Meninggalkan orang yang salah.

2008 Kata
The Evil Symphony                   Lucas menatap tajam Rachel.                   “Maut yang memisahkan kita berdua. Itu janjiku pada Tuhan! Aku baru mengatakan janji itu beberapa hari yang lalu, dan takan mengingkarinya sampai mati .. “ Lucas tau, Rachel hendak mengelak kata katanya.                   “Perceraian takan pernah ada, itu janjiku! Dan kamu bisa memegangnya ... “                   “Kamu takan bisa punya anak dariku .... “, ucap Rachel dengan putus asa.                   “Kita bisa bahagia tanpa anak! Aku tak suka anak anak ... “ ucapan keras Lucas itu tak menghentikan Rachel.                   “Kamu menyukai Melati, kamu juga menyukai Aurora. Bagaimana mungkin kamu bilang kamu tak menyukai anak anak ... ? “                   Lucas terdiam, kata kata Rachel membungkamnya dengan kebenaran.                   “Kalau begitu aku takan meminta cerai, asalkan jangan lakukan operasi itu dan menikahlah dengan perempuan lain ... “                 “Aku bisa berjanji satu hal, dengan tidak melakukan operasi itu. Tapi tidak dengan menikahi wanita lain. Dan itu kesepakatan final, tak ada yang perlu di bantah lagi ...”   *** 000 ***                   Dua hari dan Rachel tak mengatakan sepatah katapun pada Lucas. ia memilih menghindari Lucas dan berpura pura sibuk. Lucas tak jadi melakukan operasi. Rachel terus menanyakan kemana ia pergi pada Shawn. Khawatir kalau Lucas pergi ke rumah sakit diam diam. Nyatanya, ia sedang sibuk dengan urusan Norwest Corporatin yang  tiba tiba di serang oleh seseorang. Dengan dalang yang masih sama.                 Rachel menatap punggung Lucas diam diam.                   “Kalau kamu ingin tau kemana aku pergi, tanyakan langsung padaku. Jangan pada Shawn .. “, ujar Lucas sembari berbalik dan mendekati Rachel.                   “Aku tak mau berdebat denganmu lama lama, aku tak kuat. Aku tak mau mencimmu saja saat melihat bibir manyunmu .. “, Lucas semakin mendekati Rachel. Justru Rachel menjauhi Lucas pelan pelan. Memundurkan langkah dengan teratur.                   “Kamu tidak rindu tidur seranjang denganku .... ? Kamu tega mengunci pintu dan membiarkanku tidur di sofa selama tiga hari ... “ ucap Lucas dengan terus memojokan Rachel.                   “Aku tak sengaja mengunci pintu .. “ sanggah Rachel dengan terbata bata.                   “Kalau begitu, jangan kunci kamar malam ini ... “                 Bibir Lucas mendarat pada bibir Rachel. Tanpa perlawanan, Rachel hanya terdiam dan menerima cumbuan Lucas padanya.                   “Aku merindukanmu, ingin menciummu setiap hari ... “  ucap Lucas di sela sela ciumannya. Ia melanjutkan ciumannya itu. Rachel tak menjawab, tapi perempuan itu menutup matanya. Kerinduannya tak di utarakan. Tapi Lucas tau. Mereka sama sama merindu.                   “Jangan marah lagi, selagi aku berangkat kerja. Kita selesaikan masalah kita di ranjang saja.. “ gurauan Lucas itu sukses membuat Rachel memerah. Pipinya panas dengan sendirinya mendengar kata ranjang.                   “Aku bekerja, dan ini jujur. Jangan bertanya lagi pada Shawn diam diam, aku akan menepati janjiku asalkan tak ada lagi kata cerai dari mulutmu ... “                   Lucas mencium lagi Rachel, cukup lama sampai ia lupa. Kalau ia sedang di kejar waktu. Ia langsung beralih dan memandang Rachel.                   “Rinduku pagi ini takan cukup, kita lanjutkan nanti malam ... “                 Lucas langsung pergi dan membiarkan Rachel dengan pipi merahnya. Ia keluar dari apartemen dengan senyum sumringah. Walaupun setibanya di kantor, banya masalah yang harus di hadapi.                   Di sisi lain. Damian berubah menjadi pribadi yang berbeda. Ia seolah tersedot ke pusaran tak berdasar dan menghilangkan sisi Damian yang biasa. Berubah menjadi Damian yang tak bersemangat dan terlihat murung.                 “Kamu baik baik saja ... ? “ tanya Natasya. Sejak tadi ia melihat Damian yang tak fokus. Ia baru sadar belum satu minggu, tapi ia bisa membaca kalau Damian bukan lagi sosok bertahun tahun yang lalu. Ia berubah.                   “Aku baik baik saja, jangan khawatirkan aku. Fokus saja pada pemulihanmu .... “  Natasya menatap Damian lekat lekat, “Apa ada masalah, atau ada pekerjaan yang berat ....? Kalau ia, jangan buang buang waktu untuk merawatku ... “ Natasya mengusir Damian dengan halus.                   “Tidak, tidak juga. Aku hanya sedang kehilangan sesuatu, yang penting. Jadi aku akan berusaha menemukannya ... “                 Empat hari lagi, Nadin akan menikah. Dan Damian tak bisa menghubungi Nadin. Definisi cinta barunya untuk Nadin, tak berarti lagi untuk wanita itu. Ia sudah tak mengharapkan cinta Damian. Ruang di hati Damian semakin melebar, ruang untuk Natasya semakin menyempit. Itu yang Damian rasakan. Tapi tak bisa di utarakan. Apa lagi kepada Natasya.                   “Waktu itu ada yang mencarimu untuk memberikan undangan pernikahan, siapa yang akan menikah memangnya ... ? “                 Natasya tak menerima jawaban dari Damian, laki laki itu hanya terkejut dan membisu.                   “Damian ... ? Siapa yang hendak menikah, kamu di undang, jadi kamu harus datang. Jangan terbebani untuk menjagaku ... “                   “Temanku yang akan menikah .. “ ucap Damian lemah. Ia menatap kondisi Natasya yang masih lemah. Belum melakukan fisioterapi. Tubuh Natasya masih sulit untuk di gerakan. Damian masih dengan sabar merawat Natasya.                   “Kalau kamu sudah punya waktu luang, aku mau mengatakan sesuatu padamu. Jadi kumoho, luangkan waktumu untukku ... “ suara Natasya memohon.                   “Aku punya banyak waktu luang untukmu. Jadi lekaslah sembuh ... “                 Damian berpamitan pergi. Ia kembali ke ruangannya. Tepat di sebelah ruang perawatan Natasya. Pikirannya melambung jauh, mengingat kenangannya bersama Nadin. Damian tanpa sadar, mengintip rasa rindunya pada Nadin. Perempuan itu menghilang. Sengaja menghilang. Laki laki bernama Wisnu itu adalah pengusaha.                   “Pasti kenalan Ayahnya ... “ celetuk Damian. Tangannya meraih ponselnya. Ada foto Nadin yang terpampang sebagai wallpaper ponselnya.                   “Kamu menggunakan wallpaper bunga ini untuk handphonemu ... ? “ tanya Nadin dengan sangsi. Saat menyadari, laki laki tampan super dingin. Malah menggunakan foto bunga untuk ponselnya.                 Damian hanya mengangguk mengiyakan. Kemudian perempuan itu mengambil foto selfie dan mengembalikan ponsel Damian dengan senyum puas.                 “Kuberikan kamu bunga baru ... “ senyuman Nadin membuat Damian merengut. Ia langsung menyadari, ponselnya sudah berganti gambar. Ada wajah Nadin dengan senyuman yang cerah.                   Damian tersenyum tipis, mengingat memorinya dengan Nadin. Matahari, sudah saatnya tenggelam. Senja sudah datang.                   Tiga hari menuju pernikahan Nadin. Damian masih tak melakukan apapun. Hanya mencoba dan terus mencoba menghubungi Nadin. Walaupun hasilnya masih nol besar. Ia mendatangi Nadin di rumahnya. Pembantu mereka, kompak. Nona Nadin pergi. Nona Nadin sedang tidur. Nona Nadin belum pulang. Tiga kali terus datang dengan jawaban berbeda beda.                   “Kamu memikirkan sesuatu ... ? “  Natasya semakin tak habis pikir dengan tingkah laku Damian. Berubah.                   “Kamu mau makan apa .. ? “ tanya Damian, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.                   “Kamu tidak perlu menjagaku sesering ini, ini rumah sakit. Banyak dokter yang akan merawatku ... “                   “Aku juga dokter, bukan bagian kebersihan ... “ canda Damian sembari mengulurkan semangkok bubur.                   “Buka mulutmu ... “ ucap Damian. Tangannya sudah melayangkan sesendok bubur ke mulut Natasya.                   “Makanlah yang banyak, setelah seminggu berlalu. Mulai besok, kamu sudah bisa makan nasi, roti, atau kalau perlu tulang iga ... “ Damian berseru dengan tawa meledak. Membayangkan Natasya sedang mengigit iga sapi.                   “Aku berikan kamu sehari, untuk beritirahat. Besok, biarkan aku sendirian. Kamu bersenang senanglah. Lakukan sesuatu yang ingin kamu lakukan. Lusa, aku ingin membicarakan sesuatu padamu ... “                   Pembicaraan yang Natasya katakan kemarin. Sepertinya, adalah hal yang serius. Damian membatin, “ Baiklah, besok kamu istirahat dan aku akan berlibur ... “                 Tangan Damian terulur kembali. Sesendok bubur sukses meluncur ke mulut Natasya.   *** 000 ***                   “Tiga hari lagi, Nadin menikah bukan .. ? “ celetuk Rachel pada Lucas yang sedang menyandarkan kepala pada pahanya.                   “Iya .. “ jawab Lucas dengan santai dan cenderung tidak peduli.                 “Apa kabar dengan Damian ... ? “ diam diam Rachel penasaran. Ia ingin tau kabar Damian, kondisi Natasya. Terakhir bertemu laki laki itu adalah hari dimana Angela terdepak keluar.                 “Hanya ada dua kemungkinan, dia baik baik saja. Atau dia sakit hati tiada duanya ... “ jawab Lucas dengan penuh kepastian. Damian sahabatnya. Ia tau persis akan seperti apa Damian tanpa Nadin.                   “Lucas, kamu ingat .. ? Kamu mau mengatakan sesuatau padaku waktu itu ...“   “Sesuatu apa ... ? “ Lucas bangkit dari tidurnya. Bangun dan menatap Rachel.                   “Yang kamu katakan penting waktu itu, kamu lupa ... ? Saat di gereja ... “                   “Iya lupa...” jawab Lucas dengan polos. Mereka sudah tak bertengkar lagi. Lucas tak melakukan operasi. Tak juga mencari istri. Kejujuran adalah landasan utama sebuah hubungan. Lucas mengatakan semua tentang kondisi Rachel. Perempuan itu syok, tapi dia bukan orang yang tak menerima kenyataan. Wanita sabar. Wanita tegar. Wanita seperti itu sudah terlalu sempurna. Masa bodoh dengan mereka yang menganggap kalau tak punya anak berarti tak sempurna sebagai wanita. Rachel malaikat. Bukan lagi manusia.                 “Kita ke pernikahan Nadin, Damian mungkin datang mungkin juga tidak. Dia sulit di hubungi akhir akhir ini ... “ ungkap Lucas pada Rachel.                   “Kamu yang sibuk akhir akhir ini, bukan Damian .... “                 Lucas tersenyum janggal, keadaan Norwest saat ini memang tak baik. Ada banyak sekali saingan bisnis, lawan bisnis yang menyerang secara diam diam. Dan Lucas kewalahan megnatasinya. Belum lagi masalah di Bali yang bertambah runyam. Hotelnya di bakar. Entah siapa pelakunya. Shawn masih menyelidikinya diam diam. Ada orang dalam yang terlibat seperti Philip.                 “Aku akan berlibur akhir akhir ini, jadi tenanglah ... “                 *** 000 ***                 Damian menatap undangan Nadin di tangannya, hari ini hari pernikahan mereka. Dan ia tak bisa menghubungi Nadin sejak seminggu yang lalu. Batinnya ragu untuk mendatangi Nadin di hari pernikahan perempuan itu.                   “Aku terlambat .. “ gumam Damian. Pagi ini, ia harus memeriksa keadaan Natasya. Tiba tiba kondisinya memburuk dua hari yang lalu saat Damian sedang mencari celah untuk menemui Nadin.                   “Kamu baik baik saja ... ? “ tanya Damian dengan riang saat masuk ke ruangan Natasya. Perempuan itu mencoba bangkit dengan menyandarkan bahunya ke dinding.                   “Damian, aku ingin bicara .. “ ucap Natasya dengan suara yang rendah dan ragu ragu.                   “Kita periksa kondisimu dulu ... “ tangan Damian dengan cekatan memeriksa semua anggota tubuh Natasya, menilik progres pengobatan fisioterapi yang di lakukan Natasya.                 “Kamu sudah bisa menggerakan jari jari kakimu ..? Coba gerakan .. “ ucap Damian memerintah. Kaki Natasya sedikit sulit untuk di gerakan saat melakukan fisioterapi. Tapi Natasya mencoba melakukan terapi sebaik mungkin.                   “Kalau masih belum bisa, jangan memaksa, “ tutur Damian saat melihat Natasya meringis kesakitan walau hanya menggerakan jari kakinya. Ia kemudian menuliskan sesuatu di catatan pasien.                   “Damian, hentikan. Aku ingin berbicara ... “ Natasya mencegah tangan Damian. Membuat laki laki itu berhenti untuk memeriksanya.   “ Aku ingin bicara, aku serius .. “ ucap Natasya dengan ekpresi yang tak bisa di baca. Dia seolah ingin menjelaskan tentang banyak hal.                 “Jadi, apa .. “ ucap Damian dengan penuh kesabaran. Ia mendekatkan posisi duduknya, agar Natasya merasa di dengar. Jauh di dalam sana, pikirannya melayang memikirkan Nadin dengan gaun pengantin di atas altar. Hatinya merasakan rasa sakit yang tak terbayangkan sebelumnya. Begitu sakit, saat kamu menyadari, kamu telah kehilangan orang yang kamu cintai.                   “Aku minta maaf .. “ ucap Natasya dengan tangisan yang menyeruak. Entah kenapa, perempuan itu tiba tiba menangis tak terbendung.                   “Kamu kenapa .. ? Apa yang harus di maafkan, kamu tidak berbuat salah apapun .. “ ucap Damian menjadi panik. Kondisi psikologi orang orang yang terbangun dari koma memang kadang tak bisa di tebak.                   “Jangan meminta maaf untuk sesuatu yang membuatmu sedih ... “ Damian berusaha mengusap air mata Natasya. Tapi perempuan itu tetap menangis.                   “Aku koma bertahun tahun, tapi aku bisa mendengar semuanya. Aku tau, kamu terdengar berbicara dengan perempuan lain dan tertawa dengannya .. “ ucapan Natasya seperi sembilu yang menyekat rongga pernafasannya. Ia begitu terkejut. Orang yang koma memang tak punya kendali akan kesadaran mereka. Tapi otak mereka tetap bekerja, itulah alasan kenapa Damian selalu mengajak Natasya berbicara walaupun matanya tertutup.                   “Aku minta maaf .. “ Damian meminta maaf dengan menundukan kepalanya. Perempuan yang di maksud Natasya bukan lain, pasati Nadin.                 “Aku yang harusnya minta maaf, aku membelenggumu tetap di sisiku. Kamu berhak mencari kebahagiaanmu sendiri Damian.... “ ucap Natasya dengan suara tersengal.                   “Yang aku kandung itu bukan anakmu .. “ ucap Natasya dengan pelan, membuat Damian tak bisa berbicara. Membisu, tak tau apa yang harus di lakukan.                   “Pergi dan temui perempuan itu .. “ perintah Natasya dengan cepat. Tatapannya mencoba meyakinkan Damian.                   “Jangan pernah memikirkanku, pikirkan kebahagiaanmu sendiri Damian. Jangan sampai kamu terlambat menghentikan pernikahannya .. “ucap Natasya dengan tangis yang mulai mereda. Ia melihat tatapan membelalak Damian.                   “Natasya, kamu tau apa yang sedang kamu bicarakan padaku bukan .. ? Jangan berbohong ... “                   “Jangan sakiti dirimu sendiri, karena kamu mencintaiku. Kamu jatuh cinta dengan Nadin .. “ nama yang di ucapkan Natasya itu kembali membuat jantung Damian tercekat.                 “Kamu jauh lebih mencintainya ketimbang diriku, jangan buat dirimu menyesal Damian  ... “                 “Anak itu bukanlah anakmu, selama ini kamu mencintai orang yang salah. Aku berkhianat, dan jangan memilih untuk tetap di sisiku ... “      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN