bc

The Deepest Secrets of Crystal

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
time-travel
mystery
bold
city
like
intro-logo
Uraian

Kristal Calysta berusia 27 tahun adalah isteri Reyhan dan dikaruniai seorang putera bernama Darrius berumur 14 tahun. Kristal terobsesi menjadi seorang penulis novel best seller, sampai harus mengorbankan keluarganya. Sampai akhirnya sebuah tragedi besar mengubah jalan hidupnya.Sebuah kejadian yang mengubah alur cerita hidup Kristal dan terlebih mengubah penilaian Rey terhadap istrinya.Kristal di dakwa sebagai dalang atas tragedi pembunuhan terhadap Gatot Purba. Yang tidak lain adalah tokoh utama dalam cerita terahkir yang tengah dibuatnya.Tidak terima Rey atas dakwaan yang tak berdasar itu, dia lantas mencari tahu semua kebenaran yang diyakininyaTetapi hasil berkata lain, sebuah penemuan yang selama ini merubah keyakinannya terhadap istrinya. Seseorang pendamping hidup yang sangat dikenalinya menyimpan sebuah misteri besar. Adanya temuan ini segera dibawa ke pengadilan sebagai alat bukti melepaskan istrinya. Tetapi mampukah Rey menyelamatkan Kristal atas dakwaan pembunuhan berencana? Dan masihkah Rey tetap setia mencintai Kristal?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bagian 1
Aroma badan dari lelaki gemuk yang bersamaku tadi di lift, sungguh seperti sepotong keju yang didiamkan bertahun-tahun. Bau tengik itu sangat mengganggu, bahkan langkahku sempat terhenti untuk mendenguskan nafas beberapa kali. "Abadi Pustaka," rangkaian huruf aklirik yang tertanam di tembok gypsum akan mudah terbaca ketika sampai di depan meja resepsionis. Sebelum aku mulai menyapa, perempuan muda dengan gincu tebal merah menyala itu, lebih dulu menyambutku dengan senyuman yang ramah. "Selamat pagi, ibu cantik! Wah, liontin kristalnya bagus banget! Oh aku tahu, pasti ingin bertemu Pak Ben kan?" "Terimakasih pujiannya! Ya, biar saya langsung ke ruangannya saja," seingatku, lebih dari setahun aku tak pernah berkunjung kemari. Tapi tetap saja dia masih mengenaliku. "Tunggu Bu! Pak Ben sedang ada pertemuan penting. Itu loh bu.. Ketemu penulis baru yang belum aja sebulan bukunya terbit, sudah laris manis. Haduh, siapa nama penulisnya itu yah, lupa lagi saya!" aku menyelak perkataannya, "Oh, Pak Ben sedang ada tamu? Kalau begitu sebaiknya saya tunggu." "Mari saya hantar ke ruang tunggu..," tak lama kami sampai di ruang itu, "Sebentar, saya nyalakan lampunya dulu. Silahkan! Sementara menunggu, saya akan kasih tahu kalau ibu sudah datang." resepsionis bergegas pergi dari hadapanku. Tak butuh waktu lama, aku langsung merutuki penulis baru yang berhasil membuat gempar itu, "Tidak mungkin! Belum ada sebulan terbit, novel itu jadi nomor satu pilihan pembaca? How can all happen very quickly! Tentu, semua itu hanya strategi untuk menaikkan nilai penjualan. Mereka membuat isu besar-besaran, seakan semua orang menyukai buku itu. Tenang, cerita kamu kali ini pasti lebih bagus dari itu!" Belum lagi sempat aku meluapkan segenap emosiku, Beni Gusnandar atau biasa di singkat Pak Ben datang dan menegurku, tanpa disadari kedatangannya. Lelaki brewokan, bertubuh jangkung, berusia lebih dari empat puluh tahun itu merupakan kunci utama diterima atau ditolaknya semua naskah sebelum naik cetak. "Kristal!! Saya kira kamu sudah kembali ke keluarga kamu!" serunya menggelegar. "Tadinya saya sempat berpikir seperti itu. But here I am!" kami saling melepas peluk pertemuan. "What can I do for you?" "Sesuai atas email kemarin, semuanya sudah selesai saya revisi. Sekarang murni plot percintaan tanpa ada perselingkuhan dan adegan pembunuhan," lantas aku sodorkan flashdisk yang berisi revisi ceritaku itu. "Baiklah. Saya terima dan di pelajari dulu," Pak Ben terdiam sejenak, menghela nafas lalu cepat menyambung perkataannya, "Begini, kemarin saya rapat dengan para direksi. Hasilnya memutuskan dalam beberapa bulan ke depan akan menghentikan penerbitan novel cerita. Saya rasa itu adalah sesuatu hal yang wajar. Apalagi hasil penjualan kita yang selalu kalah bersaing dengan penerbit lain. Sory to say, but dont worried. Saya punya pekerjaan khusus untuk kamu. Itu juga kalau kamu gak keberatan," tuturnya ringan, sambil menyisir janggutnya yang lebat lewat jemari tangannya. Aku membalasnya dengan bersedekap, menunjukkan betapa kokoh pendirianku. Lantas mempertegas perkataanku, "Pak Ben, saya garansi kalau cerita itu bisa meningkatkan penjualan!" "Semua keputusan ada di tangan para direksi. Saya tidak bisa menahan kemauan mereka hanya karena membantu menerbitkan cerita kamu itu!" "Mereka juga tidak bisa seenaknya mengembalikan berpuluh bahkan beratus naskah yang sudah masuk! Jadi saya yakin, Pak Ben bahkan para direksi pasti setuju kembali menerbitkan novel! Lagi pula, bukannya saat ini mereka sedang untung besar dari penulis baru itu?" "Come one! Mengerti situasi yang sedang saya hadapi. Lupakan semua perkara penulisan novel. You must think out of the box! Anggap saja sementara waktu kamu sedang berlibur dari rutinitas." "Bukannya, kemarin di email Pak Ben bilang, kalau tertarik untuk menerbitkan cerita yang sedang saya buat, tetapi saya harus melakukan sedikit revisi. Sekarang kemana perginya semua itu? Saya mengorbankan keluarga bukan untuk kegagalan!" nada bicaraku makin meninggi. "Kristal! Saya tidak pernah meminta kamu berhenti menulis. Saya hanya ingin menawarkan kesempatan ini untuk kamu. Tetapi kalau kamu merasa keberatan, lebih baik saya berikan ke penulis lain. Ayolah, coba ikuti dulu apa yang saya minta. Setelah semuanya selesai dengan baik, saya usahakan menerbitkan novel kamu itu," tutur Pak Ben dengan mengangkat penuh alisnya, serasa memojokkanku agar mau menerima tawarannya. "Mengikuti perintahnya sama dengan melemahkan posisiku. Di kemudian hari, akan lebih mudah dia tak perduli dengan semua tulisanku. Kalau menolak tawarannya, belum tentu aku akan bertemu lagi dengan seorang manajer editor seperti Pak Ben," uraiku bertimbang dalam hati. "Kristal, are you there?" buku jarinya mengipas di wajah, menyadarkanku. "Fine, saya terima tawaran itu. But promise, setelah semua selesai dengan baik, cerita itu akan segera diterbitkan?" giliran Pak Ben yang termangu sejenak. "Agree! Tetapi dengan syarat harus melalui prosedur seperti biasanya. So, tolong simak baik-baik penjelasan dari saya. Pada waktu saya rapat direksi, mereka mengenalkan dengan seseorang yang bernama Gatot Purba. Umurnya sekitar enam puluh tahun. Kita tahu hampir seluruh lapisan masyarakat tahu sosok Gatot Purba, bahkan mengidolakannya. Masa kamu tidak kenal dengan dia?" "Langsung, to the point saja, Pak Ben!" "Singkat cerita, sekarang dia sedang terlibat dalam bursa PILKADA di tanah kelahirannya. Lalu beliau meminta kami membuat sebuah biografi singkat perjalanan hidupnya. Setelah saya berpikir keras, siapa penulis yang berkompeten melaksanakan tugas ini, jatuhlah keputusan saya ke kamu. Saya tahu tulisan yang kamu buat selalu detil dengan alur cerita yang terstruktur jelas." "Excuse me, tadi Pak Ben bicara mengenai PILKADA di tanah kelahirannya? Loh, Pak Ben kan tahu sendiri, saya sangat lemah dalam penguasaan bahasa daerah. Apa mungkin saya bisa menyelesaikan tugas itu?" "Itu sudah saya pikirkan baik-baik. Saya juga sudah jelaskan kendala apa saja yang nanti mungkin terjadi. Beliau akhirnya menyampaikan bahwa semua tetap di tulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Satu hal yang tak kalah penting, penulisan itu harus selesai dalam kurun waktu tiga bulan. Setelah itu kita akan terbitkan di bulan ke-empat. Jadi kamu harus segera kirimkan draft kasar ke saya di bulan ke-dua. Dan untuk semua data penunjang yang kamu butuhkan, saya selalu siap sedia membantu kamu dua puluh empat jam. Tenang saja, tulisan itu tidak akan lebih dari seratus halaman tebalnya." "Oke! Saya akan selesaikan kurang dari tiga bulan," Pak Ben mengangguk setuju seraya membuka sebuah map yang dibawanya sedari tadi. "Nah, ini kontrak kerjasama penulis yang sudah saya siapkan. Silahkan kamu baca dulu kemudian tanda tangani." "Apa ini bisa saya minta juga?" "Offcourse! Disana ada dua rangkap yang harus kamu tanda-tangani. Satu untuk saya, dan satu lagi untuk kamu." Sekelibat aku baca isi yang tertuang di halaman perjanjian tersebut, "Finish! ini semua sudah saya tanda tangan." "Jangan khawatir, saya selalu standby membantu. saya sudah atur jadwal pertemuan, sekitar jam tiga sore kamu bisa bertemu dengannya. Tempat dan kepastian waktunya, silahkan hubungi langsung orang yang bersangkutan," Pak Ben mengambil sebuah kartu nama untuk diserahkan padaku, "Ini saya berikan kamu kartu namanya. Saya rasa semua sudah sangat jelas. Jika tidak ada lagi yang perlu kita bahas, saya harus segera kembali bekerja." "Besok? Jam tiga sore?" "Yes, Dont forget!" Aku dan Pak Ben sama-sama bangkit dari duduk, "Ah, hampir saja saya lupa. Boleh saya betulkan letak arloji di tanganmu? Bagaimana bisa kamu memakainya terbalik seperti itu," dengan cepat diraihnya pergelangan tanganku, dan merubah posisi yang semula berlawanan arah dengan sudut pandang. Tuntas mengerjakan dia segera pergi keluar ruangan. "Oh my God, kenapa hal sekecil ini sampai bisa terjadi?" kataku dalam hati, "Hari ini sungguh hari yang luar biasa menjengkelkan! Setelah sekian lama menulis, hanya dalam hitungan menit sudah tak lagi berarti apa-apa." Sebenarnya bukan menulis yang membuatku kesal, tetapi harus mengejar narasumber itulah yang ingin aku hindari.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.8K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
5.9K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.1K
bc

Menyala Istri Sah!

read
1.6K
bc

Pengacara Itu Mantan Suamiku

read
9.1K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.7K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook