"Sel..." ucapan Ha-na tercekat di tenggorokan saat melihat anak kecil yang tengah di gandeng Jian. Jian mengerutkan keningnya, melihat bagaimana wajah terkejut Ha-na menatap Seo-na di sampingnya. Sedetik kemudian, kepala Ha-na tampak menggeleng-geleng, tersenyum manis menyapanya. "Selamat pagi Ji-an." "Selamat pagi juga Ha-na." Jawab Jian. Semua orang yang tengah mengantri, mengalihkan atensi pada Jian dan Ha-na dengan ekspresi terkejut. Mungkin di benak mereka masih bertanya-tanya, apakah benar putri Ha-na dihukum oleh putri Ji-an untuk melakukan aksi bagi-bagi makanan pada orang-orang di pinggiran kota. "Aku sangat senang kamu ke sini Ji-an." Ucap Ha-na tersenyum manis. "Ya, karena aku juga ingin melihatmu." Jawab Jian santai. Ha-na mengangguk, pandangannya beralih lagi pada Seo-

