The Evil Symphony
Mereka menghabiskan tiga hari di rumah Lucas, mengisi hari dengan rutinitas bermalasan dan bermesraan. Sampai, akhirnya di hari ke empat. Hari ini, mereka harus pulang.
“Nanti Nadin akan ke sana ... “ ucap Lucas sambil tetap memegang setir. Paket yang Damian maksud sudah di tangannya. Maka, misinya harus sudah di laksanakan hari ini.
“Nadin ..? Ke apartemen ...? “ tanya Rachel tak mengerti.
“Iya, dia mau mampir bertemu dengannmu ...”
“Baiklah kalau begitu ... “ Rachel tersenyum senang. Di apartemen hanya ada Angela. Dan Rachel tak suka itu. Beberapa hari tak ke apartemen. Angela terus berusaha menghubungi Lucas, laki laki itu tetap tak menggubris Angela. Mereka hanya berdua selama tiga hari ini. Bulan madu di rumah sendiri.
Mereka akhirnya sampai, tak lama setelah Nadin datang. Perempuan itu menunggu kedatangan Lucas dan Rachel tepat di depan pintu apartemen.
“Kenapa kamu tidak menelfon ... ? “ tanya Lucas sembari membuka pintu apartemen, keycardnya membuat bunyi tap. Kunci terbuka.
“Karena, aku pikir di dalam ada orang. Tapi dia tak mau membukakan pintu untuku. Aku pikir itu kalian ... “ ucap Nadin sambil menggandeng tangan Rachel. Ia teringat Angela. Perempuan itu tau apartemen Lucas, tapi tidak dengan rumahnya yang ada di pinggiran kota.
“Lucas ....!!! “ perempuan yang tengah di pikirkan itu muncul, langsung menghamburkan pelukannya pada Lucas. Memberikan ciuman tanpa permisi pada Lucas. Dan laki laki itu tak menolak. Dia menerimanya dengan pasrah.
Mata Nadin tercekat. Tak tau harus berkomentar apa. Yang ia tau, Rachel istri Lucas. Tapi ada wanita lain di apartemen mereka. Sedang memeluk dan mencium Lucas tanpa henti.
“Hentikan Angela ... “ ucap Lucas lirih dan menjauhkan Angela darinya.
“Aku merindukanmu ... “ gerutu Angela. Ia tak memedulikan keterkejutan Rachel dan Nadin. “Kamu siapa ... ? “ tanya Nadin bingung karena kedekatan Lucas dengan Angela.
“Aku ... ? “ jawab Angela sembari menunjuk pada dirinya sendiri.
“Aku wanita yang akan ...” suara Angela terputus. Lucas sudah membekap mulut Angela.
“Kamu merindukanku ..? Kalau begitu, kita bicara di tempat lain .. “
Ucapan Lucas itu berhasil membuat Angela luluh dan langsung mengikuti Lucas. Membawa wanita itu keluar dan duduk di kursi di dekat balkon. Hanya berdua saja.
“Aku tidak salah lihat ... ? Ada wanita lain di tempat tinggal kalian .. ? “ tanya Nadin. Meminta penjelasan. Rachel hanya menghembuskan nafas berat. Ia yang meminta Lucas bersikap lembut pada Angela, tapi hatinya tetap tak bisa menerima.
“Ceritanya panjang, harus di buat menjadi buku sejarah dulu. Baru bisa sampai tamat .. “ canda Rachel menutupi kesedihannya.
“Dasar! Buatkan aku sarapan Rachel, aku kesini untuk sarapan .. “ Nadin tersenyum ceria. Ia suka sarapan buatan Rachel. Saat kuliah pagi, Rachel selalu membawa makanan ekstra untuknya.
“Mau ku buatkan apa ... ? telur dadar ... ? “. Rachel berseru sambil menuju dapur. Ia sudah sarapan dulu dengan Lucas. Jadi membuatkan sarapan untuk Nadin, bukanlah hal besar.
“Aku mau .. apapun ...!! “ ucap Nadin berseru riang. Tak nampak kesedihan karena masalahnya dengan Damian tempo hari. Rachel membuatkan Nadin sepiring roti isi dengan beberapa potato wages yang masih panas. Nadin membantu membuat isian daging untuk sandwichnya. Dan, tiba tiba Angela menghampiri Rachel.
“Harusnya kamu banyak banyak memakan tauge .. “ ucap Angela. Dengan maksud tertentu, perempuan itu seperti
menganggap Rachel angin lalu sembari mengambil air minum.
“Kalau kamu suka tauge, makanlah banyak banyak sana!! “ suara Nadin menimpali. Ekspresi Nadin dan Angela sama. Sama sama tak suka, saling adu pandang dan akhirnya Angela menyerah. Karena Lucas memanggilnya.
“Angela, kemari sebentar ...!! “
“Iya sayang ...!! “ Angela meneriakan panggilan itu keras keras, lalu meninggalkan Rachel dan Nadin di dapur.
“Kamu tidak cemburu ... ? “ tanya Nadin. Sejak tadi, ia tak di beritau. Alasan keberadaan Angela di antara mereka berdua.
“Dia hamil ... “ potong Rachel, “ Anak Lucas ... “
“Lucas gila!!!! “ komentar Nadin, ia masih tak percaya. Pantas saja, Rachel tak bisa berbuat apa apa, batin Nadin.
“Makanlah, aku tidak apa apa. Anak di dalam perut Angela tak berdosa, aku tak punya dendam padanya. Aku ada untuk melewati masa ini dan masa depan. Aku tak akan menyalahkan masa lalu Lucas ... “
Rachel menggiring Nadin untuk duduk dan makan sandwich untuk sarapan. Masa depan. Kata itu terus terngiang di pikiran Nadin. Sembari mengunyah sandwichnya, pikirannya melayang pada selembar kertas di dalam tas kecilnya.
“Aku akan menikah .. “ kata Nadin, ia kemudian
mengambil sebuah undangan dari dalam tasnya.
“Sungguh?! Dengan Damian .. ? “ tanya Rachel sembari menerima dan membuka undangan dengan buru buru. Di sana tak ada nama Damian. Yang ada hanya nama seorang laki laki. Wisnu Narendra.
“Dia siapa ..? “ tanya Rachel sangsi saat selesai membaca undangan Nadin.
“Orang yang di jodohkan denganku, oleh ayahku ... “
Suara Nadin nampak tak kuasa menahan air mata.
“Bukannya kamu mencintai Damian ... ? “ ucap Rachel lirih.
“Sangat ... “ Nadin menahan air matanya. Ia tak bisa mengharapkan Damian. Dengan Natasya yang akan selalu ada di antara mereka. Cintanya, tak lagi berarti.
“Aku di paksa untuk menikah, aku bilang Damian akan menikahiku. Aku bertaruh dengan Ayahku ... “ Nadin menjelaskan dengan mencoba tetap tenang.
“Tapi aku kalah taruhan ... “ ucap Nadin, senyumnya begitu getir. Harunya bukan senyuman, harusnya kamu menangis. Batin Rachel. Tapi, ponsel Nadin tiba tiba berdering. Menghentikan pembicaraanya dengan Nadin.
“Angkatlah .. “ ucap Rachel, ia mengatakan itu karena Nadin hanya terpaku melihat layar ponselnya.
“Dari Damian ... “ tutur Nadin, ia kemudian ragu ragu. Tapi akhirnya terdengar suara laki laki itu di sebrang sana.
“Nadin ....? “ Damian memanggil Nadin, seolah memastikan perempuan itu mendengar suaranya dan bukan orang lain.
“Iya ...? Ada apa Damian ...? “ Rachel menatap Nadin yang berusaha tegar saat mendengar Damian memanggil namanya.
“Apa kamu becanda ...?! Kenapa kamu mengirimku surat undangan, kalau ini hanya lelucon karena kamu marah padaku, ini tidak lucu ... “ suara Damian di sebrang sana nampak marah dan juga sedih.
“Minggu depan .. “ jawab Nadin dengan tenang.
“Acara pernikahanku minggu depan, aku tak tau kamu bisa datang atau tidak .. “ Nadin menarik dan menghembuskan nafas dengan gugup dan tangan bergetar.
“Kalau kamu tidak sibuk, kamu bisa datang dengan Natasnya. Aku akan menyiapkan tempat yang nyaman untuk Natasya nantinya ... “
Pertahanan Nadin bobol, air mata pertamanya meluncur dari kelopak matanya. Ia sengaja mengirim surat undangan pernikahannya lewat pos. Dan, Damian menerimanya pagi ini. Tak di sangka sangka.
“Nadin, aku minta maaf. Aku tak memikirkan perasaanmu dan lebih memilih Natasya, tapi asal kamu tau. Aku mencintai kal-- “
Nadin tak membiarkan Damian menyelesaikan kata katanya, “Aku ada urusan, selamat pagi Damian .... “
Ada fase di mana kamu boleh berjuang, kamu boleh melepaskan. Dan Nadin sudah melewati fase itu. berjuang dan akhirnya memilih untuk melepaskan.
“Aku baik baik saja .. “ Nadin menghapus air matanya dengan kasar, “Lega rasanya, baru saja aku mencampakan dokter paling tampan di rumah sakit ayahku ... “
Senyum Nadin sembari terkekeh tak jelas, ia kemudian memakan sandwich di piring dengan rakus, “Jangan pandangi aku seperti itu! patah hati itu butuh tenaga lebih ... “ ucap Nadin berdalih, ia hanya tak ingin Rachel mengobrol dengannya.
“Aku ambilkan minum dulu untukmu .... “ Rachel berjalan dan meniggalkan Nadin di sana dengan rasa sedihnya. Ia berjalan dengan lambat. Mecoba memberikan Nadin ruang sendiri. Keputusan besar yang ia buat barusan, pastilah menyakitkan.
Ekor mata Rachel tak sengaja melihat Angela yang sedang menyandarkan kepalanya pada bahu Lucas, tiba tiba ia teringat kata kata Angela, “ Lucas memang begitu, berkata kasar di depanmu. Tapi larut dalam ciumanku, dia benar benar laki laki yang baik ... “
Rachel langsung memukul kepalanya sendiri, “Jangan berpikir seperti itu Rachel!! “ ucapnya, menghardik diri sendiri. Ia langsung berjalan mengambil air minum untuk Nadin dan kembali lagi.
“Ini, minumlah .. “ uluran itu langsung di sambut Nadin dengan ringan, ia meminum air di dalam gelas sampai tandas.
“Terima kasih untuk sarapan, minuman, dan juga rasa nyaman ini .. “canda Nadin dengan senyuman lagi.
“Kamu mau kemana .. ?” tanya Rachel saat ia melihat Nadin bergegas bangkit.
“Aku harus menemui kolega ayahku, aku yang meminta pernikahan di percepat jadi minggu depan. Jadi aku harus tanggung konsekuensinya, aku harus kerja ekstra ... “ Nadin beralih dan menuju pintu apartemen, hendak keluar.
“Jangan lupa datang! Ini pernikahanku, kalau kamu tak datang, aku akan marah sampai lima bulan ... “
“Aku akan datang, minggu depan ... “ senyum Rachel.
“Aku pergi dulu, Rachel ....!! “ Nadin membuka pintu apartemen dan langsung beringsut pergi. Klek! Suara pintu tertutup otomatis, dan Nadin sepenuhnya pergi. Dengan keputusanya menikahi orang yang tak di cintainya.
“Kemana Nadin ... ?” suara Lucas mengembalikan kesadaran Rachel. Ia melihat sosok suaminya, yang baru saja menerima sandaran dari wanita lain.
“Dia sudah berpamitan, ada surat undangan untuk kita.... “ tangan Rachel mengambil undangan pernikahan Nadin dari atas meja, “ Undangan pernikahan ... “
Tangan Lucas mengambil uluran surat itu, “Dari siapa ..? Siapa yang mau menikah ..? “ Lucas mengerutkan dahinya, membuka surat itu dan membaca isinya.
“Nadin .. “ ucap Rachel, menjawab dua pertanyaan Lucas sekaligus.
“Dia...?! “ Lucas masih kaget, ia selesai membaca undangan Nadin. Dan raut wajah tidak percaya, itulah yang Lucas tunjukan.
“Bagaimana mungkin, dia menikah minggu depan ...? Dengan orang lain?! Yang bahkan tak bisa ia cintai dalam waktu seminggu ....? “
Pertanyaan demi pertanyaan itu keluar dari mulut Lucas, nama Damian adalah yang pertama kali muncul di pikirannya saat selesai membaca undangan itu. ia langsung memanggil Damian, tapi panggilannya itu tak diangkat. Ponsel Damian di luar jangkauan.
“Damian baru saja menelfon Nadin, dia sudah mendapatkan surat undangan ini lebih dulu ... “
**** 000 ****
Mata Damian tak fokus, pikirannya melayang entah kemana.
Seminggu lagi, dia akan menikah dengan laki laki itu seminggu lagi. Batin Damian terus mengajak otaknya berdiskusi. Berkali kali ia mencoba menghubungi Nadin, tapi tak bisa lagi. Ia yakin, sekarang nomornya sudah masuk ke dalam blacklist di ponsel Nadin. Bahkan, pemiliknya mungkin demikian.
“Kamu memikirkan sesuatu ... ? “ tanya Natasya dengan pelan dan lemah. Ia melihat Damian yang sedang gundah. Entah apa yang sedang menghantui pikiran Damian itu.
“Tidak ada apa apa, jangan banyak bergerak. Tenang dan istirahatlah ... “ Damian menarikan selimut untuk menutupi kaki Natasya yang baru ia seka dengan handuk basah.
“Kamu tidak sibuk .... ? “ tanya Natasya lagi. Ia bangun dengan kebingungan. kebingungan pertama adalah, tempat ia berada. Di rumah sakit. Kedua, kalender yang tak dapat ia mengerti. Bertahun tahun sudah terlewati olehnya dengan tidur.
Bagaimana aku sibuk? Selama ini pasien tetapku hanya kamu dan Lucas. Selebihnya tak menentu, Nadin mungkin akan sengaja sakit supaya aku sibuk merawatnya. Damian tersadar. Ia baru saja memikirkan Nadin.
“Aku memang hendak berpamitan dulu, apa kamu tidak apa apa aku tinggal ... ? “ sorot mata Damian terus memperhatikan Natasnya. Tapi wanita itu mengangguk penuh perhatian.
“Pergilah, kamu bekerja dan aku beristirahat ... “
“Kalau begitu, aku pergi .. “ ucap Damian terburu buru dan langsung meninggalkan Natasya. Perempuan itu mengernyit. Biasanya, Damian akan mencium keningnya saat berpamitan. Tapi sekarang tidak.
Betahun tahun berlalu, kebiasaan orang juga bisa berubah. Batin Natasya sembari melihat Damian yang berlari tergesa di luar sana. Damian berlari menuju ruangannya. Menambil kunci mobil dengan tergesa gesa. Entah kenapa, ia ingin memastikan kata kata Nadin tadi pagi.
“Aku akan menemuinya .. “ ucap Damian lirih sembari memacu laju mobilnya. Satu tempat yang sering ia datangi dengan Nadin adalah, kafe yang di jadikan Nadin sebagai tempatnya kerja paruh waktu. Perempuan itu suka sekali menjadi pelayan di sana.
Mobil Damian terus melaju dengan kecepatan di atas rata rata. Pengemudinya berkali kali mengeluhkan jalanan yang sudah terkena macet. Seolah itu semakin memperlambat lajunya. Mengumpati orang orang yang menghalangi jalannya. “ Acara pernikahanku minggu depan, aku tak tau kamu bisa datang atau tidak .. “
Damian membanting setirnya, kata kata Nadin itu adalah kelanjutan dari sikap dinginnya beberapa hari yang lalu. Menolak berbicara, menolak di antar pulang, menolak untuk bertemu, menolak mengangkat telfon.
“Kamu sudah memperhitungkannya, caramu meniggalkanku sudah di perhitungkan .. “ ucap Damian lirih. Ia sudah berada di depan kafe dengan pemandangan yang menusuk mata. Nadin sedang duduk di sana. Dengan laki laki asing di sampingnya yang sedang memegang tanganya.
Ada rasa terbakar di d**a Damian, ia segera berlari dan masuk ke dalam kafe. Berjalan menghampiri Nadin yang sedang bercanda dengan laki laki itu.
“Kamu punya waktu sebentar ... ? “ tanya Damian pada Nadin. Mata Nadin nampak membelalak, tapi ia langsung membuang ekspresi itu jauh jauh.
“Temanmu ... ? “ Wisnu bertanya pada Nadin, ia tak kenal siapa Damian.
“Aku ini bukan teman Nadin, aku ke .. “
“Damian, kenalkan. Winsu, dia calon suamiku ... “, Nadin lagi lagi tak membiarkan Damian menyelesaikan kalimatnya. Ia terperangah dengan Nadin, memperkenalkan Wisnu sebagai calon suami.
“ Wisnu, dia Damian. Eh, Dokter Damian ... “ Nadin menyambung lagi kalimatnya.
Kamu memanggilku Dokter Damian, kamu benar benar mengasingkanku dari duniamu. Batin Damian, ia terus mengamati lekat lekat tangan Wisnu yang terjalin pada jari jari Nadin.
“Wisnu Narendra .. “ tangan Wisnu terlulur dengan sendirinya. Melepaskan pegangannya pada tangan Nadin.
“Damian ... “ tangan Damian bersalaman dengan singkat dan dingin. Wisnu seolah menangkap kalau ada percakapan antara Damian dan Nadin yang tak bisa ia curi dengar.
“Kalau begitu, kalian bisa berbicara berdua di sini. Nadin, aku akan menunggu di dalam mobil .. “ Wisnu beranjak pergi dan meniggalkan Damian dengan Nadin.
“Dok—“
“Damian! Jangan panggil aku Dokter Damian ... “ mata Damian menunjukan kilatan marah. Marah karena, ia tak lagi ada di dunia Nadin. Terhempas menjadi sosok yang asing untuk Nadin.
“Ada apa ... ? Apa yang mau di bicarakan padaku ... ? “ akhirnya Nadin mengubah logatnya seperti biasa, berbicara pada Damian seperti biasa.
“Kamu benar benar akan menikahi laki laki itu ... ? “
Mata Nadin mengerjap, tak menyangka Damian mendatanginya untuk mempertanyakan hal yang sudah tertulis jelas di undangan untuknya.
“Ku ulangi Damian, kami menikah minggu depan ... “ ucap Nadin dengan nada jengah.
“Kamu becanda, kamu bilang kamu mencintaiku. Tapi kamu mau menikahi orang lain ... ? “
Damian memalingkan kepalanya, tak mempercayai kenyataan. Lalu, suata Nadin memporak porandakan semuanya.
“Lalu aku harus menikah dengamu ...? Aku terlalu bodoh, bilang kalau tak apa aku jadi istri keduamu, asalkan kamu yang menikahiku ... “, suata Nadin memburu. Mata Damian membelalak.
“Kamu bahkan tak mencintaiku sama sekali selama ini .. “ ucap Nadin meremehkan. Ucapannya itu mengundang amarah Damian.
“Kamu salah, aku mencintai kamu .. “
“Kamu mencintaiku dengan definisi yang berbeda dengan caramu mencintai Natasya bukan!! “ bentakan Nadin itu membuat Damian membisu.
“Kalau sekarang, definisi cintamu seutuhnya adalah Natasya, berhentilah memberikanku definisi cinta yang baru, itu sama saja seperti pengganti. Natasya ada, dan nyata di depanmu sekarang ini. Dan aku juga nyata, hidup dan ada di hadapanmu Damian. Dan aku juga bisa mencari definisi cinta yang baru, definisi cintamu padaku hanya kebohongan, supaya aku merasa di cintai! Nyatanya tidak! Kamu tak mencintaiku, ada Natasya di sana dan selamanya akan ada di sana ... “
Damian tertahan dengan kata kata Nadin, sebesar itu beban yang di tutupi Nadin. Di balik keceriaan yang selalu di tunjukan padanya. Sekarang, Nadin bukan lagi sosok matahari bagi Damian. Ada kesedihan di mataharinya. Mendung menutupi kecerahannya.
“Kamu menahanku, tapi kamu merengkuh Natasya. Kalau kamu tak bisa memilih salah satu, maka aku yang pergi ... “
Nadin, sekali lagi. Pergi tanpa memberikan senyuman pada Damian. Meninggalkan laki laki itu dengan sekelumit rasa yang baru ia cicipi dari Nadin. Pahit.
Selama ini Nadin selalu memberikan kesegaran untuknya, tapi sekarang. Pahit dan getir. Sampai Damian tak tahan merasakannya.