Skenario Tuhan memang hebat.

1968 Kata
The Evil Symphony                 Nadin terpaku, ini adalah hal yang selalu di bayangkannya. Mimpi buruknya, akhirnya terjadi. Damian yang selalu meninggalkannya untuk Natasya, meskipun gadis itu tengah tertidur. Sekarang, gadis itu sudah terbangun sepenuhnya. Maka, tak ada lagi alasan Damian untuk berada di sisinya. Nadin hanya terdiam, rasa sakit itu ada. Meski sudah mencoba untuk terbiasa, ditinggalkan Damian untuk Natasya. Namun, kepergian Damian saat ini berbeda. Mungkin, laki laki itu takan menatapnya lagi atau kembali pada Nadin.. Karena, Natasya sudah ada di depannya. Nyata, dan hidup.                 “Berhati hatilah Damian, jangan menyetir terburu buru ..” Nadin menguatkan diri, menatap Damian langsung ke mata laki laki itu. memberikan sebuah senyum yang justru mencekik Damian. Getaran di mata Nadin, benar benar menyakitkan.                   “Nadin, aku—“                   “Pergi .... “ Nadin berjalan menjauhi Damian. Terbiasa di tinggalkan, sekarang aku yang harus meninggalkanmu dulu. Mungkin, dengan ini, rasa sakitku tak terlalu dalam. Batin Nadin, sembari berlari semakin menjauh.                 Damian hanya menatap punggung Nadin, semakin menjauh, menjauh dan akhirnya menghilang. Akhirnya, Nadin yang lebih dulu pergi meninggalkannya.                 “Dia tak biasanya seperti ini ... “ kesah Damian tanpa ia sadari.                 “Kamu menolak sampanye dan bilang kalau kamu akan mengantarnya pulang, tapi sepertinya kamu tak perlu mengantarnya pulang, kamu seperti mencampakannya di tengah jalan tol ... “ Lucas beranjak, sekarang laki laki itu berdiri di samping Rachel.                 “Aku akan menenangkan Nadin, kamu bisa pergi ke rumah sakit sekarang ... “ Rachel memberikan suara, sarannya kini terdengar menenangkan. Raut wajah Damian yang tadinya khawatir, sekarang sedikit mereda.                 “Terimakasih Rachel, tolong jagalah Nadin baik baik. Dia terlihat kuat, tapi sebenarnya tidak ... “ Damian tersenyum lesu, Natasya sadar. Kebahagaiaan yang tersiram kepedihan. Itu yang tengah di rasakan Damian. Cintanya yang tak terdefinisikan lagi. Cintanya pada Natasya, definisi cintanya pada Nadin. Dua cintanya itu berbenturan dan saling menyakiti.                   “Pergilah, nanti aku akan menyusul ke rumah sakit ... “                   “Terimakasih ... “, Damian tersenyum, Lucas hanya membalas senyuman itu dengan bijak. Berat memang jika berada di posisi Damian saat ini.                   Sementara itu, Rachel sudah pergi mencari Nadin. Wanita itu baru saja menceritakan ketakutan terbesarnya. Natasya yang akan mengambil Damian, “Natasya bisa mengambil Damian kapanku dariku kalau ia mau-- tanpa harus bangunpun, Damian sudah sering meninggalkanku untuknya .... “ Ucapan Nadin itu kembali terngiang di otak Rachel, sahabatnya itu sedang jatuh sejatuh jatuhnya. Bahkan mungkin, ia mendarat di bebatuan. Rasa sakitnya sudah terprediksi tapi tak bisa terelakan. Rachel terus mencari ke penjuru gereja, sampai ia kelelahan mencari keberadaan Nadin.   Skenario Tuhan memang sangat luar biasa, tak bisa tertebak. Tak bisa di intip. Kalaupun bisa di intip, mungkin Nadin takan mau masuk ke kehidupan Damian. Ia yang mengintip kehidupan Damian terlebih dahulu, masuk tanpa permisi dan akhirnya terjerat di dunia laki laki itu.                 “Kamu sedang tidak baik baik saja .... “ Rachel mendekati Nadin, akhirnya ia menemukan wanita itu sedang berada di kursi jemaat. Di ujung kursi dan menutup wajahnya sendiri. Menangis.                   “Sebaiknya pengantin tak meninggalkan tamu, atau Lucas akan mengira aku ini menculikmu darinya ... “ seperti yang Damian katakan. Dia terlihat kuat, tapi sebenarnya tidak. Sekarang, titik lemah Nadin sedang di serang.                   “Dia sudah pergi, jadi kamu bisa berhenti berpura pura kuat. Berpura pura kalau kamu baik baik saja, seolah kehadiran Natasya itu tak mengganggumu .... “   Rachel mengusap kembali punggung Nadin, wanita itu tengah terisak sangat dalam, tangisan sesak dengan suara pelan. Tapi nyatanya, tangisnya bergema di dalam gereja yang kosong itu.                   “Kata pepatah, obat patah hati adalah mencari hati yang baru .... “ Rachel tau itu tak mudah. Melihat cinta Nadin untuk Damian. Sepertinya, sulit untuk cinta baru masuk ke hati Nadin.                 “Aku tak punya pilihan, ayahku bilang, aku harus menikah. Dan Damian bukan orang yang akan menikahiku, aku tak punya waktu untuk jatuh cinta lagi ... “                   Nadin memeluk Rachel, wanita itu terisak lagi. Sesak di hatinya, selama bertahun tahun ini. Sekarang pecah. Harusnya, aku tak mencintainya lebih dulu kalau tau dia tak menintaiku sama sekali. Bisik Nadin pada dirinya sendiri. Rachel, wanita itu seolah tau. Nadin sedang tak butuh kata kata bijak yang menguatkan. Wanita itu hanya butuh pelukan, pengertian, dan waktu. Biarkan waktu yang mengobati rasa sakitnya. Walaupun meniggalkan luka.                   “Jangan pernah memendam perasaanmu sendirian lagi, cari aku dan temui aku kapanpun kamu butuh tempat bercerita. Jangan terisak sendirian seperti ini lagi ... “ Nadin hanya mengangguk dalam pelukan Rachel, seolah tau. Ia akan mencari Rachel lagi untuk pelukan menenangkan seperti ini.                 “Cintamu pada Damian bukan sebuah kesalahan ... “                 Rachel melanjutkan perkataanya, cintanya pada cinta pertamanya juga ikut menyumbang rasa sakit. Tapi cinta itu tak bersalah.                   “Aku harus pulang sekarang Rachel, aku hanya berpamitan sampai siang. Kalau aku terlambat pulang, ayahku bisa mengamuk ... “                   Nadin melepaskan pelukannya, mengusap sedikit airmata yang tersisa.                   “Kamu yakin sudah baik baik saja ..? “ Nadin mengangguk mantap.                 “Aku harus baik baik saja, aku harus pulang Rachel. Aku senang bisa bertemu denganmu di sini, kalau aku tak bertemu denganmu di sini, aku sudah menangis lebih lama dari ini ... “ Nadin tersenyum kecil.  “ Aku pulang dulu Rachel, aku akan menelphon sopirku untuk menjemputku di sini ... “   Sekali lagi, Nadin memeluk Rachel. Kemudian wanita itu melangkah pergi, gaun itu sudah sedikit basah. Tapi Nadin tidak peduli, ia terus berjalan meniggalkan gereja. Melewati iringan tamu yang melihatnya dengan tatapan menyelidik. Berbisik bisik, mencoba menerka apa yang terjadi pada wanita itu.                 “Nadin sudah pulang ...? “ suara Lucas mengagetkan Rachel. Ia tak menyadari sejak kapan kehadiran Lucas di sekitarnya. Ia bahkan tak tau dari arah mana kedatangan Lucas itu.                 “Eh..? Nadin..? Dia dusah pulang, baru saja pergi ... “   Lucas mendekat ke arah Rachel, kini ia duduk di bangku jemaat. Bersejajaran dengan Rachel, jas Lucas sudah menghilang entah di mana. Hanya tersisa celana navy dan kemeja putih yang menempel di tubuh Lucas.                   “Aku sudah sering mengatakan ini pada Damian, tapi dia tak mendengarkanku ... “ Lucas memulai obrolan. Seolah tau apa yang sedang ada di dalam pikiran isrtinya itu.                   “Jadi, bagaimana ini bisa terjadi? Damian, Natasya, dan juga Nadin...? “   Lucas menatap Rachel, ia sendiri tau. Semua orang akan bersimpati ketika mendengarkan cerita cinta segitiga ini. Apalagi Rachel, yang ternyata besahabat dekat dengan Nadin. Lucas bahkan cukup kaget ketika melihat Nadin bekerja paruh waktu di kafe yang sama dengan Rachel.                   “Damian dan Natasya, mereka sahabat dari kecil. Aku juga mengenal mereka berdua, kami seumuran. Damian mungkin sudah jatuh cinta pada Natasya dari dulu. Tapi selalu mengalami penolakan. Tapi sampai akhirnya, Natasya mau menerima cinta Damian. Tapi ternyata, musibah itu datang secepat kilat. Tak terprediksi tapi sengatannya begitu terasa ... “   *** 000 ***                 Lucas mengambil nafas panjang, entah sudah berapa banyak kata yang ia ucapkan. Tapi tak semuanya ia ceritakan. Ada hal yang memang harus tetap di rahasiakan. Ia menceriatkan semuanya dengan hati hati. Walaupun Rachel adalah istrinya yang sah sekarang. Tapi yang tengah ia ceritakan sekarang bukanlah cerita cintanya, itu cerita cinta Damian. Biarlah laki laki itu yang mengungkapkan semuanya. Itu bukan hak Lucas.                   “Lalu ...? “ Rachel mengangkat alisnya, seolah tau kalau cerita ini belum lengkap sepenuhnya. Ia menuntut kelengkapan cerita Lucas itu.                   “Lalu, Nadin datang..... “ Lucas ingat betul, Damian sangat terpuruk kala itu. Tapi tiba tiba wanita dengan sejuta cahaya tanpa bayangan itu muncul di kehidupan Damian. Memberikan definisi cinta yang lain di hidup Damian, “Nadin itu putri orang kaya, ia salah satu pasien VIP Damian ... “   Rachel berguman, “Pantas saja, kadang aku merasa kalau Nadin itu bukan orang biasa. Tapi kenapa dia menyembunyikan identitasnya di depanku? Di kampus, tak ada orang yang tau rumah Nadin. Dia bilang, ia tinggal di luar kota. Dia juga mau bekerja paruh waktu di kafe .... “                 Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut Rachel, setelah tau identitas Nadin. Kejanggalan kejanggalan yang ia temui, sekarang semakin jelas jawabannya. Tapi mendengar pertanyaan Rachel, Lucas sedikit tertawa sinis. Bukan untuk Rachel tentunya, tapi untuk kebodohan Damian.                 “Kamu pasti akan sakit hati, setiap mendengar laki laki yang kamu cintai menceritakan perempuan lain ... “   Lucas terhenti, kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Nadin. Hal yang selalu Damian bicarakan adalah Natasya. Semuanya tentang Natasya. Tapi wanita itu, Nadin hanya tersenyum dan menjadi pendengar yang baik.                 “Hubungan Damian dan Natasya di tentang keluarga Damian, alasannya karena Natasya itu orang biasa, dari orang tidak mampu, sedangkan Nadin itu dari golongan elit yang sama dengan Damian ... “                   “Mungkin, Nadin melakukan semua itu sebagai pembuktian. Kalau dia bisa seperti Natasya, aku juga tidak tau .... “                 Lucas menarik tangan Rachel, meletakan tangan mungil itu di dadanya, “Rachel, sebenarnya kita pern.... “   Ucapan Lucas terpotong, ia berhenti melanjutkan perkataanya ketika melihat sosok Jarvis yang mendekati mereka berdua. Konsentrasinya telarihkan, ia kini tak berniat melanjutkan kata katanya. Akan ada lain waktu untuk mengatakan semuanya pada Rachel, ujar Lucas di dalam hatinya.                   “Ada apa...? Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan tadi ...? “ Rachel menatap Lucas dengan ganjil, Lucas seperti hendak mengatakan sesuatau yang penting, entah apa itu. Tapi ia tiba tiba berhenti.                   “Kita akan lanjutkan obrolannya nanti, aku baru ingat ada hal yang ingin ku katakan pada Jarvis. Aku akan menemuinya dulu, kamu temui Ibumu dan juga Dion. Mereka akan benar benar berangkat besok pagi, kita akan mengantar mereka ... “ Lucas meninggalkan Rachel begitu saja, meninggalkan Rachel dengan pertanyaan. Apa yang sebenarnya ingin di katakan Lucas barusan?                   Rachel menatap punggung Lucas, laki laki itu tidak berbohong. Ia benar benar menemui Jarvis, laki laki itu sudah menatap Lucas antusias. Sepertinya yang hendak di katakan Lucas barusan bukanlah hal yang terlalu penting, dalih Rachel.                   Rachel pun beranjak, ia keluar dari gereja dan berhambur dengan para tamu. Banyak orang yang tak di kenal Rachel, tentunya! Mereka kebanyakan adalah kenalan Rachel.                   “Rachel...!! “ Teressa menepuk punggung Rachel dengan keras, penuh antusias.                   “Teressa!! Kamu mengagetkanku ... “ sorak Rachel sembari membalikan badan, tanpa harus memastikan dua kali. Ia tau, Teressa yang menghampirinya seperti itu barusan.                 “Aku hanya terlalu senang melihat pernikahanmu, di mana Lucas ....? “ mata Teressa menyelidik, mencari cari keberadaan Lucas.                   “Dia ada di sana, sedang berbicara dengan temannya ... “ Rachel menunju ke arah laki laki berkemeja putih dengan setelan celana berwarna navy, ya. Lucas. Di sampingnya sudah berdiri laki laki dengan jas hitam satin, dan dasi kupu kupu. Jarvis. Mereka nampak sedang membicarakan hal yang penting, kening Lucas yang mengerut tajam itu adalah buktinya.                   “Ah! Dia memang seperti itu, menyebalkan! Di hari pernikahannya pun dia masih membagi pikirannya dengan banyak hal. Apa karena aku kurang mendandanimu dengan baik? Apa kita perlu memberikan sentuhan kedua kalinya pada make up mu Rachel ...? “                   Teressa nampak menilik, melihat setiap sisi wajah Rachel. Megnoreksi kekurangan dandanannya, “Tapi, kamu sempurna hari ini ...!! “ Teressa mememik frustasi, ia tak menemukan kekurangan pada paras Rachel hari ini.                   “Aku sudah sempurna, benar katamu Teressa. Tapi Lucas tak harus selamanya menatapku ... “, Rachel bergurau dengan nada sinis, “Apa setiap saat aku harus di awasi dengan tatapan tajam Lucas? Bukannya itu justru mengerikan ...? “                   Mendengar dalih Rachel, justru membuat Teressa terkikik geli, “Benar katamu, tatapannya lebih dingin dari es. Ya sudah, biarkan mata Lucas itu beristirahat ... “ Tanpa aba aba ataupun peringatan sebelumnya, tangan Teressa langsung menyambar tangan Rachel, menarik wanita itu berjalan pergi dan menuju ke arah meja prasmanan.   “Kamu mau apa ...? “ Rachel menatap Teressa dengan ragu.                 “Makan, apa lagi ... “ Teressa mengambil dua macaroon berwarna biru dengan isian putih. Biskuit khas Perancis itu nampak lezat saat di makan oleh Teressa. Walaupun sudah menua, pesona Teressa seperti masih terpancar. Wanita itu punya pesona wanita usia tiga puluhan. Mungkin karena kepribadianya yang menggurui, penampilan Teressa juga tak kolot seperti orang di usianya.                   “Kamu belum makan seharian ini Rachel? Kenapa tidak mencoba beberapa sponge cake ini? “ Teressa menwarakan kue berlapis cokelat yang nampak lezat. Tapi Rachel menolaknya.                   “Tidak, kamu saja yang memakannya ....”                 “Teressa ....!!! “ lengkingan panjang itu terdengar sangar keras di telinga orang orang, sampai Rachel sendiri menutupi telinganya karena kaget. Dan suara itu berasal dari Ibunya sendiri!                   “Lina!!!! Apa kabar !!! “ Teressa beralih dengan lengkingan selanjutnya ketika melihat sosok yang meneriakan namanya barusan. Satu lagi skenario Tuhan memang sangat luar biasa, tak bisa tertebak. Tak bisa di intip. Damian dan Nadin, dan sekarang Teressa dan Lina.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN