Hati Jian seperti diremas, jantungnya bahkan berdebar kencang. Sama seperti perasaan ketika ia akan di tebas perampok tadi malam.
Namun dengan tenang, Jian mencoba menormalkan reaksinya. Kini ia malah tersenyum sangat lebar, walau Hyun-jae masih setia menatapnya datar.
"Hai Hyun-jae, Oh my good.. Oh my good! Apakah kamu yang membantuku tadi malam? Astaga aku sangat... sangat berterimakasih padamu." Ungkap Jian dengan menggebu-gebu.
"Masuk ke dalam!"
Bukannya menjawab perkataan Jian, Hyun-jae malah menunjuk pintu masuk dengan dagunya.
Jian tentu saja kaget, tidak mudah baginya untuk bisa ke luar kediaman Hyun-jae. Masa sekarang ia harus masuk lagi?
Jian menggeleng tidak mau. "Begini saja, kita jadi teman saja sekarang. Okey? Lalu untuk balas budi, aku akan membawa Ayahku yang kaya raya ke sini. Terserah kamu mau apa, mintalah apapun padanya."
"Baiklah, sekarang biarkan aku pulang dulu... bye Hyun-jae terimakasih atas bantuanmu!" Jian berbalik, kembali melangkah untuk kabur.
"Ayo Jian, larilah pulang! Lalu hidup nyaman! Ayo Jian!" gumamnya dalam hati.
"Tapi kenapa aku seperti tetap di tempat?!" batin Jian bingung, saat menyadari dirinya tidak berpindah tempat sedikitpun. Kepalanya kembali menoleh ke belakang.
"Ehh." Ternyata Hyun-jae memegang kerah pakaiannya. Bibirnya tersenyum miring. Membuat Jian yang melihatnya kesal sendiri.
"Akhhh aku tidak kabur, aku janji. Tolong biarkan aku pulang..." Rengek Jian begitu dramatis.
Hyun-jae melepaskan tangannya dari kerah baju Jian, lalu memasukannya ke dalam saku celana.
"Tidak akan."
Perkataan itu tentu saja membuat wajah Jian memerah menahan marah. Namun tak urung, ia juga takut sendiri, saat Hyun-jae balik menatapnya dingin.
Aura psikopat, memang tidak perlu diragukan lagi.
Jian menghela napas, mungkin jika ia sedang tidak lemah, akan ia pukul wajah Hyun-jae yang kelewat jahat itu.
"Kamu sendiri yang harus membalas budi padaku." Ujar Hyun-jae datar, bahkan tanpa ekspresi.
"Pangeran Hyun-jae yang terhormat, aku akan menunaikan kewajibanku untuk membalas budi. Namun biarkan aku pulang dulu, aku tidak akan kabur, tenang saja calm down." Jian mencoba meyakinkan mahluk di hadapannya.
"Masuklah, aku tidak suka dibantah." titah Hyun-jae penuh penekanan.
"Tidak mau, aku harus pulang!" jawab Jian ngotot.
"Masuk!"
"Tidak."
"Masuk."
"Tidak akan!"
"Baiklah jika itu mau kamu." Hyun-jae dengan tiba-tiba mengangkat tubuh Jian di pundaknya layaknya karung beras.
"Heiii." Jian kaget.
"Akhh turunkan aku! Aku tidak mau masuk!" Teriak Jian susah payah, sembari memukul-mukul punggung Hyun-jae. Tapi bagi Hyun-jae itu hanya sebuah cubitan kecil.
Hyun-jae dengan santainya membawa Jian menuju kamar yang di tempatinya tadi. Kedua pelayan yang berada di depan pintu kamar Jian, menunduk takut.
"Hyun-jae kampret! Cepat turunkan aku!"
Brugh!
"Akhh...astaga.. apa yang kamu lakukan? kenapa kamu melemparku tiba-tiba?! Gara-gara kamu kakiku jadi tambah sakit, sialan!" Omel Jian, mengelus kakinya yang terkilir menjadi tambah bengkak.
Dirinya ingin menangis, namun karena gengsi ada Hyun-jae, akhirnya ia coba menahannya.
"Kalau aku tidak bisa jalan lagi bagaimana? Kalau kakiku diamputasi, memangnya kamu mau tanggung jawab?!" Hyun-jae berdiri, mengamati kaki Jian, entah apa yang tengah dipikirkannya.
"Kamu mungkin tidak akan mendapat jodoh setelah kakimu di amputasi." Ujar Hyun-jae, tanpa memikirkan perasaan Jian, yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Huah .... jahat sekali mulutmu itu! Aku mau pulang. Biarkan aku pergi dari sini! Aku tidak mau tinggal bersama iblis sepertimu! Hiks ... Ayah ..."
Mendengar tangisan dan teriakan Jian membuat Hyun-jae mengusap wajahnya lelah.
Pria itu ikut duduk di ranjang, lalu meraih kaki Jian dengan paksa.
Jian melotot sempurna, ia berusaha melepaskan kakinya dari tangan Hyun-jae.
"Kamu gila! Jangan Hyun-jae... aku mohon, aku belum siap di amputasi. Tolong ampuni aku Hyun-jae, tadi hanya becanda. Ya Tuhan tolong keluarkan iblis yang merasuki jiwa orang ini, aku mohon!" Hyun-jae diam saja, tidak menghiraukan teriakan Jian.
Lalu..
Krek!!
"Hyun-jaeeee!!!"
"Kampret!!"
**
**
Seluruh Kerajaan Timur sedang dibuat heboh dengan hilangnya Putri Ji-an anak dari penasehat kerajaan. Bahkan kabarnya sudah menjadi buah bibir di masyarakat.
Namun tidak ada yang mengetahui kemana hilangnya Putri jahat dari anak penasehat kerajaan itu.
Pengawal kerajaan dan kesatria, juga ikut serta mencari keberadaan Yeon Ji-an. Walau dari beberapa di antara mereka, ada yang bersyukur kalau Putri Ji-an menghilang.
Soo-young juga harus dikurung di penjara, karena kelalaiannya dalam menjaga Ji-an.
Ia pasrah, bahkan dirinya sudah menangis sepanjang malam. Mengingat dirinya selalu di samping Ji-an selama ini.
Soo-young bahkan siap di hukum mati, jika Ji-an belum juga ditemukan. Karena semua ini memang kesalahannya.
Go-jun sendiri ikut mencari keberadaan Ji-an di wilayah perbatasan. Ia berusaha mencari keberadaan Ji-an dimanapun. Dan berharap Ji-an ditemukan dalam keadaan selamat.
"Tuan, saya menemukan robekan hanbok di pohon itu." Lapor seorang pengawal, yang tiba-tiba datang ke hadapan Go-jun.
Go-jun tercengang, jangan-jangan putrinya masuk ke dalam hutan. Perasaannya menjadi semakin tidak enak.
"Perintahkan untuk mencari ke hutan!" Pengawal itu mengangguk, lalu seluruh pengawal langsung bergegas masuk ke dalam hutan perbatasan.
"Semoga Putriku tetap baik-baik saja." Go-jun menatap robekan pakaian putrinya yang ada di genggamannya.
Penduduk desa perbatasan juga ikut mencari keberadaan Ji-an. Mereka pun masih terkejut saat mengetahui jika gadis yang kemarin meminta maaf, menghilang dalam semalam.
"Aku yakin Nona Ji-an pasti bisa ditemukan." Ucap gadis desa, yang kemarin bersama Jian.
"Kenapa bisa Nona Ji-an menghilang? Aku jadi sedih."
"Katanya dia hilang di hutan, aku sedikit tidak yakin. Mengingat di hutan itu banyak perampok jahat yang berkeliaran." Sahut wanita lainnya, membuat teman-temannya kesal.
"Kalau kamu mengatakan sesuatu lagi, akan aku patahkan lehermu!" Omel wanita lainnya, wanita tadi hanya memutar bola matanya.
Setelah hampir dua jam pencarian di hutan, dan titik terang mulai muncul. Seorang pengawal menemukan seorang pria yang mati ditebas di samping pohon besar, dan ada juga satu sandal Jian yang berada tepat di bawah pohon.
"Aku yakin Nona Ji-an masih hidup."
**
**
Di malam hari, Jian duduk di kursi depan jendela kamarnya. Yang langsung berhadapan dengan taman kediaman Hyun-jae.
Perasaannya sangat dongkol, karena tidak tahu harus melakukan apa. Pintu kamarnya juga di kunci dari luar oleh Hyun-jae.
Kakinya yang bengkak, sudah sedikit membaik, setelah di kretek abal-abal oleh Hyun-jae walau dengan paksaan dan bisa dibilang sangat kasar.
Jian menatap ke langit malam yang bertaburan bintang. Ia jadi merindukan keluarganya di dunia nyata.
Apalagi ibunya yang pasti sangat kesepian, karena hanya Jian anak satu-satunya yang ibunya miliki.
"Apa aku sudah mati di kehidupan nyata?" gumam Jian sedih.
"Lalu apakah Yeon Ji-an yang sebenarnya juga sudah mati?" Jian melipat tangannya di depan d**a. Kembali merenung, memikirkan nasibnya kedepan.
"Ehh, apakah Papi Go-jun juga sedang mencariku?"
*********
*********