BAB 12

1758 Kata
Wangi coklat di kios Mang Eding memang paling top. Padahal, coklatnya belum sampai di depanku. Namun, wangi coklat yang bercampur dengan s**u sudah terbayang nikmatnya olehku. “Hai, Ajeng.” Seorang tiba-tiba menegurku dari arah samping. Suara laki-laki ini membuat selera ku tiba-tiba menghilang. Aku sangat mengenal suara laki-laki ini. Dia salah satu orang yang tidak ingin aku temui di dunia ini. Dia adalah musuh bebuyutan sejak aku duduk di sekolah menengah keatas.  “Hai,” sapaku singkat dan tidak mau melihat dirinya. “Dih, sombong banget. Udah enggak kenal sama aku nih?” tanyanya sambil tersenyum nakal. Aku sangat kenal dengan senyum itu. Tanda dia akan melakukan sesuatu yang jail adalah menunjukkan senyuman seperti itu. “Siapa ya?” Aku pura-pura tidak mengenalnya. Aku pun menggeser tempat dudukku. Namun, belum saja aku pindah ke kursi satunya lagi. Tiba-tiba, laki-laki itu sudah merangkul diriku dan mendekati wajahnya. “Atuh kenalkan, nama saya Riandi. Kamu bisa panggil ayang babe,” katanya dengan sangat percaya diri. “Rian! Kamu apa apaan sih.” Aku merasa risih dengan sikap Riandi yang main rangkul rangkul di depan umum. “Tuh, kamu kenal. Coba dong, panggilan sayangnya.” Rian memaksa aku untuk memanggil dia dengan panggilan Ayang. “Cih, ogah banget.” Aku berusaha lepas dari cengkramannya yang sengaja dia eratkan. “Rian, udah dong. Senang banget gangguin Ajeng,” kata Mang Eding yang sudah selesai membuatkan pesananku. “Iya nih, Mang. Rian geblek,” kataku kesal. Aku merasa pegangan Rian sedikit melonggar. Aku pun langsung menepis tangan Rian, supaya menjauh menjauh dari diriku. “Rian kalau suka bilang aja. Pasti Ajeng dengan senang hati menerima Rian. Ya kan, Jeng?” kata Mang Eding. “Apa! Suka sama dia. Tidak akan,” teriakku. “Ih, siapa juga yang mau sama kamu. Cewek harimau. Hooaam .” Rian mengaum menirukan suara harimau. “Dasar cowok resek,” makiku dengan sangat kesal. “Mang, coklatnya bungkus aja. Saya minum di rumah aja.” Aku meminta Mang Eding untuk membungkus coklat yang sudah disediakan di atas meja. “Kok, gitu? Kamu enggak kangen sama aku?” goda Riandi. “Mang, besok-besok beli penyemprot nyamuk. Warungnya banyak banget nyamuk, berisik banget.” Aku pura-pura mencari nyamuk yang mengganggu. Padahal, nyamuknya tidak ada. “Iya, neng Ajeng. Nanti nyamuknya Mamang pukul sampai mati,” kata Mang Eding sambil tersenyum. Dia juga memberikan pesanan yang aku minta untuk dibungkus. “Makasih, Mang.”  Aku pergi meninggalkan kios coklat itu dengan perasaan kesal. Aku tidak melihat ke wajah Riandi sama sekali. Wajah yang membuat perutku sakit, karena menahan marah. Niat hati keluar rumah untuk menenangkan pikiran, malah bertemu dengan orang yang membuat hati makin kusam. “Hari ini benar-benar hari yang sial,” gumamku. Saat pertama aku berkenalan dengan Riandi, sebenarnya dia itu bukan anak yang seperti ini. Dia seperti anak laki-laki yang polos dan lugu. Pertama kali kami berkenalan juga di kios Mang Eding. Kami sama-sama memesan pesanan yang sama, dalam waktu yang bersamaan. Sering kali, pesanan kami selalu sama. Cara kami berkenalan juga baik-baik saja. Itu terjadi saat aku baru pindah ke sini. Saat itu, Bunda baru saja keluar dari rumah sakit, karena sudah dinyatakan sembuh oleh dokter. Namun karena kondisi bunda yang masih sangat lemah, dia masih sering menghabiskan waktu di tempat tidur. Bunda sudah mulai bicara seperti biasa. Dia menanyakan kabarku selama di Bandung, menanyakan juga cita-citaku. Dan masih banyak pertanyaan yang dia tanya tentang diriku. Karena, dia sudah sangat lama tidak sadarkan diri, dan tidak pernah melihat diriku. Selama aku di Bandung, aku tidak pernah melihat kondisi bunda. Sehingga, aku selalu beranggapan Bunda pasti baik-baik saja. Namun setelah aku pulang ke Jakarta dan melihat langsung Bunda yang lemah tak berdaya, hatiku tidak sanggup melihatnya. Aku jadi sering nangis sendirian. Aku juga sering keluar dari rumah untuk mencari tempat menangis. Aku tidak mau menangis di rumah, karena itu akan membuat Bunda sedih dan memperburuk kondisinya. Sampai ketika, Mang Eding menemukan diriku yang sedang menangis di pinggir lapangan sepak bola dari tanah. Saat itu, lapangan sedang tidak digunakan. Aku jadi bisa menangis dengan sepuasnya. “Neng lagi ngapain di sini?” tanya Mang Eding. “Enggak kenapa kenapa Pak.” Aku langsung menghapus air mataku. “Panggil aja Mang Eding.” “Mang Eding.” Aku mengulangi apa yang Mang Eding ucapkan. “Neng, Neng Ajeng kan? Anaknya Bapak Perdi?” tanya Mang Eding. Aku hanya mengangguk. “Duh, Neng Ajeng udah gede ya. m**i gelis lagi,” kata dia yang terkejut melihat diriku sudah tumbuh besar. Aku hanya tersenyum mendengar pujian Mang Eding. “Neng kenapa nangis di sini?” Aku tidak menjawab pertanyaan Mang Eding. Aku tidak mau orang lain tahu apa yang sedang aku rasakan. “Neng pasti lagi mikirin Mama Neng ya?” tebak Mang Eding. Aku hanya bisa menunduk, agar sedihku tidak terlihat jelas olehnya. Dia memang sangat bisa membaca hati seseorang. Aku tidak bisa menjawab dan tidak juga mengiyakan tebakannya yang benar. “Udah, Neng yang sabar aja. Doain terus Mamanya,” kata Mang Eding. Ucapan dia sama seperti ucapan Bibi. Aku memang harus bisa berlapang hati melihat kondisi yang seperti ini. “Neng mau tahu enggak obat sedih?” tanya Mang Eding. “Apaan Mang?” Akhirnya aku merespon perkataannya. “Yuk, ikut Mang ke warung Mamang.” Dia mengajak aku pergi ke suatu tempat yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. “Jauh enggak mang?” tanyaku sambil mengikuti dia dari belakang. “Enggak, deket kok.” “Kamu tahu enggak? Waktu kamu masih kecil, kamu selalu datang ke warung Mamang. Selalu nangis nangis sambil digendong Bunda ke sini.” Mang Eding menceritakan masa kecilku yang sebagian besar tidak bisa aku ingat. “Masak, Mang?” tanyaku tidak percaya. “Kalau kamu enggak percaya, nanti pas kamu coba pasti ingat deh,” tantang Mang Eding. “Nah, kita sudah sampai.” Kami sampai di sebuah kedai minuman dengan menu coklat dan kopi. Ada beberapa makanan makanan ringan yang dijual di sini. “Ini warung Mamang?” tanyaku. “Iya. Kamu ingat?” Aku menggelengkan kepala. Memang tempat ini sedikit familiar. Tetapi, aku masih belum bisa mengingat, bahwa aku pernah ke sini sebelumnya. “Ini, silahkan dicoba.” Tiba-tiba Mang Eding menyuguhi ku sebuah minuman di cangkir dengan krim di atasnya. “Makasih, Mang.” Aku pun mencoba minuman tersebut. Manis s**u dan pahitnya coklat asli bercampur dengan sempurna. Ditambah dengan krim, membuat sensasinya lebih nikmat di mulut. Aku memang merasakan sedikit rileks dengan meminum sebagian coklat buatan Mang Eding. “Gimana?” tanyanya. “Enak, Mang.” “Trus, perasaannya?” “Sedikit ringan sih. Ini minuman apa sih, Mang?” tanyaku penasaran. “Cuma coklat s**u biasa,” kata Mang Eding. “Tapi beda rasanya sama bikinan Bibi. Yang ini, seperti ada pahit pahit gimana gitu. Tapi, itu juga yang membuatnya makin enak.” Aku masih menikmati coklat yang masih tersisa di cangkirku. “Jadi besok besok, kalau Ajeng sedih lagi ke sini aja. Nanti Mamang bikinin lagi krim coklat kocok. Kalau Ajeng mau, ada yang dingin juga.” “Iya, Mang. Makasih ya, Mang.” “Sama-sama.” Sejak saat itu, Krim coklat kocok menjadi salah satu minuman favoritku. Sampai suatu saat aku kembali lagi ke warung itu. Karena, aku kembali merasakan kesedihan sama. Saat aku sampai, aku langsung memesan pesanan yang seru. Namun, di saat bersamaan ada yang memesan pesan itu juga. Itulah Riandi. Saat menyadari, kami memesan berbarengan. Kami saling tertawa satu sama lain. Aku dan Riandi pun saling berkenalan saat itu. Sejak saat itu pula, aku jadi sering bertemu dengan Rian di warung Mang Eding. Kami saling bercerita tentang kejadian-kejadian yang menarik. Rian sangat asyik diajak berbicara. Mungkin, karena kami seumuran. Dia adalah teman yang baik, aku beruntung bisa mengenal dia. Hingga, akhirnya kami masuk SMA yang sama. Awalnya aku senang bisa melihat dia berada di sekolah yang sama denganku. Apa lagi kami juga sekelas di kelas satu. Padahal teman dekatku sewaktu di SMP, Ami dan Chika, berada di kelas yang berbeda. Namun, selama di sekolah ternyata sikap Rian berbeda. Dia hampir tidak pernah menyapa aku di kelas. Bahkan, seperti orang yang tidak saling kenal. Apakah dia malu mengenal aku, karena itu dia bersikap seperti itu.  Sampai pada puncak kejadian yang tidak diduga. Saat itu sedang jam olahraga. Dan lebihnya lagi, ini adalah olahraga gabungan semua kelas satu yang masuk pagi. Ada seperti kegiatan olahraga akbar di sekolah. Tetapi dilakukannya per tingkat. Aku, Ami dan Chika tidak tahu kalau baju olah raga dikenakan dari rumah. Karena, biasanya kami menggantinya di sekolah. Dan ternyata bukan hanya kami yang seperti itu. Banyak juga yang berpikiran seperti kami. Sehingga, kamar mandi perempuan penuh. Karena hampir semua orang sedang ganti baju. Kami bertiga santai menunggu giliran terakhir. Kami tidak mau berdesak desakan. Jadi, kami memilih untuk menunggu giliran terakhir. Sampailah pada dua barisan terakhir. Namun, tiba-tiba bunyi pluit tanda berkumpul sudah berbunyi. Sedangkan di kamar mandi perempuan masih ada beberapa orang yang mengantri. “Eh kita ganti di kamar mandi laki-laki aja yuk?” ajak Chika. “Tapi kamar mandinya kan enggak bisa dikunci,” kataku. “Kita ganti gantian aja.” “Oke deh. Aku jaga duluan,” kataku. Setelah Ami dan Chika sudah selesai mengganti baju. Barulah terakhir, aku yang mengganti baju. “Tungguin ya?” kataku. “Iya,” kata mereka kompak. Aku mengganti rokku terlebih dahulu, dengan memakai celana dulu baru melepas roknya. Kemudian, baru aku membuka baju putihku dan menggantinya dengan kaos olahraga. Namun, di saat aku belum mengenakan kaos olahragaku. Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar mandi. Dan dia adalah Riandi. Dia terdiam kaget saat melihat diriku. Sedangkan, aku berteriak sambil menutupi bagian yang bisa aku tutupi. “Maaf… maaf.” Dia langsung menutup kembali pintu kamar mandi. Tidak lama kemudian, aku keluar dari kamar mandi. Aku melihat Riandi yang masih terdiam melihat diri. “Lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk,” kataku dengan kesal. “Kok, aku yang salah? Kamu yang salah, kenapa ganti baju di kamar mandi laki-laki. Kamu sengaja kan?” Dia tidak mau mengalah denganku, dan malah balik menyalahkan ku. “Dasar tukang intip,” hardikku. “Kamu… tukang pamer.” Dia sempat berpikir untuk memberikan umpatan kepadaku. “Maksudnya?” Aku tidak paham dengan julukan yang dia berikan. “Tuh, tukang pamer itu.” Adrian melihat ke arah payudaraku. Spontan, aku langsung menutupinya dengan kedua tanganku. “Dasar cowok mesum.” “Dasar tukang pamer.” Kami tidak pernah berhenti mencaci satu sama lainnya. Bahkan, masalah kami tidak berhenti sampai di situ. Banyak lagi masalah yang timbul setelah itu. Hubungan aku dengan Rian pun semakin renggang. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN