Jian berjalan dengan wajah kesal sedikit tertekan. Walaupun begitu, bibirnya selalu tersenyum saat orang di sampingnya terus menatapnya dengan tatapan maut menjemput. Ya Hyun-jae. "Di mana rumah si Jahe?" tanya Hyun-jae, dengan pandangan lurus ke depan. "Hm, di Koleya." Jawab Jian Hyun-jae mengernyitkan dahi, mendengar nama kota asing tersebut. "Di mana Koleya itu?" Jian memutar bola matanya. "Di jonggol!" "Baiklah, biar asistenku yang mencarinya. Aku akan mengeksekusinya nanti." Ujar Hyun-jae. Jian kembali menghela napas. "Ya ya ya. Cari saja ke manapun, aku tidak peduli. Aku hanya bisa mendoakan semoga kamu menemukannya." Kepala Jian menggeleng-geleng. Lalu mereka berjalan beriringan bersama menuju ke ruang pertemuan. Di mana Hae-jun dan Ha-na tampak sudah duduk menunggunya deng

