Saat tengah malam Jian terbangun dari tidurnya. Ia merasakan gerah yang luar biasa di kamarnya, jadi ia memutuskan untuk sedikit membuka jendela kamar, agar angin bisa masuk.
Namun saat ia berdiri di ambang jendela, ia melihat seorang anak kecil yang sedang melambai ke arahnya.
"Anak siapa itu?" Gumam Jian Jiann, anak kecil itu tampak lucu khas anak-anak Korea yang berpipi chabie.
Jian yang penasaran melompat dari jendela dan mengikuti ke mana anak itu pergi.
Ia sudah hampir meraih tubuh kecil itu, namun anak itu berlari semakin kencang.
Jian tidak tinggal diam, ia juga ikut berlari mengejar anak itu dengan sekuat tenaga. Sampai dirinya tidak menyadari bahwa ia sudah memasuki lebatnya hutan.
Anak itu kini sudah berada di hadapan Jian namun bukan anak itu yang ia pikirkan kali ini.
Karena yang pasti Jian telah melangkah terlalu jauh. Dan dia sekarang tersesat di tengah hutan.
"Aku benar-benar tersesat?!"
"Ya Tuhan.... kesialan apa lagi ini?!" Teriak Jian frustasi, menoleh kesana kemari berusaha mencari jalan keluar.
"Ah mungkin kesana, iya pasti kesana!" Jian melangkahkan kakinya ke arah yang di tunjuknya.
Berharap memang benar itu jalan keluarnya.
"Kenapa pohon ini lagi?" Kesalnya saat tahu bahwa dia hanya berputar-putar saja.
Namun dirinya tidak menyerah, ia kembali melangkah ke arah lain mengikuti insting.
Namun, semakin jauh ia melangkah, ia merasa bahwa dirinya terus memasuki hutan lebih dalam lagi.
Bahkan cahaya rembulan tak mampu menembus tempat itu, karena tertutup pohon-pohon besar.
"Celaka, aku bisa mati dua kali kalau seperti ini!" Gerutu Jian takut, ia masih terus berjalan dan berharap bisa menemukan jalan pintas.
Hingga tak berselang lama, ia dihadang oleh seseorang.
"Siapa kamu?" tanya Jian ketakutan.
Jian memutar langkah kakinya menghindari orang itu walau tubuhnya sudah gemetar ketakutan.
Ia memeluk dirinya sendiri untuk menepis udara dingin yang terasa menusuk kulit.
Pakaiannya bahkan sudah compang-camping akibat beberapa kali tersangkut dahan dan semak berduri.
"Aku harus selamat!" ucapnya mantap dan mulai berlari cepat mencari jalan keluar dari hutan.
Suara langkah kaki yang mengikuti seolah berada di belakangnya. Namun saat ia menoleh ke belakang, ia tak mendapati siapapun.
Wanita itu semakin mempercepat langkah, jantungnya berdetak lebih kencang karena takut akan bahaya yang mungkin sedang mengintainya.
Jian menghentikan langkahnya sejenak, berusaha memindai sekeliling. Namun sayangnya ia tak bisa melihat apapun.
"Berhenti di sana!" suara bariton terdengar dari arah semak-semak.
"Mampus aku... Mampus aku... bagaimana ini?" batin Jian takut.
Terlihat sesuatu yang bergerak di semak-semak dan perlahan mendekat.
Jian melangkah mundur ketakutan, berusaha tidak membuat suara sedikitpun.
SRAK
"Halo Nona Cantik!" seorang pria muncul dari semak sembari menyeringai.
"Aaaaa!!" teriak Jian kaget.
"Bye dunia film, akhirnya aku akan mati lagi." batinnya.
Tepat di hadapannya berdiri seorang pria tinggi besar dengan sebilah pedang yang sudah siap menebas kepalanya.
Jian hanya bisa pasrah karena kakinya sudah terlalu letih untuk kembali melarikan diri.
Ia memejamkan matanya. Malaikat mungkin sudah siap mengirimnya ke surga kali ini, tanpa harus terjebak di dalam dunia film, seperti sekarang.
Kaki pria itu perlahan mendekatinya, membuat Jian semakin merasa takut.
"Mungkinkan jika aku berteriak akan ada seseorang yang menolongku?" batinnya mencari secercah harapan.
"Tolong!"
"Siapapun tolong aku sekarang!" teriak Jian berapi-api. Kakinya berusaha ia gerakan untuk melangkah mundur.
Pria di hadapannya justru semakin mendekatinya, mungkin berjarak sekitar satu meter di hadapannya.
Melihat ujung pedangnya saja, Jian sudah meringis ngeri.
Pria itu seolah sengaja mempermainkannya karena senang melihatnya ketakutan.
"Tuan, aku mohon jangan bunuh aku. Kamu boleh mengambil semua hartaku, tapi tolong jangan bunuh aku." Jian mengatupkan kedua tangannya memohon.
"Tolong!" Jian kembali berteriak, namun suaranya seolah kembali lagi ke tempatnya berdiri.
Kedua matanya melebar, melihat pria itu sudah meletakkan ujung pedang di lehernya.
Jian menutup matanya menggunakan kedua tangan. Tubuhnya bergetar ketakutan.
Crash!!
"Aaaaa!!"
Brugh!!!
Jian terdiam selama beberapa detik, dengan perlahan ia mulai membuka matanya.
Ia mundur kebelakang, karena di hadapannya terlihat kepala pria tadi yang sudah terlepas dari tubuhnya.
Bajunya bahkan berlumur cairan merah, akibat kecipratan darah pria itu.
Jian mendongak perlahan, ia melihat seorang pria tinggi menjulang sedang memasukan pedangnya ke dalam sarung.
Jian yang memang sudah merasa lelah sekaligus kaget seketika tak sadarkan diri.
**
**
Di pagi yang cerah, Jian terbangun di sebuah ruangan yang terasa asing.
Ia berusaha bangkit dari ranjang, namun tubuhnya terasa sulit di gerakan. Kakinya seolah mati rasa, di tangannya juga terlihat banyak lilitan perban.
Matanya memindai sekeliling, namun ia masih merasa sangat asing. Dan kejadian semalam tiba-tiba berputar dalam ingatannya.
"Apa ini rumah pria yang menolong ku?" batinya, ia menatap seisi kamar yang didominasi warna putih dan kuning keemasan.
"Hallo.. Apa ada orang di sini?!!" teriaknya, namun tidak ada jawaban apapun.
Selama beberapa saat ia hanya terdiam dalam kesunyian dengan perasaan cemas. Bahkan pria yang menolongnya tak kunjung menampakkan diri.
Cklek!
Dua perempuan dengan pakaian pelayan membuka pintu kamar. Mereka berdua tersenyum ramah, lalu berdiri di samping ranjang.
"Salam Nona, kami adalah pelayan anda selama di sini. Apakah Nona memerlukan sesuatu?"
Jian menatap mereka bingung.
"Emmm....di mana ini?" tanya Jian memberanikan diri.
"Izin menjawab Nona, ini di Kerajaan Barat."
Mata Jian seketika terbelalak sempurna. "Apa?!"
"Aku harus segera kabur, kenapa aku bisa di sini? Kamu bodoh sekali Jian! Aku tidak ingin bertemu psikopat itu! Tidak akan pernah!" batinnya cemas.
"Lalu siapa yang membawaku kesini?" Jian kembali bertanya, karena ia benar-benar merasa penasaran.
"Pangeran Hyun-jae Nona."
"Matilah aku!"
"Baiklah. Kalian boleh pergi, jangan lupa tutup pintunya!" titah Jian, kedua pelayan itu mengangguk, lalu keluar dari kamar Jian.
Jian berusaha bangkit dari ranjang, walau kakinya sekarang sangat sulit untuk digerakkan.
Saat ia menyibak selimut, terlihat jelas luka-luka yang membekas akibat duri dan ranting kayu tadi malam.
Jian berdiri dengan perlahan, lalu berusaha menapakan kakinya untuk berjalan.
Percobaan pertama ia sempat terjatuh. Namun saat percobaan kedua, akhirnya ia bisa berdiri. Meskipun sedikit perih, apalagi pergelangan kakinya yang sepertinya keseleo.
"Awwhh, lebih baik aku kabur sekarang. Terlalu lama di Kerajaan ini, bisa-bisa aku dibunuh oleh psikopat itu." Gumamnya, mulai membuka pintu kamar.
Kepalanya menoleh kanan-kiri, namun hanya ada lorong panjang yang membuat Jian kebingungan.
Ia keluar dari kamar dengan perlahan. Lalu berjalan dengan tertatih.
Beruntung kaki yang satunya tidak terlalu terdapat banyak luka.
"Mana pintu keluarnya?" gumam Jian sambil memantau keadaan sekitar.
"Aha!! Pasti itu." Ia berteriak senang, saat melihat sebuah pintu berukuran besar yang sedikit terbuka.
Jian membuka pintunya dengan sekuat tenaga, berusaha untuk keluar.
Gotcha!!
Ia akhirnya bisa keluar dengan selamat. Dirinya menatap hamparan taman yang sangat luas dan terawat dengan baik.
Dari tempatnya berdiri, ia juga bisa melihat bangunan Kerajaan yang sangat besar. Bahkan mungkin lebih besar dari kerajaan Timur.
"Apakah ini Kerajaan Barat itu?" gumamnya takjub.
"Berati rumah besar ini terpisah dengan kerajaan? Tapi kenapa besar sekali?" Pikir Jian, mengingat Kerajaan Barat jaraknya cukup jauh di depan sana. Namun ia masih bisa melihatnya dengan jelas.
Plak!!!
Jian memukul kepalanya gemas. "Astaga, aku harus kabur sekarang! Kenapa aku bisa lupa begini." Jian melanjutkan langkahnya, untuk segera kabur dari Kerajaan Barat.
"Mau kemana kamu?"
Suara dingin yang penuh intimidasi itu, membuat langkah Jian terhenti. Dengan perlahan ia menoleh ke belakang.
Terlihat seorang pria tampan berpakaian kerajaan dengan wajah datarnya, tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
Hawa di sekitar seketika berubah jadi mencengkam.
"Sial aku ketahuan!"
"Si ... siapa kamu?" Jian tergagap, mungkin karena efek rasa terkejutnya.
"Hyun-jae."
Jeder!!!!
***********
***********