“Deg… deg… deg…” jantungku berdetak sangat kencang.
Aku juga merasa wajah Kak Zaki makin lama mendekati wajahku. Entah mengapa, aku merasa orang orang di ruangan ini tiba-tiba menghilang. Di sekeliling kami sekarang tidak ada satu pun orang yang lalu lalang. Ruangan mendadakan jadi sepi, hanya ada kami berdua di sini.
Sedangkan, Kak Zaki terus melangkah mendekati diriku. Tangannya juga tiba-tiba menyentuh pipiku dengan lembut. Jantung semakin berdetak dengan cepat. Makin lama aku merasa wajah makin mendekati diriku. Matanya yang bulat terlihat seksi dipadukan dengan alisnya yang kerang. Hidungnya yang mancung juga makin lama makin mendekati hidungku. Napasnya yang hangat terasa lembut di wajahku.
Bibirnya yang seksi mulai sedikit terbuka. Dia seperti siap mendekatkan bibirnya dengan bibirku. Makin lama bibirnya semakin mendekat. Aku pun tidak kuasa, untuk tidak menutup kedua mataku.
“Bu Ajeng. Bu Ajeng kenapa?” tanya Zaki.
Aku pun membuka mataku, dan aku melihat wajah Kak Zaki yang kebingungan. Seketika, ruangan yang tadinya sepi, mengapa sekarang jadi banyak orang yang sedang sibuk memperhatikan lukisan.
Wajahnya memang berada persis di depanku. Namun, dia terlihat kebingungan dengan diriku yang tiba-tiba menutup mataku. Bukan karena dia berniat untuk mencium bibirku. Aku yang malu dengan tingkahku sendiri, menggigit bibirku dan bingung akan berkata apa.
“Bu Ajeng enggak kenapa kenapa? Muka ibu merah banget. Ibu lagi kurang enak badan?” tanya dia yang menyadari mukaku berubah menjadi merah.
“Badan ibu juga sedikit panas,” katanya sambil memegang pipiku.
“Aduh Kak, jangan begini dong. Aku bisa tambah mengkhayal yang tidak tidak,” teriak batinku.
“Bu Ajeng sakit?” tanyanya lagi.
“Se… sepertinya i… iya, Kak. Saya enggak kuat lama-lama di sini,” kataku kaku.
“Kenapa?”
“Enggak kuat di samping Kakak lama-lama.” Andai aku bisa berkata demikian.
“Eng… enggak tahu. Sepertinya karena penyakit lama saya kambuh,” kataku mencoba mencari alasan.
Penyakit apa coba yang kambuh di saat seperti ini. Kenapa juga aku memberi alasan seperti itu. Semoga dia tidak bertanya tentang penyakitku. Aku akan bingung menjawabnya.
“Oh ya udah, ayo kita keluar cari udara segar,” ajak Kak Zaki.
“Alhamdulillah,” kataku dengan spontan.
“Kok, Alhamdulillah?”
“Uhuk… uhuk… Ya Alhamdulilah Kak bisa keluar dari sini.” Aku sampai tersedak oleh ucapanku sendiri.
“Oh ya udah, ayo kalau begitu.” Kak Zaki mengajak aku keluar dari ruang pameran.
Setelah sampai di luar, aku menarik napas begitu dalam. Bukan karena di dalam kekurangan oksigen. Namun, karena aku yang tidak bisa bernapas dengan tenang, jika berada di samping laki-laki ini. Kak Zaki pun mengajak aku untuk duduk di bangku yang berada di salah satu tenda. Di sini banyak sekali tenda dari beberapa sponsor acara pameran kali ini. Anak angkatan lima kali ini lebih pandai mencari sponsor daripada tahun sebelumnya.
“Bu Ajeng mau minum apa?” tanya Kak Zaki.
“Air putih dingin aja Kak,” kataku yang masih berusaha menenangkan hati. Dia pun pergi untuk memesan minuman.
Aku langsung menutup mukaku dengan kedua tangan, menutupi rasa malu yang aku rasakan. Bagaimana bisa, aku membayangkan Kak Zaki mau menciumku di tempat umum seperti ini. Entah, ada apa dengan otakku. Mengapa aku bisa memikirkan hal seperti itu. Ini sangat memalukan.
“Ini pasti gara-gara cowok musem itu? Gara-gara dia pikiran aku jadi kacau seperti ini,” gumanku.
“Gara-gara siapa?” Kak Zaki tiba-tiba saja sudah ada di hadapanku sambil memberikan aku sebotol air putih dingin.
“Itu gara-gara orang gila tadi,” kataku.
“Orang gila bisa masuk kampus?” tanyanya bingung.
“Bukan di kampus. Di luar sana.”
“Kenapa juga kamu masih mikirin orang gila?”
“Itu dia. Kenapa saya masih mikirin dia. Bisa bisa saya ikutan gila.”
“Eh, jangan.” Kak Zaki sepertinya tidak menginginkan aku menjadi gila. Lagian, siapa juga yang mau gila.
“Tenang aja, Kak. Saya insyaallah kuat iman. Mudah mudahan tidak jadi gila,” kataku sambil tersenyum.
“Aamiin.”
Kami berdua akhirnya saling membicarakan tentang kegiatan di kampus. Aku masih sedikit kaku berbicara dengan Kak Zaki. Dia sibuk membicarakan tentang perkembangan seni anak anak zaman sekarang. Walau dia terkadang juga menceritakan pengalaman suka dan duka melukis. Sedangkan, aku sedang asyik menikmati karya seni tuhan yang sangat indah, yang sekarang berbicara di depanku.
Aku sangat menikmati saat saat bersamanya kini. Ini adalah hal yang paling langka yang terjadi dalam hidupku.
***
Perjalanan pulang sore ini sangat macet. Namun, aku tidak merasa kesal sama sekali. Bahkan, aku suka senyum senyum sendiri sambil mendengarkan lagu yang sengaja aku setel. Aku masih suka kebayang-bayang wajah tampan Kak Zaki. Aku juga kebayang tentang Kak Zaki yang mau menciumku. Namun, seketika bayangan wajah Kak Zaki kembali tergantikan dengan seseorang yang sangat ingin aku lupakan.
Laki-laki pertama yang aku lihat tanpa busana. Pemandangan yang sangat merusak, namun terus terbayang di benakku. Dan yang lebih buruknya lagi, laki-laki itu cukup tampan dengan tubuhnya yang seksi. Itu salah satu yang membuat otakku terus memikirkan sesuatu yang harusnya aku buang jauh-jauh.
“Braak…” Tiba-tiba aku menabrak bemper mobil orang yang berada di depanku.
“Aduh. Pakai nabrak lagi,” keluhku.
Padahal, jalanan sudah mulai lengang. Namun, gara-gara melamun aku jadi tidak konsentrasi dengan lampu merah yang tiba-tiba menyala. Setelah lampu berwarna hijau, mobil yang aku tabrak kembali jalan. Dia tetap berjalan di depan mobilku. Sampai di suatu tempat yang aman untuk berhenti, dia memberikan lampu sein ke kiri. Aku pun juga ikut menghentikan mobilku tepat di belakang mobil tersebut.
Aku pun keluar dari mobil, sesaat setelah seseorang keluar pula dari mobil yang aku tabrak. Aku tidak berani melihat ke wajahnya. Karena aku tahu, aku yang salah.
“Maaf, Pak. Saya tadi tidak konsentrasi,” kataku tetap menundukkan kepalaku tanpa melihat wajah orang yang ada di depanku.
Namun, setelah aku meminta maaf. Aku beranikan diri untuk melihat wajah laki-laki yang berdiri di depanku.
“Kamu!” teriak kami berbarengan setelah menyadari satu dengan lainnya.
“Kamu lagi, kamu lagi. Aku selalu sial kalau ketemu sama kamu.”
“Emangnya, aku senang?” kataku kesal.
“Ya udah, kamu harus ganti rugi kerusakannya,” katanya.
“Enak aja! Ini semua gara-gara kamu, makanya aku nabrak.”
Hari hari indahku seketika menjadi buram, setelah bertemu langsung laki-laki m***m yang merusak pikiranku. Kenapa juga aku harus bertemu dia di sini. Aku benar benar tidak beruntung.
“Maksud kamu apa gara-gara aku?” Dia tidak terima alasan aku menabrak mobilnya adalah dia.
Jika saja bukan mobil laki-laki ini yang aku tabrak. Pasti aku akan dengan senang hati membayar ganti rugi kerusakannya. Namun, ternyata yang muncul adalah laki-laki yang selalu menghantui diriku. Hingga aku tidak bisa konsentrasi.
“Pokoknya, aku enggak mau bayar.” Aku hendak pergi ke mobilku.
Tetapi, tiba-tiba dia menarik diriku dan menempelkan diriku pada mobilnya. Kemudian, dia mengurung aku dengan kedua tangannya.
“Maksudnya apa? Kamu yang jelas jelas nabrak. Kenapa sekarang gara-gara aku?” Andrew tidak terima dengan sikapku.
“Pokoknya gara-gara kamu, aku jadi enggak bisa konsentrasi.”
“Jadi maksud kamu, tadi kamu lagi memikirkan diriku?” tanya Andrew dengan sangat percaya diri.
Walau itu benar, namun tetap tidak enak untuk didengar.
“Awas! Pokoknya aku enggak mau ganti” teriakku sambil mencoba mendorong tubuhnya. Namun, tetap tidak bergeser dari tempatnya. Dia semakin menguatkan pegangannya pada dinding mobil.
Kemudian, dia menarik dagu ke atas. Mata yang dari tadi terus aku hindari, akhirnya kini bisa aku lihat dengan sangat jelas. Mata itu seperti menghipnotis diriku dan serasa menusuk sampai ke hati.
“Kalau kamu terus kepikiran diriku, jujur saja. Atau kamu mau melanjutkan kejadian di Bandung waktu itu? Jika itu yang kamu inginkan, aku rela,” katanya dengan melemparkan senyum mautnya.
Hatiku meleleh melihat senyum manisnya itu. Tubuhku juga terasa lemas dibuatnya. Namun, aku harus tetap kuat. Aku tidak boleh menunjukan perasaan yang tidak boleh timbul ini.
“Kalau kamu mau, kita bisa pergi ke hotel yang dekat sini,” lanjutnya dan terdengar suara tawa sinisnya.
“Tin… tin… tin…” tiba-tiba sebuah mobil membunyikan klaksonnya dan menyadarkan tubuhku yang kaku saat berada dalam kurungannya.
“Hei, Pacaran jangan di jalan. Di hotel sana!” teriak seseorang dari dalam mobil.
“Oke, Bro. Gua dengarin sararan lu!” balas Andrew.
Aku kesal mendengar pembicaraan orang-orang kurang ajar ini.
“Yuk,” ajaknya.
“Jangan harap!” kataku kesal.
“Buat ganti rugi mobil, pakai satu ciuman aja juga enggak papa deh,” katanya dengan jail.
Bahkan tangannya yang tadi berada di daguku, kini membelai lembut bibirku. Aku yang sudah dalam keadaan sadar, langsung menepis tangannya dari wajahku. Kemudian, aku memukul betisnya dengan sangat kuat. Hingga akhirnya, dia membuka kurungannya, karena mengelus-elus kakinya yang sakit.
Aku yang tidak mau kehilangan kesempatan ini, langsung kabur ke mobil. Dan menguncinya dari dalam. Andrew pun mengejar diriku dan memukul-mukul jendela mobilku. Namun, aku tidak mempedulikan. Aku pun menancap gas, tanpa mempedulikan dirinya. Dan sebelum pergi, aku sempat menjulurkan lidahku, guna mengejek dirinya. Aku juga melihat wajah kesal yang masih bisa aku lihat dari kaca spion.
“Dasar, laki-laki kurang ajar. Bisa-bisanya dia membicarakan hal itu dengan sangat santai,” umpatku kesal.
Aku benar-benar tidak beruntung bertemu dengan dia lagi. Hariku yang tadi sangat cerah, berubah menjadi kelam seketika. Mudah-mudahan, aku tidak akan berurusan lagi dengan dirinya.
***
Setelah beberapa menit aku mengendari mobilku ini, aku pun sampai di depan rumahku. Namun, ada satu hal yang membuat aku sangat terkejut. Mengapa di depan rumahku, ada sebuah mobil yang tidak aku kenal. Di tambah lagi, Kak Rendi yang sedang berdiri di depan pintu rumah. Dia seperti sedang mengitip sesuatu di dalam sana.
Ada apa sebenarnya?
Kemudian, aku mendekati Kak Rendi yang masih sibuk mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di dalam.
“Ada apa, Kak?” bisikku tiba-tiba, saat sampai persis di sampingnya.
“Astagfirullah. Kamu ngagetin aja, Jeng.” Kak Rendi langsung memegangi dadanya.
“Kakak lagi ngapain, sih?” tanyaku penasaran.
“Itu, di dalam ada laki-laki yang mau ngelamar kamu,” katanya dengan santai.
“Apa!” teriakku.
Ada laki-laki yang datang melamar.
Siapa?