"Apa itu tai?"
Jian menghela napas sambil memejamkan matanya. "Kenapa manusia bodoh ini malah bertanya?!" batinnya kesal.
"Tidak, lupakan saja itu." Jawab Jian, lalu pria itu ikut duduk di sampingnya.
"Ngomong-ngomong kamu siapa? Aku baru melihat kamu disini." Tanya Jian, memandang wajah pria di sampingnya yang tengah tersenyum tidak jelas.
"Perkenalkan, aku Kim Ji-sung, adik pemilik rumah ini." Jian balas mengangguk-angguk mengerti.
Ternyata Hyun-jae punya adik.
Ji-sung menatapnya dengan wajah meneliti. "Lalu siapa Nona cantik ini?"
"Ah aku? Aku Ji... Su-tri, gadis yang tersesat di kerajaan ini." Jawab Jian, untung saja ia tidak ke keceplosan menyebutkan nama aslinya.
"Tersesat? Memangnya kamu berasal dari mana?" Tanya Ji-sung lagi, bergeser ke mendekat pada Jian penasaran.
Jian menghembuskan napas kasar. "Aku dari Kerajaan Barat, tentu saja."
Ji-sung manggut-manggut. "Jauh juga, kenapa kamu tidak kembali saja?"
Jian kini menampilkan wajah pura-pura sedih, ia menatap ke arah pepohonan di depan sana. "Hyun-jae menawanku, kamu dengar ini, Kakakmu sangat jahat. Dia tidak segan-segan memerintah aku dengan sesuka hati!"
"Ya dia memang begitu." Timpal Ji-sung mantap.
"Bahkan aku di cambuk oleh dia, lihat kaki dan tanganku biru-biru begini. Itu karena Kakakmu yang b*****t itu, aku tidak mau di sini, aku selalu disiksa olehnya dan jang..."
"Hm, benarkah?" Sontak Ji-sung dan Jian menoleh kebelakang lalu melotot bersamaan.
"Gila mati aku!" Jian membuang wajah ke samping.
"Astaga, apa kabar Kakak?" Ji-sung bangkit dari duduknya bersiap memeluk Hyun-jae.
Brugh!!
"Kakakkk!" teriak Ji-sung kencang.
Karena pria itu baru saja di dorong oleh Hyun-jae, sampai terjerembab di tanah kotor. Membuat wajahnya yang tampan seketika menjadi penuh lumpur.
"Astaga wajahmu, persis seperti kotoran kuda.. buahahaha..." Jian tertawa kencang, Ji-sung menatap Hyun-jae kesal, dan juga malu pada Jian.
Ia langsung lari meninggalkan Hyun-jae dan Jian yang masih tertawa kencang di belakangnya. Yang penting sekarang, Ji-sung harus bersembunyi dari dua mahluk itu.
Jian mengakhiri tawanya, lalu menoleh ke arah Hyun-jae yang sedang menatapnya dingin.
"Ada apa Tuan Hyun-jae? Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya Jian dengan nada mengejek.
"Ikut aku!" titah Hyun-jae.
Jian memutar bola matanya malas.
"Baiklah Tuan pesuruh." Jian mengikuti Hyun-jae dari belakang.
Sedangkan Hyun-jae berjalan dengan langkah cepat di depan.
"Memang tidak berperikemanusiaan! Lihatlah? Apa dia ingin menyiksaku dengan kaki panjangnya itu! Jelmaan iblis!! Akan aku buat kamu menyesal nanti!" gumamnya kesal.
**
**
Go-jun duduk termenung di hutan, lalu memandang ke arah langit biru di atasnya.
Pria itu terlihat sangat kacau, bahkan pengawal yang ikut menyusuri hutan, juga prihatin melihatnya.
Putrinya, Yeon Ji-an belum ditemukan sampai sekarang. Mungkin sudah sekitar lima hari sejak Ji-an menghilang.
Para pengawal pun sudah sangat lelah. Namun, Go-jun tetap kekeuh untuk menemukan Ji-an, dalam keadaan hidup atau mati sekalipun.
Puk!!
Seseorang menepuk bahu Go-jun pelan, ia menoleh. Melihat seorang pria gagah dengan pakaian formal berdiri menjulang di belakangnya.
Air mata Go-jun tiba-tiba luruh, ia langsung berdiri memeluk pria tersebut erat.
"Ayah ... aku kembali." Go-jun melepaskan pelukannya, lalu menghapus air matanya yang tadi sempat mengalir.
"Kenapa kamu baru kembali Jae-min? Ayah sangat merindukanmu." Omel Go-jun dengan wajah kesal.
Jae-min hanya menunduk diam, tiba-tiba merasa kesal pada Ji-an, adiknya yang menyebalkan itu. Karena gara-gara dia, ayahnya sampai terlihat menyedihkan seperti ini.
Apakah ayahnya tidak bisa menghentikan pencarian adiknya yang jahat itu?
Bahkan Jae-min sangat ikhlas jika adiknya tidak bisa ditemukan. Tapi, ayahnya, ia selalu menyayangi adiknya dengan sepenuh hati, membuatnya mau tidak mau harus diam saja selama ini, saat melihat kelakuan Ji-an yang semena-mena pada siapapun.
"Ayah sudahlah, ini sudah lima hari dan dia belum ditemukan juga." Jae-min memegang bahu ayahnya.
Go-jun langsung mundur kebelakang, dia menatap putranya tidak percaya "Apa-apaan kamu Jae-min? Dia adikmu, ingat. Kenapa kamu bisa setega ini?"
Jae-min memejamkan matanya, ia sudah tidak bisa menahan diri kali ini.
"Dia pembuat masalah, biarlah dia menghilang dan tidak usah kembali, aku lelah melihat segala kelakuannya." Ia menghela nafas panjang. "Ayah tolong mengertilah, dia pasti sudah mati"
Bugh!!!
Go-jun dengan tiba-tiba memukul wajah anaknya dengan kuat, membuat Jae-min hampir kehilangan keseimbangan.
Para prajurit di sekeliling mereka pun, seketika diam, pura-pura tak mendengar.
"Ayah kecewa padamu!" amuk Go-jun dengan tatapan menusuk tajam.
"Jangan pernah munculkan wajahmu di depan Ayah sebelum adikmu ditemukan. Jadi pergilah dari sini sekarang juga!" titah Go-jun tegas, membalikan badan dan memejamkan matanya, tidak ingin melihat wajah anak sulungnya itu.
Jae-min mengepalkan tangannya kuat, detik itu juga, ia langsung pergi meninggalkan ayahnya dengan perasaan campur aduk.
Di satu sisi ia sangat menyayangi ayahnya, namun di sisi lain ia sangat membenci adiknya, Ji-an.
**
**
Sial!
Sial!
Sial!
Jian terus mengutuk dirinya sendiri saat tahu apa yang dilakukan Hyun-jae kali ini padanya.
Bisa-bisanya Jian diminta mengipasinya di ruang kerja selama tiga jam lebih. Bahkan Hyun-jae tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Ekhem.. ekhem, ngomong-ngomong kapan ini selesai?" Jian membawa kepalanya ke depan Hyun-jae. Namun Hyun-jae malah asik dengan lembaran kertas di hadapannya.
Jian berdecak, mulai menambah kecepatan tangannya dalam mengipasi Hyun-jae.
Puk!!
Dengan sengaja Jian mengenai pipi kanan pria itu, membuat Hyun-jae berang dan balik menatapnya tajam.
"Kamu." Desis Hyun-jae.
"Kenapa? Ini sudah tiga jam lebih! Tanganku pegal, aku juga lapar. Kamu tidak dengar dari tadi perutku keroncongan!" Jian balas menatapnya kesal.
Hyun-jae meletakan penanya di meja. "Merepotkan, pergilah ke dapur!"
"Apa, merepotkan? Hei.. kamu yang dari tadi menyusahkan aku. Lihatlah di sana ada jendela, tinggal kamu buka dan angin akan masuk. Ya ampun.. dunia ini membuatku pusing saja!" Jian memegang kepalanya.
"Karena itu memang tugasmu sebagai pelayan." Balas Hyun-jae enteng.
"Oke.. Oke.. Hanya sebulan, ingat itu Tuan Hyun-jae yang maha agung." Jian tak mau kalah.
"Tetap saja, kamu pelayanku sekarang, jadi setelah kamu makan. Siapkan pakaian untuk aku berkuda sore ini." Perintah Hyun-jae, membuat Jian dongkol sendiri.
"Huh, apa gunanya pelayan kamu yang lain itu? Apakah mereka hanya pajangan alam semesta?" Jian melipat tangannya di depan d**a.
"Termasuk kamu, bukankah sama saja kamu juga pelayan di kediamanku? Keluarlah, aku sudah tidak tahan mendengar ocehan kamu." Lagi Hyun-jae memerintah, ia kembali membuka lembaran kertas di hadapannya, Jian yang terlampau kesal dan lapar, langsung berdiri dari kursi berniat untuk keluar.
"Hanya sebulan, hanya sebulan, ya hanya sebulan di neraka ini." Gumam Jian, namun masih bisa didengar oleh Hyun-jae, ia menatap Jian sengit, tentu saja dibalas Jian dengan wajah acuh.
"Bye... semoga kita tidak bertemu lagi!" Jian mengibaskan rambut panjangnya ke belakang, lalu keluar dari ruangan dengan langkah cepat.
"Perempuan aneh."
**********
**********