BAB 8

1759 Kata
“Ah… kenapa sih dia harus muncul,” kataku kesal. “Siapa?” tanya Dika heran sambil melihat ke arah belakang dia. “Hantu.” “Apa! Di mana?” kata Dika sambil menengok kanan kiri. “Di Jonggol.” Aku tidak habis pikir. Kenapa sih, bayangan laki laki m***m itu masih saja melintas di otakku. Aku sudah berusaha melupakan kejadian malam itu. Kenapa, lagi dan lagi dia yang muncul. Malah di saat, aku sedang membayangkan idolaku, dia juga hadir di tengah tengahnya. Sungguh menjengkelkan. Aku pun langsung bangun dari tempat dudukku. Aku harus segera mendinginkan otak ini. Jika tidak, aku bisa gila terus terusan kebayang tubuh laki laki itu. Seksi sih, wajah tampan juga. Tetapi tidak berakhlak. Amit amit kalau aku harus berhubungan dengan dia lagi. Bukan jatuh ketiban tangga lagi ini mah. Namun, sudah jatuh ketiban durian pas di atas kepala. Bocor dan langsung kea lam kubur. “Jeng, mau ke mana?” panggil Dika yang melihat aku tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya. “Mau pergi. Takut hantunya nanti tambah banyak,” kataku. “Tunggu, Jeng. Aku ikut.” Dika berlari ke tempat aku berada. “Iya, Ikut mah ikut. Tapi jangan masuk ke sini juga. Aku mau ganti baju,” kataku sambil melempar Dika dengan handuk. Dika langsung keluar dari ruang ganti. “Kamu enggak mandi dulu?” tanya Dika saat melihat aku sudah rapih mengganti pakaian. “Enggak ah. Aku mau mandi di salon saja, sekalian luluran.” “Aku ikut ya?” tanya Dika. “Hah, kamu mau luluran juga?” “Enggak. Aku mau nemenin kamu jalan aja. Sepertinya, kamu lagi butuh teman.” Dika menebak yang sedang aku rasakan. “Sok tahu,” kataku. “Tapi bener kan?” katanya percaya diri. “Ya udah, ayo jalan.” Kami pergi ke mobil. Sengaja, mobil Dika di tinggal di sanggar. Nanti pulang jadi jalan, kami balik ke sini untuk mengambil mobil itu. *** Sesampainya di sebuah pusat pembelanjaan yang berada di kota Depok. Aku langsung pergi mencari sebuah salon untuk menyegarkan badanku. Dika dengan setia menunggu aku yang sedang luluran. Dia menyibukkan diri dengan mencari sesuatu di handphone. Dia mencoba menahan rasa jenuh saat sedang menunggu. Jarang ada laki-laki yang mau disuruh untuk menunggu. Apa lagi, jika menunggu perempuan yang sedang pergi ke salon. Tadi, aku sudah menyuruh Dika untuk pergi saja berkeliling sambil menunggu aku. Tetapi dia tidak mau. Dari pada berkeliling seorang diri, dia lebih memilih untuk duduk manis menungguku di depan salon. Sebenarnya, banyak yang dia bisa kerjakan sambil menunggu diriku. Pekerjaan Dika tidak jauh dari handphonenya. Dia adalah pemilik sebuah perusahaan desain cover dan lain lain. Rata-rata, dia sendiri yang mengkonsep awal cover pesanan langganannya. Barulah, konsep itu diserahkan kepada anak buahnya. Setelah selesai, baru dia memeriksanya kembali. Jadi, sambil menunggu diriku, dia mempunyai banyak waktu untuk mengkonsep kerjaannya. Aku dan Dika adalah teman satu fakultas. Kami sama sama kuliah di bidang seni. Hobi kami juga sama, menari dan melukis. Kami sering menghabiskan waktu bersama sejak dari kuliah. Dika anaknya asyik, walau kadang suka membuat hati kesal. Dari dulu sampai sekarang, dia salah satu teman yang biasa aku ajak jalan. Walau terkadang, aku lebih sering pergi dengan teman teman SMP ku. Entah mengapa, sejak aku duduk di bangku kuliah, aku jadi kurang akrab berteman dengan perempuan. Aku lebih senang berteman dan jalan dengan kaum adam. Keseringan, teman aku duduk di depan kampus dengan Dika dan Cokro. Jika berteman dengan mereka, obrolan kami tidak monoton tentang fashion dan cowok. Itu yang biasa jadi topik pembicaraan kaum hawa. Dan yang lebih tidak aku senang adalah cara berpakaian mereka yang sangat seksi. Aku memang tidak memakai jilbab, walau Ayah sering kali menyuruh aku untuk mengenakannya. Namun, aku juga tidak suka mengenakan pakaian yang memperlihatkan belahan paha atau d**a. Dan di kampus ini, rata rata perempuannya berpakaian seperti itu. Sedikit perempuan yang berpenampilan sama seperti aku, mengenakan pakaian selalu menutupi p****t dan tidak ketat. “Ah enak. Badanku jadi lebih enteng,” kataku setelah menyelesaikan semua ritual di salon. Aku melihat ke tempat Dika duduk. Dia masih sibuk dengan handphonenya. Jika dilihat dari wajahnya, pasti dia lagi serius mengerjakan proyeknya. Bahkan, dia tidak menyadari aku yang sudah duduk di samping dirinya. Aku tidak mau mengganggu dirinya. Dia sudah menunggu aku cukup lama. Apa salahnya, kalau sekarang gantian aku yang menunggu dia. Paling sebentar lagi dia juga selesai. Benar saja, baru beberapa menit aku duduk di sini. Dika sudah mulai merenggangkan ototnya yang kaku karena duduk terlalu lama. Dia melihat ke arah pintu keluar salon. Dia belum juga menyadari, bahwa aku sudah ada di sampingnya. “Nunggu orang, Mas?” tanyaku. “Iya. Nunggu pacar saya,” katanya sebelum melihat dengan siapa dia bicara. “Ups.” Dia langsung menutup mulutnya dengan tangannya, saat dia sadar siapa yang sedang diajaknya bicara. “Nunggu siapa?” aku mengulang pertanyaan yang sama. “Nunggu adek saya,” katanya langsung meralat ucapannya yang tadi. “Tadi perasaan bukan itu.” “Kalau yang tanya perempuan lain, ya aku jawab yang tadi. Biar enggak panjang urusannya, kalau aku bilang lagi nunggu pacar,” jelas Dika. “Oooo…” “Iya sayang.” “Ya udah. Kita cari makan yuk,” ajakku. “Oke. Makanan yang super pedas. Aku tahu tempat yang sangat enak,” kata Dika sambil mengajak diriku. Padahal, aku belum mengatakan akan makan apa. Tetapi, dia sudah lebih dulu tahu tujuan yang akan aku cari. Memang aku sangat ingin makan makanan yang super pedas. Biar pedasnya sampai ke ubun ubun kepala. Siapa tahu dengan begitu, orang m***m yang ada di otakku akan segera menghilang. “Kamu lagi ada masalah apa sih?” tanya Dika yang melihat aku melahap makanan yang pedas dengan sangat cepat. “Enggak ada. Lagi pusing sama kerjaan kampus,” kataku dengan kondisi mulut masih penuh dengan makanan. Walau Dika dan aku bisa dibilang lumayan dekat. Namun, aku tetap tidak bisa menceritakan masalah diriku kepada Dika. Aku tidak mau Dika berpikiran negatif tentang diriku. “Pasti kerjaannya penting banget ya? Sampai kepikiran mulu,” katanya. “Iya. Pekerjaan menyangkut hidup dan mati aku.” “Hah, sebegitu parahnya?” tanya Dika tidak percaya. “Iya, pokoknya susah dijelaskannya.” Dika terlihat tidak terlalu semangat menyantap makanannya. Dia hanya sibuk memperhatikan diriku. Di wajahnya tertulis, aku ingin sekali membantu masalah kamu. “Maaf, Dik. Aku tidak bisa menceritakan aib ini kepada kamu. Meski aku sangat ingin menceritakannya,” kataku di dalam hati. Setelah makan, kami menyempatkan diri untuk berkeliling untuk sekedar mencuci mata. Namun, jika ada barang yang menarik dan yang memang dibutuhkan, kami mampir untuk melihat dan membelinya. Selera aku dan Dika cenderung sama. Apa yang aku bilang bagus, pasti kata dia bagus. Dan sebaliknya. Waktu sekarang menunjukkan jam enam kurang. Sampai azan magrib pun berkumandang. “Kita salat dulu, yuk,” ajakku. “Oke.” Kami pergi ke musholah yang terletak di atas. Kami sengaja menggunakan lift, agar lebih cepat untuk sampai ke sana. Dan letak musholanya juga tepat di samping lift. “Habis salat, kita mau ngapain lagi?” tanya Dika. “Pulang aja. Aku capek,” jawabku. “Aku anterin sampe rumah ya?” “Trus mobil kamu gimana?” “Nanti aku suruh orang untuk menjemputnya, gampang.” “Ya udah, terserah kamu.” *** Perjalanan menuju rumah sangat ramai dan macet. Ada untungnya, Dika mau mengantar aku pulang. Bahkan, aku sampai tertidur karena menunggu jalanan yang sangat macet. Aku juga tidak sadar kapan aku sampai di depan rumah. Dika tidak memasukan mobil ke halaman rumah. Dia menghentikan mobil di samping pintu masuk. Entah, sudah berapa lama Dika menunggu aku yang masih tertidur. Dia tidak membangunkan diriku, ketika kami sampai di rumah. “Tok… tok…” Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu mobil kami. Aku pun terbangun mendengar suara bising itu. Aku juga melihat gerakan bibir Bang Jaka yang menyuruh kami keluar. “Selamat malam Bang,” sapa Dika. “Malam.” Bang Jaka menjawabnya dengan jutek. “Bang kenalin, ini Dika. Dia…” “Iya, abang tahu. Dia guru nari di sanggar kamu kan.” Bang Jaka langsung memotong ucapanku. “Sttt… pelan pelan. Nanti Ayah denger,” kataku mengecilkan suara. “Kenapa?” tanya Dika bingung. “Pokoknya kalau di depan Ayah jangan pernah menyinggung tentang nari,” kataku pada Dika. “Ka, siapa itu?” tanya Ayah kepada Bang Jaka. Terdengar suara langkah laki Ayah yang mendekati kami. “Ajeng?!” kata Ayah begitu sampai di dekat kami. “Selamat malam om,” sapa Dika. “Siapa, Jeng?” tanya Ayah sambil menunjuk ke arah Dika. “Temen Ajeng, Yah.” “Temen?” kata Ayah seperti tidak percaya. “Iya, Om. Temen satu kampus,” kata Dika. “Mmmm… Trus kalian ketemu di mana?” tanya Ayah. “I… itu. Dika bantuin Ajeng, Yah. Dia juga ngajar anak anak yang belajar sama Ajeng setiap Sabtu Minggu.” Aku mencoba menjelaskan kepada Ayah dengan hati-hati. Aku takut keceplosan ngomong tari di depan Ayah. Sudah bertahun tahun, aku merahasiakan hal ini. Aku tidak mau malam ini terbongkar semuanya. “Bener itu, Ka?” Ayah bertanya kepada Bang Jaka. Karena Bang Jaka yang sering anter jemput aku ke sanggar. “Iya, Yah. Jaka sering lihat dia di sana,” kata Bang Jaka. “Oh, ya udah. Kamu pulang gih, udah malam.” Ayah seolah olah mengusir Dika dari sini. “Ya, baik Om. Selamat malam,” kata Dika sambil mencium tangan Ayah. “Ka, pindahin mobil ke dalam,” perintah Ayah. “Baik, Yah.” Kami melihat Dika yang sudah pergi menjauh. Dia pergi ke arah jalan raya. Apakah dia akan menemukan taksi malam malam seperti ini. Aku jadi sedikit khawatir dengan Dika. “Kamu beneran cuma teman kan sama dia?” Aku kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba Ayah tanyakan. “Iya, Yah. Cuma teman,” kataku dengan tegas. “Bagus lah,” kata Ayah. “Emang kenapa, Yah?” Aku penasaran, apa yang dimaksud dengan Ayah. “Ayah enggak suka sama dia.” “Kenapa?” “Anaknya sopan. Lumayan ganteng. Tapi sayangnya dia kuliah di bagian kesenian, sama kayak kamu.” “Trus, kenapa?” Aku masih bingung, emang apa salahnya kuliah di bidang kesenian. “Berarti, kemungkinan dia suka tari itu ada. Dan Ayah enggak suka, sama orang yang suka menari,” katanya. Lagi lagi, Ayah menyinggung tentang larangan untuk menari. Padahal, almarhumah ibu juga seorang penari dan penyanyi. Kenapa sekarang, Ayah jadi benci banget sama sesuatu yang berhubungan dengan tari. Apakah ada suatu kenangan yang sangat buruk, terkait dengan itu. Aku yakin, ada sesuatu yang ayah sembunyikan dari aku. Sehingga, Ayah tidak pernah mengizinkan aku untuk menari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN