Menggantikan posisi Nadin.

2234 Kata
The Evil Symphony                   “Di sini ...? “ Rachel mengulangi pertanyaanya. Ia tak yakin kalau ruangan perwatan Natasya benar benar sangat dekat dengan ruangan Damian. Hanya berjarak lima langkah. Yang artinya, benar benar bersebrangan.                   “Iya, ayo kita masuk ... “                 Lucas langsung membuka pintu dengan pelan, tanpa menimbulka suara berdecit. Sepasang mata itu langsung menangkap sosok Damian dengan pakaian yang masih sama dengan yang di pakai laki laki itu tadi pagi. mata Damian langsung terlihkan dari Natasya dan menyambut dua orang yang sudah menjadi sepasang itu.                   “Kalian benar benar kesini ....? “ alis Damian terangkat. Ada rasa senang karena kehadiran Lucas dan Rachel. Tangannya yang entah tadi sedang sibuk apa, memeriksa Natasya mungkin.                   “Iya, kamu baik baik saja kan ...? Bagaimana dengan keadaan Natasya ....? “                   Lucas berjalan lagi, mencoba untuk lebih dekat dengan ranjang Natasya, langkah lebarnya di iringi dengan langkah kecil Rachel yang di percepat. Mengimbangi langkah Lucas.                   “Dia benar benar sudah sadar-- dia sadar ..... “                 Binar mata Damian terus terarah ke arah Natasya yang entah tertidur atau pengaruh obat tidur. Tapi rasa penasaran Rachel terjawab sepenuhnya, ia sudah meliaht sosok Natasya. Wanita dengan rambut ikal yang tipis tapi cantik. Bibir tipis yang tersulam seolah tersenyum dalam tidur layaknya dongen puteri salju. Kelopak mata Natasya yang tertutup tapi membuktikan kalau bulu matanya benar benar lentik. Cantik, anggung, sederhana, itu kesan yang di tangkap Rachel dari sosok Natasya yang tertidur itu.                   “Dia baru bangun dari koma setelah hampir lima tahun tertidur. Tadi dia kesulitan untuk  berbicara, matanya nampak linglung dan kemudian dia menangis tanpa suara .... “                   Damian bercerita, sekujur tubuh akan menjadi kaku saat ada orang yang terbangun dari koma. Karena saraf motorik mereka bisa di katakan ikut lumpuh karena tak di gerakan. Dan Natasya merasakannya, kesulitan menggerakan tangan, otot kaki, bahkan berbicara.                   “Jadi kamu menemaniya dari tadi pagi ....? “                 Damian mengangguk, mengiyakan pertanyaan Rachel. Tapi sorot mata Damian kini teralih dari Natasya, “Bagaimana Nadin pulang ...? “                   Damian ingat betul, ia yang mengajak Nadin untuk menghadiri pernikahan Lucas dan Rachel. Kejutan besar saat ia tau, Nadin bersahabat dengan Rachel. Dan wanita itu, ia tinggalkan dengan luka yang baru. Di tinggalkan di acara yang menyakitkan. Pernikahan. Hal yang tak bisa Damian berikan untuk Nadin.                   “Aku mau jadi istri kedua, asalkan kamu yang menikahiku ....!! “ itu rengekan Nadin saat perempuan itu tiba tiba membahas masalah pernikahaan. Sedetik setelah ia mengajak Nadin untuk menghadiri pernikahan Lucas.                   “ Dia pulang, dia baik baik saja. Tadi Nadin bilang, dia memanggil sopir dan tak lama ada mobil yang menjemputnya ke gereja ... “ Rachel menjelaskan situasi Nadin, mengurangi kekhawatiran Damian tentang keadaan sahabatnya itu. Ada deru nafas lega di sana, Damian baru saja menghela nafas.                   “Dia pasti sedang menangis sekarang .... “                 Rachel hanya diam mendengar tebakan Damian. Bukan lagi menangis, Nadin justru harus menikah dengan orang yang di paksakan menjadi suaminya. Rachel hanya menjawab itu di dalam hatinya, matanya kembali tertuju pada Natasya. Tuhan mempertemukan dua perempuan itu dengan Damian. Tapi siapa yang pantas untuk bahagian dengan Damian, mereka berdua permpuan baik baik.                   “Jadi, apa rencanamu selanjutnya ....? “ Lucas memotong pembicaraan Rachel dengan Damian.                   “Aku belum tau, mungkin dia harus di terapi sampai saraf motoriknya kembali normal. Semoga tidak ada cedera lain setelah aku mendapatkan hasil check up hari ini .... “                   Damian beranjak, berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah pintu. “Sebaiknya kita mengobrol di ruanganku. Di sini tak nyaman untuk mengobrol, jadi bagaimana pesta pernikahan singkat kalian hari ini ...? “                   Senyumannya yang biasa Damian layangkan itu muncul juga, laki laki itu memang tegar.                   “Ayo kita ke ruanganku sekarang ... “ Damian membuka pintu dan mengajak Lucas untuk keluar dari ruangan Natasya itu.                 “Aku bisa di sini sebentar kalau ada hal penting yang ingin kalian berdua bahas  .... “ Rachel melirik Natasya, memberikan penawaran untuk menjaga Natasya.                   “Kamu mau menjaga Natasya sebentar ... ..? “ tatapan Lucas sedikit tak enak, entah mengapa ia tau. Rachel menyadari pembicaraan apa yang hendak ia bahas dengan Damian.                   Tapi dia istriku, dia boleh tau apapun. Keterbukaan akan menumbuhkan kepercayaan. Sebagian diri Lucas berdebat. Tapi Rachel, sekali lagi seperti membacanya dengan gamblang.                   “Aku tak apa, aku hanya di sini sebentar, aku mau ke kantin dan membawakan kalian makanan .... “ Rachel tersenyum lembut.                   “Ya sudah kalau begitu, aku ada di ruangan sebelah bersama Damian ... “ Lucas hanya setuju dan beranjak pergi dengan Damian. Rachel mengangguk dan melihat kepergian Lucas dengan Damian. Ia kemudian beranjak dan menatap lagi paras Natasya.                   “Pantas saja Damian kesulitan memilih. Kalian berdua memang cocok untuk disandingkan dan bersaing ..... “ Rachel masih mengagumi kecantikan Natasya. Sebagai sesama perempuan. Ia juga terkagum dengan kecantikan Natasya.                   “Damian .... “ suara seseorang yang Rachel kenal. Ia langsung berbalik melihat tamu yang baru saja memangil Damian.                   “Rachel ....? Dimana Damian ...? “ Nadin masih berdiri di ambang pintu, sebagian tubuhnya masih di belakang pintu. Perempuan itu tak mengintip dahulu, langsung melongok dan memanggil nama Damian. Tapi yang dia temui justru Rachel.                   “Dia ada di ruangannya bersama Lucas, kamu ke sini ...? “ ada nada heran di kata kata Rachel, saat melihat sosok Nadin yang berada di ruangan Natasya.                   “Aku membawakan Damian makanan, dia belum sarapan tadi pagi, pasti dia juga belum makan siang .... “                   Nadin akhirnya melangkah masuk, memusatkan pandangannya ke sosok perempuan yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit. Rambut yang tergerai, dan kulit tangan yang basah seperti baru saja di basuh dengan handuk basah.                 “Pasti Damian baru saja menyeka Natasya .... “ tutur Nadin seolah dia sudah tau semua kebiasaan Damian pada Natasya. Dan tepat. Itu yang sering Damian lakukan di waktu waktu sekarang ini.                   “Iya, dia juga ada di sini sepanjang hari ...” Rachel melihat Nadin mengambil kursi lain dan duduk di sebelah Rachel, memandangi Natasya.                   “Kamu ke sini untuk menjenguknya juga ...? “ pertanyaan Nadin itu terlontar begitu saja.                   “Keduanya, Damian maupun Natasya .... “ jawab Rachel jujur. Ia tak mungkin berdalih da berbohong kalau datang ke sini hanya untuk menemui Damian.                 “Aku juga ke sini untuk menemuinya, melihat keadaan Natasya. Apa dia baik baik saja? Apa ada hal buruk yang terjadi padanya, dia sudah koma hampir lima tahun ... “ Nadin mengusap poni yang menutupi mata Natasya yang terpejam.                   Kalau kamu jadi dia? Bagaimana kamu bisa dengan tegar, memberikan perlakuan sangat baik pada orang yang bisa mengambil hati yang selama ini kamu cari cari. Apa bisa kamu, sekuat Nadin? **** 000 ****                 “Aku menyerah Rachel, aku akan akhiri cinta sepihak ini sekarang. Hari ini juga ... “                   Nadin menatap Rachel dengan seulas senyum yang di paksakan. Sakit memang, kalau terpaksa mengakhiri perasaan cinta yang sudah terlanjur dalam.                   “Jadi kamu ke sini juga, untuk mengatakan itu pada Damian ...? “                   Nadin justru tersenyum, “Aku tak mau mengatakan ini pada Damian, aku akan menghilang. Aku ke sini hanya untuk memberikan makanan ini, dan melihat kondisi Natasya ... “ sorot mata Nadin tak terbaca.                   “Kamu yakin Nadin, kamu bisa menghadapinya ...? “                 Nadin mengacuhkan pertanyaan Rachel, batinnya pun menolak untuk menjawab pertanyaan itu.                   “Yakin, kalau begitu ayo kita ke ruangan Damian. Makanan ini akan lebih nikmat kalau di makan bersama sama .. “                 Nadin memperlihatkan sekantong papper bag yang isinya penuh dengan kotak makanan. Entah makanan apa saja yang sudah di buat oleh Nadin untuk Damian.                   “Kebetulan, aku tadi juga berniat untuk mencari makan malam untuk Damian  ... “                   “Yasudah, ayo kita ke sana dan makan bersama sama ... “       Nadin langsung menarik tangan Rachel, membawa permpuan itu keluar dari ruangan. Tapi, di sisi lain.                   “Aku melihat Nadin pulang, matanya merah, sembab dan dressnya kacau. Basah dengan air mata ... “ Lucas meluruskan kakinya. Ia mencoba berbicara dengan cara yang santai dan rileks.                   “Aku b******n, dia harusnya tau itu dari awal ... “ Damian menenggak sekaleng beer dalam hitungan detik. Tapi tak berpengaruh apapun pada indera perasanya. Getir, semua yang dia rasakan itu hanyalah kegetiran.                   “Pilih salah satu, atau salah satu dari mereka akan semakin tersakiti. Tapi aku yakin, pihak yang paling tersakiti adalah Nadin ...”                   Lucas kenal dengan Nadin, gadis kecil yang ia kenal sejak dulu. Keluarga mereka sering bertemu dan bekerja sama. Dulu, Lucas malah hendak di jodohkan dengan Nadin. Tapi keduanya menolak. Nadin punya Damian, dan Lucas punya Rachel yang akhirnya bisa ia temukan sekarang.                   “Harusnya dulu, dulu sekali. Aku tak jadi orang yang merawatnya ... “ Damian terhenti dari ceritanya. Membayangkan kembali patahan masa lalunya. Merawat perempuan bernama Nadin yang sedang membutuhkan bantuan seorang dokter. Bekerja sebagai seorang profesional. Tapi siapa yang tau, Nadin malah jatuh hati dengan ketampanan Damian.                   “Dokter Damian, kalau kamu tidak jadi dokter. Pasti jadi artis .... “ itu candaan Nadin setiap Damian selesai memeriksa kondisinya.                   “Biarlah orang lain saja yang merawatnya, biar tak serunyam ini ... “                   Kemudian pintu terbuka dengan kedatangan dua orang yang tak asing lagi, Nadin yang masih menggandeng tangan Rachel, tapi pegangan itu semakin erat ketika tatapan Nadin berbenturan dengan manik mata Damian.                 “Sekarang, luka di hatinya. Siapa yang akan merawatnya .... “ bisik Damian, lirih. Begitu lirih sampai Lucas harus menajamkan pendengarannya.                   “Damian ....! “ seru Nadin dengan menarik Rachel untuk masuk lebih cepat, “ Aku bawakan makan malam. Untukkmu, tapi kita semua bisa makan bersam sama ... “                 Nadin tersenyum simpul sembari membuka papper bagnya di atas meja. Mengeluarkan kotak makan dan membuka semua isinya. Tak ada makanan berat. Hanya sandwich dengan potongan daging ayam yang sudah di fille. Beberapa potong sosis dengan ukuran yang besar besar, kornet goreng dengan campuran jagung manis. Dan di wadah terakhir, ada pasta. Aglio olio. Sengaja di buat terpisah, itu makanan kesukaan Damian. Nadin memisahnya agar Damian bisa memakannya terakhir.                 “Seperti biasa, aku bawa banyak sendok ... “ Nadin mengulurkan sendok dan garpu ke pada Damian, Lucas dan Rachel. Ketiganya menerima tanpa ambil pusing, atau mengatakan sesuatu.                   “Aku hanya bawa protein protein instan ini, aku buru buru. Aku ingat kamu belum makan tadi pagi, jadi aku khawatir kamu juga lupa makan malam ... “                    Nadin memberikan senyum penuh pengertian ke arah Damian, senyum tulus tanpa memerlukan jawaban ataupun penjelasan. Senyum dari orang yang memutuskan untuk menghilang. “Makanlah .... “                   Nadin menyodorkan kotak berisi pasta, Damian mengambil kotak makan itu dengan ragu ragu. Senyuman secerah mentari yang terus di pancarkan Nadin itu, yang justru membuat Damian semakin sakit.                   “Aku bawa banyak, untunglah ada kalian berdua ... “ Nadin tersenyum sumringah ke arah Rachel dan Lucas.                   “Ah iya, kamu mau makan apa sayang ...? “                 Rachel terlonjak dengan panggilan sayang yang keluar dari mulut Lucas untuk pertama kalinya, ia berusaha menghilangkan rasa tak nyaman di antara mereka berempat.                   “Aku mau makan sandwich ini saja, kamu mau  ...? “ Rachel menawarkan sandwich yang ada di tangannya.                   “Tidak, kamu saja yang memakannya. Nadin, bagaimana kabar ayahmu ...? “                   Nadin yang berusaha mengunyah sosis di mulutnya langsung tersedak tanpa suara.                   “Hati hati, minumlah ini dulu ... “ Damian mengulurkan segelas air yang selalu tersedia di atas mejanya. Perhatian kecil ini yang membuat hati Nadin sakit di buatnya.                   “Terimakasih ... “ ucap Nadin sembarin menelan sosis yang belum di kunyah sempurna. Ia teringat perjodohan ulang, yang ayahnya rencanakan. Dulu, aku di jodohkan dengan Lucas. Sekarang pria macam apa lagi yang di cari ayahku. Nadin membatin sambil menatap Damian.                   Andai itu kamu Damian, tapi sudahlah. Kamu takan memilihku, “Ayahku baik baik saja, dia sehat dan sedang dalam perjalanan bisnis ke Meksiko. Senin besok dia sudah ada di rumah, kamu mau menemuinya ...? “                    “Tidak, aku sudah menikah. Aku di undang ke rumahmu karena aku kandidat menantu, tapi aku tak mau bertamu ke rumahmu tanpa Rachel .... “                   Lucas mengunyah sosis yang ada di garpunya, seketika ia mengutuk mulutnya, “Iya, kalian juga baru menikah tadi pagi. Carilah udara segar dengan berlibur selagi masih menjadi pengantin baru ... “                 “Kamu yang memasaknya ...? “ Damian mencoba mengalihkan pembicaraan ini. Ia menunjukan pasta yang ada di tangannya. Sesuap aglio olio baru saja masuk ke dalam mulutnya. Entah kenapa, indera perasanya yang terasa getir sesaat menjadi hidup lagi, ia bisa merasakan masakan ini di lidahnya. Masakan Nadin. Enak, komentar Damian dalam diam.                   “Iya, aku memasaknya tadi sore. Dan langsung ke sini, tapi sudah tak terlalu panas. Aku terkena macet di jalan .... “                   Obrolan mengalir lancar dan ringan. Kegembiraan yang di tunjukan Nadin memberikan aura positifi diantara keempatnya. Sampai malam semakin larut dan akhirnya satu persatu berpamitan untuk pergi.                   Rachel dan Lucas sudah lebih dulu pergi, mereka akan pulang ke pinggiran kota. Ke rumah besar Lucas. Jadi sekarang sudah terlalu malam untuk tetap tinggal menemani Damian.                     “Aku juga pamit .. “ sergah Nadin dengan tangannya yang sudah tercantel papper bag berisi kotak makanan kosong.                   “Perlu ku antar kamu pulang ...? “ Damian hendak meraih tangan Nadin. Tapi tak seperti biasa, Nadin menghindari sentuhannya. Tangan Nadin langsung di buang jauh jauh dari uluran tangan Damian.                   “Aku ke sini hanya untuk mengantar makanan, bukan untuk merepotkanmu ...” respon Nadin yang terdengar seperti orang asing itu memcahkan telinga Damian. Mendapatkan prelakuan yang begitu asing dari Nadin, entah mengapa benar benar menyakitkan.                 “Aku ke sini dengan sopir, aku akan pulang dengan sopir “ suara renyah Nadin yang terdengar datar itu, lagi lagi menyakiti hati Damian. Setelah penolakan uluran tanganya. Perempuan itu juga berbicara dengan cara yang berbeda sekarang.                   “Oh, kalau begitu berhati hati lah ... “.Damian menjawab lesu.                   “Aku pulang, semoga kondisi Natasya lebih membaik besok. Aku senang akhirnya dia tersadar ... “                   Siraman air garam, itulah perumpamaan dari ucapan Nadin barusan. Seperti siraman air garam pada hati Damian. Kalau kamu jadi dia? Bagaimana kamu bisa dengan tegar, memberikan perlakuan sangat baik pada orang yang bisa mengambil hati yang selama ini kamu cari cari. Apa bisa kamu, sekuat Nadin?                   Kalau kamu jadi dia, apa kamu masih bisa tersenyum dan bersabar seperti Nadin pada Damian?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN