“Plok… plok… plok…”
Seseorang bertepuk tangan, tidak lama setelah alunan musik pengiring habis.
Aku mencari asal suara itu. Aku lihat seorang laki laki dengan kemeja abu abu dan celana tanggung sedang berdiri di depan pintu masuk sanggar. Wajah laki laki itu tidak asing bagiku.
“Makin lincah aja kamu, Jeng.” Laki laki itu menghampiri tempat aku berdiri.
“Hai Dik, apa kabar?” tanyaku sambil duduk dengan menyelonjorkan kaki.
“Baik.”
“Minggu kemarin kenapa enggak datang? Anak anak nanyain kamu,” tanya laki laki yang ikut duduk di sampingku.
“Kan ada kamu,” jawabku singkat.
“Mereka lebih senang Kak Ajeng yang ngajarin. Kata mereka, kalau Kak Dika kaku,” kata Dika memperagakan gaya bicara anak kecil.
“Trus sekarang, mereka di mana?” tanyaku sambil melihat jam di dinding.
Mereka harusnya sudah tiba satu jam yang lalu. Berarti, aku menari lama juga ya.
“Mereka aku liburkan,” kata Dika.
“Kok gitu?”
“Takut kamu enggak datang lagi. Jadi aku suruh aja mereka datang hari minggu,” jelasnya.
“Ya… aku datang percuma dong,” kataku dengan sangat kecewa.
“Ya enggak. Kan kamu bisa ketemu sama aku.” Dika terlihat sangat percaya diri.
“Ih siapa kamu?!” kataku.
“Orang yang selalu menunggu hati Ajeng,” godanya.
“Kamu ya Dik, nakal.” Aku mencubit pelan tangan Dika.
“Aw… aw… aw,” teriaknya pura pura kesakitan.
Dari dulu Dika memang sering becanda seperti ini kepada diriku. Aku tidak pernah menanggapi dengan serius perkataan Dika. Dia laki laki yang baik. Namun di hatiku, aku hanya menganggap Dika sebagai sahabat karib. Tidak pernah ada keinginan yang lebih dari sekedar sahabat. Tetapi, tidak tahu dengan Dika. Apakah yang dia katakan, hanya gurauan saja atau kah serius.
“Dik. Kamu kenapa belum nikah sampai sekarang?” tanyaku.
“Nungguin kamu,” jawabnya singkat.
“Serius napa.”
“Kamu sendiri, kenapa belum nikah?” Dika membalik bertanya kepadaku.
“Mmmm… belum ada yang cocok.”
“Ya sama.”
“Trus kabar Si Emil gimana?” tanyaku.
Aku sempat mendengar, jika Dika pernah jadian di kampus. Nama perempuan itu Emilia Dwi Hastuti. anak jurusan Bahasa.
“Baik,” jawabnya singkat.
“Ya bukan kabar keadaannya. Kabar hubungan kamu sama Emil?” tanyaku penasaran.
“Emang kata siapa aku punya hubungan sama Emil?” tanya dia heran.
“Kata Cokro. Orang yang suka nongkrong sama kamu di kampus.”
“Haddeh, tuh orang ya. Aku enggak pernah ada hubungan apa apa sama Emil,” jelas Dika. Seolah dia takut aku salah paham dengannya.
“Ada hubungan juga enggak papa,” kataku.
“Dibilangin. Aku enggak ada hubungan apa apa.” Dia mencoba menyakinkan aku tentang dirinya yang tidak punya hubungan dengan Emilia.
Aku tidak mau berkomentar apa pun. Karena apa hubungannya denganku, Dika punya hubungan sama perempuan lain atau tidak. Aku hanya sedikit penasaran saja, mengapa sampai sekarang dia tidak pernah membawa seorang perempuan pun main ke sanggar ini.
“Jadi begini ceritanya.” Dika mulai menceritakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin juga aku tahu. Namun, jika aku melarang dia untuk bercerita, pasti dia tetap ngotot untuk bercerita.
“Kamu tahu Emilia anak bahasa kan?” tanya Dika. Aku mengangguk.
“Dia sangat seksi dan bodynya, waw…” Dika membayangkan tubuh Emil yang seksi dan tangannya juga digerakan menyerupai bentuk tubuh wanita yang seksi.
“Iya… enggak usah dipraktekin.” Aku memukul tangan Dika yang masih membayangkan bentuk tubuh seksi Emil.
“Tapi masih seksian kamu,” katanya sambil tertawa.
“Udah, mau lanjut atau aku pulang aja nih?!” kataku.
“Oke… oke. Mau cerita yang panjang atau yang singkat?” tanyanya.
“Pendek.”
“Intinya, aku taruhan sama si Cokro. Dia bilang kalau aku enggak berani deketin si Emil.”
“Trus.”
“Ya aku deketan si Emil.”
“Kamu rayu?” tanyaku penasaran.
“Enggak, cuma nanya nanya doang.”
“Trus, kenapa si Cokro bilang kamu jadian sama si Emil?”
“Si Emilnya jadi sering titip salam ke Cokro. Trus, pake bilang salam kangen,” kata Dika.
“Kangen sama kamu?” tanyaku seperti tidak percaya. Emil yang cantik dan seksi bisa kangen sama Dika yang pecicilan.
“Ya iya. Masak kangen sama Cokro.”
“Ya bisa aja. Kan dia ngomongnya ke Cokro, bukan ke kamu,” kataku.
“Kalau gitu, kenapa pake titip salam. Kan bisa aja bilang, ‘Cokro, aku kangen’.” Dika memperagakan seperti gaya si Emil bicara.
“Sttt, kamu ya. Nanti beneran jatuh cinta sama Emil, loh.” Aku mengingatkan Dika, biasanya dari benci bisa berubah jadi cinta.
“Ih… enggak mungkin. Aku kan jatuh cintanya sama kamu,” kata Dika dengan percaya diri.
“Tapi aku enggak jatuh cinta sama kamu.”
“Trus sama siapa?” tanya Dika penasaran.
“Ada deh.”
Sebenarnya, ada seseorang yang sangat aku kagumi. Tetapi, dia bagaikan bintang yang ada di langit. Aku tidak mungkin menggapainya. Dia sangat tampan, seksi, maskulin, pintar, kreatif. Pokoknya dia adalah tipe aku banget. Semua karya buatannya, selalu membuat aku tidak bosan untuk melihatnya. Ada makna tersembunyi di setiap lukisan yang dia buat.
Jika dibilang ada saingan, sebenarnya tidak. Dia seorang pelukis yang sangat terkenal. Banyak yang kagum dengan dirinya. Dia juga sering datang untuk mengisi acara di kampus. Namun, dia selalu menyembunyikan identitas aslinya kepada semua orang. Jika dia adalah si pelukis J.
Saat mengisi acara di kampus pun dia selalu bilang, dia adalah asisten pelukis J. Dia tidak pernah mengatakan, dia sendirilah pelukis J itu sendiri. Walau demikian, banyak mahasiswi yang tertarik dengan dirinya. Meski dia hanyalah seorang asisten. Tetapi, aku bukan tertarik dengan dirinya yang menjadi asisten pelukis J. Namun, aku tertarik dengan pelukis J itu sendiri. Walau, mereka adalah orang yang sama.
Rata rata karyanya, menggambarkan sebuah kesedihan yang aku rasakan saat kehilangan Bunda. Namun, ada juga beberapa karyanya yang menggambarkan kehangatan keluarga dan sahabat. Aku sangat suka memandangi semua hasil karya buatan dia. Sampai, suatu saat aku melakukan kesalahan.
Saat itu, aku tidak kuasa menahan air mataku saat memandangi sebuah lukisan buatannya. Lukisan itu berada di genggamanku. Tanganku juga bergetar saat melihatnya. Indah dan kesedihan bergabung menjadi satu di sana. Sampai, air mataku jatuh di atas kanvas itu.
“Ya, basah.”
Bodohnya, aku langsung mengelap lukisan yang terkena air mataku itu. Dan menyebabkan sedikit noda di sana.
“Aduh, bagaimana ini.” Aku panik melihat lukisan yang sangat berharga rusak di tanganku.
Padahal membawanya saja, aku sudah mengenakan sarung tangan. Mengapa aku bisa sangat teledor seperti itu. Hingga membuat karya yang indah menjadi rusak.
Aku panik, tidak mengerti harus berbuat apa. Dan sebentar lagi, acara pameran akbar hasil karya karya pelukis J akan segera dimulai. Aku tidak mungkin menyembunyikan lukisan ini. Karena lukisan ini juga terdapat di dalam buku petunjuk lukisan lukisan pelukis J. Semua pengunjung pasti memegangnya. Jika mereka menanyakan tentang lukisan itu, aku harus mengatakan apa.
Jika harus diperbaiki, tidak mungkin dalam waktu singkat. Orang yang sangat pakar memperbaiki lukisan saja, pasti memerlukan waktu lama untuk membuat dia sempurna seperti semula. Kecuali, pelukis asli itu sendiri yang memperbaikinya.
“Ada apa?”
Tiba-tiba, seseorang bertanya dan datang menghampiriku. Sepertinya, dia menyadari aku yang sangat gelisah.
“Kak Zaki,” kataku terkejut melihat orang yang ada di sampingku.
Dia adalah asisten pelukis J. Dia pasti akan sangat marah besar melihat lukisan maha gurunya dirusak oleh.
Zaki memperhatikan lukisan yang sedang berada di tanganku. Dan dia menemukan sesuatu yang cacat di sana.
“Oooo…” seru Zaki.
Dia hanya berkata ‘o’ setelah melihat apa yang sudah aku lakukan. Ingin rasanya, lukisan ini terlepas dari tanganku. Aku yang sangat ketakutan, dan dia hanya bereaksi seperti itu. Aku pikir, aku akan menerima seribu sumpah serapah yang akan dia lemparkan kepadaku. Namun, nyatanya dia hanya bilang ‘o’.
“Oh my god,” kataku.
“Tenang saja. Serahkan semua padaku,” kata Zaki sambil mengambil lukisan dari tanganku.
“Tapi Kak….”
“Tenang aja. Di mana aku bisa menemukan alat alat untuk melukis?” tanyanya.
“Di gudang,” kataku sambil menunjuk arah gudang.
“Oke, tunjukan arahnya.”
“Iya, Kak.”
Aku berjalan dengan tergesa gesa menuju gudang. Kak Zaki mengikuti aku dari belakang. Tidak terlihat panik atau marah di wajahnya. Bahkan, terkadang dia juga tersenyum kepadaku. Aku bingung dengan sikap Kak Zaki. Aku pikir dia akan marah setelah menemukan lukisan gurunya rusak. Tetapi, dia terlihat sangat tenang, bahkan terlihat senang. Bukan berarti, aku minta dimarahi olehnya. Aku hanya merasa aneh.
“Kamu tolong jaga di luar ya. Jangan biarkan ada orang yang masuk.” Kak Zaki memintaku untuk berjaga pintu masuk gudang.
Dia pun masuk ke gudang. Entah apa yang sedang dia lakukan di sana. Aku memberanikan diri untuk mengintip ke dalam. Aku buka pintu gudang pelan-pelan dan melangkah dengan langkah kaki yang ringan. Aku melihat Kak Zaki yang sedang serius memperbaiki lukisan yang tadi aku rusak. Dia sangat serius dan mahir dalam mengerjakannya. Karena tidak ingin ketahuan, aku langsung buru-buru untuk keluar dari sana.
“Berani banget dia merubah hasil karya pelukis J. Kalau ketahuan sama gurunya, bisa bisa dia yang kena marah,” gumamku setelah aku sampai di luar.
Belum lama aku berdiri di luar, tiba-tiba Kak Zaki muncul dari belakang. Dia membawa lukisan itu dengan sangat hati-hati, karena masih sangat basah. Namun, lukisan itu harus tetap dipajang. Supaya tidak membuat kecewa para pengunjung.
“Gimana Kak?” tanyaku tentang lukisan tersebut.
“Tenang aja,” katanya dengan sangat percaya diri.
“Sini Kak, saya tarok ke tempatnya.” Aku berniat untuk mengambil lukisan itu dan meletakkannya di tempat seharusnya dia berada.
“Enggak usah, saya aja. Nanti tangan kamu kena cat,” katanya.
“Tunjukin aja di mana tempatnya,” lanjut Kak Zaki.
“Ayo Kak, ikut saya.”
Kemudian, aku menunjukkan tempat lukisan itu akan dipajang. Kak Zaki meletakkannya dengan sangat hati-hati, takut catnya akan menempel di tempat yang lain.
Aku memperhatikan lukisan itu, masih sangat basah. Tetapi entah mengapa, aku merasa lukisan ini sangat mirip dengan lukisan sebelumnya. Tidak ada bedanya. Bahkan, perasaan yang ditimbulkan saat melihatnya, masih sama seperti perasaan tadi. Hanya saja, lukisan ini terlihat sangat jelas daripada lukisan yang sebelumnya aku lihat.
Pameran pun dibuka di waktu yang tepat. Seketika, orang orang langsung ramai memadati ruangan ini. Rata rata yang datang adalah mahasiswi. Tidak hanya dari jurusan seni, tetapi banyak juga yang datang dari jurusan lain.
Mereka sibuk memperhatikan dan mengagumi semua karya-karya yang berjajar di dinding. Tidak ada satu pun orang yang menaruh rasa curiga dengan lukisan yang baru saja dibetulkan oleh Kak Zaki. Bahkan, saat mereka membandingkan lukisan itu dengan buku pegangan mereka masing-masing. Aku melihat Kak Zaki menyembunyikan tangannya ke dalam kantong, gunakan menyembunyikan cat yang menempel di sana.
Saat itulah, aku merasa yakin. Jika Kak Zaki adalah pelukis J. Pelukis yang sangat aku kagumi. Dan kini, aku juga tahu, kalau pelukis J orangnya sangat tampan dan baik hati. Bibirnya yang seksi, hidungnya yang mancung, tubuhnya yang tinggi dan juga berotot. Terlihat seperti patung ciptaan tuhan yang sangat sempurna. Walau, dia hanya berdiri sambil memandangi para pengagum lukisannya. Namun, dia terlihat sangat menawan. Wajah Kak Zaki tidak pernah aku lupakan.
Di saat aku sedang membayangkan wajah Kak Zaki, tiba tiba bayangan wajah Andrew yang tidak berbusana, lagi-lagi melintas di benakku.
“Ah, kenapa dia harus muncul lagi, sih?!”