The Evil Symphony
Nadin benar benar pulang dengan di antar sopir, mata Damian masih teralih pada gadis itu. memasuki mobil dengan sangat berhati hati. “Kamu menjauhiku bukan, tapi kamu juga tak bisa menjauhiku ... “
Kalimat Damian itu begitu lirih sampai tak terdenger jelas, terhempas angin malam. Damian berada di lantai tiga. Nadin menolaknya untuk diantar sampai ke parkiran rumah sakit. Penolakan yang lagi lagi begitu menyakitkan setelah bertahun tahun merasakan keberadaan Nadin di setiap saatnya.
“Kamu menjauhiku dengan menjadi orang asing untukku ...” ucap Damian. Sorot matanya tak lagi terpaku pada Nadin. Mobil yang di tumpakinya sudah berjalan menjauh ke sana. Tujuannya pulang. Damian berbalik, dua pasangan itu kini menuju ke arah yang berbeda. Berlawanan.
Di sisi lain. Rachel masih berada di dalam mobil bersama Lucas. Sebentar lagi mereka akan sampai. Mereka sengaja berpamitan lebih awal, agar Nadin dan Damian bisa berbiacara. Tapi kalau mereka tau Nadin juga segera beranjak pamit setelah mereka pergi. Mereka akan tau kalau usaha itu sia sia.
“Ada yang aneh pada Nadin ... “ celetuk Lucas pada Rachel. Membuat perempuan itu menatap Lucas lekat lekat.
“Maksud kamu ...? “ tanya Rachel dengan alis kanan yang terangkat.
“Dia seperti bersikap dingin pada Damian. Seperti barusan ... “ ungkap Lucas dengan gamblangnya. Rachel justru menganggap, sikap Nadin adalah sikap paling ramah dan ceria yang bisa di tunjukan, “ Dia sudah menyerah pada Damian, dia bilang dia akan segera mengakhiri cinta sepihaknya itu ... “
Penjelasan Rachel itu membuat Lucas tak habis pikir, “ Dia menganggap itu cinta sepihak ...? Aku sahabat Damian, dan aku yakin kalau Damian juga mencintai Nadin .... “
Lucas benar benar mengerti sahabatnya itu. Cinta itu bisa merubah seseorang. Dan karena kehadiran Nadin, Damian berubah. Itulah kekuatan cinta Nadin yang berdampak besar pada Damian. “Ini bukan cinta sepihak Rachel, Damian benar benar mencintai Nadin .... “
Rachel menghela nafas berat, sebesar apapun cinta mereka. Tetap ada Natasya di sana. “ Walaupun Damian mencintai Nadin, kalaupun itu bukan cinta sepihak. Damian tetap memilih Natasya, cinta sepihak bukan karena Damian tak mencintai Nadin, tapi hanya pihak Nadin yang mempertahankan Damian ..... “
Lucas terdiam. Perkataan Rachel benar apa adanya. Damian bahkan tak bisa memilih wanita mana yang ia pilih. Akan lebih baik kalau, bukan Damian yang memilih. Tapi akan lebih baik kalau, salah satu pihak yang menungundurkan diri. Dan itu, Nadin.
“Kamu benar, cinta itu perasaan yang saling terbalas. Tapi juga kesempatan untuk memiliki ... “
Mobil semakin melaju cepat sampai jarak gerbang hanya tinggal dua puluh meter di depan sana. Melihat kedatangan mobil Lucas, para penjaga sudah bersiap membuka gerbang dengan sigap.
“Kamu benar, kesempatan untuk memiliki .... “ ucap Rachel menyetujui pendapat Lucas.
Mobil berhenti tepat di depan pintu, Lucas tak perlu ambil pusing. Ia langsung keluar dari mobil di ikuti dengan Rachel. Di belakangnya, seorang pelayan sudah mengambil alih mobil Lucas dan membawanya ke garasi yang ada di sisi lain rumah besar layaknya kastil itu.
“Kamu lelah ....? “, Lucas melihat raut wajah Rachel yang sedikit memucat. Ia menjadi panik seketika, mengingat ada bekas operasi di perut Rachel dan wanita itu pasti kelalahan seharian ini.
“Aku baik baik saja, istirahat sebentar akan membuatku lebih baik ... “
Rachel mencoba meyakinkan Lucas yang nampak dua kali lebih khawtir mengenai kesehatannya dari pada si pemilik tubuh sendiri.
“Tuan, ada hal penting yang harus di bahas sekarang .... “ suara Shawn munul dari kegelapan lorong. Muncul dengan tiba tiba tanpa prediksi di tengah tengah percakapan Lucas dan Rachel.
“Apa bukan kamu yang harusnya kelelahan ....? “ Rachel nampak khawatir, Lucas pasti sama kelelahanya. Tapi masalah yang Shawn sebut pasti bukan masalah sepele yang hanya bisa di pikirkan dengan santai. Butuh keseriusan.
“Aku tidak apa apa, istirahatlah. Aku akan menunggumu di kamar pengantin kita ... “ senyum s*****l itu muncul di bibir Lucas. Membuat rona wajah Rachel menjadi merah dan tak bisa di tutup tutupi lagi.
“Jangan menggodaku!!! “ sisa sisa keberanian yang biasa Rachel berikan untuk membangkan pada Lucas keluar. Membuat Lucas terkekeh geli dengan perempuan kecil di depannya. Gadis cantikynya.
“Lalu kamu sebut apa kamar untuk pengantin baru ...? Isritahatlah di sana ... “. Kecupan lembut itu meluncur ke ujung kepala Rachel.
“Aku pergi dulu.... “ Ujar Lucas sambil mengajak Shawn menepi ke ruangan lain untuk bekerja. Rachel masih menikmati pemandangan ini. Melihat punggun Lucas yang megnhilang di lorong yang gelap itu.
“Terlalu cepat aku jatuh cinta padamu, karena cintamu juga terlalu sulit untuk di elakan ... “ Ucap Rachel sembari berjalan menaiki tangga. Kamar Lucas ada di lantai dua. Teressa yang mengakatakanya. Membocorkan dekorasi kamar pengantinya saat mereka berbicara bertiga. Rachel, Teressa dan Ibunya.
Tanpa harus di beri tahu, Rachel tau letak mana kamar Lucas itu. Ada di bagian paling ujung di lantai sisi kiri. Pintu besar dengan gagang pintu berkilap dari marmer. Rachel membuka pintu itu pelan sampai kedua pintu itu terbuka lebar.
“Ada banyak hal yang belum aku pahami tentangmu ... “ senyum Rachel mengembang. Melihat kejutan manis Lucas yang sudah bocor terlebih dulu karena ulah mulut Teressa. Tapi, bagaimanapun. Ini tetap kejutan manis.
*** 000 ***
Lucas berjalan santai memasuki ruangan paling ujung di rumah besarnya itu. Ia tak bisa mengabaikan masalah yang Shawn katakan. Di luar dari masalah perusahaan dengan skandal hotel di Bali. Ia baru saja mendapatkan kabar baik dari Damian secara tiba tiba.
“Ada apa ...? “ sambungan telephon itu akhirnya menghubungkan Damian dengan Lucas.
“Dekati Angela dan aku bisa membuktikan satu hal untukmu ... “ suara serak Damian membuat kening Lucas berkerut. Dia sedang stress. Itulah yang Lucas tangkap dari nada bicara Damian.
“ Apa kamu gila...? Aku harus berbuat baik pada Angela untuk apa ....? “
( .... )
Lucas memasuki kamar tidurnya yang sudah tersulap menjadi kamar pengantin dalam waktu satu malam. Pintu sudah tertutup rapat, tak ada ekspetasi lebih untuk itu. Dia kelelahan, ujar Lucas pada dirinya sendiri.
Tapi itu tak benar. Lucas masuk dan menemukan Rachel yang sedang terduduk di depan meja rias. Sebuah meja berwarna putih. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya yang terkena pantulan sinar rembulan. Pinggiran kota jadi tempat bagus untuk ketenangan. Langit cerah pada malam hari adalah alasannya.
“Kamu belum tidur ... ? “
Langkah Lucas semakin mendekati Rachel yang terduduk, perempuan itu berbalik dan akhirnya berhadapan langsung dengan Lucas. Mata mereka langsung terpaku satu sama lain.
“Belum ... “ saut Rachel dengan senyum merekah di bibirnya. Dia baru saja berisap siap untuk tidur. Dan kedatangan Lucas yang tak terprediksi.
Tapi kalimatnya tak lengkap. Lucas sudah mencium Rachel dan merapatkan tubuhnya dengan Rachel. Ciuman yang tiba tiba. Tapi Rachel, entah apa yang merasuki pikirannya. Ia hanya terdiam tanpa paksaan. Teringat ciuman pertamanya dengan Lucas yang pernuh paksaan. Sekarang, Rachel menyerahkan dirinya sendiri pada suaminya itu.
“Kamu mau tidur ...? “ tanya Lucas pada Rachel dengan nafas yang masih belu terkendali. Ia kembali mengarahkan tangannya, menarik Rachel kembali pada ciumannya yang benar benar lembut tanpa paksaan. Dan Rachel menerimananya. Seutuhnya.
“Apa aku akan menyakitimu kalau aku melakukannya sekarang ...? “ mata Lucas sudah berkabut dengan pusaran gairahnya sendiri. Tangannya sudah beralih membelai rambut Rachel yang lembut di ujung jari jemarinya. Tatapannya tak sedingin dan setajam biasanya. Tatapan khawatir. Itu lebih tepat untuk menggambarkan situasi saat ini. Lucas sangat menginginkan Rachel, teramat malahan. Tapi sisi lain dirinya yang masih waras dan belum di kuasasi oleh nafsu. Mengingatkannya. Kalau Rachel belum pulih sepenuhnya.
“Aku tidak apa apa .... “
Hanya kata kata sederhana itu dan Lucas lepas dari kendalinya sendiri. Langsung menarik Rachel ke arah ranjangnya yang berlapis kain satin hitam mengkilap dengan sorotan bulan di luar jendela. Membuat malam ini menjadi hal yang berbeda untuk mereka.