BAB 9

1681 Kata
Semenjak Dika datang ke rumah malam itu. Sikap Ayah berubah menjadi over protektif. Setiap aku mau pergi dari rumah, Ayah pasti menanyakan ‘mau ke mana?’, ‘sama siapa pergi?’, ‘laki laki yang waktu itu enggak ikut kan?’. Pokoknya banyak sekali yang Ayah tanyakan kepadaku. Aku jadi tidak bisa bergerak dengan bebas karenanya. Padahal, itu bukan pertama kalinya Dika datang ke rumah. Hanya bedanya, malam itu Dika datang hanya seorang diri. Sewaktu kuliah, Dika dan teman-teman pernah datang ke rumah. Saat itu, aku sedang sakit. Dan membuat aku harus dirawat di rumah sakit beberapa hari. Dika dan yang lain datang ke rumah untuk menjenguk diriku. Perlakuan Ayah terhadap Dika yang datang saat kuliah dengan malam itu sangat berbeda. Sebenarnya, apa salahnya seorang teman bermain ke rumah. Walau dia seorang laki-laki, dia masih saja seorang teman buatku. Mengapa teman perempuan diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah. Namun, teman laki-laki dilarang. Padahal, kami kan hanya berbincang di teras rumah. “Mau ke mana?” tanya Ayah yang sudah melihat diriku rapih, seperti hendak pergi ke suatu tempat. “Tuh kan benar, baru aja rapih belum ke mana-mana udah ditanya,” gumanku. “Mau ke kampus Ayahku ganteng,” kataku mencoba bersabar dengan pertanyaan yang sama setiap hari. “Biasanya hari ini enggak ke kampus?” tanyanya lagi. “Hari ini sedang ada pameran karya anak anak tingkat lima,” kataku. “Kok kalau hari ini ada pameran, kenapa kemarin kemarin kamu enggak sibuk?” “Kan pamerannya anak anak, Yah. Jadi Ajeng cuma jadi tamu sekarang.” “Kamu bukannya mau janjian sama dia kan?” tanya Ayah. “Enggak Ayah. Ajeng sama Dika tidak ada hubungan apa apa, Yah. Kami cuma teman enggak lebih.” Berulang-ulang kali aku menjelaskannya kepada Ayah. “Iya teman tapi demen,” kata Ayah. “Ya udah, kalau Ayah maunya seperti itu. Besok, Ajeng minta Dika ngelamar Ajeng deh,” kataku karena Ayah tidak juga percaya dengan ucapanku. “Ets, jangan harap dia bisa masuk ke rumah ini. Ayah akan pasang empat palang pintu sekalian.” Ayah memperagakan gaya orang memasang kuda-kuda bersilat. “Makanya, stop dong Yah nanya Ajeng seperti itu. Ajeng bukan anak kecil lagi,” kataku. “Karena kamu bukan anak kecil, makanya ayah khawatir,” katanya. “Iya, Ajeng paham Ayah khawatir. Tapi Insyaallah, Ajeng enggak akan macam-macam.” Terlihat wajah tidak percaya dalam diamnya Ayah. Entah mengapa, saat aku bicara seperti itu sama Ayah, tiba-tiba bayang Andrew lagi-lagi muncul di benakku. Sebenarnya kekhawatiran Ayah sangat beralasan. Walau pun, Ayah belum mengetahui hal itu. Namun, sepertinya perasaan seorang Ayah sangat peka. Sehingga dia bisa merasakan sesuatu sedang terjadi terhadap putri semata wayangnya ini. Aku tidak bisa menjanjikan bahwa diriku tidak akan apa-apa di luar sana. Walau pun, aku tidak akan melakukan macam-macam di luar sana. Tetapi memang, banyak hal yang tidak terduga akan terjadi pada diri kita. Ada banyak orang jahat yang berbaur dengan orang-orang di sekitar kita. Namun tetap saja, kita tidak boleh berburuk sangka dengan orang yang kita temui. Kita hanya bisa berhati-hati dengan orang yang belum kita kenal. “Ajeng minta doanya ya, Yah. Biar tidak ada orang yang berniat jahat kepada Ajeng,” kataku sambil memeluk Ayahku ini. “Iya, sayang. Ayah selalu mendoakan kamu.” Ayah membelai lembut rambutku. “Jadi, sekarang Ajeng boleh kan ke kampus?” tanyaku. “Asal enggak ketemu sama si Cuka itu, ya enggak boleh.” “Dika, Ayah.” “Iya, Cuka.” “Terserah Ayah dah.” “Trus, kalau setiap Sabtu sama Minggu berarti Ajeng enggak boleh lagi ngajar anak anak dong?” tanyaku tiba-tiba mengingat larangan Ayah untuk bertemu dengan Dika. “Kenapa gitu?” tanya Ayah bingung. “Kan Ajeng enggak boleh ketemu sama Dika.” Aku mengingatkan perkataan Ayah tadi. “Oh tentu saja,” kata Ayah dengan mantap. “Di sana kan, Dika juga ngajar.” “Ya berarti kamu enggak boleh ke sana lagi.” “Ayah enggak boleh gitu, egois itu namanya. Kasian kan anak anak yang mau belajar. Masak gara-gara masalah yang belum jelas, anak anak yang jadi korban,” kataku. “Ya, kalau gitu. Si Cuka ya suruh berhenti.” “Idih, siapa Ajeng.” Aku tidak pernah mengatakan ke Ayah, jika sanggar itu adalah milikku dan Bang Jaka. “Ya suruh pimpinannya pecat si Cuka.” Ayah tetap pada pendiriannya. “Enggak boleh seenaknya mecat orang, Yah. Kan Ayah pernah kerja di kantor. Emang semudah itu mecat orang?” tanyaku. Ayah hanya diam dengan wajah kesalnya. Dia tidak bisa lagi membalas alasan alasanku yang cukup masuk akal. Dan memang, alasan itu benar apa adanya. “Trus kalau Dika enggak ada, siapa yang ngajarin ger… gerombolan anak laki-laki yang susah diatur.” Hampir saja aku kelepasan menyebutkan ‘gerakan tari’. “Ada Ayah,” katanya dengan percaya diri. “Trus Ayah bisa ngajarin anak anak laki-laki itu seni juga?” tanyaku. “Ah gambang. Tinggal gambar gunung, laut, jalan.” Ayah menyebutkan gambar pemandangan yang biasa Ayah gambar. “Ya enggak gitu juga kali.” “Tenang aja, Yah. Ajeng enggak mungkin ada perasaan sama Dika. Dika juga kayaknya enggak bakalan,” kataku. “Kamu yakin?” tanya Ayah tidak percaya. “Mmmm… Insyaallah.” “Ya udah, Ayah pegang ucapan kamu. Trus kalau ternyata kalian nanti ada rasa?” tanya Ayah. “Ya, nikahin aja,” kataku sambil berlari menjauhi Ayah. “Yah, Ajeng pergi ya.” Aku langsung berlari menuju mobilku. Bisa tidak ada henti hentinya berbicara dengan Ayah, jika membahas hal ini. Ayah sangat takut anak perempuannya jadi perawan tua. Padahal, Kak Rendi yang usianya jauh lebih tua dariku, tidak pernah diteror seperti ini oleh Ayah. Saat ini, umurku sudah dua puluh tujuh tahun. Namun, aku belum punya dambatan hati yang pas untuk dijadikan seorang suami. Aku hanya mempunyai seseorang yang sangat aku kagumi. Namun, aku tidak mungkin menjadikan dia suamiku. Dia terlalu tinggi di langit, tidak mungkin dia akan turun dan bersanding dengan aku di bawah sini. *** Pameran yang diadakan oleh anak anak berjalan dengan lancar. Walau pun, pengunjungnya tidak seramai saat pameran lukisan pelukis J. Namun menurutku, pameran ini sudah termasuk pameran yang sukses. Aku bangga dengan anak anak zaman sekarang. Jiwa seni mereka memang berkembang sesuai dengan zamannya. Tiba-tiba, aku berhenti di sebuah lukisan yang sangat indah. Dari setiap sisi, kita bisa menemukan sebuah cerita yang lain dengan sisi lainnya. Kita bisa menemukan keunikan saat kita melihat dari tiga sisi yang berbeda. Teknik yang digunakannya juga termasuk teknik yang sulit. Ada makna mendalam di lukisannya. Dia bisa menggambarkan tiga masalah dalam hidupnya di dalam satu lukisan. Kemudian, aku melihat siapakah gerangan yang melukis lukisan itu. Aku sempat terkejut saat membaca siapa yang melukisnya. Namun, setelah aku menegaskannya ternyata itu bukan huruf J. Melainkan, huruf R. Dari jauh, huruf R nya hampir menyerupai huruf J. “Aku pikir pelukis J? Mana mungkin dia ikut pameran anak anak tingkat lima,” kataku yang tadi sempat salah mengira siapa yang melukis. “Nih, bocah, ngikut ngikut gaya pelukis J. Dasar,” gumamku kepada pelukis yang merupakan salah satu mahasiswaku yang berada di semester akhir. Aku mengingat ingat semua mahasiswaku, siapa kiranya dengan inisial R yang dapat melukis seperti ini. Jika dilihat dari penggunaan nama samarannya, pasti anak ini punya karakter sedikit ngeyel. Sedangkan, dari karakter lukisannya sepertinya anak ini punya masalah dalam keluarga dan perempuan. Namun, dia sangat bahagia bersama para sahabatnya. Kira-kira, siapa anak ini. Aku yakin, yang melukis ini pastilah seorang laki-laki. Sempat terlintas nama seseorang. Dan orang itu juga sekarang sudah ada di semester akhir. Namun aku ragu, apakah dia punya masalah dengan perempuan. Tetapi jika itu benar dia, berarti dia punya bakat yang terpendam. “Wah, emang mata Ibu Ajeng paling jeli untuk menilai sesuatu.” Tiba-tiba seseorang mengagetkan aku dari belakang. “Kak Zaki?” tanyaku terkejut melihat sosok yang ada di belakangku. Dan yang lebih membuat aku terkejut, Kak Zaki kenal dengan aku. Hatiku merasa sangat kaget sekaligus bahagia. Idola yang selama ini hanya bisa aku mengagumi dari balik layar. Sekarang dia mengenal diriku. Sejak kapan? Padahal, saat kejadian waktu itu, kami tidak saling mengenalkan diri satu sama lain. Aku memang mengenal dia, karena dia adalah asisten pelukis J. Dia juga memperkenalkan dirinya di atas panggung, saat sedang mengisi acara di kampus. Jadi semua orang yang hadir saat itu, pasti tahu namanya. Serta, dia juga meminta semua peserta yang hadir memanggilnya dengan sebutan ‘Kakak’. Karena, dia bilang belum pantas dipanggil Bapak, apalagi profesor. Dia orangnya sangat rendah hati. “Dari tadi saya sudah melihat semua lukisan yang ada. Memang lukisan ini yang paling memikat hati saya,” kata Kak Zaki. “Iya, sama dengan Kakak memikat hati saya.” Aku keceplosan mengutarakan perasaan kagum ku, pada idola yang berada di samping saat ini. “Apa?” Dia terkejut. Dan sepertinya tidak mengerti dengan maksud ucapan ku. “Maksud saya. Saya sama dengan Kakak. Hati saya juga terpikat dengan lukisan ini,” kataku meralat ucapan ku. “Oooo….” Dia kembali memperhatikan lukisan yang berada di dinding. Aku menggigit bibir bawahku dan menahan rasa malu. Jika saja saat ini Kak Zaki memperhatikan wajahku, pasti dia akan menyadari betapa merah merona warnanya. Karena, aku sangat merasakan wajahku sangat panas. Aku menarik napas yang panjang dan membuangnya pelan-pelan. Agar Kak Zaki tidak menyadari betapa gugupnya aku di samping dia. Aku juga menutupi salah satu pipiku dan mengusapnya dengan pelan. Berharap rasa panasnya segera menghilang, sebelum Kak Zaki menyadarinya. Andai, aku tidak mengetahui Dia adalah pelukis idolaku. Pasti saat ini, perasaanku tidak akan seperti ini. Aku jadi salah tingkah dan jantungku juga berdegup dengan sangat kencang. Aku terus bicara dengan hati kecilku dan memintanya untuk tenang. Namun, sangat sulit mengontrol perasaan aneh ini. “Kamu enggak kenapa napa, Jeng?” tanya Kak Zaki yang menyadari tingkah aneh ku. “Enggak Kak. Perasaan kok panas banget ya?” tanyaku. Padahal, kami sedang berada di ruangan yang ber-AC. “Ada apa dengan kamu? Wajah kamu merah sangat.” Kak Zaki terus mendekati wajahnya ke wajahku. Jantungku semakin berdegup dengan kencang. Oh, tuhan. Tolooooong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN