BAB 6

1648 Kata
Akhirnya, sudah dua minggu lamanya setelah kejadian itu terjadi. Sampai saat ini, aku tidak menemukan tanda-tanda munculnya berita heboh di media. Baik media cetak atau pun media elektronik.  Berarti benar kata Andrew, dia langsung menghapus semua foto tentang kami. Aku mulai bisa bernapas dengan tenang. Jika selama beberapa minggu ini tidak ada kabar, aku yakin tidak ada foto yang tersisa untuk diekspos ke media. Aku bisa beraktifitas dengan tenang. Selama ini, aku masih tetap pergi ke kampus untuk mengajar di sana. Untungnya, aktifitasku di kampus tidak setiap hari. Hanya tiga hari dalam seminggu. Sedangkan, hari sabtu dan minggu adalah jatah aku pergi ke sanggar tari. Namun, sabtu dan minggu ini aku tidak pergi ke sanggar. Karena aku masih belum merasa tenang. Tidak mungkin aku mengajar tari dalam kondisi hati yang tidak tenang.  Saat mengisi materi di kampus, sebenarnya aku juga tidak tenang. Tetapi setidaknya, aku tidak perlu langsung berinteraksi dengan mahasiswa. Dan kebetulan, minggu ini adalah minggu mereka mempresentasikan hasil karya masing-masing. Jadi aku hanya menilai saja. Aku yakin, nilai yang aku lakukan pasti tidak akurat. Karena pikiranku tidak fokus kepada hasil mereka.  Berbeda dengan mengajar tari. Perasaan kita akan mempengaruhi gerak tubuh kita. Jika perasaan kita tidak tenang, pasti gerakan kita juga terlihat sangat kaku. Orang bisa langsung menilai, jika aku sedang ada masalah. Aku tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan perasaan, apalagi saat menari. Orang selalu bisa menebak diriku, jika ada sesuatu yang sedang aku pikirkan. Walau, aku sering kali menyangkal, bahwa keadaanku baik baik saja. Sekarang, aku harus bisa berpikiran dengan tenang. Apa lagi, kabar tentang hari itu sepertinya sudah tenggelam entah kemana. Berarti, aku saja yang merasakan ketakutan berlebih. Lagi pula, aku punya Kak Kiki yang langsung memberikan kabar kepadaku, jika sesuatu yang tidak diinginkan muncul. Tetapi, sampai sekarang Kak Kiki tidak menunjukkan tanda tanda hal yang tidak diinginkan terjadi. “Pagi pagi udah melamun aja, Jeng.” Ayah tiba-tiba mengagetkan aku dari belakang. “Enggak ngelamun, Yah. Lagi baca majalah,” kataku sambil pura pura membolak balik majalah yang ada di tanganku. “Sejak kapan kamu suka baca majalah otomotif?” tanya Ayah. “Sejak… tadi.” Aku terkejut dengan majalah yang sedang aku pegang.  Aku langsung menegaskan majalah yang ada di tanganku. Ini adalah majalah milik Kak Rendi. Dia sangat suka barang barang otomotif. Bahkan dia juga kuliah jurusan yang sama. Sedangkan, aku yang tidak mengerti sama sekali dengan otomotif, selalu mengatai hobi Kak Rendi aneh. Dia pasti langsung marah, saat aku bicara seperti itu. Biasanya, Bang Jaka lah yang menjadi penengah buat kami. Mungkin, karena Bang Jaka anak pertama, jadi aku tidak pernah mau menggoda abangku ini. Tetapi, kalau sama Kak Rendi, aku selalu ingin mengganggu dan bertengkar dengan dia. Panggilan di rumahku memang sedikit aneh. Ayah dan Bunda membiasakan memanggil Jaka dengan panggilan Abang. Sedangkan, Rendi dengan panggilan Kakak. Kata Bunda, ‘biar kalau manggil tidak ketuker’. Jika panggilannya sama, nanti dua duanya yang datang. Atau sebaliknya, dua duanya merasa tidak dipanggil. Tetapi, jika panggilannya berbeda, akan jelas siapa yang sedang dipanggil. “Kamu lagi ada masalah?” tanya Ayah. “Enggak, Yah.” Aku masih berusaha menutupi perasaan yang aku rasakan. “Ayah lihat, kamu jadi murung semenjak pulang reuni dari Bandung,” kata Ayah. Ternyata memang benar, perasaan orang tua itu sangat peka terhadap anaknya. Walau aku tidak mengatakan apa-apa, Ayah langsung bisa tahu karena perubahan dari sikapku. “Enggak kok, Yah. Perasaan Ayah aja kali.”  Aku tidak mungkin menceritakan hal itu kepada Ayah. Mau apa pun alasannya, aku tetap berada di atas tempat tidur dengan seorang laki laki. Dan dia juga sudah melihat semua aurat ku. Sesuatu yang harusnya dilihat oleh suamiku seorang saja nanti. Ayah saja, sangat melarang aku menari karena itu bisa memperlihatkan aurat ku. Apa lagi kejadian kali ini, tidak sehelai pun benang yang menutupi tubuhku. Bahkan, laki laki m***m itu sudah menyentuh beberapa bagian tubuhku. Walau kata Kak Kiki aku masih tersegel. Namun, bagiku aku sudah pernah disentuh oleh laki-laki yang bukan mukhrim ku. “Kalau kamu ada masalah, cerita aja sama Ayah,” kata Ayah. Dia sangat menginginkan anaknya ini jujur tentang masalah yang sedang dia alami. “Iya ayahku sayang,” kataku sambil memeluk Ayah dari belakang. Kemudian, aku bergegas pergi meninggalkan Ayah sendiri duduk di bangku teras. Aku tidak mau diintrogasi lebih jauh lagi oleh Ayah. Bisa bisa, aku tidak kuasa menahan Ayah yang terus mendesak diriku. “Mau ke mana?” tanya Ayah mencegah diriku untuk pergi. “Sekarang kan hari sabtu, Yah,” kataku. “Oh ya, hari ini kamu jadi guru buat anak anak kecil ya? Ayah lupa.” Ayah sangat tahu agenda kegiatanku. Tetapi, sampai sekarang ayah tidak pernah tahu apa yang aku ajarkan buat anak anak kecil di sanggarku itu. Waktu pertama kali aku minta izin ke Ayah, aku hanya bilang, jika ada sekelompok anak anak kecil yang minta diajari olehku. Dan yang ayah tahu, aku mengajarkan anak anak itu seni lukis. Berhubung, aku adalah dosen seni lukis. Beruntungnya, ayah tidak pernah menanyakan lebih detail apa yang aku ajarkan. Semenjak Ayah melarang aku menari. Aku tidak pernah memperlihat kepada Ayah, jika aku sangat ingin menari. Sampai latihan pun, aku selalu menyembunyikannya dari Ayah. Aku selalu bilang, jika aku ikut ekstrakulikuler di sekolah. Dan setiap ekskul dilaksanakan dua kali. Padahal kenyataannya setiap ekskul dilaksanakan seminggu sekali. Jadi, satu harinya lagi, aku bisa gunakan untuk latihan menari di sanggar. Aku mengambil ekskul marching band dan keputrian. Aku tidak pernah bolos saat mengikuti kegiatan ekskul. Supaya, saat Ayah mengontrol kegiatan ekstrakulikuler, aku memang rajin mengikutinya. Ayah jarang datang ke sekolah. Tetapi laporan kegiatan ekskul, selalu diberikan saat pengambilan rapot. Saat itulah, Ayah akan mengetahui aku rajin ikut kegiatan atau tidak. Untuk masalah bayaran masuk sanggar tari, aku punya Abang yang sangat baik. Saat aku duduk di sekolah menengah ke atas, Bang Jaka sudah bekerja. Namun, saat itu dia belum menikah dengan Kak Kiki. Aku selalu jujur sama Bang Jaka. Dan Bang Jaka harus merahasiakan semua itu dari Ayah. Bahkan, jika aku harus latihan sampai malam, Bang Jaka yang menjemput aku di sanggar.  Abang ku yang satu ini sangat baik, dia yang selalu melindungi diriku. Dia juga yang tahu, kalau aku tidak pernah berbuat macam macam diluar sana. Berbeda dengan Kak Rendi yang pelit. Dia selalu mengutamakan hobinya yang mahal itu. Saat aku minta sesuatu dari dia, pasti dia bilang mau beli ini lah, mau beli itu lah. Pokoknya ribet sama Kakakku yang satu itu. Walau pelit, dia sebenarnya sangat perhatian sama aku. Si bontot yang sebentar merasakan kasih sayang dari Bunda. Bang Jaka dan Kak Rendi hanya berbeda dua tahun. Sedangkan aku, si bontot yang terjadi karena ketidaksengajaan. Sebelas tahun sudah, Bunda dan Ayah hanya mempunyai dua orang jagoan di rumah ini. Sampai saat, Bunda dinyatakan hamil dan lahirlah aku. Aku bertemu dengan Bunda hanya sampai usiaku sekitar lima tahun. Bunda jatuh sakit dan aku dipindahkan ke Bandung. Aku tidak terlalu ingat dengan bunda. Aku hanya mengingat bunda suka menyanyikan aku sebuah lagu saat aku sedang sedih. Dan aku juga mengingat, Ayah yang selalu membawaku untuk melihat semua pertunjukan Bunda. Sisanya, aku tidak bisa mengingat Bunda lebih banyak lagi. “Yah, Ajeng pergi dulu ya?” Aku pamit mencium tangan Ayahku. “Kamu enggak minta dianterin sama Kak rendi?” tanya Ayah. “Ayah. Ajeng sudah besar. Sudah bisa bawa mobil kemana mana sendiri. Buat apa dianter anter lagi,” kataku dengan nada seperti sedang mengajar anak kecil mengenal benda. “Tapi tetap aja. Ayah sangat khawatir, anak perawan Ayah pergi sendirian di luar sana.” “Doa in Ajeng ya, biar Ajeng selalu dilindungi Allah,” kataku. “Aamiin.” Selama ini aku tidak pernah minta didoain oleh Ayah seperti ini. Setiap ayah bilang, ‘Perawan enggak boleh berkeliaran sendirian’. Aku pasti selalu membantah, ‘emang kenapa sih Yah. Percaya deh, Ajeng enggak bakalan kenapa kenapa’. Aku selalu menjawab dengan rasa percaya diri. Sampai kejadian malam itu di Bandung terjadi. Ternyata, mau sepintar apa pun kita menjaga diri, jika memang takdir yang berkata, maka akan terjadi. Apa lagi, jika kita tidak pernah mengindahkan perkataan orang tua kita. Seperti yang aku alami saat ini. Penyesalan memang selalu datang belakangan. ***  “Masih kosong ya?” kataku sambil melihat ruang kelas yang luas dan tanpa isinya. Hanya ada beberapa lemari dan juga hiasan yang menempel di dinding kelas. Waktu sekarang menunjukan pukul dua siang. Sanggar masih sangat sepi dan berantakan. Padahal, baru Sabtu dan Minggu kemarin aku tidak datang ke sanggar ini. Setelah tiga tahun aku berlatih di sanggar ‘Sahabat Tari’. Akhirnya, aku sudah dapat izin untuk membuka sanggar tari sendiri. Walau pun, sanggar ini masih berinduk kepada sanggar Sahabat Tari.  Aku sangat senang di sanggar milikku sendiri ini. Ini semua juga atas bantuan dari Bang Jaka. Dia salah satu donatur, sehingga sanggar ini bisa berdiri. Aku memberi nama sanggar ini dengan nama ‘Ajeka’, kepanjangan dari Ajeng Jaka.  Di sanggar ini, aku bisa menuangkan segala kreatifitas ku dalam bentuk gerakan gerakan tari modern. Di sanggar ‘Sahabat Tari’ juga mengajarkan, bahwa gerakan tari itu tidak harus monoton. Kita harus bisa menciptakan suatu gerakan sesuai dengan perasaan yang sedang kita rasakan. Kita harus cinta dan menghayati setiap gerakan tubuh kita. Karena aku sangat suka menari dengan kreasi ciptaan aku sendiri, sehingga sedikit gerakan tari tradisional yang aku kuasai. Namun, ada juga beberapa tarian luar yang juga aku kuasai. Tidak lama setelah aku sampai di sini. Aku langsung mengganti kostumku dengan baju tari. Aku langsung melakukan pemanasan. Dan setelah itu aku menari mengikuti alunan musik klasik. Sangat cocok dengan suasana hatiku yang sedang tidak menentu. Aku terhanyut dalam gerakan dan musik. Bahkan, aku tidak sadar apa sedang ada di sekitarku. Ini memang menjadi kebiasaan ku, selagi aku menunggu anak anak pada kumpul semua. “Plok… plok… plok.” Terdengar suara tepuk tangan seseorang setelah musik dimatikan. “Siapa itu?” tanyaku mencari asal suara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN