The Evil Symphony
Rachel berakhir dengan berdiri di dekat meja sendirian, tak tau kalau dunia memang terlalu sempit atau memang sangatlah sempit. Teressa dan Ibunya ternyata saling mengenal. Entah opera sabun seperti apa yang tengah di buat oleh Tuhan. Tapi sejak tadi, kedua wanita itu saling bercerita dengan nada tinggi. Melengking dan membuat banyak orang menoleh dengan tatapan terganggu. Meninggalkan Rachel sendirian tanpa di ajak berbicara sedikitpun.
“Nyonya Nortwest sendirian di sini ...? “
Suara maskulin nan ramah itu menggugah Rachel dari lamunannya, ia seketika menatap sosok Jarvis yang berbalut jas berkilau satin dengan dasi kupu kupunya itu.
“Jarvis ... “ eluh Rachel. Ia tak tau kalau barusan adalah Jarvis. Bayangan cinta pertamanya langsung menguap dan memenuhi otak Rachel.
“Bukannya Lucas tadi bersamamu ...? “ Rachel menaikan sedikit alisnya, sekarang hanya Jarvis sendirian. Padahal mereka berdua baru saja berbincang sangat serius.
“Lucas menerima panggilan telephone tadi, jadi aku berinisiatif untuk pergi dan mencari makan ... “ dengan santainya Jarvis mencomot macaroon dengan tangan kanannya. Rachel teringat sosok itu, Jarvis- lah yang memainkan Biola di pernikahannya barusan.
“Terimakasih untuk permainan Biolamu barusan ... “
Rachel mengucapkan rasa terimakasihnya dengan tulus, tersampaikan jelas dengna senyuman Jarvis yang mengembang. Membalas ketulusan Rachel dengan senyumannya.
“Tidak apa apa, aku hanya melakukan hal yang aku sukai ... “ Jarvis kembali mencomot dan memasukan macaroon ke dalam mulutnya, kini tangan kanannya di tepuk tepuk ke udara, menghilangkan sisa remahan macaroonya.
“Bukanya kamu kidal ...? “ Rachel baru menyadari sesuatu yang aneh dalam diri Jarvis, laki laki di depannya itu baru saja melakukan banyak hal dengan tangan kanannya dengan leluasa. Bukannya seharusnya orang kidal tidak se-leluasa itu menggunakan tangan kanan? Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di benak Rachel.
“Kamu bicara apa barusan ... ? “ Jarvis tak mendengar pertanyaan barusan, ia sibuk dengan sisa sisa remahan macaroonya.
“Bukannya kamu bermain Biola dengan tangan kiri .... ? “, Rachel meralat pertanyaanya.
“Aku? “ Jarvis nampak kebingungan, tapi kemudian laki laki itu tersenyum ramah, “ Aku memang bermain Biola dengan tangan kiri .... “
Raut wajah lega terukir di wajah Rachel, tapi kemudian pertanyaan lain muncul di otak perempuan itu, “Apa kamu ini benar benar kidal? Tapi kenapa kamu seperti orang pada umunya, kamu tidak kesulitan menggunakan tangan kananmu barusan .... ? “
“Aku tidak kidal ... “ Jarvis menjawab pertanyaan Rachel dengan tempo lambat, seolah pertanyaan sederhana itu, sangat berat untuk di jawab.
“Tapi kamu menggunakan tangan kiri, jadi kenapa kamu menggunakan Biola dengan tangan kiri? Bukannya itu lebih sulit ... “
Jarvis menatap Rachel takzim, wajar saja kalau Rachel mempertanyakan itu semua. Dia juga pemain Biola. Sama sama tau bagaimana kesulitan bermain Biola dengan tangan kiri. Tapi Jarvis, yang notabennya adalah right hand, justru memilih menggunakan tangan kiri dalam bermain Biola.
“Aku hanya tidak suka tangan kananku ... “ tatapan Jarvis sejenak beralih ke tangan kanannya. Tapi tatapan itu di tepis secepat mungkin. Ia kembali menjadi Jarvis yang normal dalam sesaat.
Ekspresi wajah Jarvis menimbulkan banyak pertanyaan untuk Rachel. Yang Rachel tau, cinta pertamanya memang orang kidal seutuhnya. Setiap hari mengikuti pria itu, Rachel tau kalau ‘ Dia ‘ kesulitan menggunakan tangan kanan. Semua ini hanya merujuk pada satu hal. Dia bukan orang yang aku cari. Batin Rachel beropini, tapi otak Rachel menyangkalnya.
“Jarvis, kamu punya darah asing di wajahmu .... “
Rachel bertanya dengan nada kagum. Membuat Jarvis merespon positif pembicaraan Rachel dengan anggukan.
“Apa kamu juga tinggal di luar negeri untuk waktu yang lama ....? “ Sebagian diri Rachel, berharap. Jarvislah orangnya, tapi sebagian diri Rachel meragukannya. Walaupun ada Lucas, yang kini ada di dalam hatinya. Tetap saja, rasa penasaran akan sosok citna pertamanya membuat Rachel ingin tau. Cobaan paling berat di dunia ini adalah godaan. Dan godaan untuk tau seperti apa rupa laki laki di masa lalu itu, benar benar membuat Rachel penasaran sampai sekarang.
“Aku ada di tanah kelahiranku sampai umurku yang ke dua puluh tahun, setelah itu aku ada di Indonesia ... “ Jarvis menjawab dengan lugaas dan polosnya, tapi jawaban tanpa dosa itu juga telah mencabik hati Rachel.
Ah, aku salah. Salah mengira. Bukan dia orangnya, bukan dia yang aku cari. Jadi selama ini, aku berpikir karena prasangka.Sepertinya, dia memang sudah di telan bumi. Sebagian diri Rachel yang awalnya berharap, kini menjadi bagian dirinya yang paling putus asa.
“Kamu kenapa Rachel ...? “
“Ah, tidak apa apa. Aku kira kita pernah bertemu sebelumnya .... “
Aku ingin bertemu dengannya, mengucapkan rasa terimakasih karena menanamkan cinta pada simfoni indah ini .......
“Aku pikir kamu sedang memikirkan sesuatu ... “ seringai Jarvis membuat Rachel terkesiap. Ia jadi mengingat perkataan Lucas, saat laki laki itu marah atas semua tuduhan yang Rachel tujukan padanya. “Dia mafia, dia bisa membunuh semua orang yang ia mau .... “
Mafia. Pembunuh, dengan mudah membunuh siapapun. Fakta yang mungkin sangat bertolak belakang dengan kepribadian yang di tunjukan oleh Jarvis.
Dia begitu ramah, selalu tersenyum, bagaimana mungkin dia bisa membunuh orang orang yang tak bersalah ...? Rachel masih meragukan fakta tentang Jarvis. Tapi itu di ucapkan oleh Lucas secara langsung. Lucas tak mungkin berbohong hanya untuk menjelek jelekan Jarvis.
“Kamu punya urusan bisnis apa dengan Lucas? Sepertinya dia langsung menghampirimu saat melihat kamu di gereja ... “, pertanyaan Rachel itu menghapus beberapa senyuman di bibir Jarvis. Tapi sedetik kemudian, senyuman baru muncul di bibir Jarvis.
“ Kerjasama yang sangat rumit, Lucas sendiri sampai di buat pusing karena harus bekerja sama dengan perusahaanku, perusahaan kami yang tadinya bersaing, kini beraliansi. Menurutmu, karena apa ...? “ senyuman ramah masih terlontar dari bibir Jarvis bersamaan dengan kata katanya yang menjelaskan sekaligus memberikan peringatan.
“Ah, pasti kerjasama dengan segala hal pelik tentang bisnis ... “ Rachel tersenyum. Ia tak tau maksud Jarvis dengan kata katanya. Tapi ini bukan pembahasan yang biasa ia bahas. Ia tak tau apapun tentang bisnis. Berbeda dengan Lucas yang mengurusi semua anak perusahaan Norwest Corporation.
“Aku sangat senang melihat pengantin baru seperti kalian, aku juga ingin berlama lama di pesta ini. Tapi sayangnya, aku harus pamit. Nyonya Nortwest, aku akan berikan hadiah pernikahan yang lebih baik dari permainan Biola tadi ... “
“Terimakasih untuk permainan indahmu barusan Jarvis ... “
Jarvis menanggaguk dan melambaikan tangannya, beranjak pergi meninggalkan gereja yang makin riuk dengan pembicaraan para tamu. Sosok laki laki dengan jas berkilau seperti satin, dengan dasi kupu kupu itu hilang.
“Kamu barusan berbicara dengan siapa ...? “
*** 0000 ****
Lucas mengangetkan Rachel untuk yang kedua kalinya hari ini, entah dari mana kemunculan laki laki itu.
“Jarvis, aku baru saja mengobrol dengannya. Permainannya benar benar bagus .... “
“Bukan karena dia cinta pertamamu kan ....? “ Lucas masih ingat pertekangkaran itu. Tapi kalau Rachel tak bertemu dan berbicara dengan Jarvis hari ini. Ia takan tau kebenaran dari dugaannya itu.
“Aku sudah punya suami ... “ celetukan Rachel itu sukses membuat mata Lucas membulat. Pernyataan Rachel tentang pemilikannya terhadap dirinya. “Aku sudah tak punya waktu memikirkan laki laki lain .... “ senyuman Rachel kembali membuat Lucas berdebar. Wanita dengan senyum indah itu sudah sepenuhnya menerimanya.
“Siapa suamimu itu ..? “ tanya Lucas seolah hendak memukul laki laki yang dimaksud Rachel.
“Kamu, yang berdiri di hadapanku .... “ Rachel mendekatkan tubuhnya, kepalanya sudah tersampir di pundak Lucas.
“Apa kita akan pulang ke apartemen hari ini ....? “, raut sedih menggelayuti wajah Rachel. Membayangkan kehadiran Angela di antara dia dan Lucas. Seperti Nadin, tapi dalam versi yang berbeda.
“Maaf .... “ kata maaf itu keluar dari mulut Lucas, kesalahan. Kebodohan. Semua yang ia lakukan dulu dulu membuat Lucas semakin membenci sosoknya di masa lalu.
“Kenapa kamu sering sekali mengucapkan kata maaf sekarang...? Kalau ku ingat ingat. Dulu dulu kamu tak pernah mengucapkan maaf, paling anti meminta maaf ... “
Lucas terkekeh dengan ucapan Rachel, mengingatkannya dengan sifat angkuhnya yang dulu. Minta maaf seperti menggores sebagian harga dirinya. Tapi sekarang ia malah meminta maaf berulang kali.
“Jangan minta maaf terus, berjanji saja untuk selalu ada di sampingku selama mungkin ... “
“Aku mau jadi bayangamu kalau itu bisa membuatku selalu ada di sampingmu .... “
“Jangan, bayangan itu tak untuk di sentuh, dia hanya mengikuti. Jadi Lucas ini saja, yang bisa kupeluk seperti sekarang .... “
Kamu benar Rachel, dulu kamu terlihat tapi tak terengkuh. Itu yang aku rasakan saat itu. Tapi Rachel yang sekarang justru terengkuh dan tersentuh.
Pernikahan itu berlangsung sesaat tapi kebahagiaan yang meluap luap itu berlangsung sampai senja bergelayut di atas sana. Semua tamu sudah beranjak pergi, memberikan petuah dan do’a untuk pasangan baru itu. Tak ayal, Teressa yang juga sudah sibuk bernostal gia dengan Lina, ibu Rachel. Mereka bahkan berpamitan sebelum tau kalau Lina akan pergi ke Yunani esok, Teressa yang juga akan pulang ke Paris esok hari. Pertemuan singkat.
“Kita mau kemana sekarang ......? “ Rachel tengah duduk di samping Lucas. Mereka sudah berganti pakaian dan Lucas entah sedang menyetir kemana.
“Kita harus menemui Damian, bukannya tadi aku berjanji untuk menemuinya di rumah sakit setelah acara kita selesai .....? “ mata Lucas masih tertuju pada jalanan. Laki laki itu sudah berpenampilan santai, tshirt dan celani jeans. Ini bukan Lucas, itu kalimat pertama yang terselip di otak Rachel saat melihat penampilan Lucas.
“Di rumah sakit yang sama ...? Tempat Damian bekerja itu .... “ Rache menebak jawabanya sendiri, di rumah sakit itu sudah banyak terjadi kejadian kejadian yang membuat Rachel bisa mati muda.
“Ia, Damian memang merawat Natasya di rumah sakit yang sama. Bekerja di sana, sebagai dokter VIP dengan jumlah pasien sedikit agar dia bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk merawat Natasya ... “
Perkataan Lucas itu mengalir lancar dari mulut laki laki itu, seolah itu memang sudah semestinya. Seperti sebuah keseharian.
Nadin pasti tau itu. Tebak Rachel, otaknya kini berisi kisah Nadin dan perjuangan cintanya. Rachel tak tau harus memihak siapa. Natasya, Nadin kah? Karena pilihan itu di tangan Damian. Dan sepertinya pilihan Damian tak di jatuhkan pada Nadin.
“Kenapa kamu melamun ...? “ Lucas melirik ke arah Rachel yang tak memberikan respon sedikitpun dari perkataanya barusan.
“Tidak, aku tidak melamun. Tapi aku sedang berpikir, kenapa Natasya bisa koma untuk waktu yang lama ...? “
“Dia kecelakaan mobil, dengan Damian .... “ Lucas menalan ludahnya, getir. Itu yang di rasakannya saat menuturkan kata katanya barusan.
Rachel mengangguk paham, “Pasti Damian juga merasa bersalah untuk itu .... “
“Dia kecelakaan saat mengandung. Kandungannya baru tiga bulan .... “
Mata Rachel membulat, kaget mendengar ucapan Lucas.
“Anak Damian .... “, pernyataan itu melengkapi ucapan Damian. Dan keseluruhan kalimat itu, sudah sukses membuat Rachel syok.
“Jadi, anaknya ...? Tidak selamat ...? “
Lucas tak menjawab, sebagai jawaban ia hanya menggelengkan kepalanya. Ini yang membuat Damian semakin terbebani. Musibahnya berkali kali lipat, kecelakaan yang di alami mereka, anak yang di kandung Natasya, juga Natasya yang harus koma selama bertahun tahun.
“Kalau kamu menyapa Natasya nantinya, jangan bahas apapun tentang kecelakaan itu dengan Damian..... “
Rachel mengangguk, mengiyakan perkataan Lucas. Ia sendiri takan sanggup kalau memiliki beban sebesar Damian. Laki laki itu tertawa untuk alasan yang sederhana. Ia ingin melupakan sejenak beban dan masalahnya. Laki laki itu sedang terpuruk sebelum akhirnya Nadin datang dengan sinarnya dan membawa senyuman baru untuk Damian.
Setibanya di rumah sakit, Lucas langsung menggandeng tangan Rachel menuju ke arah ruangan kerja Damian. Ruangan di mana ia di beri pelajaran yang menyadarkannya. Kalau ia telah jatuh hati pada Rachel, “ Perlakukan wanita dengan lemah lembut, kalau kamu tidak ingin di anggap sama seperti penjahat oleh wanita yang kamu cintai ... “ sepanjang perjalanan pulang setelah menemui Damian. Lucas terus berbicara pada diri sendiri. Jauh di dasar hatinya, menanyakan tentang Rachel di dalam sana. Sampai ia akhirnya tau, ia sudah jatuh cinta saat hatinya tergugah untuk bermain Biola dengan Rachel. Lantunan Nel cor piu nan nomi sento Rachel yang menyihirnya dengan simfoni itu. Simfoni Rachel yang kini, benar benar telah melengkapinya. Dengan cara yang sesungguhnya.
“Kenapa kita ke sini ....? “ ujar Rachel saat ia baru menyadari kalau mereka berdua berdiri di depan pintu ruang kerja Damian. “ Ini ruangan Damian, bukannya kita hendak membesuk Natasya ...? “
Sosok wanita bernama Natasya itu menjadi misteri yang ingin cepat cepat Rachel pecahkan. Sosok seperti apa wanita itu, tapi mendapati Lucas yang berhenti di depan ruang kerja Damian. Rachel justru di buat bingung.
“Ah iya, aku lupa ...! “ Lucas menepuk jidatnya, ia memikirkan wejangan Damian dan sampai melupakan tujuan awal.
“Ayo kita temui mereka ... “
Lucas menarik tangan Rachel, dan kemudian berhenti di pintu yang hanya terletak lima langkah dari ruangan Damian.
“Di sini ....? “