Berpisah.

3085 Kata
The Evil Symphony                   Rachel berada di ruangan Lucas, sedang bernostalgia dengan Biola Biola yang ada di sana. Memainkan beberapa lagu yang sudah lama tak di jamahnya. Suara lantunan itu dengan mulus meluncur dari setiap senar yang ia gesek. Ada ketentraman yang Rachel rasakan saat bermain Biola.                   Lucas, entah mengapa seharian ini selalu berada di sekitar Angela. Memperhatikan wanita itu dengan hati hati, menemani Angela dengan berada di sisinya setiap saat. Memberikan Angela obat obatan untuk Ibu hamil.                   “Dia sedang menepati janjinya untuk bersikap baik pada calon anaknya .. “ ucap Rachel mencoba menenangkan. Sentuhan tangannya pada senar Biola sekarang berubah menjadi nada sendu. Musik memang ekspresi hati yang paling luar biasa. Cerminan nyata untuk perasaan yang sedang di rasakan.                 Rachel berhenti bermain, ia tiba tiba tak ingin bermain lagi. Ia menaruh Biola klasik Lucas itu ke dalam etalasenya kembali. Banyak Biola di sini, dan Rachel tak punya semangat untuk memainkannya.                   “Sayang sekali ... “ ucap Rachel lirih. Ia merasa lelah seharin, Rachel mendekati kursi kerja Lucas. Terlihat nyaman untuk bersandar di sana, batin Rachel. Ia duduk dan menyandarkan bahunya. Meraskan otot ototnya rileks. Tangan Rachel dengan usilnya menjelajahi laci dan meja kerja Lucas. berharap mendapatkan harta tersembunyi.                   Tiba tiba ia melihat ada map bertuliskan nama rumah sakit yang tak asing, tempat Ibunya di rawat.                 “Milik Mama .. ? “ tanya Rachel pada dirinya sendiri. Ia membuka dan membaca surat itu, ia terkejut bukan main. Bukan nama Lina yang ada di sana. Tapi, Lucas. Dengan jadwal operasi yang tinggal menghitung hari. Vasektomi.                   “Kamu berhenti bermain .. ? “ suara Lucas yang tiba tiba masuk mengagetkan Rachel. Ia buru buru menyimpan map itu tapi terlambat. Lucas melihatnya.                   “ Kamu mau melakukan operasi ... ? Minggu ini ... ? Vasektomi ...? “ cecar Rachel. Menuntun penjelasan dari Lucas.                   “Rachel, aku akan jelaskan ini seusai operasi .. “ Lucas berusaha meraih tangan Rachel, tapi di tepis oleh Rachel.                   “Ini operasi penting, kamu mau melakukannya diam diam ...? Tak memberitahuku alasannya ... ? “ tatapan tak percaya di layangkan Rachel pada Lucas. Perasaan tersakiti kerena di bohongi, tak di beri kepercayaan oleh Lucas. Keterbukaan akan menumbuhkan kepercayaan. Rasa percaya itu, sekarang meragu.                   “Rachel, kamu dengarkan aku dulu. Aku melakukan operasi itu untuk sebuah alasan .. “ucap Lucas mencoba menjelaskan.                   “Kita bahkan belum punya anak, dan kamu mau membuat dirimu sendiri menjadi mandul ... ? “  Rachel masih tak mempercayai map yang ia baca barusan. Ia baru menikah dengan Lucas beberapa hari yang lalu.                   “Aku tidak mau punya anak ...!! “ geram Lucas lirih. Sikap arogansinya muncul sekarang. Membuat Rachel tercekat dengan kata kata Lucas.                   “Kamu tidak menginginkan seorang anak di pernikahan kita ... ? “ Lucas sadar, kata katanya telah menyakiti Rachel. Perempuan itu sedang menatapnya dengan tatapan terluka yang teramat dalam.                   “Kita tetap bahagia tanpa harus memiliki anak Rachel ... “ suara Lucas lirih, rendah. Emosinya seakan tak lagi mengalir. Lebih baik, aku yang di anggap mandul. Dari pada, orang orang menatapmu dengan tatapan prihatin yang memelas.  Batin Lucas.                   “Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu ...? Aku akan mengandung anakmu nantinya Lucas ... “                 Kamu mungin tidak bisa hamil Rachel, jadi biarkan kita hidup tanpa anak. Lucas terus menjawab pertanyaan demi pertanyaan Rachel di dalam hatinya. Menyembunyikan kebenaran di dalam nuraninya sendiri. Yang nampak di depan Rachel, justru Lucas hanya diam tanpa memberikan jawaban. Hatinya Rachel. Hanya hatinya yang mampu menjawab. Lisannya terkunci, untuk menjaga hatimu.                   “Kalau aku tiba tiba hamil, apa kamu akan menyuruhku menggugurkannya ... ?  Karena kamu tak menginginkan anak ... ? lalu bagaimana dengan Angela ..? dia juga hamil anakmu, kenapa aku tidak bisa punya anak denganmu .... ? “                   “Anak yang ada di dalam perut Angela adalah kesalahan Rachel, biarkan dia hidup .. “                 “Aku hamil hanya untuk sebuah kesalahan ... ?! “ nada Rachel meninggi, sekali lagi. Lucas sadar, kata katanya telah menyakiti Rachel.                   “Rachel, kumohon. Untuk sekarang, kamu takan bisa mengerti alasanku. Tapi kamu bisa perlahan, coba untuk mengerti ... “ Lucas terus memohon dengan hati hati. Ia takut kata katanya akan menajam dan menyakiti Rachel.                   “Selamanya aku takan bisa mengerti .. “ sergah Rachel dengan nada tajam.                   “Aku mau tidur Lucas, beristirahatlah .... “                 Angela yang mencuri dengar pertengkaran Rachel dan Lucas, sedang tersenyum puas sekarang. Mendengar langkah kaki yang mendekati pintu, Angela langsung buru buru pergi. Tak lama, Rachel keluar dari sana. Di susul oleh Lucas.                   “Rachel, dengarkan aku dulu ... “                   “Aku hanya ingin tidur, beristirahatlah dan pikirkan keputusanmu itu .. “ Rachel mengabaikan Lucas dan malah keluar dari apartemen. Ia tidur di apartemen yang Angela beli di depan Lucas. Lucas menghampiri Rachel. Tapi ia sudah mengunci pintu, berkali kali ia memncet bel dan terus saja di abaikan oleh Rachel. Lucas menatap pintu itu dengan putus asa. Ia begitu ceroboh sampai meletakan map itu di laci mejanya.                 “Kamu anggap saja aku seperti orang jahat .. “ bisik Lucas pada sisi pintu yang tertutup itu. ia langsung melangkah pergi meninggalkan pintu itu. Bukannya kembali ke apartemennya untuk beristirahat. Lucas justru keluar dan berkendara.                 Lucas bekendara ke rumah Damian, berharap laki laki itu tengah berada di sana. Bukannya di rumah sakit menemani Natasnya. Lucas tak menyangka ia menemukan Damian sendang teruduk di sisi ruangan yang gelap. Melihat sahabatnya dengan wajah frustasi, sama sepertinya.                   “Kamu baik baik saja Damian .. ? “ tanya Lucas sembari ikut duduk di lantai, di samping Damian. Damian justru tertawa kecut. Ia juga melihat ekspresi yang sama di wajah Lucas.                   “Apa kamu baik baik saja ...? Kita sama punya tampang frustasi sekarang ... “ mendengar candaan sarkas Damian itu, Lucas ikut tersenyum kecut.                   “Kita sama, pria yang sedang di landa masalah ... “. Lucas menatap puluhan kaleng beer yang di minum Damian.                 “Sejak kapan kamu minum sebanyak ini ... ? “,ucap Lucas, tangannya juga mengambil sekaleng beer baru untuk diminumnya sendiri.                   “Sejak, ah! Sejak matahari menjauhiku ... “ Damian tersenyum getir. Matahari, adalah ungkapannya untuk Nadin. Mataharinya membuatnya menjadi orang asing. Melemparnya jauh jauh agar tak lagi mengorbit di sisinya.                   “Matahari pergi dan mengitari orbit lain. Dia sudah tak mau menyinariku lagi ... “ Damian meneguk beer di kaleng yang ia pegang. Sampai habis dan meletakan kaleng kosong itu pada tumpukan kaleng kosong lainnya.                   “Kenapa kamu frustasi ... ? “ Damian menanyakan hal yang sama pada Lucas. Di tangannya sudah ada sekaleng beer baru. Damian meneguknya tanpa perasaan.                 “Simfoniku sedang membencinku, aku yang melukanya sendiri dengan kata kataku ... “ Lucas meneguk beernya lagi. Menatap Damian dan menyulangkan kaleng beernya.                   “ Kita pria bodoh bukan .. ? bukannya pergi dan menghadapi masala, kita malah minum minum di sini ... “ Ucapan bodoh tapi penuh kenyataan itu mengundang tawa Damian, ia menertawakan kebodohannya dengan Lucas.                   “Kita terlampau bodoh, atau pengecut ... “                   “Pengecut! “ ucap Lucas membenarkan.                   Aku terlalu pengecut, tapi aku juga tak mau kamu terluka, makanya aku menjelma menjadi seorang pengecut. Batin Lucas.                 Aku terlalu bodoh untuk menjawab pertanyaanmu selama bertahun tahun ini, ‘ Damian, kamu mencintaiku ... ? ‘ hanya pertanyaan sepele seperti itu dan aku tak mampu menjawabnya, sekarang. Orang lain yang menjawabkannya untukmu. Batin Damian.                   Mereka hanya minum tanpa berbicara lagi. Sampai malam menjelang pagi, mereka hanya terduduk dengan mata yang masih nyalang terbuka. Tak mengantuk sedikitpun. Seolah masalah mereka tak bisa di selesaikan. Tapi juga tak bisa di tinggalkan tapi tak bisa juga di hindari.                   “Ikut denganku ke apartemen, kita lihat apakah obat darimu itu benar benar manjur atau tidak ... “ Lucas bangkit dan menyeret Damian dengan sedikit tergopoh. Tapi ia berhasil menguasi keseimbangannya lagi.                 “Kamu masih butuh, ehm satu ... ? “ ucap Damian sembari mengacungkan jarinya, “ Eh! Tidak, kamu butuh dua kali lagi, setelah itu. semuanya bisa terlihat jelas ... “                   “Tidakk.... “ gerutu Lucas seperti anak kecil karena terlalu banyak meminum beer.                   “Ikut aku sekarang ... “, rengek Lucas. “ Rachel marah, padaku ... “                   “Nadin meninggalkanku .. “, ucap Damian. Seolah masalahnya lebih berat.                   “Dia mengunciku dan tak memperbolehkanku masuk ... “ erang Lucas dengan kesadaran tak sampai setengahnya.                   “Nadin lebih memilih Wisnu ...? Narendra .... “ ucap Damian dengan rengekan yang tak kalah dengan Lucas.                 Lucas terjatuh dan terduduk di lantai. Kedua laki laki itu kini tertidur dengan mata merah. Lucas dan Damian tak bisa membayangkan akan jadi seperti ini.   **** 000 ****                   Sampai siang, dan Lucas belum juga kembali. Rachel sudah berkali kali menunggu dan melihat Lucas apakah dia sudah pulang atau belum. Dan hasilnya nihil, ia bahkan tak membawa ponsel atau apapun itu.                   Shawn datang membawakan belanjaan untuk Rachel, dan dia juga tak melihat Lucas pulang ke rumah satu lagi. Jadi kemana dia pergi ... ? Rachel terus menerkan dimana Lucas berada. Sampai sosok Damian datang di ikuti Lucas. Membuat Rachel menghela nafas lega.                   “Itu dia ... “ bisik Rachel.                   “Kamu menunggu kami ... ? “ orang yang Rachel harapkan akan menyapa pertama kali justru diam, hanya Damian yang berbicara. Dan tubuh mereka berdua, berbau alkohol yang sangat menyengat.                   “Kalian menyetir sambil mabuk ..?! “ interogasi Rachel terbuang sia sia. Dia di abaikan seutuhnya oleh Damian dan Lucas. Mereka justru langsung masuk apartemen dan membuat onar.                   “Angela...!! Angela ....!! “, panggilan Lucas itu terdengar seperti orang yang tengah pilek.                   “Angela...!! Ayo kemari dan makan obatmu ... “ Lucas berteriak lagi. Sampai Angela datang, Lucas masih terus berteriak teriak.                   “Angela ...!! “ teriak Lucas sekali lagi, teriakan keras oleh orang yang setengah mabuk.                   “Ada apa Lucas ....? “, tanya Angela dengan sangsi.                   “Kamu pasti belum minum obatmu, cepat ambil dan minum...!! “ perintah Damian dengan nada yang tak karuan.                   “Damian ...  ? “ Angela tak mengerti.                   “Ehm ehm ehm! Ambil obatmu dan minum di depan kamu .. “                 Tubuh Lucas terhempas ke sofa di ikuti tubuh Damian. Mereka terduduk di sofa dengan mata merah yang setengah sadar.                 “Cepat ambil dan minum ...“ Lucas membentak Angela yang hanya diam saja.                   “Ikuti saja kata mereka .. “ ucap Rachel yang sudah tak mau mendengar rancauan Lucas dan Damian. Angela berpura pura tak mendengar Rachel. Ia justru bergelayut pada Lucas.                   “Ambil, sekarang ...!! “ Lucas melihat Angela yang akan mendaratkan bibirnya padanya. Ia menjauhkan wajah Angela sejauh mungkin, “ Ambil dan minum di depanku, aku mau anakku sehat .. “                   Kata kata Lucas itu mengulaskan senyuman di bibir Angela, “Kamu peduli degan anakmu ini ...? “ senyuman sengit muncul menohok Rachel. Secepat itu Lucas berubah pikiran saat memikirkan anaknya dengan Angela, batin Rachel.                   “Aku akan minum obat di depanmu ... “                 Angela berlai riang ke arah kamar Lucas, semalaman ia tidur di sana dan Lucas tak pulang. Ia bergegas kembali dengan botol obat berwarna putih, pemberian dari Lucas.                   “Minum ... “ Angela sudah mengambil minum, ia bersiap siap menelan obatnya. Tapi tangan Lucas menghentikan Angela.                   “Minum dua, dua ..! “ pekik Lucas dengan nada memerintah.                 “Tapi, ini obat ..? terlalu berbahaya kalau over dosis Lucas ... “                   “Itu vitamin, vitamin ibu hamil ... “ Angela hanya menurut, mendengar racauan Lucas membuatnya pusing sendiri. Ia menuruti Lucas dan minum dua pil sekaligus. Dan setelah itu, Lucas sepenuhnya tak sadarkan diri dengan Damian. Terkapar di sofa.                   “Kamu urus mereka, kamu cocok jadi pembantu di bandingkan jadi Nyonya Norwest .. “ ucap Angela sembari berlalu meniggalkan Rachel. Rachel menatap Damian dan Lucas bergantian.                   “Kalian seperti anak anak, menyebalkan juga merepotkan ... “ ucap Rachel. Ia berlalu dan mengambilkan handuk basah. Hendak membilas tubuh Damian dan Lucas yang sangat kotor dan acak acakan.                 “Ah! Dingin .. “ rengek Lucas saat kelembapan handuk menempel pada wajahnya.                   “Sebentar saja dan kamu bisa lanjut tidur lagi ... “ celetuk Rachel. Tangannya sudah melanjutkan mengusap Lucas dengan handuk basah.                   “Jangan marah denganku ... “ gumam Lucas dengan mata setengah tertutup.                   “Aku bukannya marah, aku kecewa .. “ ucap Rachel dengan sebal. Kamu memperhatikan anakmu dengan Angela, lalu kamu tak mau punya anak lagi. Gerutu Rachel di dalam hati.                 “Peluk aku, peluk ...! “                 Rachel mengernyitkan dahi, sekarang ia ragu kalau Lucas benar benar mabuk berat. Tapi tiba tiba tangan Lucas meraih Damian dan memeluknya.                   “Peluk aku kalau kamu tidak sedang marah lagi .. “ ungkap Lucas sembari mengeratkan pelukannya pada Damian.                   “Eh!! Argh ... “ Damian hanya mengerang karena pelukan Lucas yang memang sangat erat itu. Rachel terkekeh geli, Lucas benar benar mabuk. Ia meniggalkan Lucas dan Damian. Sulit untuk menyeka mereka karena mereka terus meracau dan bergerak. Rachel membiarkan Damian dan Lucas berpelukan sepanjang hari.   *** 000 ***                   Malam tiba, Rachel sudah siap dengan makan malam. Ia memaafkan Lucas, ia sadar, kalau masalah untuk di bicarakan bukan untuk di perdebatkan. Ia akan membicarkan masalah operasi itu pada Lucas dengan pikiran tenang.                   “Kamu benar benar cocok jadi pembantu .. “ cetus Angela sambil memakan kroket ayam di piring. Kata kata yang sama seperti yang di ucapkan Angela siang tadi.                   “Bersih besih, memasak, menjemur pakain. Aku tambah yakin kalau Lucas mendekatimu karena buta .. “ ucap Angela lagi. Kini nada merendahkan lebih ia tajamkan pada kata buta.                 Rachel mengejela nafas panjang, kesabarannya memuncak tapi turun lagi, ‘ Dia sedang hamil, dan anak itu tak berdosa .. ‘ bisik Rachel pada diri sendiri.                 “Apa kamu terus di sini menunggu Lucas mengusirmu ...? Atau kamu tidak cukup peka untuk pergi lebih dulu .. “ melihat Rachel yang semakin tenang. Membuat Angela semakin tertantang untuk membuat Rachel naik pitam.                 “Ku katakan padamu, Lucas tak pernah sekali pun mencintaimu ...” Angela tertawa bahagia. Ia mengambil beberapa udang di piring dan melahapnya dengan sumringah.                 “Setidaknya dia pernah mencintaiku dan dengan berani menikahiku .. “ Rachel membantah Angela yang mengatakan kalau Lucas tak mencintainya. Dengan cara tenang dan elegan. Angela membelalak, tapi kemudian tertawa lepas.                 “Mimpi...... !! “ teriak Angela dengan gelak tawa. Ia kembali melahap udang, seperti Nyonya yang sedang di layani. Tapi Rachel tak lagi menggubris Angela, ia beranjak dan mendekati Lucas dan Damian. Mereka tak makan sepanjang hari, hanya tidur sambil berpelukan.                   “Lucas ...? Bangun, makan malam. Ada dendeng di sana ... “ ucap Rachel sembari menggoyang goyangkan tubuh Lucas.                   “Lucas, bangun .. “ kata Rachel lagi, kini ia menggoyangkan tubuh Lucas lumayan kencang dan mata itu setengah terbuka.                   “Kamu membukakan pintu untukku ... ?” tanya Lucas di penuhi kebingungan.                 “Kamu masuk sendiri ke sini .. “ kata Rachel dengan lembut.                 “Kamu masih marah ... ? “ tanya Lucas dengan menaikan sati alisnya.                   “Marah, sangat marah ... “                   “Jangan marah .. “ ucap Lucas sembari menarik Rachel ke dalam pelukanya. “ Kamu seperti monster nanti ... “ ucap Lucas dengan setengah sadar.                   “Bangun dan makan malam Lucas, Damian ... “ Rachel melepaskan pelukannya dan berdiri. Tak lama, ia mendengar suara Angela sedang memuntahkan isi perutnya.                   “Siapa itu ... ?” tanya Lucas dengan nada mengernyit.                   “Orang muntah .. “ Damian tersadar dan menyahuti Lucas.                 “Iya, tapi siapa ... ? “ tanyan Lucas tak sabaran.                 “Angela ...! “,ucap Rachel dengan nada panik. Suara Angela tak berhenti untuk waktu yang lama. Ia terus memuntahkan isi perutnya tanpa henti. Rachel mendekati Angela yang berdiri di dekat wastafel. Kepalanya terulur dan masih terus terusan muntah.                   Di sisi lain, Lucas tersadar sepenuhnya.                 “Angela ..? Muntah ..? “ senyuman puas mengembang di bibir Lucas, samar samar ia ingat. Ia memaksa Angela untuk minum dua pil sekaligus.                   “Bangun Damian! Angela sedang muntah muntah!! “ ucap Lucas. Ia kemudian dengan sumringah mendekati suara Angela.                 “Kamu meracuniku ....!! “ tuduhan di layangkan Angela pada Rachel yang tak tau apa apa.                   “Bagaimana mungkin ..! Aku tidak meracunimu ...” Rachel menepis tuduhan tak masuk akal itu.                   “Aku makan makanannmu seharian, menurutmu aku muntah karena apa ... ? “ ucap Angela smbil memelototkan matanya. Ia marah dengan kondisinya saat ini.                   “Itu hal yang wajar Angela, kamu sedang hamil .. “ ucap Rachel dengan penuh kesabaran.                   “Hamil! Bagai- “ ucapan Angela terputus, ia kembali muntah lagi hingga tubuhnya lemas.                   “Kamu muntah ...? “ tanya Lucas pada Angela. Perempuan itu berbalik cepat dan memeluk Lucas.                 “Rachel meracuniku, dia iri dengan anakku ...! “ rengek Angela pada Lucas.                   “Bohong! Tak ada gunanya aku meracunimu .. “ sergah Rachel dengan amarah karena tuduhan Angela padanya.                   “Iya! Kamu iri karena Lucas memperhatikanku, kamu iri karena aku hamil dan kamu madul ...!! “                   Plak!! Tamparan Lucas pada Angela membungkam mulut perempuan itu. Secara tak langsung, Lucas membenarkan perkataan Angela. Lucas tak pernah menyakiti perempuan. Tapi, ego Lucas mengatakan. Itu memang harus di lakukan.                 “Hentikan omong kosongmu itu Angela .. “ ucap Lucas dengan suara sedingin es. Rachel menatapnya dengan tatapan menuntut penjelasan.                   “Apa benar ... ? Kenapa ...? Kenapa aku tidak bisa hamil ... ? “ tanya Rachel dengan suara bergetar. Mencoba meyakinkan diri sendiri, kalau ucapan Angela adalah kebohongan.                   “Kamu bahkan tidak tau kalau kamu tidak bisa hamil, kamu iri karena aku hamil ... “ ucapan tajam Angela itu di putar balikan oleh Damian. Laki laki itu memantau kehebatan Angela dalam berakting.                   “Berhenti berbohong! Kamu sendiri tidak pernah hamil ... “ ucap Damian dengan tatapan tajam pada Angela. Tatapan tajam Lucas dan Damian, sukses membuat wanita itu mundur pelan pelan.                 “Kamu tau apa ..? Aku hamil! Anak Lucas!! “ Angela meneriakan perlawanan.                   “Kamu muntah barusan, itu pertanda kalau kamu memang tidak hamil ..! “                   “Aku muntah karena hamil! “ bantah Angela.                   “Kamu muntah karena kamu tidak hamil! Pil yang Lucas berikan untukmu, itu yang membuat kamu muntah ...!! “ Angela mentaap Lucas dengan binar mata tak percaya, Lucas memberikannya perlakuan baik dan menanyakan kondisinya. Angela kira, itu bentuk perhatian Lucas padanya. Karena tau ia hamil, memberikan obat dan segala macam vitamin untuk ibu hamil.                 “Kamu muntah barusan, karena pil itu sudah bekerja. Kalau kamu hamil, kamu takan muntah seperti barusan ... “ Lucas dengan nada dinginnya. Angela langsung terdiam membisu. Ia memandangi Lucas dengan tatapan menantang.                   “Lalu kenapa .. ? Sekarang, lihat. Aku memang tidak hamil, tapi bukan berarti aku tidak bisa hamil, aku lebih baik dari Rachel ... “ senyuman bengis muncul di bibir Angela. Kedoknya terbongkar, rencananya saat meracuni Lucas dengan Aphrodiciat gagal. Tapi, peluang menjadi Nyonya Norwest masihlah terbuka untukknya.                   “Kamu pikir kamu siapa ... ? Hanya satu wanita yang aku nikahi dan aku cintai, hanya Rachel ...” Lucas mentap tajam Angela. Meruntuhkan semua kepercayaan diri Angela untuk memasuki kehidupannya sebagai Nyonya Norwest.                   “Kalian sudah menikah ..? tapi kapan --- “                 “Damian, usir dia .. “                   Damian langsung menerjang Angela, menarik perempuan itu dengan paksa. Tapi mulut Angela terlalu berbisa, “Kamu salah menikahi perempuan! Kamu tak seharusnya menikahi perempuan cacat yang tak bisa hamil .. “                   Kata kata terakhir Angela sebelum Damian menyeretya keluar dari apartemen Lucas. Rachel yang sejak tadi terdiam, membisu, tapi juga tersadar. Lucas menghampiri Rachel yang masih terpaku itu.                   “Dia benar .. “    ujar Rachel, sembari mengangkat wajahnya menatap Lucas yang mendekatinya.                 “Kamu tak seharusnya menikahi perempuan cacat sepertiku ...”                   “Kamu perempuan sempurna, tak ada cacat apapun di dalam dirimu .. “                   “Tapi yang di ucapkan Angela benar .. “ ucap Rachel membantah. Ia menolak pelukan Lucas.                   “Aku juga cacat kalau begitu. Setelah aku melakukan operasi itu, kamu juga akan menganggapku seperti laki laki cacat ... ? “                   Rachel kini sadar, Lucas melakukan operasi itu untuknya, untuk menjaga hatinya agar tak sesakit sekarang ini. Rachel menatap lekat lekat binar mata Lucas. Wajah Lucas dengan garis tegas, rambut hitam, mata abu kelabu itu.  Rachel kini sadar, ketampanan Lucas takan menurun pada siapapun.                 “Kita bercerai saja ... “  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN