya ada di tengah tengah mereka ... “                   Rachel mulai memahami arah pembicaraan Nadin. Sakit memang jika ada orang lain dalam sebuah hubungan. Rachel juga merasakan perasaan itu sekarang ini. Ada kehadiran Angela di antaranya dan Lucas. Tapi Rachel tau, ada atau tak ada Angela di dalam hubungan mereka saat ini. Lucas telah dimilikinya. Jadi, sekarang Rachel tau. Rasa sakit yang Nadin rasakan. Rasanya tak bisa memiliki. Rasanya ada diantara hubungan yang menyakitkan. Karena Damian, mencintai orang lain. Tapi Nadin tetap bertahan. Mungkin ini yang Angela lakukan. Tapi wanita itu melakukannya dengan cara yang salah.                 “Siapa Nadin .....? Siapa wanita itu ....? “, rasa penasaran Rachel tak terhentikan. Ia ingin mengetahui, siapa wanita yang di cintai Damian sedemikian besarnya. Sampai Nadin menyerah, untuk merontokan benteng pertahanan Damian.                 “ Aku mencintainya dengan sepenuh hati Rachel, tapi entah sebesar apa hati yang bisa di berikan Damian untukku, separuh hatipun aku ragu-- “ Nadin terbata bata mengucapkan kalimatnya. Ingatanya melayang, membayangkan sudah berapa kali ia di tinggalkan Damian untuk menemui perempuan yang ia cintai dengan raut wajah khawatir. Sudah banyak kata maaf yang Damian ucapkan. Nadin memaafkan. Sebodoh itu efek cintanya untuk Damian. Berkali kali memaafkan, meskipun ia tau. Memaafkan Damian hanya membuka pintu rasa sakit yang lainnya.                   “Namanya Natasya .... “                 Nama itu akhirnya keluar dari mulut Nadin, bertahun tahun ia mencoba untuk tak menyebutkan nama gadis itu. Pesaingnya untuk mendapatkan hati Damian. Pil pahitnya masalah sakit hati. Akar muakar sakit hatinya di mulai oleh gadis bernama Natasya itu. Gadis yang sudah menelan bulat bulat hati Damian sampai tak tersisa sedikit hati Damian untuk di miliki Nadin.                   “Dia siapa? Kamu kekasih Damian, lalu apa hubungannya dengan Natasya yang kamu sebut sebut itu .... “ Rachel tak tau serumit apa hubungan Nadin dengan Damian. Yang ia tau, hubungannya dengan Lucas juga sudah masuk ke kategori itu. Sulit. Hubungan yang sulit.                   “ Aku sepenuhnya kalah, Natasya bisa mengambil Damian kapanku dariku kalau ia mau ... “ Nadin sudah membayangkan hari hari itu di masa depan. Hari di mana Damian akhirnya meniggalkannya untuk, memilih pergi bersama Natasya kelak. Mata Nadin terasa pedih. Sebutir air mata akhirnya meluncur dari pojok mata itu. Tapi buru buru di hapusnya air mata itu, di tahan sebisa mungkin agar tak pecah.                   “ Dia perempuan yang di cintai Damian dari awal. Natasya sedang tak sadarkan diri ....” Terlihat tapi tak terengkuh. Itu yang Lucas rasakan saat itu. Tapi Nadin merasa kalau Damian hanya bisa tersentuh tanpa bisa di miliki.                   “Maksudmu, koma ...? “ Nadin mengangguk kuat, “Natasya bisa mengambil Damian kapanku dariku kalau ia mau, tanpa harus bangunpun, Damian sudah sering meninggalkanku untuknya .... “     ***** 000000 ******                   Lucas mematung melihat pemandangan di depannya saat ini, Nadin sedang menangis di depan Rachel. Dan sepertinya, ia tak perlu bertanya apa yang sedang Nadin ceritakan pada Rachel. Ini pasti ada hubungannya dengan laki laki di sampingnya saat ini, Damian.                   “Kamu tak melihat dia menangis ...? Kalau kamu bisa melihat air matanya yang di sembunyikan dulu dulu, sudah setiap hari kamu menyakiti perempuan itu .... “   Damian juga melihat pemandangan itu, pemandangan yang ia lihat selama beberapa tahun ini. Nadin yang mencoba tegar dan mengusap air matanya. Ia kembali mendengus, nafas berat yang sudah kesekian kalinya ia hembuskan.                   “Entah kenapa, dia tak pernah mengusik nama Natasya di depanku. Tapi sepertinya dia sendang menceritakan keluh kesahnya tentang Natasya kepada Rachel .... “                   Entah kenapa pemandangan Nadin yang menangis itu membuat Damian merasakan sengatan rasa sakit di hatinya. Perempuan beraura cerah yang selalu ceria di depannya itu. Tengah menangis di depan Rachel. Aura cerah Nadin, berganti mendung. Seperti hati Damian yang melihatnya.                   “Kamu bahkan tak mencintainya, hanya dia yang menunjukan perasaanya padamu. Untuk apa dia menangis di bahumu ...? kamu hanya peduli pada Natasya ... “ sindiran Lucas itu benar benar tepat sasaran. Kata kata pedas yang selalu di berikan Damian padanya, kini bisa ia putar untuk menyerang Damian. Laki laki yang selalu menyarankan Lucas untuk bertindak lembut pada perempuan yang ia cintai. Tapi nyatanya, Damian tak bisa melihat orang yang sangat mencintai dirinya, sebesar Nadin mencintai Damian.                   “Aku mencintai dia Lucas ..... “ Damian mencoba tersenyum, senyum getir yang tak terelakan lagi rasa pahitnya. Rasa pahit itu bahkan tak terasa lagi di bibir maupun lidah. Hatinya juga terasa pahit sekarang ini.                 “Aku mencintai Natasya, dengan definisi cinta klasik, aku jatuh cinta padanya. Tapi aku mencintai Nadin, dengan definisi cinta yang berbeda. Aku tak mencintai Nadin dengan cara yang sama, seperti caraku mencintai Natasya .... “                   Definisi cinta yang berbeda, cinta Damian untuk Natasya dan Nadin. Tak bisa di samakan. Entah kenapa, dua rasa cinta itu tak bisa bersatu, walaupun sama sama cinta. Sampai akhirnya, salah satu cintanya tersakiti. Nadin yang selalu tersakiti, apa ini artinya rasa cintaku pada Natasya jauh lebih besar? Bisik Damian pada dirinya sendiri.                   “Kau tak bisa mencintai dua orang sekaligus, entah itu dengan definisi cinta yang sama atau arti cinta yang berbeda. Kalau kamu cinta pada dua orang sekaligus, pilih yang kedua. Karena kalau kamu benar benar mencintai cinta pertamamu, Natasya. Kamu takan pernah meraskan cinta dengan definisi yang bebeda pada Nadin ... “                    Kalimat panjang dari Lucas itu seolah menohok kembali batin Damian, setelah sindiran tajam Lucas yang baru di ucapkan beberapa saat lalu. Sekarang kalimat itu terngiang ngiang di pikiran Damian. Terus membayangkan bagaimana jadinya, kalau ia memilih salah satu diantara Natasya ataupun Nadin. Apa jadinya Natasya tanpa dirinya. Tapi apa juga yang akan terjadi, jika Nadin tanpanya .....                   “ Kamu sudah berapa lama mencintai Rachel ...? kenapa masalah percintaanku ini, seperti masalah kecil untukmu ... “, Damian terkekeh. Mencoba mengalihkan pembicaraan beratnya menjadi obrolan ringan dengan candaanya seperti biasa.                   “Aku hanya cinta pada Rachel, belasan tahun lamanya. Aku tak pernah jatuh cinta pada orang lain, wanita keduaku itu Rachel, wanita ketigaku itu juga Rachel dan seterusnya ... “ Lucas menatap mantap ke udara kosong di depannya, seolah ada gambaran Rachel di sana. Tanpa sadar Damian merasa iri pada sahabatnya itu, andai dulu ia tak semudah itu jatuh cinta pada perempuan lain bernama Nadin, akan mudah baginya hanya untuk mencintai Natasyanya seorang. Tapi Nadin, terlalu bercahaya dengan keceriaanya. Membuat hati Damian lengah dan jatuh cinta juga pada gadis itu.                   “Apa Rachel mencintaimu dengan cara yang sama ..? “ Pertanyaan yang di ungkapkan Damian untuk mengusik Lucas itu berhasil mengusik Lucas seratus persen. Senyum di wajah Lucas memudar pelahan. Dan senyum puas kini tersungging di bibir Damian, puas telah merusak mood sahabatnya itu.                   “Jangan jangan definisi cinta Rachel untukmu, berbeda dengan definisi cintamu untuknya ... “ kalimat menggelitik itu kembali keluar dari mulut Damian, kini Lucas sepenuhnya diam. Mulutnya rapat dan tak ada senyum lain.                   “Jangan membuatku marah, atau kamu akan ku hajar dengan gelas sampanye ini ... “ Lucas mengacungkan gelas di tanganya, segelas lagi masih utuh tak tersentuh. Tapi kemudian ia menyambar gelas itu dan menenggak isi cairan di dalam gelas dengn sekali minum.                   “Kamu gila ...?! “ Lucas kaget dengan tingkah laku Damian ini, tak seperti biasanya gerutu Lucas.                   “Aku sudah gila lumayan lama, jadi tolong bayarkan uang untuk terapi mentalku ini. Biaya psikiater mahal akhir akhir ini ... “                   “Obati saja dirimu sendiri, kamu kan dokter ... “, Lucas benar benar di buat kesal, baru saja beberapa saat yang lalu ia tak mau minum karena ingin mengantar pulang Nadin. Tapi sekarang, segelas sampanye sekali teguk. Benar benar tingkat depresi yang luar biasa. Prinsip persahabatan mereka. Kalau kamu membutuhkanku, aku akan menolongmu. Lucas sedang membalikan posisinya. Penolong.                   “Aku bukan psikolog, Lucas .... “                 Damian mendengus kesal. Tak paham dengan jalan pikiran Lucas. Alasan kenapa ia tak membuka praktek sendiri. Hanya ada di rumah sakit untuk menangani pasien VIP. Damian hanya fokus merawat Natasya, selain itu ia hanya merawat beberapa pasien VIP yang sesekali datang. Selain itu, Damian merawat keluarga Nortwest, yang lagi lagi hanya tersisa Lucas. Sekarang bertambah menjadi Rachel. Kalau tak ada, tugas Damian hanya merawat Natasya dan sesekali merawat Lucas saat sistem imun laki laki itu lemah dan butuh perawatannya.                   Rachel mencoba menjadi sahabat dan pendengar yang baik. Mendengarkan semua cerita Nadin dari awal hingga akhir. Benar benar, cinta Nadin pada Damian terlalu besar. Sulit jatuh cinta lagi, kalau kamu sudah menghabiskan rasa cintamu pada orang lain. Seperti yang Nadin lakukan.                   Tapi tiba tiba Nadin bangkit, sosok Damian berlari mendekati Nadin dengan terburu buru buru. Sosok itu di ikuti Lucas yang juga berlari di samping Damin dengan tatapan yang sama sama panik. Nadin yang tadinya tengah menangis itu, segera melemparkan senyuman manis secerah matahari pagi.                   “Kenapa kamu terburu buru seperti ini Damian ...? “                 Rachel mengagumi ketegaran hati Nadin, dengan secepat kilat. Raut kesedihan itu hilang, berganti keceriaan yang sangat segar ketika Damian datang di depannya. Tapi laki laki itu hanya memandang Nadin dengan ragu, sejenak menarik nafas dan meliahat lagi Nadin untuk kedua kalinya.                   “Nadin, aku harus segera ke rumah sakit sekarang ... “ Damian berbicara dengan cepat dan terburu buru.                 “Kenapa ..? “, Nadin hanya menjawab pernyataan Damian, reflek.                 “Natasya .... “ Nadin menarik nafas panjang, seolah mengatakan “Dia sering meniggalkanku seperti ini, Natasnya ... “                 “Natasya, dia sudah sadar .... “                   Dunia Nadin runtuh. Tanpa harus bangunpun ia sudah sering mengambil Damian darinya. Karena Natasyalah, Damian menelan hatinya bulat bulat tanpa menyisakannya pada Nadin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN