Sesampainya aku di rumah. Aku melihat sebuah mobil yang tidak aku ketahui, sedang parkir di halaman rumah. Aku tidak mengenali mobil itu.
Aku juga melihat Kak Rendi yang sedang mengintip di depan pintu masuk.
“Siapa itu, Kak?” tanyaku.
“Itu, orang yang mau ngelamar kamu,” kata Kak Rendi dengan santainya.
“Apa!” Aku berteriak, karena sangat terkejut mendengarnya.
Orang yang berada di dalam, sepertinya mendengar teriakan ku.
“Ajeng, sini masuk sayang.” Ayah menyadari kehadiranku dan menyuruh aku masuk.
“Assalamu’alaikum.” Aku memberi salam ketika masuk ke ruang tamu.
“Wa alaikum salam,” jawab orang-orang yang sedang berada di dalam dengan kompak.
Di ruangan ini, ada Bang Jaka, Ayah dan dua orang lagi yang tidak aku kenal. Dua lelaki ini, kedua-duanya berpakaian sangat sopan. Mereka juga sepertinya orang baik-baik.
“Sini sayang.” Ayah memintaku untuk duduk di sampingnya.
“Nah, ini dia ustad, anak saya. Namanya Ajeng,” kata Ayah memperkenalkan diriku.
“Assalamu’alaikum, Ajeng?” kata ustad yang duduk di dekat Ayah.
“Wa alaikum salam.”
“Perkenalkan saya Azam. Dan ini saudara saya, ustad Khairil. Dia lulusan universitas Kairo. Dia sedang mencari pasangan hidup. Kebetulan, Pak Perdi juga sedang mencari jodoh buat anak perempuannya. Karena, itu kami berdua datang ke sini untuk sekedar bersilahturahmi dulu. Dan bisa saling mengenal satu dengan yang lain,” jelas ustad Azam.
Laki-laki yang bernama Khairil ini, hanya tersenyum kepadaku. Dia tidak berbicara sama sekali. Dan aku pun membalas dengan senyuman pula. Matanya yang teduh tidak berani menatap mataku lama-lama. Walau, sesekali dia memperhatikan diriku, di saat aku sedang tidak melihat ke arahnya.
Dia mungkin juga akan berpikir dua kali untuk menjadikan aku istri. Karena penampilanku yang seperti ini. Aku tidak mengenakan baju seksi atau yang memperlihatkan belahan d**a atau paha. Namun, sampai sekarang aku belum mau menutup kepalaku dengan jilbab. Padahal kalau dipikir-pikir, pakai jilbab lebih praktis dari pada memperlihatkan rambut seperti sekarang. Karena jika berjilbab, kita tidak pernah memikirkan rambut kita kusut tertiup angin. Jika sedang terburu-buru, tidak usah repot-repot mengatur tatanan rambut. Tetapi entah mengapa sampai sekarang, aku belum ada niat untuk mengenakannya.
Ayah dan Ustad Azam terus membicarakan tentang aku dan ustad Khairil. Sedangkan, ustad Khairil nya sendiri hanya diam. Dia hanya menyimak dan sesekali tersenyum kepadaku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Aku belum pernah mendapatkan situasi yang seperti ini. Aku juga tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Dan aku mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. Tetapi, aku tidak mungkin pergi begitu saja.
“Allahu akbar… Allahu akbar….”
Setelah satu jam lamanya, akhirnya mereka berhenti juga mengobrol tentang pernikahan. Itu pun, karena azan magrib yang berkumandang, makanya mereka berhenti. Jika tidak, mereka pasti akan lanjut bercerita tentang hal yang lain lagi.
“Yuk ustad, kita salat di musholah,” ajak Ayah.
“Baiklah.”
Ayah, Bang Jaka, Kak Rendi dan dua orang ustad itu pergi menuju musholah untuk menunaikan ibadah salat magrib. Semenjak aku kuliah, Ayah membiasakan salat magrib dan subuh di musholah. Bang Jaka dan Kak Rendi selalu diajaknya ke sana. Sedangkan, aku salat sendirian di rumah. Namun, sekarang sudah ada kakak ipar ku yang cantik dan baik hati. Dia yang menjadi teman perempuanku satu-satunya di rumah ini.
Selepas salat magrib, aku lihat Kak Kiki langsung buru-buru pergi ke dapur. Aku jadi penasaran, Apa yang sedang Kak Kiki kerjakan dari tadi.
“Kakak lagi ngapain?” tanyaku saat melihat Kak Kiki yang sedang sibuk.
“Ini, nyiapin makanan buat tamu,” jawabnya.
“Emang mereka masih lama, Kak?”
“Kamu ya, enggak sopan kayak gitu.”
“Habis Ayah juga sih. Kan Ajeng udah bilang enggak mau dijodohin.”
“Tapi mereka dari keluar baik-baik, Jeng. Kenapa kamu enggak mau?”
“Ajeng takut, Kak.”
“Takut kenapa?” tanya Kak Kiki heran.
“Ajeng takut enggak bisa jadi mantu yang baik. Kakak kan tahu sendiri Ajeng gimana. Apa lagi tentang kejadian di Bandung.”
“Stttt… pelanin suara kamu. Nanti ada yang denger gimana?” kata Kak Kiki dengan suara yang pelan.
“Mereka masih di musholah kan?” tanyaku. Aku jadi khawatir juga, setelah diingatkan oleh Kak Kiki.
“Harusnya sih masih. Tapi kita kan enggak tahu kapan mereka balik,” kata Kak Kiki.
“Iya sih.”
“Udah dari pada mikir yang enggak, bantuin Kakak aja nih.” Kakak Kiki memintaku untuk menyiapkan makan malam dan menata di atas meja makan.
Kak Kiki sepertinya masih merasa bersalah dengan kejadian di Bandung. Karena saat itu, aku pergi bersama dirinya. Padahal, semua tidak ada hubungannya dengan Kak Kiki. Aku sendiri tidak pernah tahu, jika hal ini akan terjadi kepadaku. Namun, dia tetap menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi kepadaku.
***
Seminggu sudah berlalu dari kedatangan ustad Khairil. Tidak pernah ada kabar lagi dari dia. Aku merasa sangat yakin, dia pasti langsung membuang namaku dari daftar calon istrinya. Namun, aku tidak terlalu mengambil pusing. Jika dia adalah jodohku, pasti dia akan kembali kepadaku. Tetapi, jika dia bukan jodohku, mau aku kerja ke ujung dunia pun, dia tidak akan menjadi milikku.
“Huff, hari ini panas sangat.”
Aku melihat matahari bersinar dengan sangat teriknya. Langit pun sangat cerah tidak berawan, membuat cuaca terasa sangat panas.
“Kamu enggak kemana hari ini, Jeng?” tanya Kak Rendi yang ikutan duduk di sampingku menikmati panasnya siang ini.
“Enggak, Kak. Kelas lagi libur semester,” kataku.
“Kakak sendiri kenapa di rumah?” tanyaku.
“Huff… sama, lagi enggak ada job. Belum ada proyek lagi yang mau dikerjakan,” keluhnya.
Kak Rendi termasuk orang yang tidak betah diam. Jika masalah keuangan, dia tidak mempunyai masalah. Sebenarnya penghasilan dia dari satu proyek bisa lebih dari lima puluh juta. Dan dari dulu, proyek dia tidak pernah sepi. Walau satu proyeknya, tidak dikerjakan sendiri. Tetapi, karena hobinya yang menghabiskan banyak uang. Itu mengapa, hidupnya jadi menjadi sangat boros.
Aku tidak pernah memusingkan kehidupan Kak Rendi. Selama itu uang dia sendiri, ya terserah dia mau diapakan. Hanya yang aku pikirkan, sampai sekarang dia hanya cinta dengan hobinya itu. Tidak ada satu perempuan pun yang dia suka melebihi hobinya. Itu bisa sangat gawat.
“Kak minum es kayaknya enak ya?” Kataku sambil mengelap keringat yang dari tadi bercucuran di tubuhku.
“Eh, panas panas enggak boleh minum es.” Tiba-tiba Kak Kiki datang dari dalam, dan ikut duduk dengan Kami.
“Ah Kakak. Sesekali enggak papa kali,” keluhku.
“Nanti kalau udah sakit tenggorokan baru tahu rasa. Nanti enggak bisa nyanyi lagi,” kata Kak Kiki.
“Sttt… Kakak. Nanti Ayah denger.”
Aku panik setelah mendengar Kak Kiki bicara seperti itu dengan suara yang keras. Aku langsung melihat ke dalam, takut-takut Ayah ada di sekitar sini.
“Kak, di rumah jangan bahas itu,” kataku kesal.
“Kok, Kakak tahu?” tanyaku.
“Ya Bang Jaka yang kasih tahu,” jawab Kak Rendi dengan santai.
“Jadi Kak Rendi juga tahu?” Aku cukup terkejut mendengarnya.
“Ya udah lama kali. Ingat waktu pertama kali Kakak antar kamu ke sanggar?” kata Kak Rendi.
Aku pun mengangguk.
“Kakak enggak percaya kalau itu sanggar lukis. Karena Kakak tidak mencium bau cat di sana. Karena, Kakak penasaran. Akhirnya, Kakak nanya sama Abang. Baru deh, Abang cerita,” kata Kak Rendi.
“Jadi semua orang di rumah udah pada tahu?” tanyaku tidak percaya.
“Mmmm… enggak tahu ya sama Ayah. Bisa jadi tahu, bisa juga enggak,” kata Kak Kiki.
“Kok, Kakak bisa bilang gitu?”
“Bang Jaka kan enggak bisa bohong kalau ada yang nanya. Kalau Ayah nanya ke Ayah, trus cerita. Bisa jadi Ayah tahu,” kata Kak Kiki yang sangat mengenal karakter suaminya.
“Tapi kalau Ayah tahu, kenapa Ayah enggak marah dan melarang Ajeng?”
Kak Kiki hanya mengangkat kedua bahunya, menandakan ketidaktahuannya. Kemudian, aku melihat ke arah Kak Rendi. Dia juga melakukan hal yang sama. Kedua Kakakku ini, benar benar membuat aku kesal. Bukannya ditolongin, malah dibuat jadi bingung begini.
Bagaimana, kalau benar Ayah tahu tentang sanggar ku. Apakah Ayah sudah tahu kegiatan yang aku lakukan di sana. Tetapi jika Ayah sudah tahu, mengapa Ayah diam saja?
Atau Ayah sudah membolehkan aku untuk menari. Apa itu mungkin?
Atau Ayah memang belum tahu.
Aku jadi kepikiran, jika sampai Ayah tahu dan melarangnya. Bagaimana dengan anak-anak?
Memikirkannya saja, sudah membuat aku gelisah. Aku harap, Ayah tidak akan melarang ku walau Ayah sudah tahu. Semoga saja.
“Ah gara-gara Kakak, aku jadi tambah panas.” Aku bangun dari tempat duduk dengan kesal. Dan pergi keluar rumah.
“Mau kemana?” tegur Kak Kiki.
“Cari es. Biar otak dingin,” teriakku sambil terus berjalan menuju warung terdekat.
Aku memang suka bandel dan susah menahan untuk tidak minum es. Padahal, itu sangat mengganggu pita suaraku. Walau, aku tidak setiap saat mengkonsumsi minuman dingin. Tetapi, aku sendiri yang akhirnya merasa tidak enak di tenggorokan.
Namun, kondisi saat ini membuat aku sangat panas. Aku tidak bisa berpikir dengan tenang. Banyak sekali ketakutan yang menghantui otakku. Bukan berarti aku takut kehilangan sanggar, walau memang itu salah satunya. Tetapi yang paling aku takuti, aku tidak akan punya tempat untuk melepaskan rasa jenuhku. Di sana satu-satunya tempat yang membuat aku bisa menghilangkan penatku selama ini.
“Mau pesan apa, Jeng?” tanya Mang Eding yang sudah sangat mengenal diriku.
Dia sudah membuka kios coklat cair ini, sejak aku masih kecil. Walau, aku sempat besar di Bandung. Namun, dia selalu ingat dengan diriku. Anak kecil yang sangat sering main di tempatnya. Padahal, aku sendiri tidak ingat kejadiannya.
“Biasa, Mang.” Dia sudah tahu kesukaan diriku.
“Oke, coklat s**u dengan krim,” katanya.
“Mau yang hangat atau yang dingin?” tanya Mang Eding.
“Dingin aja.”
“Oke ditunggu.”
Aku pun menunggu dengan santai di bangku putar yang ada disediakan di depan kios.
“Hai, Ajeng.” Seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahku menyapa diriku.
Aku sangat kenal suara laki-laki ini. Dan aku harap bukan dia.